• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, November 5, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
3 September 2026
in Budaya, Kabar Baru, Travel
0
0
Pura di Desa Adat Guliang Kangin

Oleh: Aris Chintya (arischintya17@gmail.com)

Implementasi Tri Hita Karana di Desa Wisata Guliang Kangin diwujudkan dengan memuja Tri Murti di Pura Puseh, Bale Agung, dan Pura Dalem. Disamping itu pihak desa juga nyungsung Pura Dalem Tengaling (Kawitan Mahagotra Tirta Harum) dan Penataran Agung Dalem Dimade (Merajan Warih Dalem Dimade), yang berada di wilayah Desa Wisata Guliang Kangin. Terkait dengan dua pura terakhir, pura ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi, yang mana pura tersebut adalah peninggalan Raja Klungkung saat mengungsi ke Guliang Kangin. 

Untuk wisata spiritual, desa wisata ini menawarkan wisata malukat Pancoran Solas. Pancoran ini terletak di sisi timur desa wisata, di aliran Sungai Melangit, berbatasan dengan Pura Tirta Harum Satria Tamanbali, dan Bakas Levi Rafting. Pancoran Solas, jumlahnya 11 buah pancoran. 1 pancoran di atas, untuk keperluan upacara, sedangkan 10 pancoran di bawah, untuk keperluan malukat, membantu proses penyembuhan atau pembersihan sekala-niskala. 10 Pancoran melambangkan dasa aksara ( Sa Ba Ta I Na Ma Si Wa Ya ), yang bersemayam di seluruh tubuh manusia, sehingga pembersihan terhadap dasa aksara akan membersihkan kekotoran di pikiran dan tubuh manusia. 

Dari sudut legenda lahirnya Desa Guliang Kangin, berawal dari mengungsinya Raja Gelgel generasi VI, yang bernama Dalem Dimade, akibat pemberontakan Mahapatih Gusti Agung Maruti. Awalnya beliau menetap di Desa Blahpane. Setelah beberapa lama tinggal di sana kesehatan beliau semakin menurun, sampai suatu saat beliau pindah ke Desa Tambangwilah (Desa Guliang Kangin sekarang), dan setelah melewati proses upacara salah satunya mandi di Pancoran Solas.

Semenjak itu beliau merasa lebih tenang dan nyaman dalam pengungsian, akhirnya beliau memugar dan memberi nama pancoran tersebut sebagai Pancoran Solas. Setelah lama beliau mandi di pancoran tersebut, akhirnya beliau merasa sehat, sampai belai menamakan Desa Tambangwilah sebagai Desa Guliang, yang berasal dari kata Guh (menyebabkan) dan Liang (senang/nyaman), sehingga sampai sekarang bernama Desa Guliang. 

Bendesa Adat Guliang Kangin.

Dalam pelestarian tradisi, alam dan lingkungan, pihak desa wisata melakukan beberapa hal untuk menjaga agar tradisi yang ada dapat diteruskan ke generasi muda, dengan secara reguler melakukan kegiatan pasraman, baik untuk anak-anak dan remaja. Setiap hari libur, anak-anak diajarkan membuat klatkat, katik sate, sengkuwi, tipat, mejejaitan, mekidung, menari, menabuh, menganyam tikar pandan, dan tradisi-tradisi yang mulai dirasa punah. “Kita ajak generasi muda untuk kembali tertarik pada tradisi, sehingga bisa melanjutkannya ke depan, kita ajak generasi untuk mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti balap liar, bermain PS atau kegiatan negatif lainnya,” kata Bendesa Adat Guliang Kangin. 

Dan wilayah yang layak untuk dijadikan tujuan wisata, yaitu Desa Wisata Guliang Kangin. Desa wisata ini diinisiasi oleh warga masyarakat lokal, ditetapkan dengan Perbup No. 16 Tahun 2014, berjarak sekitar 7 Km dari Kota Bangli, 7 Km Dari Kota Gianyar, 8 Km dari Kota Semarapura, dan 37 Km dari Kota Denpasar. 

Desa Wisata Guliang Kangin menawarkan atraksi pertanian tradisional sebagai daya tarik utama, juga alamnya yang masih lestari. Wisatawan akan diberikan tontonan proses penggarapan lahan sampai menghasilkan padi, bahkan sampai beras siap dimakan. Wisatawan bisa ikut berpartisipasi dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai metekap, melasah, memula, menyiangi rumput, sampai pada memasak dengan alat tungku tradisional. 

Selain itu, desa wisata ini juga menyediakan beberapa program wisata, di antaranya trekking di sekitar wilayah desa wisata, kunjungan ke pemahat (woodcarving), cycling (bersepeda), cooking class (belajar memasak) ala Bali, a day with Balinese, Pijat Refleksi, Balinese Furification Blassing (penyembuhan tradisional), dan berbagai program yang bisa dipesan khusus oleh pengunjung. 

Desa wisata ini juga menyediakan rumah penduduk yang dijadikan penginapan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana desa wisata dan merasakan tinggal di dalamnya serta melakukan aktivitas seperti masyarakat biasa.

(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Desa Tamanbali)

Tags: desa guliang kangindesa tamanbalikelas jurnalisme warga
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Silent Reading Cegah Efek Doom Scrolling

Silent Reading Cegah Efek Doom Scrolling

1 November 2026
Ruang Bakat di Panggung Ekspresi SMAN Bali Mandara

Ruang Bakat di Panggung Ekspresi SMAN Bali Mandara

28 October 2026
Menengok Sekolah Asrama di Bali melalui Kelas Jurnalisme Warga

Menengok Sekolah Asrama di Bali melalui Kelas Jurnalisme Warga

18 October 2026
Dupa Jagadhita Manfaatkan Material Alami sebagai Aroma

Dupa Jagadhita Manfaatkan Material Alami sebagai Aroma

30 September 2026
Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

30 August 2026
Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

23 August 2026
Next Post
Navicula Merilis “Berburu Penyihir” tentang Kriminalisasi Aktivis

Navicula Merilis “Berburu Penyihir” tentang Kriminalisasi Aktivis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Jelajah Desa Awan, Desa Penyuplai Air Perkotaan

Jelajah Desa Awan, Desa Penyuplai Air Perkotaan

4 November 2026
Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

4 November 2026
Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

3 November 2026
Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

3 November 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia