Catatan Perjalanan Lokakarya Wirausaha Sosial

Yudi Soerjoatmodjo
Yudi Soerjoatmodjo

Akhir April lalu, BaleBengong mendapat undangan ke Bandung.

Bukan ikut Konferensi Asia Afrika (KAA), melainkan lokakarya. Persis setelah KAA berakhir, Diageo dan British Council menggelar lokakarya wirausaha sosial. BaleBengong salah satu peserta yang lolos seleksi.

Ada 44 organisasi yang lolos seleksi untuk mengikuti lokakarya itu. Tentu saja kita patut bangga karena terjaring dari 198 organisasi yang mengirim proposal.

Organisasi yang terpilih merupakan organisasi yang bergerak di bidang seni, kreatif dan ekowisata. Tahun ini adalah kali pertama bagi Diageo dan British Council memfasilitasi lokakarya wirausaha sosial pada bidang itu. Tantangannya adalah menentukan perhitungan untung-rugi dari usaha berbasis seni, kreatif dan ekowisata ini.

Setidaknya hal inilah yang mendasari Diageo dan British Council menyelenggarakan lokakarya bertajuk Diageo-British Council Social Enterprise Challenge for Arts, Creative and Tourism Organisation 2015 di Bandung mulai 26 April-1 Mei 2015.

“Ketika British Council menggagas ekonomi kreatif di Indonesia, saat itu belum ada yang mengerti tentang itu. Kreatitivitas, seni, budaya adalah hal-hal yang hanya ada di pikiran. Sifatnya hobi dan ekspresi saja, sehingga sulit menghitungnya,” jelas Yudi Soerjoatmodjo, salah satu pembicara lokakarya.

Sejak tahun 2007, industri kreatif mulai berkembang di Indonesia. Istilah kreatif menjadi populer hingga akhirnya dibentuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tapi, bagaimana wirausaha sosial berbasis kreatif dapat bertahan secara berkelanjutan?

Begini Ekonomi Kreatif Bermula

Menurut Yudi, ekonomi kreatif bermula di Inggris sekitar tahun 1980-an. Saat itu, industri raksasa seperti baja, tekstil, otomotif dan sebagainya sedang merosot. Mereka mulai mencari sumber ekonomi lain yang dapat membenahi perekonomian Inggris. Di tengah kemerosotan itu, ternyata ada beberapa orang yang tergolong pembayar pajak tinggi seperti Mick Jagger, Elton John, Paul McCartney, dan lain-lain.

“Mereka mulai menyadari sumber ekonomi lain yang kurang mendapatkan perhatian. Kemudian mereka sebut itu sebagai ekonomi kreatif,” ungkap Yudi.

Di Indonesia, pihak pemerintah mulai melakukan pemetaan dan penelitian pada tahun 2007. Industri kreatif mampu menyumbang PDB sebesar Rp 141,82 triliun setiap tahun. Sejak tahun 2003, industri kreatif sudah memberi sumbangan yang terbilang besar. Padahal, awalnya industri ini sama sekali tidak pernah diperhitungkan.

Antara Bisnis dan Misi

Bisnis yang berorientasi untung sama dengan jahat. Model bisnis seperti itu tampaknya berubah secara perlahan. Banyak orang yang menggeluti bisnis sekaligus menjalankan misi sosial. Tapi ini tidak mudah. Bisnis dan misi tentu tidak sama. Bagaimana menyambungkan keduanya?

Romy Cahyadi, salah satu pembicara lokakarya memberikan beberapa materi terkait tentang pengelolaan wirausaha sosial. Romy menyebutkan ada tiga model wirausaha sosial yang dapat diterapkan.

Pertama, model wirausaha Two Hand, antara bisnis dan misi tidak memiliki hubungan. Satu tangan menjalankan misi dan satu tangan lainnya menjalankan bisnis. Meski sudah mendapat keuntungan bisnis, belum ada jaminan sukses pula karena misi belum tentu tercapai.

Kedua, model wirausaha All in One, misi dan bisnis menjadi satu. Semakin banyak bisnis, maka semakin besar manfaat yang diterima masyarakat. Semakin banyak uang yang didapat, maka misinya semakin tercapai. Hal yang penting untuk model wirausaha ini adalah menjaga hubungan dengan kelompok yang kita bela. Kelompok ini akan terlibat di dalam bisnis ini, entah sebagai klien atau supplier. Model wirausaha yang ketiga adalah Intersection, di mana antara bisnis dan misi beririsan.

Sementara itu, dalam model ketiga, bisnis dan misi tidak benar-benar menjadi satu. Beberapa kegiatan untuk mencari uang saja. Ada pula kegiatan bisnis dan misi yang berjalan bersama. Kemudian, ada juga kegiatan yang hanya dilakukan untuk menjalankan misi saja.

“Dalam pengalaman saya, tiga model ini berguna untuk mereview apa yang sedang kita jalankan atau merancang program baru,” ungkap Romy

Masing-masing organisasi dapat memilih model mana saja untuk menjalankan bisnis dan misi mereka. Yang jelas, bisnis menjadi penting agar dapat menjalankan misi yang berkelanjutan. Handyanto, dosen Prasetiya Mulya Business School menerangkan bagaimana misi dan bisnis memang dapat dilakukan.

“Meskipun punya misi sosial, kita jangan alergi sama yang namanya untung,” jelas Handyanto.

Bermain bersama Komunitas Hong

Selain sesi diskusi bersama fasilitator dan pembicara, hal yang paling menyenangkan dari lokakarya ini adalah bermain. Pada saat awal dan sela-sela diskusi, peserta lokakarya diajak bermain oleh Zaini Alief, pendiri Komunitas Hong. Zaini sudah lama menekuni permainan tradisional, terutama permainan tradisional Sunda.

Komunitas Hong
Komunitas Hong

Puncaknya, saat berkunjung ke Selasar Sunaryo Art Space, peserta lokakarya dapat bermain sepuasnya bersama Komunitas Hong. Semua peserta lokakarya sangat bersemangat. Maklum saja, sebagian besar peserta mengaku sudah lama tidak pernah bermain. Komunitas Hong menggelar Ulinpaide, olimpiade permainan tradisional Sunda untuk para peserta lokakarya.

Bertemu Teman Seperjuangan

Agenda lokakarya rata-rata dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 18.00. Sesama peserta lokakarya punya banyak waktu bersama. Bahkan, peserta sudah tidak merasakan suasana kompetisi. Peserta lokakarya telah berbaur sebagai teman seperjuangan. Kami merasakan bahwa tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda.

Ari Sutanti, fasilitator dari British Council mengharapkan pertemuan 44 organisasi kreatif dalam lokakarya ini dapat saling bertemu dan membangun jaringan. “Mudah-mudahan lokakarya ini bisa menjadi ajang bertukar pikiran. Biasanya kita sering kerja, tapi lupa kerja sama,” kata Ari.

Peserta dan Juri Lokakarya Diageo-British Council Social Enterprise Challenge 2015
Peserta dan Juri Lokakarya Diageo-British Council Social Enterprise Challenge 2015

Foto: Diah Dharmapatni dan Maria Ekaristi