Aktivisme Media Sosial dengan Menu Sarapan Instastory

Menu Sarapan Instastory dari Andi RHARHARHA tersaji pada 30 September-13 Oktober 2019 di Uma Seminyak, Badung. Kombinasi pedas, manis, pahit kehidupan bangsa hari ini.

Bagi RHARHARHA, partisipasi publik dalam gerakan aktivisme di media sosial tak kalah penting jika dibandingkan dengan aksi turun ke jalan. Dalam konteks hari ini, keduanya memiliki peran yang sama vital dalam mendorong perubahan sosial. Melalui media sosial, gerakan aktivisme di lapangan tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga digaungkan terus menerus melalui interaksi yang terjalin di sana.

Sarapan Instastory adalah catatan harian RHARHARHA tentang berbagai peristiwa sosial, politik, juga kemanusiaan yang dialaminya di Instagram. Melalui pameran ini, catatan tersebut dialihwahanakan dari dunia maya ke medium dan ruang konvensional dengan tujuan untuk menarik partisipasi publik agar turut serta dalam menyuarakan kegelisahannya tentang situasi terkini.

Selama hampir dua dasawarsa terakhir, media sosial telah menjelma menjadi arena yang mengubah habitus manusia kontemporer. Pola interaksi sosial yang semula berlangsung secara faktual melalui perjumpaan fisik, kini berganti dengan percakapan virtual di dunia maya. Situasi ini tidak hanya mencakup pada mekanisme komunikasi dan distribusi informasi, tetapi sekaligus berpengaruh pada cara pandang kita terhadap realitas, berikut sistem tata nilai yang berlaku di dalamnya.

Sebagai seniman dan pengguna aktif instagram, RHARHARHA berhadapan dengan realitas politiknya di sana. Sejak pindah ke bali, perasaan berjarak dengan gerakan aktivisme di Jakarta membuatnya secara sadar mengalihkan aksi politiknya dengan menyebarkan pesan-pesan ideologis melalui unggahan di media sosial.

Sejak awal tahun 2000-an, Ia menyaksikan metamorfosa dari berbagai platform media sosial, dari era Friendster hingga Instagram yang kita gunakan saat ini. Termasuk bagaimana publik mengakses dan memandang media sosial tersebut. Di masa awalnya, media sosial sebatas menjadi medium komunikasi dan eksistensi personal, namun yang kita lihat saat ini, media sosial telah berkembang menjadi ruang kontestasi kultural, politik, dan ekonomi.

Seiring dengan kemudahan memperoleh akses internet, hampir setiap individu kini memiliki akun media sosial dan terhubung satu sama lain. Media sosial menyajikan konektifitas antar individu tanpa adanya batasan jarak, sehingga penyebaran informasi dapat menjangkau publik yang lebih luas, sekaligus berlangsung lebih cepat dari sebelumnya yang harus melalui kontrol media massa (cetak ataupun elektronik).

Saat ini, setiap individu bisa menjadi agen distribusi informasi tentang apapun, kapanpun dan kepada siapapun. Fenomena ini membentuk kesadaran baru bagi RHARHARHA dalam mengembangkan proses berkesenian dan aktivisme politiknya. Jika sebelumnya seni aksi RHARHARHA berlangsung bersamaan dengan aksi turun ke jalanan di ibu kota Jakarta, kini seni aksi RHARHARHA bisa dilakukan dimana saja asalkan ada koneksi internet.

Berkaca dari situasi politik Indonesia terkini, media sosial sangat berperan penting dalam pembentukan arah gerakan massa. Arus informasi yang berlangsung sangat cepat, secara massif ditangkap dan membentuk opini publik di dunia maya, yang kemudian secara langsung berimbas pada segregasi politik di dunia nyata.

Di samping itu, media sosial juga menjadi medium konsolidasi publik yang sangat efektif, jika kita ingat, dalam kurun lima tahun ke belakang, sejumlah aksi demonstrasi berhasil merangkum massa yang besar. Meningkatnya partisipasi publik di ranah politik menjadi salah satu dampak paling signifikan dari perkembangan media sosial. (Dwi S. Wibowo)

Mosi Tidak Percaya

Salah satu ruang interaksi berhasil dibangun dalam aksi #BaliTidakDiam 24 September lalu. Sebuah jaring laba-laba bersuara Mosi Tidak Percaya jalin menjalin dengan coretan kata-kata dari peserta aksi, ditulis dengan kapur. Dimulai oleh Andi dan Savitri. Berikut percakapan singkat lewat aplikasi percakapan dengan Andi RHARHARHA.

Ini pameran tentang apa, bagaimana proses kreatifnya?

Proses kreatifnya dengan mencatat keseharian yang saya alami dipengaruhi kondisi sosial, politik yang sedang terjadi. Juga hal receh/komedi yang ditemui di Instagram. Proses kreatifnya juga aktual merespon peristiwa yang sedang terjadi di Indonesia dari kasus pelemahan KPK sampai RUU KUHP, lambatnya penanganan kebakaran hutan, tenggelamnya berita tentang Papua, aksi Reformasi Dikorupsi, Bali Tidak Diam, Aksi Kamisan.

Karyanya merespon sejumlah isu saat ini seperti RUU KPK dan aksi kamisan. Bagaimana dua hal itu mempengaruhimu?

Sejak dahulu saya sebagai seniman melalui seni aksi RHARHARHA selalu menjadi bagian jika terjadi pelemahan KPK. Seperti dulu saat kasus Cicak Buaya, juga dengan Aksi Kamisan selalu bergabung hadir di depan istana negara untuk menjadi bagian kecil sebagai seniman turut menyuarakan dengan media lakban .

Aplikasi karya terlihat unik dengan bordir teks pada kain? Seolah berdarah-darah. Ini merujuk pada emosimu?

Bordir ini sebenarnya sebagai media baru saja. Sebagai seniman saya harus terus bermain atau berekplorasi dengan media baru untuk menyampaikan pesan agar mendapatkan perhatian yang tidak membosankan dan tetap jelas terbaca.

Kurasinya secara verbal tentang penggunaan medsos oleh artist-nya dalam mengomunikasikan ide, sementara di sisi lain medsos kini sangat mudah dimanipulasi kontennya. Apakah medsos masih powerful sebagai ruang aktivisme?

Saat panas-panasnya aksi Reformasi Dikorupsi, sosial media sangat penting untuk kita. Mampu mengadvokasi dan menyebarkan informasi tentang kebenaran aksi dan fokus membela kemanusiaannya.