• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, August 31, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ruang Publik Juga Tempat Mengkritik

Astarini Ditha by Astarini Ditha
19 August 2011
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0
Lapangan Renon adalah milik publik, bukan pemerintah!! Foto Anton Muhajir.

Lewat pengeras suara, petugas Museum Bajra Sandhi mengusir kami.

“Dimohon kepada bapak-bapak agar tidak menaikkan layang-layang di lapangan utama…” Begitu bunyinya berulang dari si pemilik suara yang khas lelaki dewasa.

Kami sedang beraksi Lapangan di Puputan Renon, Denpasar. Di pelataran seberang kantor Gubernur Bali, sejumlah anak muda berdiri berderet. Seorang perempuan berkacamata memegang tongkat berbendera merah putih. Sisanya memegang lembaran spanduk hijau panjang dan bendera identitas organisasi. Di depannya, Ahmad Haris, si orator jangkung berkacamata berdiri sambil sesekali mengepal tinjunya ke atas.

“Berikan hak rakyat atas penggunaan tanah…,” teriak aktivis Frontier tersebut.

Samar sepenggal kalimat mengalir. Terdengar dari suaranya yang tak begitu nyaring terpantul dari loudspeaker. Mereka tidak sedang melakukan aubade di lapangan. Atas nama Walhi Bali, Frontier Bali, dan Konsorsium Pertanahan Agraria (KPA) Bali, mereka tengah melakukan aksi: Tolak Bali International Park (BIP).

BIP ini adalah proyek yang dibangun menjelang KTT APEC pada November 2013 mendatang. Sebelumnya mereka juga melakukan penolakan dengan aksi teatrikal. Selengkapnya bisa dibaca di tulisan Tolak BIP! Saatnya Moratorium Bali Selatan.

Haris masih berdiri di barisan depan memimpin anak-anak muda yang memegang atribut. Sekitar pukul 10.00 Wita, konsentrasi kegiatan mereka sebagian beralih ke tengah lapangan.

Sebuah layangan berukuran sedang diboyong dan dibentangkan di rumput. Dari penampangnya tergambar sesosok raksasa yang hendak memakan bulan; dalam bulatan bulan itu ada bumi. Mirip cerita Kalaru Bali. Tulisan Tolak BIP menjuntai di ekornya. Seketika angin berhembus, mengudaralah layang-layang itu.

Disusul layang-layang segi empat lainnya yang mulai mengudara satu persatu. Pelan, mereka menampakkan pesannya di langit. Sama-sama bertuliskan ekspresi negasi: Tolak BIP.

Tiga musisi Bali Superman is Dead (SID), Jerinx, Eka, dan Bobby juga turut bermain layang-layang di antara para penolak BIP. Kenapa memilih layangan, dalam satu obrolan santai usai aksi sekenanya Jerinx menjawab; “saat orang – orang mulai cuek, butuh sesuatu yang bisa menarik perhatian.”

Peringatan
Belum sampai setengah jam bermain layangan, suara dari Monumen Perjuangan Bajra Sandhi Renon memecah keriuhan. Sebuah pemberitahuan mengudara. “Dimohon kepada bapak-bapak agar tidak menaikkan layang-layang di lapangan utama…” Begitu bunyinya berulang dari si pemilik suara yang khas lelaki dewasa.

Gendo Suardana, komandan Walhi Bali masih sibuk dengan tali yang terus ia ulur.

Peringatan itu tampak tidak digubrisnya. Bahkan dia yang sempat berdiri di sebelah saya, sempat nyeletuk bercanda, “Grogi dia, masa dibilang jangan menaiki lapangan.”

Sekitar satu jam layang-layang itu sempat meraih langit. Ada yang putus diterbangkan angin, tersangkut dan ditarik kembali untuk disimpan ke dalam plastik.

Waktu yang sama, dari akun twitter @balebengong ada kicauan: “Lapangan Renon adalah milik publik, bukan pemerintah!! Seharusnya warga naikin layangan #tolakBIP tidak diusir dari sana.”

Lapangan Renon saya kira termasuk ruang publik. Nah, ruang publik itulah yang dimanfaatkan teman-teman yang menyuarakan aspirasinya. Tujuannya, untuk menjangkau atensi publik. Bahwa yang mereka kampanyekan mengandung kepentingan publik.

Ruang Publik dalam diskursus hukum, politik dan sosial sejak zaman arkaik di abad ke 17 di Eropa bahkan diklaim sebagai suatu bentuk rasio pencerahan. Konsep publik dikaitkan dengan keberanian para warga negara untuk menggunakan rasionya secara mandiri di hadapan umum tanpa campur tangan otoritas. Sederhanaya lewat ruang itu ada tindakan partisipasi politis warganegara.

Nah publik, apa bentuk partisipasi kita dalam negara yang demokratis ini? Sudahkah? [b]

Tags: BaliDenpasarLingkunganSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Astarini Ditha

Astarini Ditha

Related Posts

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Langit Terlihat Biru, tapi Polusi Udara Memburuk

28 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026

Mengenal Trend Asia, Penggerak Advokasi Energi dan Lingkungan

27 July 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Next Post
Terbangkan Layang-layang Tolak Eksploitasi Lingkungan

Terbangkan Layang-layang Tolak Eksploitasi Lingkungan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

30 August 2026
Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Langit Terlihat Biru, tapi Polusi Udara Memburuk

28 August 2026
Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

28 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia