
Ada banyak kenangan di Serambi Art Antida (kini Antida Sound Garden), Waribang, Denpasar. Di antaranya ulang tahun Bali Blogger Community, pertama kali mendengar Nosstress saat meluncurkan album perdananya, dan Dialog Dini Hari. Hampir tiap pekan ada panggung musik di halaman studio rekaman milik Agung Anom, seorang insinyur sound ini.
Bisa dibilang Antida salah satu poros interaksi musisi Bali dengan beragam genre musik. Hebatnya lagi, hampir semua panggung tidak bertiket alias gratis. Padahal untuk menghidupkan panggung tentu berbiaya mahal. Musisi seperti merasakan niat baik Antida untuk memasyarakatkan musik dan musisinya, jadi tak pernah kurang penampil. Suasana Antida juga terasa aman jika membawa anak.
Karena masalah internal, panggung Antida vakum. Namun industri musik yang dibangun Jik Anom seperti penyewaan sound dan mendukung festival musik masih berjalan.
Setelah lebih dari satu dekade vakum, ruang seni ini resmi dibuka kembali dengan nama baru, Antida Sound Garden. Peresmian tersebut ditandai dengan gelaran bertajuk “The Rebirth of Antida Sound Garden” pada Sabtu malam (19/7), yang dihadiri puluhan penonton dan pelaku seni dari berbagai komunitas. Walau sedikit berubah nama, namun suasana Serambi masih terasa. Anak-anak masih terlihat aman berlarian di halaman rumput ketika musisi berdendang.
Acara peluncuran ini berlangsung di dua area utama—indoor dan outdoor—yang bergantian menjadi panggung pertunjukan musik, tari, dan puisi. Beberapa penampil yang hadir antara lain Made Mawut, Jasmine Okubo, Pranita Dewi & Yan Sanjaya, Sandrina Malakiano, Dialog Dini Hari, Galiju, serta The Munchies.
“Antida selalu punya ruang bagi yang tak punya tempat. Ia bukan hanya venue—ia tempat orang-orang percaya bahwa seni bisa mengubah hidup,” ujar Anom Darsana, pendiri Antida Sound Garden. Ia menambahkan bahwa transformasi Antida bukan sekadar upaya merawat kenangan, melainkan menciptakan masa depan bersama komunitas seni yang lebih kuat dan inklusif.

Antida Sound Garden kini tampil dengan infrastruktur baru, namun tetap mempertahankan esensi sebagai ruang ekspresi bebas yang selama ini melekat sejak berdirinya pada tahun 2010. Dalam sejarahnya, ruang ini telah menjadi tempat tumbuh bagi banyak nama besar skena musik independen di Bali dan Indonesia, seperti Nosstress, Navicula, Dialog Dini Hari, The Hydrant, dan lainnya.
Rangkaian pertunjukan malam itu menyuguhkan nuansa musikal yang variatif—dari blues dan puisi kontemporer hingga eksplorasi instrumental dan groove psikedelik.
Panggung outdoor dibuka oleh Made Mawut musisi asal Denpasar dengan gaya blues nan membumi. Panggung indoor kemudian menyuguhkan repertoar musikal dari Sandrina Malakiano yang membawakan lagu-lagu dari album terbarunya bertajuk AIR.
Setelahnya, Jasmine Okubo yang membawakan tarian kontemporer bertema tubuh dan transisi. Dialog Dini Hari lalu hadir dengan kekuatan liris dan musikalitas khas mereka, mengajak penonton menyelami nostalgia ruang ini sebagai Serambi Art Antida.
Segmen puisi kemudian hadir lewat penampilan Pranita Dewi bersama Yan Sanjaya yang menghadirkan atmosfer sunyi dan reflektif di tengah keramaian.
Sebagai bagian dari puncak acara Galiju menghadirkan eksplorasi instrumen yang menggabungkan akar lokal dengan pendekatan modern. Acara ditutup oleh The Munchies yang membangkitkan semangat hingga larut malam.
Dengan pembukaan kembali Antida Sound Garden, Bali kini kembali memiliki sebuah rumah kreatif yang bukan hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga membangun ekosistem seni yang berkelanjutan. Ruang ini diharapkan menjadi titik temu bagi seniman lintas disiplin untuk berkolaborasi dan merawat ingatan kolektif yang pernah hidup di dalamnya.











![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)