
Perdebatan tentang kualitas pendidikan di Indonesia hampir selalu berputar pada ruang kelas: kurikulum yang berubah, metode mengajar, atau nilai ujian yang menjadi lompatan jenjang sekolah berikutnya. Sekolah seringkali ditempatkan sebagai pusat tunggal pembelajaran. Namun jika kita melihat kehidupan sehari-hari di Bali, ada sebuah kenyataan yang sering luput dari perhatian: sebagian proses belajar anak justru berlangsung di luar sekolah, melalui ritme budaya dan kehidupan komunal yang membentuk pengalaman mereka sepanjang tahun.
Di Bali, anak-anak sebenarnya hidup dalam sebuah pola yang bisa kita sebut sebagai ‘kalender kreativitas’ tahunan. Ia tidak tertulis dalam buku pelajaran, tetapi terbaca dalam siklus sasih (bulan bali), musim angin kencang (layangan), musim ikan (memancing), musim manyi (panen) serta banyak lagi rangkaian tradisi komunitas-banjar/desa.Yang paling popular saati ini, dan ditunggu khalayak ramai, sasih kesanga (musim pertunjukan ogoh-ogoh) Setiap periode dalam setahun menghadirkan berbagai ragam jenis aktivitas yang berbeda dan secara tidak langsung menumbuhkan jenis keterampilan yang berbeda pula.
Pada awal tahun (sasih kawulu, kesanga) menjelang Hari Raya Nyepi, desa-desa di Bali dipenuhi kesibukan membuat ogoh-ogoh. Anak-anak, remaja, dan pemuda banjar berkumpul di bale atau di sudut-sudut lingkungan untuk merancang dan membangun patung raksasa yang akan diarak pada malam pengerupukan. Yang tidak pawai dalam merangkai bentuk dapat berekspolrasi di bagian seni gambelan dan tari sebagai penunjangnya. Bagi masyarakat luar, kegiatan ini mungkin tampak sebagai tradisi tahunan. Namun bagi generasi muda yang terlibat di dalamnya, proses tersebut sebenarnya merupakan laboratorium kreativitas yang sangat kompleks.
Membangun ogoh-ogoh dan menyiapkan pertunjukannya tidak sekadar membuat etalase seni patung dan seni pertunjukan. Di dalamnya terdapat proses merancang bentuk, menyusun rangka bambu, memahami keseimbangan struktur, hingga menciptakan ekspresi visual yang dramatis. Anak-anak menyaksikan bagaimana sebuah gagasan diwujudkan menjadi bentuk tiga dimensi melalui kerja kolektif. Mereka belajar tentang desain, konstruksi, estetika, dan koordinasi tim—tanpa pernah menyadari bahwa mereka sedang mempelajari sesuatu yang dalam pendidikan formal sering disebut sebagai seni rupa, teknik, atau bahkan arsitektur dasar. Ketika musim ogoh-ogoh berakhir, siklus kreativitas itu tidak berhenti. Memasuki pertengahan tahun, terutama saat angin mulai stabil dan libur sekolah tiba, langit Bali berubah menjadi ruang bermain yang luas. Layang-layang bermunculan di sawah, lapangan, dan ruang terbuka desa. Bagi anak-anak Bali, inilah musim eksplorasi lain yang tak kalah penting.
Membuat dan menerbangkan layangan adalah proses belajar yang sangat intuitif. Anak-anak belajar bahwa bentuk sayap memengaruhi daya angkat, bahwa panjang ekor menentukan keseimbangan, dan bahwa arah angin menentukan strategi menerbangkan. Tanpa membaca buku fisika, mereka memahami hubungan antara gaya, struktur, dan gerak. Pengetahuan itu lahir dari percobaan langsung: mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali.Pembelajaran seperti ini sering kali jauh lebih membekas dibandingkan konsep-konsep abstrak yang hanya hadir di papan tulis. Ia melibatkan pengalaman tubuh, rasa ingin tahu, dan keberanian bereksperimen—tiga unsur yang justru menjadi inti dari kreativitas.
Selain melalui permainan dan tradisi musiman, anak-anak Bali juga tumbuh dalam ruang sosial yang khas: banjar. Di dalam struktur sosial ini, berbagai aktivitas berlangsung sepanjang tahun ; latihan gamelan, persiapan ritual upacara agama, kerja bakti lingkungan, hingga berbagai permainan tradisional. Anak-anak hadir sebagai bagian dari ekosistem tersebut.Di sanalah mereka belajar bagaimana bekerja bersama, memahami peran dalam komunitas, serta menjaga keseimbangan hubungan sosial. Nilai-nilai seperti gotong royong, tanggung jawab kolektif, dan solidaritas tidak diajarkan melalui ceramah, melainkan melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan bersama.
Jika ditarik lebih jauh, seluruh pengalaman tersebut menunjukkan bahwa budaya Bali sebenarnya menyediakan sebuah ekosistem pendidikan informal yang sangat kaya. Tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang belajar yang hidup bagi generasi muda. Masalahnya, ekosistem ini jarang dilihat sebagai bagian dari sistem pendidikan. Ketika berbicara tentang pendidikan, perhatian kita hampir selalu tertuju pada sekolah. Sementara itu, ruang-ruang belajar sosial seperti desa, banjar, dan ruang bermain anak perlahan menyusut di tengah perubahan sosial yang cepat.
Urbanisasi secara definisi sering disebut sebagai hanya perpindahan penduduk dari desa ke ke kota. Namun dalam arti lain juga dapat disebut sebagai proses peng-kotaan desa. Salah satu indikasinya yaitu ruang terbuka semakin berkurang. Lahan kosong yang dulu menjadi tempat bermain anak berubah menjadi bangunan fasilitas komersial, hunian, atau bangunan lain. Waktu anak-anak semakin dipenuhi oleh jadwal sekolah tambahan, kursus, atau aktivitas digital di layar gawai. Tanpa disadari, ruang eksperimen alami yang dulu membentuk kreativitas mereka semakin terbatas.
Jika kondisi ini terus berlangsung, yang hilang bukan hanya permainan tradisional atau tradisi di komunitas desa. Yang hilang adalah lingkungan belajar yang selama ini membentuk imajinasi, keberanian mencoba, dan kemampuan bekerja bersama pada generasi muda. Maka, sudah saatnya kita sering berdiskusi kembali tentang hubungan antara tradisi lokal dan pendidikan. Tradisi tidak seharusnya dipandang semata sebagai atraksi budaya atau agenda pariwisata. Ia juga merupakan sistem pembelajaran yang telah terbentuk melalui pengalaman kolektif masyarakat selama berabad-abad.
Sekolah tidak perlu menggantikan sistem tersebut. Justru sebaliknya, sekolah dapat belajar darinya. Kalender budaya Bali dapat dibaca sebagai kalender kreativitas anak. Musim ogoh-ogoh dapat menjadi pintu masuk untuk memahami seni, desain, dan konstruksi sederhana. Musim layangan dapat menjadi cara kontekstual untuk menjelaskan prinsip-prinsip sains. Aktivitas banjar dapat memperkaya pendidikan karakter yang sering kali sulit diajarkan secara teoritis.
Pendekatan seperti ini memungkinkan pendidikan tumbuh dari konteks kehidupan masyarakatnya sendiri. Anak tidak lagi melihat sekolah sebagai dunia yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai ruang yang membantu mereka memahami pengalaman yang mereka alami di luar kelas.
Dalam masyarakat modern, kita sering menganggap bahwa belajar hanya terjadi di sekolah. Padahal kenyataannya, sebagian pembelajaran paling penting dalam hidup seperti kreativitas, kemampuan berkolaborasi, keberanian bereksperimen, justru lahir dari pengalaman sosial yang tidak terstruktur. Di Bali, pengalaman itu masih dapat ditemukan dalam ritme kehidupan desa. Seorang anak mungkin tidak menyadari bahwa ia sedang belajar ketika membantu membuat ogoh-ogoh, menerbangkan layangan di sawah, atau bermain bersama teman-temannya di halaman banjar. Namun dari aktivitas sederhana itulah terbentuk cara berpikir, keterampilan, dan karakter yang akan mereka bawa sepanjang hidup.
Dalam dunia pendidikan yang semakin terstandarisasi dan terukur, pengalaman seperti ini menjadi semakin berharga. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak bisa hanya dari pendekatan dari kurikulum yang dirancang secara formal di ruang birokrasi. Dalam benak saya, pendidikan terbaik justru tumbuh dari kehidupan sehari-hari itu sendiri. Tanah, alam dan alam tropis bali, budaya & agama, serta ke-khasan manusia bali adalah kuncinya. Di Bali, melalui kalender kreativitas yang unik, anak-anak telah lama menunjukkan bahwa banyak pelajaran paling penting memang dipelajari di luar sekolah.
(I Dewa Gede Putra, orangtua dengan 2 anak di SD Negeri. Tinggal di Angantaka Badung)
![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-75x75.jpg)



