Seorang perempuan kabur dari kampung karena akan dinikahkan paksa, meninggalkan kuliah enam semester, dan memulai semester baru di pulau rantauan.

Oleh: Ni Luh Feby Riveranika
Hari itu, 26 September 2026, matahari pagi menjelang siang kian bersinar terik menyoroti dua bangunan besar berwarna merah bata di Denpasar. Bangunan tersebut tidak lain adalah Pasar Badung dan Pasar Kumbasari yang berdiri bersebelahan. Sorot megah dua bangunan bergaya khas Bali itu, membuat siapa saja yang baru pertama kali melihatnya mungkin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya di dalamnya?
Melangkah ke dalam, dapat terlihat berbagai aktivitas jual beli yang dilakukan dalam bilik-bilik lantai bertingkat. Para pedagang kini telah bangkit dan kembali beraktivitas setelah sempat terdampak bencana banjir pada akhir tahun 2025 lalu. Di tengah riuk-pikuk suasana hari itu, masing – masing pasar menawarkan keunikannya sendiri.
Para pedagang Pasar Badung menjual bahan baku, keperluan dapur, dan kebutuhan domestik masyarakat Bali sehari-hari. Lain halnya dengan Pasar Kumbasari, yang disebut pasar kuliner malam, lebih banyak menjajakan cendera mata dan berbagai kerajinan tangan. Kedua pasar ini merekam jejak kisah perjalanan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Melewati jembatan kecil dan lalu masuk menyusuri lorong-lorong sepi Pasar Kumbasari, terlihat banyak toko yang masih tutup. Namun di beberapa sudut, ada para pedagang yang tampak sibuk merapikan barang dagangan, melayani wisatawan asing, serta juga gigih memanggil dan menawari calon pembeli.
Di salah satu toko kerajinan dengan berbagai jenis barang tersusun rapi, Hera (nama samaran) menyapa siapa pun pengunjung yang lewat untuk melihat-lihat dagangannya. “Mari kak sini, cari apa kak?” ujarnya dengan suara ramah dan penuh energi.
Hera merupakan satu di antara banyaknya perempuan yang memiliki cerita menarik di pasar itu. Umurnya baru 25 tahun ketika ia membuka diri untuk menceritakan perjalanannya sejauh ini. Ia telah bekerja sebagai penjaga toko selama satu tahun enam bulan sejak tahun 2024. Cerita dimulai ketika Hera baru saja tiba di Bali setelah berangkat dari rumahnya di daerah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Kakaknya yang telah lebih dulu tinggal di Bali mencarikan informasi lowongan pekerjaan di daerah Denpasar melalui Facebook. Kemudian, ia menemukan lowongan pekerjaan ini, mendaftar, hingga akhirnya diterima bekerja setelah berhasil melewati tahap wawancara.
Saat ini, ia sedang berkuliah di salah satu kampus swasta di Bali dengan mengambil jurusan Sastra Indonesia dan kini sudah berada di semester tiga. Di balik latar belakang dan kesibukannya, lebih jauh melampaui itu, Hera mencerminkan perempuan muda perantau yang berdaya di tanah Bali. Cerita keberaniannya memimpin dan mengendalikan jalan hidupnya sendiri bermula dari titik balik penting yang ia alami di Sumba beberapa waktu lalu.
Titik Balik dan Keberanian Mengambil Keputusan
Pengalaman Hera saat dijodohkan dan dipaksa menikah oleh keluarganya di Sumba ketika ia berusia 23 tahun menjadi titik balik tekadnya untuk berpetualang di perantauan.
“Jadi aku di sana kan dipaksa kan untuk apa namanya, menikah lah. Tapi aku enggak mau. Makanya saya ke sini ke Bali,” ujar Hera ketika ditemui di toko tempatnya bekerja.
Sebagai seorang perempuan yang masih berusia muda, Hera menunjukkan keberanian untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Ia menolak menerima pasrah rencana-rencana yang sengaja diperuntukkan pada dirinya, mulai dari kemauan keluarga hingga ekspektasi dan norma sosial pernikahan yang masih diyakini oleh masyarakat Sumba.
Ia menuturkan bahwa praktik menikah muda masih sangat banyak terjadi di lingkungan tempat tinggalnya di Waingapu. Di beberapa bagian daerah lainnya di Sumba, hingga saat ini juga masih terjadi fenomena kawin tangkap. Perempuan ditangkap atau diculik untuk dipaksa menikah dengan laki-laki, tidak jarang juga disertai dengan kekerasan fisik ekstrem hingga pemerkosaan.
Ada banyak perempuan yang rentan karena mereka hidup dalam ruang sistem sosial budaya yang cenderung tidak aman. Di sisi lain, Hera mengakui bahwa posisinya sebagai bagian dari kelas keluarga bangsawan di Sumba cukup menguntungkan dirinya untuk dapat memilih dan bebas menolak keluarga yang berasal dari kelas hamba atau orang berkedudukan lebih rendah dalam sistem masyarakat Sumba.
Meskipun pihak laki-laki sebagai jodoh yang sudah dipersiapkan mau menikah dengan Hera, saat itu Hera tetap memilih untuk berkata tidak. Baginya, perempuan juga berhak mendapatkan kesempatan untuk berpetualang melihat dunia luar dan menikmati hidup dengan cara yang mereka inginkan.
Penolakan perjodohan hingga pergi ke Bali itu didukung oleh titik balik keadaannya saat masih berkuliah di Sumba. Ketika itu, Hera telah berada di semester tujuh ketika ia berkonflik dan merasa kecewa dengan dosennya di kampus. Karena itu, ia sekalian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Bali.
Hera memilih untuk tidak menyelesaikan pendidikannya tersebut yang hanya tinggal enam bulan di Sumba dan lebih memilih untuk mengulang semuanya dari awal. Menurutnya, mengulang dari awal bukan masalah yang besar. Hera justru tidak merasa tertinggal dan berpikir lebih baik kembali fokus kepada hidup sendiri tanpa perlu membanding-bandingkannya dengan perjalanan orang lain.
Pemikiran dan keyakinan Hera ini cukup melegakan di tengah generasi yang sepanjang waktu takut tertinggal dan selalu merasa kurang. Hera juga menceritakan bahwa keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di Bali didukung dan dimotivasi penuh oleh keluarganya. Ayah Hera bekerja sebagai pedagang sembako dan ibunya bekerja sebagai guru di Sumba.
Meskipun kepergiannya ke Bali diawali dengan cara seolah-olah “kabur” sebab diam-diam membeli tiket dan tanpa meminta izin kepada orang tua terlebih dahulu. Berbagai pilihan dan keputusan yang ia ambil itu pada akhirnya merupakan bagian dari agensi perempuan yang berdaya dan terbebas dari segala belenggu. Namun, tidak dapat dipungkiri juga ada faktor-faktor eksternal yang longgar dan dukungan keluarga yang tak terputus.
Lantas, bagaimana dengan perempuan lainnya yang sama sekali tidak memiliki celah akses untuk kabur pergi merantau? Bagaimana mereka bisa bekerja dan belajar, atau bahkan untuk sekedar menikmati kebebasan diri di lingkungan yang disebut rumah?
Dipercaya Mengelola Toko, Belajar Menentukan Nilai

Keputusan Hera meninggalkan Sumba dan memulai kembali hidupnya di Bali ternyata tidak berhenti pada keberaniannya memilih jalan sendiri. Di sebuah toko kecil di Pasar Kumbasari, ia justru menemukan ruang lain untuk belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Sejak 2024, hari-harinya diisi dengan menjaga toko, membersihkan ruangan, menata barang, dan melayani pembeli yang datang silih berganti. Pekerjaan itu setidaknya mempertemukannya dengan dua jenis pembeli yang berbeda. Ada wisatawan mancanegara yang datang mencari barang-barang unik khas Indonesia. Ada juga pembeli lokal yang membeli dalam jumlah banyak dengan harga grosir.
Sebagian barang berasal dari perajin di Jawa dan kemudian dipasarkan dari Bali. Dari toko kecil itulah, barang-barang tersebut dapat bergerak lebih jauh, bahkan sampai ke pembeli dari Jepang dan Australia. Hera juga tidak sekadar berdiri menunggu pembeli. Ketika pemilik toko tidak berada di tempat, ia dipercaya untuk menjaga dan mengelola toko seorang diri. Kepercayaan itu membuatnya memiliki keleluasaan untuk mengatur berbagai hal, termasuk menentukan letak barang agar lebih mudah dilihat pembeli.
“Kadang ibunya berminggu-minggu enggak kerja, kadang aku yang dikasih kepercayaan untuk menjaga tokonya,” tuturnya.
Kepercayaan tersebut tidak membuat Hera merasa memiliki kuasa sepenuhnya atas toko. Hera tetap memahami ada batas antara dirinya sebagai karyawan dan pemilik usaha. Setiap keputusan penting tetap dikomunikasikan dengan pemilik toko. Baginya, diberi kepercayaan bukan berarti dapat bertindak semaunya, melainkan ini menjadi alasan untuk semakin bertanggung jawab menjaga ruang yang telah dipercayakan kepadanya.
Di ruang kecil itu pula, Hera mulai mengenal arti negosiasi. Ia belajar bahwa harga sebuah barang tidak selalu berhenti pada angka yang pertama disebutkan. Kepada pelanggan tertentu, harga dapat berbeda bergantung pada jumlah pembelian, hubungan dengan pelanggan, hingga kemampuan mereka bernegosiasi.
Ia pun belajar mempertahankan harga ketika merasa barang tersebut masih memiliki nilai yang layak dibayar lebih. Ia mengingat salah satu barang yang harga grosirnya sekitar Rp8.000. Kepada wisatawan, barang tersebut dapat ditawarkan dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan bisa sekitar Rp50.000 hingga Rp80.000, tergantung situasi tawar-menawar.
Bagi Hera, pengalaman semacam itu menjadi pelajaran dan pencapaian tentang nilai dan keberanian untuk tidak langsung menyerah pada harga yang ditawarkan oleh pembeli. Di balik proses tawar-menawar itu, Hera melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar transaksi. Barang yang diambil dari perajin berpindah tangan dari pemasok ke toko, kemudian dibeli wisatawan dan kembali dijual di tempat lain dengan harga yang berbeda.
Ketika pembeli dari luar negeri memesan dalam jumlah besar, barang-barang itu bahkan dikirim melalui kargo untuk kembali memasuki pasar di negara lain. Pengalaman menjaga toko membuat Hera mulai melihat bisnis bukan lagi sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Ia tumbuh dalam keluarga yang juga memiliki usaha sembako di Sumba, tetapi justru pengalaman berhadapan langsung dengan konsumen di Bali membuatnya semakin tertarik untuk memiliki usaha sendiri.
“Habis kuliah, berbisnis aja kali ya,” katanya.
Di sela-sela kesibukan kerjanya itu, Hera tetap mempertahankan kuliahnya. Ia mendapat waktu untuk meninggalkan toko ketika harus mengikuti perkuliahan pada sore hingga malam hari. Baginya, kesempatan untuk bekerja sekaligus kuliah menjadi salah satu hal yang paling ia ingat dari tempat tersebut.
Di antara rak-rak kerajinan, percakapan dengan pembeli, dan tugas-tugas perkuliahan, dapat dilihat ternyata memimpin tidak selalu dimulai dari posisi tertinggi. Kadang, kepemimpinan tumbuh dari ruang yang sederhana yakni sebuah toko kecil, kepercayaan seorang pemilik usaha, dan keberanian seorang perempuan muda untuk mengambil keputusan dengan tangannya sendiri.
Hera bukan hanya sedang bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Ia sedang mengumpulkan pengalaman, memahami cara kerja sebuah usaha, belajar bernegosiasi, dan menemukan bahwa dirinya pun mampu mengelola sebuah ruang. Pengalaman itu perlahan menumbuhkan keyakinan bahwa suatu hari nanti ia tidak hanya ingin menjadi seseorang yang bekerja untuk sebuah usaha, tetapi juga mampu membangun dan mengelola usahanya sendiri.
Perjalanan Hera dapat dibaca sebagai gambaran tentang bagaimana seseorang perlahan menguasai ruang hidupnya ketika kesempatan untuk memilih tersedia. Di Bali, ia bukan hanya sedang membangun kehidupan baru, tetapi juga belajar memberi nilai pada pilihan-pilihan yang dibuatnya sendiri. Dari seorang perempuan yang datang dengan keputusan untuk memulai kembali, Hera menjadi perempuan yang menginspirasi karena mulai tahu kemana ia ingin membawa dirinya, meski jalan menuju ke sana masih terus ia susun.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Generasi Setara)






![Private: [Indepth Report] The Last Dragonfly](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2016/04/Agung-Parameswara_The-Last-Dragonfly_26.jpg)


