• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, June 26, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ketahanan Pangan Bali Bertumpu pada Kearifan Lokal tapi ya Begitulah

I Wayan Budi Adinanta by I Wayan Budi Adinanta
25 June 2026
in Kabar Baru, Pertanian
0
0

Di tengah geliat pariwisata yang kembali pulih dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, Bali justru menghadapi tren penurunan produksi beras. Dalam empat tahun terakhir, produksi beras di Pulau Dewata tercatat turun dari sekitar 384 ribu ton pada 2022 menjadi sekitar 331 ribu ton pada 2025. Meski Kabupaten Tabanan masih menjadi lumbung padi utama Bali, penurunan produksi di sejumlah daerah menunjukkan bahwa ketahanan pangan daerah tidak dapat hanya bergantung pada peningkatan hasil panen semata.

Di tengah penurunan produksi tersebut, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketahanan pangan Bali tidak hanya ditentukan oleh besarnya hasil panen. Kemampuan masyarakat mempertahankan sistem pangan lokal, menjaga kelembagaan pertanian tradisional, dan mengelola sumber daya secara berkelanjutan dapat menjadi faktor penting dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Kajian yang dilakukan oleh Thomas Reuter mengungkapkan bahwa sistem pangan tradisional Bali selama berabad-abad dibangun melalui hubungan perdagangan antara masyarakat dataran tinggi dan pesisir yang saling melengkapi. Sistem tersebut berfungsi sebagai mekanisme ekonomi yang didasarkan pada nilai gotong royong, saling membantu, dan kepercayaan yang disebut sebagai ekonomi moral. 

Praktik ekonomi moral telah lama berkembang di wilayah dataran tinggi dan pesisir timur laut Bali yang dihuni masyarakat Bali Aga. Selama berabad-abad, masyarakat pegunungan dan pesisir membangun hubungan perdagangan yang saling melengkapi. Warga pesisir membawa garam, ikan, kelapa, dan minyak kelapa ke daerah perbukitan, sementara masyarakat dataran tinggi menukarnya dengan pisang, jagung, rempah-rempah, kopi, sayuran akar, hingga daging.

Pertukaran tersebut tidak semata berlangsung melalui transaksi pasar. Masyarakat Bali mengenal praktik baang-ngidih, yang berarti memberi dan meminta, sebagai mekanisme distribusi pangan berbasis hubungan sosial. Sistem pertukaran tanpa uang tunai yang dilakukan antar anggota keluarga, tetangga, atau kerabat ini memungkinkan kelebihan hasil panen dibagikan kepada pihak yang membutuhkan sehingga mampu memperkecil risiko kekurangan pangan.

Kehidupan pasar tradisional juga tidak terpisahkan dari aktivitas keagamaan. Kintamani, misalnya, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting yang terhubung dengan jaringan pura wilayah dan ritual masyarakat. Sistem sosial tersebut menjadi salah satu fondasi yang membuat masyarakat Bali mampu mempertahankan ketahanan pangannya dalam jangka panjang.

Penelitian yang dilakukan Thomas Reuter mencatat bahwa modernisasi pertanian sejak dekade 1990-an telah mengubah pola produksi dan konsumsi pangan masyarakat Bali. Pergeseran menuju pertanian komersial dan monokultur dinilai berdampak pada menurunnya keanekaragaman hayati, solidaritas sosial, serta ketahanan pangan masyarakat lokal. Bahkan, kebun campuran yang pada awal 1990-an mampu menampung puluhan hingga lebih dari seratus jenis tanaman pangan kini semakin berkurang keberadaannya. 

Selain perubahan sistem produksi, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis juga dinilai menggeser praktik pertanian tradisional Bali. Penelitian mengenai Lontar Usada Sawah menunjukkan bahwa masyarakat Bali sebenarnya memiliki pengetahuan lokal dalam pengendalian hama, pengelolaan irigasi, hingga penentuan musim tanam yang diwariskan melalui naskah kuno. Pengetahuan tersebut diyakini dapat dipadukan dengan teknologi pertanian modern untuk menciptakan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. 

Ketahanan pangan Bali juga pernah menghadapi ujian berat saat pandemi COVID-19 melanda. Kajian mengenai Kabupaten Badung menunjukkan bahwa ketergantungan ekonomi terhadap sektor pariwisata membuat masyarakat rentan ketika aktivitas wisata berhenti. Pendapatan asli daerah Badung yang pada 2019 mencapai Rp4,8 triliun tercatat turun menjadi Rp2,1 triliun pada 2020 dan kembali menurun menjadi Rp1,9 triliun. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. 

Penelitian tersebut merekomendasikan penguatan desa adat dan subak sebagai ujung tombak ketahanan pangan. Beberapa strategi yang diusulkan meliputi pembentukan lumbung pangan berbasis komunitas, penyediaan lahan kosong untuk budidaya pertanian, pengembangan urban farming, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, serta pemanfaatan teknologi dan digitalisasi pertanian. 

Sektor peternakan menjadi salah satu indikator ketahanan pangan selain tanaman pangan. Penelitian mengenai peternakan sapi Bali menunjukkan bahwa keterbatasan pakan pada musim kemarau masih menjadi persoalan yang dihadapi peternak. Kesulitan memperoleh pakan menyebabkan sebagian peternak mengurangi jumlah ternak yang dipelihara. Oleh karena itu, penyediaan cadangan pakan, peningkatan manajemen pemeliharaan, dan edukasi mengenai ketahanan pangan peternakan dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan asal ternak. 

Di tengah tekanan modernisasi, penyusutan produksi beras, dan tingginya ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata, berbagai penelitian memperlihatkan bahwa ketahanan pangan Bali pada akhirnya tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi. Kemampuan masyarakat mempertahankan kearifan lokal, memperkuat kelembagaan subak, serta memadukan pengetahuan tradisional dengan inovasi pertanian modern menjadi modal penting agar Bali tetap mampu menjaga keberlanjutan pangannya di masa depan.

Geria, A. A. G. A. (2021). Lontar Usada Sawah: Kearifan Lokal dan Ketahanan Pangan di Bali.

Reuter, T. (2019). Understanding Food System Resilience in Bali, Indonesia: A Moral Economy Approach. Culture, Agriculture, Food and Environment, 41(1), 4–14. https://doi.org/10.1111/cuag.12135

Wirata, G. (2022). Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan pada Masa Pandemi COVID-19 melalui Penguatan Kearifan Lokal di Kabupaten Badung Bali. http://ojs.unud.ac.id/index.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Produksi Beras per Bulan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali (Ton), 2022 – 2025.

sangkarbet sangkarbet
Tags: Ketahanan Panganpangan Balipangan lokal
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Wayan Budi Adinanta

I Wayan Budi Adinanta

Related Posts

Pengetahuan Pangan Lokal Dijaga Bersama, Tak Hanya oleh Petani

4 June 2026

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

19 May 2026
Monkey Millennial, Simbol Konsumerisme Hari Ini

Monkey Millennial, Simbol Konsumerisme Hari Ini

23 January 2026
Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

Peta Wilayah Adat sudah Mencapai 33 Juta Ha Namun RUU Masyarakat Adat Masih Menggantung

20 October 2025
Jejak Pangan, Jejak Iklim. Apakah Benar Bali Surplus Beras?

Jejak Pangan, Jejak Iklim. Apakah Benar Bali Surplus Beras?

3 October 2025
Festival Bamasak Hai Mnahat

Festival Bamasak Hai Mnahat

29 March 2024
Next Post
Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

26 June 2026

Ketahanan Pangan Bali Bertumpu pada Kearifan Lokal tapi ya Begitulah

25 June 2026
Aksi Bali Bergerak Menuntut Presiden dengan 16 Tuntutan

Aksi Bali Bergerak Menuntut Presiden dengan 16 Tuntutan

24 June 2026
Klub Bola bisa jadi Ruang Artikulasi Sikap Politik

Klub Bola bisa jadi Ruang Artikulasi Sikap Politik

24 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia