
Musik sudah menjadi bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dalam bersosialisasi. Maka dalam praktiknya, musik diapresiasikan dan diimplementasikan sesuai daya imajinasi, kreativitas, dan dukungan kolaboratif dari para seniman untuk mencapai tujuan kolektif.
Hal ini tertuang dalam rangkaian acara bertajuk Music Celebration 2026. Agenda tahunan yang digagas oleh Antida Sound Garden sejak 2011 lalu ini kembali hadir sebagai ruang temu bagi musisi lintas genre di Bali, sekaligus menjadi perayaan musik awal tahun yang digelar di Antida Sound Garden,pada Jumat (16/01/2026).
Edisi tahun ini menghadirkan deretan band lintas genre seperti Mom Called Killer, James, The RastaBabys, Roaddish, Rusty Chain, WLBY, serta DJ Rezman. Line-up tersebut mencerminkan karakter Music Celebration yang sejak awal membuka ruang bagi spektrum musik yang luas, mulai dari rock dan pop alternatif, hardcore atau metal, reggae, hingga dance music.
Salah satu band yang mengisi panggung Music Celebration kali ini adalah The RastaBabys, sebuah entitas reggae berbasis di Bali yang digawangi oleh pemuda asal NTT. Kehadiran mereka menunjukkan dedikasi dalam mendukung industri musik lokal dan memberikan dampak positif pada kolaborasi komunitas. Mereka telah aktif tampil di berbagai panggung, salah satunya adalah perayaan 8 tahun Get Plastic di Taman Kota Lumintang, Denpasar, pada Desember 2025 lalu.
Manajer The RastaBabys, Ucok, menceritakan awal mula karier mereka dimulai dari panggung kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk penggalangan dana bencana di Sumatera. Ia berharap acara ini terus berlanjut dan ke depannya The RastaBabys dapat kembali tampil di panggung Music Celebration.
“Kami rasa mungkin selanjutnya, RastaBabys terus lanjut main di sini. Aku juga bangga karena Antida panggil kita untuk kolaborasi. Ini pertama kalinya kami main di sini dan kami sangat bangga,” ungkap Ucok.
Founder Antida Sound Garden, Anom Darsana, menegaskan bahwa inti dari acara ini adalah menjadi kantong budaya dan wadah bagi seniman untuk terus berkarya. Program ini diniatkan sebagai perayaan bagi seluruh musisi di Bali, khususnya di Denpasar.
“Sebagai founder Antida Sound Garden, saya berharap supaya musik di Bali ini lebih semarak dan anak-anak muda Gen Z tertarik dengan live music,” tutur Anom.
Ia juga mendorong para musisi untuk konsisten membawakan karyanya sendiri. “Supaya musisi di Bali terus berkarya dengan musiknya sendiri, tidak selalu cover version tapi mempunyai ciri khas dari karakteristik musiknya itu sendiri,” tegasnya.
Dalam praktiknya, Music Celebration selalu mengedepankan semangat kolaborasi dan menempatkan musik sebagai praktik kebudayaan yang hidup. Melalui agenda ini, Antida Sound Garden kembali menegaskan perannya sebagai ruang yang konsisten untuk merawat pertemuan, dialog, dan keberlanjutan komunitas musik di Bali.










