• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, October 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pejabat Rasa Raja

Renaldi Bayu by Renaldi Bayu
15 July 2025
in Kabar Baru, Opini, Pelayanan Publik
0
0
Gubernur Bali dan pejabat lainnya saat peluncuran lokasi PKB. Foto: Luh De

Negara dengan sistem demokrasi, jabatan publik adalah amanah. Namun, muncul fenomena yang menghadapi ancaman kultural yang kian mangakar, dimana feodalisme gaya baru yang tumbuh subur di tubuh birokrasi dan ruang sosial masyarakat.

Di tengah narasi demokrasi prosedural yang terus dikumandangkan, kita justru menyaksikan paradoks: pejabat publik yang tampil layaknya raja, dan masyarakat yang kembali memposisikan diri sebagai “kawula” alih-alih warga negara yang berdaulat. Praktik ini tak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga tampak nyata di daerah-daerah, termasuk di Bali.

Praktik penyambutan pejabat yang berlebihan seorang pejabat menjadi pemandangan yang tak asing. Sambutan mulai dari tabuh baleganjur lengkap dengan pengalungan bunga oleh anak-anak sekolah, hingga kepala daerah yang hadir dalam seremoni desa disambut oleh barisan penari rejang, hanuman, penduduk berpakaian adat dengan warna seragam, dan pengawalan aparat secara massif.

Di beberapa tempat, baliho besar bertuliskan “Selamat Datang Bupati” menghiasi jalan utama, menggambarkan suasana seolah-olah kepala daerah adalah figur aristokratis yang sedang melakukan kunjungan kerajaan. Sebagian camat dan perangkat desa pun terjebak dalam ritualisasi ini, menjadikan agenda pembangunan sebagai panggung seremoni kekuasaan (yang datang adalah penguasa, bukan pelayan masyarakat).

“Demokrasi yang semestinya menciptakan relasi setara justru direduksi menjadi panggung glorifikasi. Yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini tak jarang mendapat dukungan, bahkan dirayakan oleh sebagian masyarakat.”

Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada perilaku pejabat, melainkan juga pada pola pikir masyarakat. Dalam konteks lokal, warisan budaya patronase dan penghormatan hierarkis acapkali membuat masyarakat enggan, bahkan tabu, untuk mengkritik pejabat. Kepala desa yang terlalu kritis bisa dipinggirkan dalam alokasi anggaran, aktivis lokal bisa dilabeli sebagai “pengganggu harmoni”, dan media lokal pun sering memilih diam demi menjaga relasi ekonomi dan politik.

Akibatnya, sebagian warga masih menganggap kehadiran pejabat sebagai anugerah, bukan sebagai konsekuensi dari sistem pemerintahan yang demokratis. Jika dibiarkan, situasi ini berisiko menumpulkan fungsi kontrol publik. Media enggan bersuara kritis, lembaga masyarakat sipil terjebak dalam hubungan formalistik, dan ruang partisipasi warga menyempit. Pada akhirnya, jika dibiarkan: Akuntabilitas publik menjadi lemah.

Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga tentang relasi kuasa yang terbuka dan egaliter. Untuk itu, kita memerlukan koreksi total. Pertama, pendidikan politik di tingkat lokal harus menekankan prinsip bahwa pejabat adalah pelayan publik, bukan pemilik wilayah. Kedua, masyarakat sipil harus berani mengambil peran sebagai pengawas, bukan pendukung seremonial.

Ketiga, media lokal dan nasional harus mengedepankan jurnalisme kritis yang membongkar simbol (semiotis) kekuasaan kosong dan menyuarakan kepentingan rakyat secara objektif, independen, dan berpihak kepada kepentingan publik. Tak kalah penting, pejabat publik harus menyadari bahwa kehormatan jabatan bukan ditentukan oleh seremoni, melainkan oleh kinerja dan integritas. Jika demokrasi kita ingin bertahan, maka harus kita pastikan bahwa jabatan publik bukanlah tahta!

sangkarbet kampungbet
Tags: DemokrasiOpinipejabat publik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Renaldi Bayu

Renaldi Bayu

Renaldi Bayu is a student at Udayana University specializing in critical social sciences, with a focus on sustainability and contemporary social phenomena, combining empirical analysis and philosophical reflection in the study of modern society.

Related Posts

Aksi Kamisan Bali ke-66: Refleksi dari Pembunuhan Munir dan Marsinah

Demokrasi di Negara yang Gemar Membungkam

4 October 2026
Bali dan Banjir: Apakah Kita Serius Menata Kota?

Kesalahpahaman dalam Penganggaran Mitigasi Bencana di Bali

25 September 2026
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Bugbug, Wilayah Frontier, dan Tubuh yang Dikorbankan

17 September 2026
Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

16 September 2026
Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Next Post
Lumpuhnya Jalur Denpasar-Gilimanuk: Darurat Konektivitas dan Perlunya Jaringan Transportasi Tanggap Bencana

Lumpuhnya Jalur Denpasar-Gilimanuk: Darurat Konektivitas dan Perlunya Jaringan Transportasi Tanggap Bencana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Samarasa Lewat Citta, Rasa dan Karsa di UWRF 2026

Membaca Samarasa Lewat Citta, Rasa dan Karsa di UWRF 2026

13 October 2026
Rekonstruksi Perempuan Bali dalam Sejarah 1965

Rekonstruksi Perempuan Bali dalam Sejarah 1965

13 October 2026
Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan: Sebuah Kontemplasi Eco-Sosial-Religius di Bali

Infrastruktur Komputasi vs. Neraca Air: Mengukur Jejak Ekologis Data Center di Bali

12 October 2026
Private: [Indepth Report] The Last Dragonfly

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

12 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia