
Saya tidak pernah muak belajar. Masalah muncul ketika cara berpikir tidak punya tempat. Saya memahami negara, ketimpangan, dan struktur sosial. Setiap saya membicarakannya, respons yang muncul justru penarikan. Saya sadar yang dibatasi bukan hanya ucapan, melainkan cara berpikir itu sendiri…
Lingkungan saya tidak pernah secara eksplisit melarang intelektualitas. Tapi tidak juga memberi legitimasi saya untuk benar-benar berpikir. Saya juga boleh sekolah, membaca, dan tau banyak hal, selama semua itu berhenti di kepala. Masalah muncul ketika pengetahuan itu saya bawa ke percakapan sehari-hari. Responsnya dianggap berlebihan, sok pintar, omong besar, bahkan tidak relevan. Larangan tidak pernah diucapkan, tetapi batas tetap bekerja.
Dalam kondisi ini, cara berpikir praktis dan kedangkalan menjadi ukuran diam-diam disepakati. Percakapan semua diarahkan pada pekerjaan, penghasilan, dan kebutuhan sehari-hari yang langsung terasa dampaknya. Hal-hal yang tidak memberikan hasil instan dianggap membuang waktu dan energi. Bahkan ketika mencoba mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan sesuatu yang lebih dalam, pembicaraan keseringan berhenti di tengah atau dialihkan ke topik yang lebih ringan. Tidak ada yang membantah, tapi juga tidak ada intensi untuk memperdalam. Itu batas-batas kasatmata tentang apa yang layak dipikirkan berkerja.
Situasi sialan ini pelan-pelan membentuk pendisiplinan yang tidak kelihatan, tapi terasa nyata. Sebuah bentuk governmentality dalam arti yang paling konkret! Tidak ada larangan langsung, tidak ada debat terbuka. Yang muncul justru sikap cuek, diam, jawaban singkat, absurd, atau obrolan yang tiba-tiba dialihkan. Karena semua terjadi secara halus, mekanisme ini malah jadi sangat efektif.
Saya tidak pernah merasa ditekan secara terang-terangan. Tapi ada kesadaran yang tumbuh sendiri. Saya mulai tahu kapan harus berhenti, kapan sebaiknya tidak dilanjutkan. Batas itu tidak pernah dijelaskan, tidak pernah disepakati secara terbuka, tapi selalu terasa di setiap interaksi. Lama-lama, saya tidak perlu lagi diingatkan. Saya sudah menyesuaikan diri bahkan sebelum batas itu benar-benar disentuh.
Saya belajar bukan untuk jadi pintar sendirian! Saya belajar karena ingin mengubah sesuatu, setidaknya memahami apa yang sebenarnya terjadi di sekitar saya. Buat saya berpikir itu harus punya arah. Pertanyaannya sederhana yang sering terlintas. Untuk apa belajar kalau tidak dipakai untuk melihat dan mengubah realitas? Kelamnya pertanyaan seperti itu tidak punya tempat di lingkungan yang lebih memilih stabilitas daripada refleksi.
Kondisi tersebut diperkuat oleh konteks sosial yang lebih luas. Apalagi di Bali yang sering dibayangkan tenang dan harmonis, ada lapisan sejarah yang membuat banyak hal berhenti di batas tertentu. Pengalaman pahit seperti Pembantaian tahun 65 tidak hanya meninggalkan trauma, masih membentuk cara orang bersikap terhadap percakapan yang dianggap berpotensi mengganggu keseimbangan. 60 tahun yang telah berlalu tidak sepenuhnya menghapus jejak tersebut. Jejak itu tetap hadir sebagai referensi diam dalam praktik sosial.
Pengalaman berulang kemudian mengubah disposisi saya. Saya mulai menahan diri sebelum berbicara, membaca situasi, menimbang apakah perlu jujur sepenuhnya atau cukup menyesuaikan. Bukan karena saya tidak punya pikiran, tapi karena saya sudah tahu ujungnya. Percuma! Cara bicara disederhanakan, kompleksitas dipangkas, bahkan kadang cara berpikir ikut dijajah, supaya tidak terlihat terlalu berbeda. Tidak ada paksaan langsung, tapi saya tetap bergerak dalam pola yang sama. Sadar pendisiplinan sudah bekerja dari dalam diri sendiri.
Lingkungan ini juga membentuk kondisi yang membuat orang tidak merasa perlu refleksi lebih jauh. Hidup dianggap cukup dipahami dengan bekerja, memenuhi kebutuhan, dan menghindari hal-hal yang rumit. Semua berjalan berulang tanpa banyak dipertanyakan. Upaya membawa percakapan ke arah yang lebih dalam, lebih luas, jarang berujung pada dialog terbuka. Percakapan digeser, dipersempit, atau dibiarkan berhenti begitu saja.
Tentu saya pernah mencoba mengikuti pola itu sepenuhnya. Saya berhenti membawa percakapan berat dan memilih bicara sesuai arus. Interaksi jadi lebih mudah, tidak ada lagi jarak yang terasa. Namun di balik itu, ada kehilangan yang tidak bisa saya abaikan. Saya tidak lagi mengekspresikan cara berpikir yang sudah saya bangun. Rasanya seperti mencemooh pikiran sendiri…
Saat ini, pendekatan yang saya ambil lebih selektif. Tidak semua ruang digunakan untuk menyampaikan seluruh spektrum pemikiran. Saya memilih konteks dan lawan bicara yang memungkinkan percakapan berkembang. Saya juga menerima bahwa tidak semua orang perlu memahami cara berpikir tersebut. Penyesuaian ini bukan suatu bentuk kemunduran. Strategi untuk menjaga keberlanjutan proses berpikir tanpa terus berbenturan yang tidak produktif.
Terakhir saya masih hidup di lingkungan yang sama. Batas itu masih ada. Tidak semua orang akan mengerti cara saya berpikir, dan tidak semua lingkungan akan menerima itu. Tapi satu hal tidak berubah. Saya tidak akan mengecilkan pikiran saya hanya supaya terasa cocok!








