• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Anak Dalam Pengaruh Candu Playstation

Putu Adi Susanta by Putu Adi Susanta
8 September 2010
in Kabar Baru, Sosial
0
0

Teks I Putu Adi Susanta, Ilustrasi Internet

Teknologi terus berkembang demikian juga dengan permainan anak-anak. Dulu kita masih sering jumpai sekumpulan anak bermain kelereng atau petak umpet di pinggir jalan atau tanah lapang sekitar rumah.

Tapi, kini permainan tersebut sudah sangat langka. Padahal permainan tersebut sarat dengan kebersamaan dan canda tawa khas anak-anak.

Coba saja berkeliling di areal perkotaan Denpasar. Misalnya, di perumahaan tempat tinggal saya, Perumnas Monang-maning di Denpasar Barat. Saya sangat jarang menemukan permainan ini.

Anak-anak di sini lebih suka bermain game elektronik seperti Playstation (PS), konsol permainan modern canggih. Apalagi beberapa tahun terakhir, peralatan ini booming dengan berbagai pernik pendukung dan rilisan terbaru, Playstation 3.

Salah satu pecandu PS adalah Ucup, begitu dia biasa dipanggil oleh teman-temannya. Minggu pagi lalu dia sudah asik menekan-nekan stik game putih kusam yang mungkin sudah beratus-ratus kali berpindah tangan.

Sudah sejam dia asik di depan televisi beradu kepandaian dengan program game komputer lawan mainnya dalam Winning Eleven PES (WE PES). Ucup terlihat piawai memainkan permainan sepak bola yang kondang di kalangan penyuka permainan (gamer) ini. Dia bahkan kerap menjuarai lomba-lomba tingkat lokal perumahan bahkan pernah se-Denpasar.

Siswa kelas 1 di salah satu SMU PGRI di Denpasar ini mengaku sudah bermain Playstation sejak kelas 4 SD. Awalnya hanya coba-coba, bareng dengan beberapa teman patungan sewa satu unit agar biaya sewa sejam tercukupi.

Kini, dia bisa betah berjam-jam di depan layar datar monitor TV 29 inchi andalan rental. “Cape, sih, nggak. Cuma, kadang-kadang mata lelah,” katanya.

Jam Ucup bermain PS bisa dibilang rutin. Pulang sekolah istirahat sebentar, makan minum, sorenya mulai pukul tiga sudah asik bermain hingga pukul lima kadang lebih. “Tenang, Om. Saya sudah diizinin orang tua, kok,” sergahnya cepat. Sepertinya dia tahu topik yang akan saya tanyakan sebelum saya mengutarakan.

Pukul delapan malam dia kembali lagi ke tempat ini. Baginya rental berukuran 2,5 x 5 meter persegi ini adalah rumah kedua. Sebagian teman bermainnya ada di tempat ini: konsol PS, TV layar datar ukuran gede, kaset WE PES, dan penunggu rental yang tiap saat ada untuknya.

Untuk urusan prestasi, Ucup berada di kategori menengah. Dia tidak pernah tinggal kelas, tidak pernah juga mendapat ranking kelas. Ranking teratas yang pernah dia peroleh adalah rangking 3 saat kelas 3 SD dulu. Waktu itu dia belum terkontaminasi PS.

Sejak mengenal PS prestasinya sedikit merosot. Rangking 10 besar tidak pernah diraihnya baik selepas SD, maupun saat SMP tetap sama. Dia tidak menampik jika dikatakan PS salah satu penyebab dia tidak pernah mendapat rangking kelas.

PS mungkin telah merampas waktu belajarnya yang berharga. Padahal waktu adalah barang mahal yang jika telah lewat kita tidak bisa kembali lagi untuk meraihnya.

Saat dikonfirmasi kepada pemilik rental apakah PS menyebabkan menurunnya prestasi belajar anak, sang pemilik hanya tersenyum datar. “Kami telah melarang anak sekolah yang menggunakan seragam untuk bermain di sini,” kata alumni Teknik Aritektur institut negeri terkenal di Surabaya ini.

Tidak bisa dipungkiri memang pedidikan terbesar yang diperoleh anak adalah lingkungan rumah. Sekolah hanya bertanggung jawab mulai pagi hingga siang hari saat berada di dalam kelas. Selebihnya adalah milik orang tua. Tugas orang tualah yang membangun fondasi anak agar siap di masyarakat kelak. Demikian penjelasan seorang pakar pendidikan yang saya baca di sebuah situs.

Tidak salah juga, sih, para pengusaha rental PS. Mereka hanya berusaha memperoleh penghidupan dari usaha permainan anak modern. Mungkin tugas pemerintah untuk menertibkan dan membuat peraturan bagaimana seorang anak tidak membuang waktu belajarnya yang berharga. Tujuannya agar masing-masing dapat hidup berdampingan dengan baik. [b]

Foto dari thebitbag.com.

Tags: Anak-anakDenpasarOpiniSosialTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Putu Adi Susanta

Putu Adi Susanta

Pegawai RS, Tamat Ergonomi, Fisika dan Radiografi, Hobi Baca, Tulis, Musik

Related Posts

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Next Post

Warga Membuat Tata Ruangnya Sendiri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia