
Pagi itu, Kamis, 14 Oktober 2026, mobil yang saya tumpangi membelah antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Seluruh SPBU sepanjang jalan Desa Mas, Ubud hingga Kintamani, penuh antrean.
Sedari pagi orang-orang menunggu giliran. Harap-harap cemas Bahan Bakar Minyak (BBM) habis ketika giliran tiba. Kecemasan itu pun membuat saya memutuskan pergi bersama rombongan Jelajah Inovasi Pekan Iklim Bali naik mobil ke Kintamani. Setidaknya, naik kendaraan bersama bisa menghemat BBM motor untuk beberapa hari ke depan.
Mobil melaju menuju Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Sebagaimana namanya, desa ini berada di ketinggian 900 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tak seperti wilayah Kintamani lainnya yang memiliki pemandangan Gunung Batur, desa ini malah memiliki panorama Gunung Agung.
Kata salah satu warga, suhu desa ini biasanya cukup dingin dan berkabut. Namun, kemarau panjang dan krisis iklim membuat cuaca Desa Awan panas dan berdebu.
Jelajah inovasi pagi hingga siang hari itu diorganisir oleh Kopernik dan ReservoAir. Tujuan pertama kami adalah Kantor Perbekel Desa Awan.
Memangkas biaya kebutuhan air dan risiko bencana
Desa Awan memiliki luas wilayah 539 hektare, salah satu desa penyangga air untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung. Berlokasi di hulu, desa ini menjadi penyuplai air utama bagi kabupaten dan kota di hilir, seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar.
Perbekel Desa Awan, I Ketut Dhana Bratha menjelaskan, Desa Awan pernah menghadapi tantangan, terutama soal pembukaan lahan. Sekitar tahun 2015 hingga 2018, masyarakat desa membuka lahan miring untuk menanam tanaman hortikultura, seperti kopi, jeruk, dan alpukat.
“Karena kami adalah petani, kami tidak memikirkan dampak-dampak lingkungan apa yang akan terjadi. Intinya kami berharap hasil memadai, ekonomi naik, masyarakat kami sejahtera, anak-anak kami sekolah,” jelas Dhana.
Berselang waktu, kegiatan pertanian hortikultura ternyata berdampak buruk pada kelestarian alam dan kualitas air di hilir. Tahun 2017, Desa Awan mengalami longsor yang mengakibatkan korban jiwa. “Ada 4 orang meninggal,” kata Dhana.
Sebelum ada inovasi perkebunan seperti yang dilakukan saat ini, masyarakat petani di Desa Awan mengandalkan air permukaan untuk perkebunan. Masyarakat membutuhkan biaya awal yang sangat besar, hingga Rp600 juta.
Desa Awan pun berkolaborasi bersama ReservoAir dan Kopernik untuk memangkas biaya kebutuhan air dan risiko bencana. ReservoAir merupakan sebuah social enterprise startup yang fokus pada pengelolaan air berkelanjutan, khususnya air hujan. Sementara, Kopernik merupakan lembaga yang fokus pada riset, desain, dan uji coba eksperimental teknologi tepat guna.
Ada dua hal yang telah dilakukan ReservoAir dan Kopernik di Desa Awan. Pertama, penerapan pola agroforestri regeneratif. Kedua, penggantian paving blok konvensional dengan paving blok berpori di beberapa titik.
Menekan risiko banjir dengan paving blok
Rombongan jelajah inovasi diajak melihat langsung inovasi ReservoArir dan Kopernik di Desa Awan. Tak jauh dari Kantor Perbekel Desa Awan, kami menuju Pura Bale Agung Desa Adat Awan.
Paving blok berpori ternyata dipasang di bagian utama pura. Warnanya mirip dengan paving blok biasa, hanya saja memiliki tekstur bebatuan. Dibanding paving blok konvensional, paving blok berpori dapat menyerap air lebih cepat.

Paving blok yang dinamakan PoreBlock ini diklaim menyerap air 100 kali lebih cepat dengan tingkat infiltrasi 5.000 mm per jam. “Sebelumnya di musim penghujan lebat itu airnya sampai segini,” kata Dhana sambil menunjuk atas mata kakinya. Kata Dhana, pemasangan PoreBlock dapat mencegah genangan air saat musim hujan, terutama ketika upacara adat.
Perawatan PoreBlock cukup dengan pembersihan menggunakan jet spray atau semprotan air bertekanan tinggi. Penyemprotan dilakukan enam bulan sekali atau tiga bulan sekali jika kondisi lokasi berdebu. Ini dilakukan untuk mencegah pori-pori tersumbat oleh debu.
ReservoAir mengklaim jenis lumut yang tumbuh di PoreBlock beda dengan lumut pada umumnya. “Karena dia berpori, jadinya tuh nggak licin. Jadi karena mungkin lumutnya jadinya ngisi pori-porinya gitu,” ujar Sabrina, tim ReservoAir.

Pemasangan PoreBlock dilakukan sesuai rekomendasi teknis untuk memberikan ruang bagi air untuk meresap. Material yang digunakan meliputi abu batu, kerikil, dan geotekstil. Penggunaan geotekstil membuat biaya pemasangan lebih mahal dibanding pemasangan paving block biasa.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat pemasangan. Jika dipasang terlalu dekat dengan muka air tertinggi, pemasangan jadi kurang efektif dan justru dapat menggenangkan air, alih-alih menyerapnya.
Dari monokultur ke agroforestri
Setelah melihat pura, kami diajak menengok kebun agroforestri milik salah satu warga, I Nyoman Rumbiawan atau yang kerap disapa Pak Jo. Lokasinya tak jauh dari Pura Bale Agung. Namun, kontur dan medan jalan yang naik turun membuat kami harus berpindah dengan kendaraan. Begitu masuk ke area perkebunan, kami disambut oleh pohon jeruk yang buahnya sudah menguning.
Meski suhu hari itu cukup panas, rimbun pohon di perkebunan setidaknya bisa sedikit menghalau sinar matahari. Di depan rumahnya, Rumbiawan bersama para petani menyajikan keripik talas dan jajanan lain yang dibuat oleh warga sekitar.
Rombongan jelajah inovasi duduk melingkar di sebuah balai yang kerap dijadikan tempat berkumpul petani. Sembari menyantap camilan, Rumbiawan menuturkan sejarah singkat Desa Awan.

Tahun 1980-an, kondisi ekologi Desa Awan masih sangat baik dengan keanekaragaman tanaman. Di masa-masa itu, masih banyak hewan, nyanyian burung pun terdengar jelas. Masyarakat Desa Awan pun terbiasa mengonsumsi talas, pasca kelaparan ekstrem akibat meletusnya Gunung Agung.
Tahun 1979-1980, pemerintah menjalankan Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Tanaman Ekspor (PRPTE) untuk menanam kopi. Harga jual kopi yang sangat murah membuat petani tak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya, petani beralih menanam tanaman lain.
Tahun 1992, petani berbondong-bondong membabat kopi untuk menanam jeruk secara monokultur. Pertanian jeruk mencapai puncaknya pada tahun 2013-2015 dengan keuntungan finansial yang sangat besar.
“Tapi ya namanya manusia itu kita serakah, itu pasti melekat dalam diri kita ya. Ya akhirnya karena komoditas ini menjanjikan sekali, dibabatlah,” jelas Rumbiawan.
Tebing jurang ditanam jeruk. Pupuk kimia digunakan secara berlebihan. Tahun 2017 terjadi longsor, diikuti penyakit busuk akar yang muncul tahun 2019.
Setelah mengalami keterpurukan ekonomi dan lingkungan, kelompok tani bekerja sama dengan Kopernik, Forum DAS, dan akademisi untuk menerapkan agroforestri regeneratif. Lahan monokultur diubah menjadi tumpang sari, minimal tiga tingkatan tanaman dalam satu hamparan.

“Atasnya Pak Jo pakai alpukat, tanaman tengahnya ada jeruk dan kopi, tanaman bawahnya ada rimpang juga sebagai sumber penghasilan, ada jahe, cabai, bawang, dan lain sebagainya,” kata Rumbiawan.
Seperti penuturan Rumbiawan, kebun miliknya tampak lebat oleh pohon yang bertumpuk-tumpuk. Sayangnya, hari itu kebun Rumbiawan telah melewati masa panen. Kami hanya bisa melihat buah jeruk menguning yang tersisa di ranting pohon. Ada juga pohon kopi yang bijinya sudah jarang.
Kelebihan agroforestri adalah tanaman atas dapat melindungi tanaman bawahnya dari embun pagi langsung. Meski begitu, perkebunan ini juga memiliki tantangan. Jika curah hujan tinggi, kelembaban di bawah juga tinggi, sehingga membutuhkan intensitas pemangkasan tanaman atas yang lebih sering agar sinar matahari tetap masuk.
Pengembangan agroforestri juga dibarengi pembuatan rorak, metode pengelolaan lahan yang diaplikasikan pada area dengan tingkat kemiringan tanah yang sangat tinggi. Fungsinya untuk menangkal aliran air di musim hujan, sehingga air dapat mengalir atau meresap secara perlahan. Ketika pengikisan tanah terjadi di musim penghujan, sistem ini dapat mencegah pupuk hanyut ke bawah.
Kata Rumbiawan, perkebunan yang diterapkan saat ini membuat pendapatan petani beragam. “Biasanya kita empat kali dalam setahun itu mungkin tiga sampai empat kali panen,” ujarnya.
Saat ini, Rumbiawan tengah mendorong para petani lain untuk ikut menerapkan sistem agroforestri. Ia mengakui ini menjadi tantangan tersendiri. “Pak Jo jawab dengan data,” ucapnya, terkait cara mengajak petani beralih.
“Rencananya akan ada perluasan… perluasan secara pengetahuan, perluasan secara lahan, perluasan segalanya. Secara pengetahuan kita juga akan sharing ke teman-teman petani yang lain seperti gini loh kita program agroforestri, keuntungannya apa, kekurangannya apa,” pungkasnya.







