Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung

Akibat kebakaran di TPA Suwung, sampah menumpuk di jalan-jalan Denpasar.

Denpasar, kota wisata yang terkenal di dunia kini jadi berwajah tidak indah lagi. Bau tidak sedap menyebar di pinggir jalan dari tumpukan sampah yang meluber ke jalanan. Siapa yang disalahkan atas kebakaran ini? Apakah musim kemarau yang panjang?

Sistem pengelolaan sampah masih klasik yakni kumpulkan, angkut dan buang. Sama sekali tidak ada pengelolaanya. Apakah kita tidak mau berubah?

Kita tahu teori  3R dengan menggunakan ulang (reuse), mengurangi (reduce) dan mendaur ulang (recycle) tapi tidak dijalankan. Masyarakat diminta memisakan sampah, tetapi truk sampah malah menggabungkannya. Terus siapa yang salah?

Akibatnya sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung terus menggunung tanpa ada pengelolaan dengan baik. Bahkan semua TPA menerapkan open dumping. Sampah dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa pengelolaan. Harusnya kalau manajemen sampahnya baik bisa jadi zero waste di TPA.

Kenapa kita tidak menerapkan sanitary landfill yang benar?

Mari kita pikir lagi. Sampah organik itu tinggal dikubur selama tiga bulan sudah jadi kompos. Sampah anorganik sebagian besar bisa dijual dan di daur ulang. Hanya sedikit yang butuh dibuang ke TPA. Namun, kenyataanya berbeda. Kita sibuk membuang sampah ke TPA hingga menggunung dan mencemari lingkungan.

Sampah yang menggunung di TPA suwung adalah sampah plastik. Sudah cukup studi banding karena sekarang saatnya berbuat. Bank sampah sebenarnya ide yang baik, tetapi kapasitasnya terbatas dan masyarakat harus bawa sampah ke tempatnya. Untuk masyarakat kota yang sibuk hal ini jarang bisa dikerjakan.

Program mengurangi penggunaan plastik sudah baik tetapi coba kita lihat di tempat sampah. Masih banyak yang dijadikan pembungkus sampah adalah plastik.

Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Pemerintah Kota Denpasar harus hadir untuk permasalahan ini. Sediakan tempat sampah organik dan non organik di setiap rumah. Kemudian angkut dengan truk terpisah. Berdayakan tempat pembuangan sampah sementara terpadu (TPST) 3R agar sampah dikelola dengan baik, sampah organik dijadikan kompos dan anorganik di jual.

Sampah organik itu dikubur akan jadi kompos dan tidak dicari lalat. Sehingga sampah yang terbuang ke TPA sangat sedikit. Ke depannya TPA bisa jadi lahan pertanian yang subur jika sudah ditinggalkan dan tidak ada penolakan dari masyarakat.

Tidak seperti sekarang ini sampah dicampur kemudian ditumpuk menggunung. Banyak lalat bertebaran ditambah bau menyengat. Siapa daerahnya bersedia dijadikan TPA kalau seperti itu? Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Sebaiknya pengurangan sampah dilakukan dari rumah tangga. Sampah organik bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi kompos dengan alat sederhana. Sampah anorganik dapat dibawa ke Bank Sampah ataupun di kelola TPST 3R terdekat. Ke depannya jumlah sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalisir.

Dengan perkembangan teknologi bisa saja sampah di TPA diolah menjadi listrik. Untuk itu diperlukan sosialisasi pada masyarakat secara berkelanjutan dan didukung fasilitas, pendanaan dan kebijakan yang berjalan secara sinergi. [b]