
Tahun 1917, Bali mengalami gempa bumi yang mengguncang seluruh daratan Bali. Dalam catatan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa bumi ini menyebabkan 1500 orang tewas. Gempa tahun itu kemudian dikenal sebagai Gejer Bali. Artinya, Bali berguncang.
Hampir 60 tahun setelah peristiwa tersebut, tepatnya tahun 1976, Bali kembali diguncang gempa 6.2 Skala Richter (SR). Kerusakan parah terjadi di Seririt, Buleleng, mengakibatkan 559 orang tewas, 850 orang luka berat, dan 3.200 orang luka ringan. Selain itu, hampir 75% dari seluruh rumah di Tabanan dan Jembrana mengalami kerusakan.

Di Karangasem, gempa bumi terjadi pada tahun 1979. Sejumlah daerah mengalami kerusakan parah, yaitu Tenganan, Dauh Tukad, Abang, Tohpati, Muncan, dan Bukit. Gempa bumi itu menyebabkan 25 orang tewas, 47 orang luka berat, dan kerusakan sejumlah bangunan. Gempa bumi hebat kembali terjadi di Karangasem pada tahun 2004 dengan kekuatan 6.2 SR.
Bali memiliki risiko tinggi terhadap bencana, terutama bencana tsunami ketika terjadi gempa bumi berkekuatan besar. Pulau Bali ada di antara Sunda Megathrust dan Flores Back-Arc Thrust, dua sumber gempa bumi tektonik utama yang ada di sekitar wilayah selatan dan utara Kepulauan Sumba, termasuk Bali. Dua struktur tektonik ini yang membuat Bali memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana gempa dan tsunami.
Gempa besar di Indonesia paling banyak tercatat di wilayah Sunda bagian barat, seperti Sumatera. Sementara, wilayah Sunda bagian timur, termasuk Bali dan Palung Jawa memiliki catatan sejarah gempa megathrust dan tsunami lokal yang relatif sedikit sejak tahun 1584.
Penelitian Discovery of Paleotsunami Deposits along Eastern Sunda Arc: Potential for Megathrust Earthquakes in Bali memproyeksikan dan mengevaluasi bahaya tsunami di masa depan untuk wilayah Bali dengan menemukan endapan tsunami di masa lalu.
Di Bali ada lima lokasi yang memiliki potensi endapan tsunami, yaitu Pantai Pandawa, Pantai Purnama, Pantai Rangkan, Pantai Manyar, dan Pantai Kebun Bunga. Temuan ini berupa endapan pasir dan batuan bertumpuk, mengindikasikan lima wilayah tersebut pernah diterjang oleh tsunami besar di masa lalu.
Penelitian tersebut juga memproyeksikan siklus gempa megathrust di wilayah Sunda bagian timur, termasuk Bali, kemungkinan terjadi dalam periode yang sangat panjang. Sebagaimana siklus tsunami di Jepang yang jaraknya ratusan tahun.
Lokasi Bali yang rentan bencana membuat evakuasi penting dipersiapkan. Wilayah yang berdekatan dengan pesisir menjadi wilayah yang paling rentan.

Tinggi gelombang pantai menampilkan tinggi 0 hingga 6 meter. Gelombang dengan tinggi 0,1 hingga 0,5 meter termasuk kategori waspada. Gelombang tinggi 0,5 hingga 3 meter termasuk kategori peringatan. Sementara, gelombang yang tingginya 3 meter atau lebih termasuk kategori awas.
Wilayah yang berada dekat dengan pesisir menjadi wilayah yang paling rentan terhadap kerusakan tsunami. Setidaknya sekitar 20.000 orang yang tinggal di area risiko tinggi dan sangat tinggi di wilayah Kuta, Legian, dan Seminyak. Angka tersebut merupakan pemetaan pada tahun 2010. Kemungkinan penduduk yang rentan sudah bertambah saat ini, mengingat tingginya kepadatan penduduk di tiga wilayah tersebut. Kuta, Legian, dan Seminyak juga memiliki aktivitas pariwisata yang sangat tinggi, sehingga akan semakin rentan terhadap kerusakan.
Bali jarang diguncang tsunami besar, tetapi bukan berarti aman. Ancaman tsunami ditunjukkan dari endapan tsunami di masa lalu. Belajar dari daerah lain, tsunami bisa saja datang dengan siklus yang panjang dan susah ditebak. Peta bahaya, risiko, dan evakuasi menjadi langkah awal untuk mengenal risiko wilayah yang kita tinggali saat ini.

![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)








