• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, April 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Komunitas Adat Membangun Sekolah Alternatif

Anton Muhajir by Anton Muhajir
31 August 2008
in Budaya, Opini
0
0

Oleh Komang Adiartha

Berangkat dari keresahan mengamati pendidikan yang ada di pedesaan, warga adat di desa Guwang, Sukawati mendirikan Sekolah Alternatif Anak Tangguh. Keresahn tersebut karena pendidikan anak-anak kami saat ini hampir sama dengan apa yang kami dapatkan 20 atau 30 tahun yang lalu. Sementara tantangan zaman sudah berubah, anak-anak yang lahir di era tahun 2000–an, mereka menghirup nafas pada  era globalisasi, di mana mereka hidup dalam era kompetisi. Persaingan merekapun bukan bersaing dengan anak-anak tetanga di desanya, tetapi mereka berkompotisi dengan anak-anak Negara tetangga.

Bali sebagai salah satu daerah global, sehingga tidak sulit bagi kita untuk melihat sekolah internasional, yang sangat berkualitas, tentu saja dengan biaya yang mahal. Namun, anak-anak yang dapat mengakses pendidikan formal bertaraf internasional tentulah anak-anak dari golongan kaya. Anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional mendapat beragam fasilitas mulai dari internet, kolam renang, sampai kurikulum bertaraf internasional. Sementara-anak-anak di desa dan pedesaan hanya mendapat pendidikan formal dengan kualitas apa adanya.

Keresahan akan kondisi pendidikan di kampung selalu menghangati diskusi-diskusi ketika ada rapat di banjar, atau ketika me-gebag (melayat dan bergadang di rumah warga yang ada kematian). Wacana tentang pendidikan ini telah dilontarkan sekitar tahun 2002. Namun baru tahun 2007, keresahan tersebut diejawantahkan ke dalam bentuk tekad dan komitmen  untuk mengambil inisiatif, mendirikan lembaga yang mencoba melengkapi pendidikan formal yang ada saat ini.

Jika dibandingkan dengan pendidikan internasional secara sederhana kelemahan pendidikan formal di desa adalah anak-anak sedikit sekali mendapatkan pendidikan bahasa inggris dan komputer.

Keresahan warga diwujudkan dengan bergotong royong membangun sarana pendidikan alternatif, bernama Sanggar Anak Tangguh. Gotong-royong ini diwujudkan dengan ada warga yang meminjamkan tanahnya seluas tiga are untuk dipakai sebagai lahan pendirian sanggar, ada warga yang menyumbang dana, ada yang menyumbang bambu, ada yang menyumbang pohon frangipani untuk taman, dan seterusnya.

Semua potensi warga dimanfaatkan untuk pembangunan sanggar. Ada desainer yang merelakan waktunya untuk mengajar gambar. Ada warga yang bisa bahasa inggris mengajar bahasa inggris. Pak Suma, salah seorang warga yang berprofesi sebagai landscaper di salah satu hotel, bersedia menata dan merawat taman di sanggar.

Gung Nik, salah seorang warga yang jadi Guide mempromosikan aktivitas sanggar kepada touris yang kebetulan di-handle, dan pasangan suami istri berkewarganegaraan Kanada yang di negaranya berfrofesi sebagai guru, menyumbang buku-buku sebanyak 250 judul untuk perpustakaan.

Program yang menjadi prioritas di Sanggar Anak Tangguh adalah pendidikan Bahasa Inggris dan komputer. Karena belum adanya fasilitas computer yang memadai, sampai saat ini yang baru bisa dilakukan program sebagai berikut; Pendidikan Bahasa Inggris, Menggambar, Menari Cha-cha dan matematika.

Relawan Asing
Yoyo (seorang ibu dengan 2 putri, dari Jepang, yang telah menikah dengan warga lokal) mengajar menari cha-cha dan tari Bali. Ibu Susan seorang guru TK yang telah mengjar TK, selama 30 tahun di Inggris, dan ibu Paulina remaja putri dari Australia membantu mengajar anak-anak bahasa Inggris.

Juga pernah ada seorang mahasiswa dari Gambia, Afrika yang mengajar bahasa inggris. Dalam acara perpisahan nya (ferewell party), ada seorang anak yang bertanya, mengapa kakak Petrick mau membantu mengajar kami, Petrick mengatakan bahwa dia ingin berterima kasih kepada warga Indonesia karena dia telah diberi beasiswa oleh pemerintah Indonesia.

Sudah menjadi kesepakatan di antara relawan local, kalau ada relawan asing yang hadir, maka kesempatan mengajar diberikan kepada relawan asing dengan pertimbangan anak-anak bisa berinteraksi laksung dengan tamu-tamu dari mancanegara, dan juga pronounsation-nya akan menjadi lebih baik. [b]

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Next Post

Bali Dalam Kancah Budaya Massa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia