Pagi itu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA, warga pesisir utara Flores terbangun oleh guncangan yang tidak biasa. Dalam hitungan detik, gempa bermagnitudo 7,7 meruntuhkan ribuan rumah, memicu longsor, dan mengirim gelombang tsunami kecil ke garis pantai Nagekeo, Ende, hingga Manggarai.
Korban jiwa terus bertambah dalam hari hari berikutnya, puluhan ribu rumah rusak, dan lebih dari dua ribu gempa susulan tercatat menyusul kejadian utama (BMKG, 2026). Bagi banyak orang di luar Nusa Tenggara Timur, gempa ini mungkin terasa jauh. Namun bagi siapa pun yang memahami peta tektonik Indonesia bagian timur, guncangan Flores itu sesungguhnya adalah pengingat keras tentang sebuah struktur raksasa di dasar laut yang membentang dari utara Bali hingga jauh ke timur, yang oleh para ahli kebumian disebut Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.
Sesar ini bukan tumbukan lempeng biasa seperti zona megathrust di selatan Bali yang lebih akrab di telinga kita. Ia terbentuk karena lempeng Indo Australia yang menunjam ke bawah busur kepulauan Sunda kecil justru mendorong balik kerak di atasnya, menciptakan patahan naik sepanjang sekitar delapan ratus kilometer yang memanjang dari barat Lombok, melintasi Sumbawa, Flores, hingga Alor (Yang dkk, 2020).
Keberadaannya pertama kali diidentifikasi oleh ahli geologi tektonik asal Amerika Serikat, Warren Hamilton, dalam bukunya Tectonics of the Indonesian Region yang terbit tahun 1979, tahun yang kelak menjadi angka penting dalam cerita ini. Tujuh tahun kemudian, Eli Silver dari University of California Santa Cruz memetakan jalur sesar ini lebih detail lewat survei multibeam dan menemukan bahwa bidang sesar bagian utara menyusup ke bawah bidang selatan, sebuah pola yang kemudian dikonfirmasi oleh Robert McCaffrey dan John Nabelek pada 1987 yang menunjukkan bahwa kemiringan sesar ini mengarah dari utara ke selatan dan menjangkau hingga perairan utara Bali dan Lombok.

Peta regional Sesar Naik Flores yang menunjukkan posisi sesar di utara Bali dan Lombok kemenerusannya dalam berbagai segmen hingga Pulau Flores NTT (Felix dkk, 2022)
Yang membuat sesar ini istimewa sekaligus mengkhawatirkan adalah sifatnya yang dangkal. Gempa Flores 2026 terjadi pada kedalaman sekitar sepuluh hingga lima belas kilometer, jauh lebih dangkal dibanding gempa subduksi pada umumnya, sehingga energinya sampai ke permukaan dengan kehilangan yang jauh lebih kecil (The Watchers, 2026). Pakar dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, menjelaskan bahwa lokasi dan mekanisme gempa ini sangat mirip dengan gempa Flores 1992 yang berkekuatan 7,8 dan menewaskan sekitar 2.500 orang akibat tsunami dengan tinggi gelombang mencapai 26 meter (ITB, 2026).
Kemiripan ini bukan kebetulan. Sesar Naik Flores memang terbagi dalam beberapa segmen, dan menurut kajian Pusat Studi Gempa Nasional yang dituangkan dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, segmen Flores Barat dan Tengah bergerak sekitar 11,6 milimeter per tahun dengan potensi magnitudo maksimum 7,5, sementara segmen Lombok Sumbawa bergerak 9,9 milimeter per tahun dengan potensi hingga magnitudo 8,0 (PUSGEN, 2017). Terbukti pada 2018, segmen ini melepaskan energinya lewat rangkaian gempa Lombok yang menewaskan ratusan orang, sesar yang sama diyakini bertanggung jawab meski pada percabangan imbrikasi yang berbeda dari sesar utamanya (Yang dkk, 2020).
Sekarang mari kita bergeser ke barat, ke segmen yang justru paling dekat dengan rumah kita, segmen Bali. Menurut PUSGEN, segmen ini bergerak lebih lambat, sekitar 6,9 milimeter per tahun, dengan potensi magnitudo maksimum 7,4. Angka itu boleh jadi terdengar kecil dibanding tetangganya di timur, tetapi sejarah mencatat bahwa segmen Bali sudah berulang kali melepaskan energi mematikan.
Gempa besar pertama yang tercatat terjadi pada 1815 dengan perkiraan magnitudo tujuh, mengguncang Bali timur dan memicu gelombang laut yang kuat. Empat puluh dua tahun berselang, pada 13 Mei 1857, gempa magnitudo 7,0 kembali mengguncang Singaraja dan menewaskan 36 orang. Enam puluh tahun kemudian, pada 21 Januari 1917, terjadi peristiwa yang dikenal masyarakat Bali sebagai Gejer Bali, gempa dahsyat yang menewaskan sekitar 1.500 jiwa di seluruh pulau (BMKG Wilayah III Denpasar, tanpa tahun).
Kemudian pada 14 Juli 1976, giliran Seririt di Buleleng yang luluh lantak. Gempa berkekuatan sekitar 6,3 hingga 6,6 itu menewaskan 559 orang dan merusak lebih dari 67 ribu rumah, dengan sekitar 200 anak terjebak dalam runtuhan bangunan sekolah (Wikipedia, 2025, mengutip Leimena 1979). Tiga tahun setelah Seririt, tepatnya 17 Desember 1979, gempa magnitudo 6,3 kembali terjadi di Selat Lombok, tenggara Karangasem, menewaskan sekitar 25 hingga 27 orang dan merusak hingga 80 persen bangunan di Karangasem (Wikipedia, 2024).
Sejak 17 Desember 1979 itulah, hampir setengah abad berlalu, segmen Bali dari Sesar Naik Flores belum lagi melepaskan gempa besar yang sebanding dengan pendahulunya. Bandingkan dengan segmen di timurnya. Lombok sudah melepaskan energinya pada 2018. Flores sudah melepaskannya dua kali, pada 1992 dan yang paling baru pada Agustus 2026. Sementara segmen Bali tetap diam, padahal lempeng terus bergerak, terus mengumpulkan regangan, sekitar tujuh milimeter setiap tahun yang terkunci di kedalaman dasar laut utara pulau ini. Inilah yang oleh para seismolog disebut sebagai seismic gap, sebuah kekosongan gempa besar di antara segmen segmen yang sudah pecah, yang justru menjadi sinyal bahwa akumulasi tegangan di sana belum terlepas (Daryono, dikutip IDN Times, 2022; Tempo, 2018).
Konsep ini bukan sekadar spekulasi. Riset yang dipimpin Raquel Felix bersama timnya dari Nanyang Technological University dan Earth Observatory of Singapore, yang terbit di jurnal Natural Hazards and Earth System Sciences, secara khusus memodelkan skenario jika segmen sesar di Selat Lombok, yang berada tepat di antara Bali dan Lombok, pecah dengan pergeseran tiga hingga lima meter, setara gempa magnitudo 7,5 hingga di atas 7,9. Hasil pemodelan mereka menunjukkan kota kota pesisir termasuk Denpasar dan Mataram berpotensi mengalami gelombang tsunami dalam hitungan menit setelah gempa terjadi (Felix dkk, 2022).

Diagram blok sederhana mengenai bagaimana gempa terjadi di sesar belakang busur Flores di Pulau Bali.
Di sinilah letak persoalannya. Bali utara bukan wilayah kosong seperti dahulu. Ia kini padat oleh permukiman, jalur wisata, pelabuhan, dan infrastruktur pariwisata yang terus tumbuh, sementara sebagian besar bangunan di sana belum tentu dirancang untuk menahan guncangan kuat. Ditambah lagi, di daratan Bali sendiri terdapat sesar sesar aktif lain seperti Sesar Negara, Sesar Seririt, Sesar Culik, dan Sesar Tejakula, yang juga sesekali melepaskan gempa berkekuatan sedang seperti yang terjadi di Gianyar pada September 2024 (Kompas, 2024). Semua ini membentuk lanskap risiko yang kompleks, di mana ancaman tidak hanya datang dari satu arah, melainkan dari laut utara lewat Sesar Naik Flores, dari laut selatan lewat zona megathrust, dan dari darat lewat sesar sesar lokal.
Namun ada satu hal yang harus kita pahami baik baik. Gempa itu sendiri, sebagai fenomena alam, tidak pernah membunuh siapa pun secara langsung. Yang membunuh adalah bangunan yang roboh, ketidaktahuan tentang ke mana harus berlari, dan ketiadaan rencana ketika bumi berguncang. Daryono dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika berulang kali mengingatkan bahwa waktu pasti terjadinya gempa memang belum bisa diprediksi ilmu pengetahuan mana pun hingga hari ini, tetapi kesiapan menghadapinya adalah sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali kita (Liputan6, 2026). Artinya, ketidaktahuan akan risikolah yang sesungguhnya membuat manusia rentan, bukan gempa itu sendiri.
Maka pekerjaan rumah kita di Bali utara sebenarnya jelas. Pertama, memastikan bangunan baru, terutama sekolah, rumah sakit, hotel, dan fasilitas publik, dibangun mengikuti standar tahan gempa, karena pengalaman Seririt 1976 menunjukkan betapa fatalnya gedung sekolah yang ambruk menimpa anak anak.
Kedua, memperkuat sistem peringatan dini tsunami dan memastikan setiap desa pesisir tahu jalur evakuasi tercepat menuju dataran tinggi, mengingat pengalaman gempa Flores 2026 membuktikan peringatan dini BMKG bisa dikirimkan hanya dua menit setelah gempa terjadi (BMKG, 2026).
Ketiga, menghidupkan kembali pengetahuan lokal dan cerita turun temurun tentang Gejer Bali sebagai bagian dari kurikulum kebencanaan di sekolah, sehingga generasi muda tidak menganggap gempa besar sebagai sesuatu yang mustahil terjadi lagi. Keempat, mendorong latihan evakuasi rutin, bukan hanya seremoni tahunan, tetapi simulasi yang benar benar melibatkan warga, pelaku pariwisata, dan wisatawan yang sedang berada di kawasan pesisir utara Bali kapan pun mereka datang.

Korban gempa bali berjalan di dekat bangunan-bangunan di Desa Seririt, 16 Juli 1976, yang hancur berantakan akibat gempa besar yang melanda pulau Bali bagian utara.(KOMPAS/RAKA SANTERI)
Ada baiknya juga kita berhenti sejenak membayangkan siapa saja yang akan berada di Bali utara ketika hari itu tiba. Bukan hanya warga lokal yang turun temurun tinggal di Buleleng, Karangasem, atau Jembrana, tetapi juga ribuan wisatawan yang menikmati diving di Tulamben, snorkeling di Menjangan, atau menginap di vila-vila tepi pantai yang belakangan tumbuh pesat di sepanjang pesisir utara.
Banyak dari mereka tidak pernah mendengar istilah Sesar Naik Flores, apalagi tahu bahwa mereka sedang berada persis di atas jalur patahan yang pernah melahirkan fenomena Gejer Bali. Ini bukan untuk menakut nakuti, melainkan untuk menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana di kawasan wisata bukan lagi urusan pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama pengelola hotel, biro perjalanan, hingga pemandu wisata yang setiap hari berinteraksi langsung dengan orang orang yang paling rentan karena paling asing dengan medan setempat. Rambu evakuasi tsunami, briefing singkat sebelum aktivitas di pantai, dan jalur darurat yang jelas semestinya menjadi standar minimal, bukan pelengkap.
Gempa Flores yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2026 semestinya menjadi alarm bersama, bukan hanya bagi masyarakat di Pulau Flores, melainkan bagi seluruh jalur Sesar Naik Flores termasuk segmen yang tepat berada di utara rumah kita. Sejarah sudah menuliskan polanya dengan jelas, sekitar tiga hingga enam dekade sekali sesar ini melepaskan energinya di Bali, dan hitungan waktu sejak 1979 sudah mendekati rentang itu.
Kita tidak bisa mencegah bumi bergerak, tetapi kita bisa memilih untuk tidak lagi terkejut ketika ia benar benar bergerak. Kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini, dari rumah, sekolah, hingga kebijakan tata ruang, adalah satu satunya jawaban yang benar benar berada dalam jangkauan kita.
Referensi
- BMKG. (2026). Siaran Pers: BMKG, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah Kolaborasi Percepat Pemulihan Bencana Gempa Flores. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-pemerintah-pusat-dan-pemerintah-daerah-kolaborasi-percepat-pemulihan-bencana-gempa-flores
- BMKG. (2026). Siaran Pers: 1624 Gempa Bumi Susulan Pasca-Tsunami Flores Masih Terjadi. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-1624-gempa-bumi-susulan-pasca-tsunami-flores-masih-terjadi-masyarakat-diimbau-tetap-tenang-dan-waspada
- BMKG Wilayah III Denpasar. (tanpa tahun). Sejarah Gempa Merusak. https://bbmkg3.bmkg.go.id/sejarah-gempa-merusak
- Felix, R. P., Hubbard, J. A., Bradley, K. E., Lythgoe, K. H., Li, L., & Switzer, A. D. (2022). Tsunami hazard in Lombok and Bali, Indonesia, due to the Flores back-arc thrust. Natural Hazards and Earth System Sciences, 22(5), 1665–1682. https://doi.org/10.5194/nhess-22-1665-2022
- Institut Teknologi Bandung. (2026). Pakar ITB: Gempa Flores M7,7 Perlu Diwaspadai, Kenali Potensi Gempa Susulan dan Risikonya. https://itb.ac.id/berita/pakar-itb-gempa-flores-m77-perlu-diwaspadai-kenali-potensi-gempa-susulan-dan-risikonya/63717
- Kompas.id. (2024). 4 Sumber Gempa Bali, Tidak Hanya di Zona Megathrust. https://denpasar.kompas.com/read/2024/09/22/171135178/4-sumber-gempa-bali-tidak-hanya-di-zona-megathrust
- Liputan6. (2026). Sejarah Gempa Dahsyat di Bali hingga Nusa Tenggara Akibat Sesar Naik Flores. https://www.liputan6.com/news/read/8270580/sejarah-gempa-dahsyat-di-bali-hingga-nusa-tenggara-akibat-sesar-naik-flores
- Lythgoe, K., Muzli, M., Bradley, K., Wang, T., Nugraha, A. D., Zulfakriza, Z., Widiyantoro, S., & Wei, S. (2021). Thermal squeezing of the seismogenic zone controlled rupture of the volcano-rooted Flores Thrust. Science Advances, 7(5), eabe2348. https://doi.org/10.1126/sciadv.abe2348
- Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN). (2017). Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
- Tempo.co. (2018). 2 Segmen Sesar Flores Masih Kosong Gempa Besar, BMKG: Artinya…. https://www.tempo.co/sains/2-segmen-sesar-flores-masih-kosong-gempa-besar-bmkg-artinya–836806
- The Watchers. (2026). Major M7.7 earthquake hits Flores region, Indonesia. https://watchers.news/2026/08/14/major-m7-7-earthquake-hits-flores-region-indonesia-tsunami-potential-reported/
- Warga Banten Harus Waspadai Gempa Besar di Seismic Gap. (2022). IDN Times Banten. https://banten.idntimes.com/news/banten/warga-banten-harus-waspadai-gempa-besar-di-seismic-gap-selat-sunda-00-fx5pg-nj5yfz
- Wikipedia. (2024). 1979 Bali earthquake. https://en.wikipedia.org/wiki/1979_Bali_earthquake
- Wikipedia bahasa Indonesia. (2025). Gempa bumi Bali 1976. https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Bali_1976
- Yang, X., Singh, S., & Tripathi, A. (2020). Did the Flores backarc thrust rupture offshore during the 2018 Lombok earthquake sequence in Indonesia? Geophysical Journal International, 221(2), 758–768. https://doi.org/10.1093/gji/ggaa018
- https://denpasar.kompas.com/read/2024/09/21/232531578/menilik-sejarah-gempa-bali-peristiwa-gejer-bali-pernah-memicu-tsunami.









