• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, July 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Generasi Penjaga Menara Mekotek

Ni Made Deswiyanti by Ni Made Deswiyanti
8 July 2026
in Budaya, Kabar Baru
0
0
Perisai yang dibawa warga menjadi bagian dari iring-iringan Mekotek, tradisi yang kini dipercaya sebagai penolak bala sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Desa Munggu

Di sudut Pura Desa Lan Puseh, seorang anak berusia sebelas tahun menggenggam kayu pulet yang ia beli sendiri seharga Rp35 ribu. Bukan dibelikan orang tua. Bukan disuruh. Ia yang meminta ikut.

Ini adalah liputan pertama saya sejak magang di Niskala Studio. Saya datang dengan bayangan bahwa Mekotek hanya tentang para pemuda yang saling mengangkat kayu pulet. Namun sepanjang hari itu perhatian saya justru berkali-kali tertuju kepada orang-orang yang bahkan tidak ikut memegang kayu: anak-anak yang datang bersama orang tuanya, ibu-ibu yang bergantian ngayah, serta warga yang terus hadir setiap Hari Raya Kuningan.

Mekotek berakar dari masa Kerajaan Mengwi yang eksis pada abad ke-18 Masehi. Awalnya, tradisi ini adalah ekspresi kegembiraan prajurit Kerajaan Mengwi setelah mengalahkan Kerajaan Blambangan di Jawa, ditandai dengan arak-arakan keliling desa membawa tongkat kayu, tombak pusaka, dan umbul-umbul. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Mekotek pernah dihentikan paksa karena dianggap berpotensi menjadi sarana perlawanan rakyat.

Setelah penghentian itu, wabah penyakit melanda Desa Munggu dan sepuluh warga dilaporkan meninggal dunia. Dalam penuturan yang berkembang di masyarakat, wabah tersebut dipercaya berkaitan dengan dihentikannya pelaksanaan Mekotek. Sejak kembali dilaksanakan, Mekotek dipercaya sebagai ritual penolak bala sekaligus ungkapan syukur atas kemenangan dharma melawan adharma. Pada 27 Oktober 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Mekotek sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (Kompas.com, 2021; DetikBali, 2023).

“Sampai saat ini kami tidak berani meniadakan ritual ini. Selain sebagai penghormatan bagi jasa leluhur kami, ritual Mekotek sebagai penolak bala,” kata Bendesa Adat Munggu I Made Rai Sujana.

Persiapan di Pura

Sekitar jam satu siang, warga Desa Munggu berkumpul di Pura Desa Lan Puseh. Bapak-bapak datang membawa tongkat kayu dari banjar masing-masing. Ibu-ibu PKK serempak memakai kamen dan selendang ungu, sedang ngayah hari itu. Peran ini bergantian setiap banjar setiap enam bulan sekali, jadi yang bertugas menyiapkan banten dan mengiringi upacara hari itu bukan ibu-ibu yang sama setiap kali Kuningan datang. Bahkan dalam hal-hal kecil seperti siapa yang bertugas hari itu, tradisi ini terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di sudut pura, beberapa anak tampak ikut bersama orang tuanya, malu-malu kalau diajak bicara, tetapi begitu ditanya soal Mekotek, mata mereka langsung bersemangat.

Warga menjelaskan bahwa peserta yang membawa kayu harus berusia minimal tujuh belas tahun. Anak-anak memang belum diperbolehkan mengangkat kayu. Meski begitu, mereka tetap hadir, diiringi orang tua, mengamati dari pinggir, dan tumbuh bersama tradisi yang suatu hari akan mereka jalani sendiri. Tatapan mereka kepada para pemuda seolah memperlihatkan bahwa proses pewarisan itu telah dimulai jauh sebelum mereka cukup umur mengangkat kayu.


Meski belum cukup umur untuk ikut Mekotek, anak-anak sudah tumbuh bersama tradisi ini sejak kecil.

Suara Kulkul

Menjelang prosesi dimulai, suara gambelan mulai terdengar. Namun yang benar-benar menghentikan langkah adalah bunyi kulkul yang bersahutan dari pura dan banjar yang dilalui rombongan Mekotek. Hampir setiap kali peserta mulai bergerak membawa kayu pulet, kulkul kembali dipukul, seolah menyambut perjalanan mereka menuju titik pertemuan. Di tengah iringan gambelan dan riuh warga, bunyi kulkul itu justru tidak tenggelam. Suaranya berat dan dalam, terdengar berulang mengikuti pergerakan rombongan.

Orang-orang di sekitar tetap sibuk menyiapkan kayu dan mengatur barisan. Tidak ada yang berhenti untuk mendengarkan kulkul. Mungkin karena mereka telah tumbuh bersama bunyi itu, hingga ia menjadi bagian yang begitu akrab dari setiap Hari Raya Kuningan. Di situlah terasa bahwa sebuah tradisi tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui suara-suara yang terus diulang dari tahun ke tahun.


Bunyi kulkul menjadi penanda dimulainya prosesi, suara yang terus diulang setiap Hari Raya Kuningan dan tumbuh bersama ingatan warga Desa Munggu.

Saat Kayu Diadu

Ketika menara piramida kayu pertama kali dirakit di depan Pura Luhur Beten Bingin, para pemuda yang memegang kayu langsung berputar di pertigaan sambil melompat dan bersorak. Sorak-sorai itu bukan terdengar seperti tantangan, melainkan luapan kegembiraan. Dari tengah lingkaran kayu terdengar suara seorang pemuda berteriak, “Mai bareng-bareng!” Seruan itu disambut sorak peserta lain yang mulai merapatkan kayu mereka. Seolah tradisi ini terlalu menyenangkan untuk dijalani sendirian, sekaligus terlalu berat jika dipikul tanpa kebersamaan.

Tak lama, dua menara kayu yang sudah berdiri saling diarahkan hingga bertemu dengan keras. Kayu-kayu pulet bergoyang hebat. Beberapa di antaranya sampai menyentuh tiang dan kabel listrik. Sampah di pinggir jalan beterbangan, sementara beberapa batang kayu menghantam dekat warung warga.

Yang paling menarik perhatian justru bukan benturan itu, melainkan reaksi orang-orang di sekitarnya. Pecalang tetap menjalankan tugasnya dengan tenang. Warga yang berdiri di pinggir jalan hanya memperhatikan jalannya prosesi tanpa kepanikan. Di tengah riuhnya benturan kayu, ada ketenangan yang seolah lahir dari kebiasaan dan kepercayaan yang telah mereka hidupi selama bertahun-tahun.

Beberapa warga menjelaskan bahwa Mekotek dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan sebagai simbol kemenangan dharma melawan adharma sekaligus pengendalian hawa nafsu, sekaligus sebagai bentuk penolak bala bagi desa. Batas usia minimal tujuh belas tahun diterapkan demi keselamatan, mengingat benturan antarkayu dapat terjadi sewaktu-waktu. Saat pandemi, Mekotek tetap dilaksanakan meski dengan jumlah peserta dibatasi. “Kalau tidak dilaksanakan rasanya tidak tenang,” ujar salah seorang warga sambil tersenyum tipis. Bagi sebagian warga, Mekotek bukan sekadar tradisi yang dipertahankan, tetapi bagian dari keyakinan yang terus dijaga agar tidak terputus.


Kayu pulet yang semula dibawa masing-masing peserta perlahan disatukan hingga membentuk menara, lambang kebersamaan yang menjadi inti prosesi Mekotek.


Di balik benturan kayu, terdengar tawa dan ajakan “Mai bareng-bareng”, memperlihatkan bahwa kebersamaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Mekotek.


Dua menara kayu saling diarahkan hingga bertemu, sementara warga berdesakan di sekitarnya menjaga agar prosesi terus berlangsung.

Peran Perempuan

Sepanjang prosesi, hanya laki-laki yang memegang kayu dan berjalan di barisan utama. Perempuan berada di sisi lain prosesi: mekidung, menyiapkan banten, mengiringi jalannya upacara. Awalnya saya mengira perempuan hanya berada di pinggir prosesi. Namun semakin lama mengamati, saya menyadari justru merekalah yang menjaga ritme upacara tetap berjalan. Tanpa banten yang mereka siapkan, kidung yang mereka lantunkan, atau kerja bergiliran yang mereka lakukan sejak pagi, prosesi ini mungkin tetap berlangsung, tetapi tidak akan utuh.

Beberapa ibu PKK yang sedang bertugas menjelaskan bahwa tidak ada pembagian peran yang bersifat membatasi. “Sebenarnya tidak ada peran khusus yang membedakan perempuan dalam Mekotek. Hanya saja, bagian mengangkat kayu memang dilakukan oleh laki-laki. Sementara perempuan berfokus pada sarana upacara dan mengiringi. Tugas itu pun dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu PKK dari setiap banjar setiap enam bulan sekali,” kata salah seorang di antara mereka.

Beberapa anak perempuan yang berdiri di pinggir jalan, ketika ditanya apakah ingin ikut mengangkat kayu suatu hari nanti, hanya tersenyum kecil. Mereka mengatakan tradisi ini tetap menjadi bagian dari diri mereka. Ikut datang setiap Kuningan, tumbuh bersama Mekotek, dan mengenalnya sejak kecil.

Pewarisan tradisi rupanya tidak selalu terjadi di tengah lingkaran kayu. Ia juga berlangsung dari tepi jalan, dari suara kidung yang mengiringi prosesi, dan dari tangan-tangan yang menyiapkan banten.


Meski tidak mengangkat kayu, ibu-ibu PKK memastikan prosesi tetap utuh melalui kidung, banten, dan kerja bergiliran setiap banjar.

Mereka Yang Tetap Menjaga

Seorang pecalang yang bertugas hari itu, ketika ditanya soal sejarah dan makna mendalam tradisi ini, hanya menjawab santai, “Coba cari di internet saja,” sambil mengaku tidak terlalu mengetahui detailnya dan menyarankan untuk bertanya kepada mangku.

Jawaban itu terasa mengecewakan. Harapan untuk menemukan penjelasan panjang tentang sejarah Mekotek tidak terjawab. Namun beberapa saat kemudian terasa jelas, mungkin memang tidak semua orang menjaga tradisi dengan cara menghafal sejarahnya. Ada yang menjaganya dengan berdiri berjam-jam mengatur jalan agar prosesi tetap berlangsung aman.

Beberapa warga lanjut usia yang kini memilih tidak lagi ikut mengangkat kayu karena khawatir akan keselamatannya mengungkapkan hal yang sama. Mereka mengatakan senang melihat generasi muda sekarang melanjutkan Mekotek. Tatapan mereka kepada para pemuda memperlihatkan bahwa proses pewarisan telah dimulai jauh sebelum mereka cukup umur mengangkat kayu.

Tradisi tidak selalu bertahan karena semua orang hafal sejarahnya. Ia bertahan karena selalu ada orang yang bersedia mengambil perannya, lalu perlahan menyerahkannya kepada generasi berikutnya.


Tidak semua orang menjaga Mekotek dengan mengangkat kayu. Sebagian menjaganya dengan memastikan prosesi berlangsung aman hingga selesai.


Di teras pura, anak-anak, orang tua, hingga lansia menyaksikan prosesi yang sama, memperlihatkan bagaimana tradisi diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Penutup

Mekotek berakhir sore itu. Setelah berjam-jam berjalan, berhenti sejenak di bawah rindangnya pohon sambil menikmati jajanan UMKM, lalu kembali menyusun piramida kayu, para peserta akhirnya membubarkan diri. Jalan yang sempat ditutup kembali dibuka. Kendaraan mulai memenuhi ruas jalan, sementara daun plawa, pandan, dan tamiang masih berserakan di aspal.

Siang itu saya datang dengan bayangan bahwa Mekotek diwariskan lewat cerita tentang sejarah dan filosofi yang diingat dari generasi ke generasi. Namun yang ditemukan di lapangan justru berbeda. Tradisi ini hidup melalui hal-hal yang sering luput diperhatikan: anak-anak yang setia mengikuti orang tuanya, ibu-ibu yang bergantian ngayah dan mekidung, para pemuda yang mengangkat kayu, hingga warga yang terus hadir setiap Hari Raya Kuningan. Barangkali yang menjaga Mekotek tetap hidup bukan semata sejarah yang terus diceritakan, melainkan orang-orang yang terus mengambil perannya.


Setelah prosesi usai, kayu pulet kembali dibawa pulang. Yang tertinggal bukan hanya jejak di jalan desa, tetapi juga tradisi yang akan kembali dijalankan pada Hari Raya Kuningan berikutnya.


Daun plawa, pandan, dan tamiang yang tertinggal di jalan menjadi jejak bahwa beberapa saat sebelumnya desa ini baru saja merayakan Mekotek.

Sumber: Kompas.com (2021), DetikBali (2023), situs resmi Pemerintah Kabupaten Badung (badungkab.go.id)

Tags: kuninganMekotekmengwiMunggu
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ni Made Deswiyanti

Ni Made Deswiyanti

Related Posts

Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

22 April 2025
Ngrebeg Mekotekan di Munggu

Ngrebeg Mekotekan di Munggu

21 January 2023
Merayakan Kemenangan dalam Kekalahan

Merayakan Kemenangan dalam Kekalahan

8 July 2011

Dua Tempat yang Sudah Sekarat

27 July 2010

Ritual Menghidupkan Pasar Kuliner Tradisional

2 June 2010
Berperang dengan Tipat Bantal di Kapal

Berperang dengan Tipat Bantal di Kapal

8 October 2009
Next Post
Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

8 July 2026
Generasi Penjaga Menara Mekotek

Generasi Penjaga Menara Mekotek

8 July 2026
Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Kota Makin Padat dan Tanah yang Kian Sulit Dijangkau

6 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia