• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Tantangan Klise Petani Rumput Laut Nusa Penida

Anton Muhajir by Anton Muhajir
1 July 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosial
0
0

rumput-laut-panen

Panas matahari menjadi berkah bagi petani rumput laut di Nusa Penida.

Suhu matahari yang tinggi membuat penjemuran rumput lautbisa dilakukan lebih cepat. Hanya dua hari. Jika tak panas, penjemuran perlu tiga sampai empat hari.

“Makin cepat kering, makin cepat bisa dijual,” kata Made Sami, salah satu petani rumput laut di Banjar Pengaud, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung.

Menghadap ke arah Selat Lombok, pantai timur Nusa Penida memang tempat subur bagi rumput laut. Nyaris semua warga desa-desa di sepanjang pantai ini menggantungkan hidup dari budi daya rumput laut.

Desa-desa pusat produksi rumput laut di Nusa Penida tersebut antara lain Desa Suana, Desa Batununggul, Desa Kutampi Kaler, Desa Ped, dan Desa Toyapakeh. Adapun desa lain yang termasuk Kecamatan Nusa Penida tapi di Pulau Nusa Lembongan adalah Desa Jungut Batu dan Desa Lembongan.

Dari desa-desa ini, Nusa Penida menghasilkan dua jenis rumput laut untuk konsumsi dunia yaitu catony dan spinosum. Made Sami salah satu petani produsen rumput laut tersebut. Dia memiliki lahan seluas 1,5 are dengan sekitar 4.500 bibit rumput laut yang diikat dengan tali. Luas lahan milik Sami ini termasuk kecil karena rata-rata petani punya 1,5 hingga 15 are.

Bali merupakan satu dari sembilan provinsi penghasil komoditas rumput laut di Indonesia.

Dengan rata-rata luas lahan petani 10-15 are, berdasarkan data Coral Triangle Centre (CTC), total hasil panen rumput laut di Nusa Penida sekitar 40-50 ton tiap kali panen antara 25 hingga 35 hari. Pulau ini menyumbang sekitar 65 persen rumput laut untuk seluruh hasil rumput laut di Bali.

rumput-laut-memanen

Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, total produksi rumput laut Bali pada tahun 2013 sebanyak 145.597 ton, atau naik hanya 1 persen dibandingkan dengan 2012, 144.000 ton. Bali merupakan satu dari sembilan provinsi penghasil komoditas rumput laut di Indonesia.

Dengan lokasi menghadap laut terbuka, Nusa Penida menjadi penyumbang komoditas rumput laut bagi Bali. Komoditas ini menjadi bahan baku aneka produk penting seperti pangan dan kosmetik. Dari pulau yang terpisah dari Bali daratan ini, rumput laut kemudian diekspor lewat Surabaya ke beberapa negara seperti Jepang, China, Taiwan, Korea, dan lain-lain.

Namun, di balik potensi tersebut, petani rumput laut di Nusa Penida terus menghadapi tantangan klise, masalah penanganan pascapanen. Menurut Made Sami, hampir semua petani masih menjemur rumput laut secara tradisional. Seperti dia, semua petani hanya menjemur rumput laut tersebut di atas terpal plastik.

Cara penjemuran ini tidak terlalu bagus karena membuat rumput laut bisa tercemar bahan-bahan lain, seperti sampah dan kerikil. “Penjemuran yang bagus sebaiknya menggunakan para-para,” kata Sami, petani perempuan ini.

Selain penjemuran yang masih secara tradisional, petani juga menghadapi pemasaran komoditas yang tidak pasti. Nyoman Candra, petani rumput laut di Banjar Semaya yang berjarak sekitar 3 km dari Banjar Pengaut mengatakan hal serupa.

Menurutnya, penjualan rumput laut kering sangat tergantung pada tengkulak. Petani tak bisa menjual langsung kepada eksportir ataupun pengolah rumput laut karena kapasitas produksi tiap petani yang terbatas sedangkan eksportir butuh dalam jumlah besar.

Petani juga tak bisa menjual melalui pemasaran bersama karena mereka tidak bergabung dalam kelompok. “Dulu pernah ada kelompok tapi sekarang sudah bubar karena tidak ada kegiatan,” ujar petani laki-laki ini.

Karena tergantung pada tengkulak, maka harga penjualan pun dikendalikan sepenuhnya oleh tengkulak.

Karena tergantung pada tengkulak, maka harga penjualan pun dikendalikan sepenuhnya oleh tengkulak. Petani tak bisa melakukan tawar menawar harga dengan mereka. “Berapa mereka mau beli, segitu kami akan jual,” tambah Candra.

Harga rumput laut kering ini berbeda tergantung jenisnya. Rumput laut jenis spinosum yang oleh warga setempat disebut bulung biasa seharga Rp 5.000 per kg kering dua hari. Adapun jenis catony yang disebut bulung gondrong bisa sampai Rp 15.000 per kg.

“Bulung gondrong memang lebih mahal tapi pembelinya jarang,” kata Candra.

Menurut Ketua Yayasan Nusa Penida Wayan Sukadana kondisi petani rumput laut di Pengaud dan Semaya bisa menggambarkan kondisi petani rumput laut di Nusa Penida secara umum. Apalagi kedua tempat tersebut memang pusat produksi rumput laut. “Masalah terbesar yang dihadapi petani rumput laut di sini memang penanganan pascapanen,” kata Sukadana.

Untuk itu, menurut Sukadana, ada tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendukung petani rumput laut di Nusa Penida. Pertama dengan membantu penanganan pascapanen. Selama ini petani rumput laut di sana tidak pernah mendapat pelatihan penanganan pascapanen. Akibatnya petani masih menjemur secara tradisional.

Petani juga tak bisa membuat para-para untuk menjemur karena tidak punya cukup modal.

Kedua, Sukadana melanjutkan, pemerintah sebaiknya membangun pabrik pengolahan rumput laut di Nusa Penida. “Jika ada pabrik pengolahan rumput laut di sana, maka petani tak perlu menjual ke Surabaya lewat tengkulak. Saya yakin harga juga akan lebih tinggi,” tambah mantan fasilitator pemberdayaan masyarakat ini.

Ketiga, Sukadana menambahkan, perlu komitmen pemerintah agar petani di Nusa Penida tidak tergusur oleh pariwisata. Menurutnya, pariwisata menjadi salah satu ancaman bagi keberadaan petani rumput laut di Nusa Penida. Hal ini sudah terjadi di Nusa Lembongan. Akibat pembangunan hotel, vila, atau fasilitas pariwisata lain, petani rumput laut di Nusa Lembongan pun tergusur.

“Selain karena lahan dipakai membangun fasilitas pariwisata, rumput laut mereka pun bisa tercemar oleh limbah pariwisata sehingga rusak. Jangan sampai hal serupa juga terjadi di Nusa Penida,” ujar Sukadana. [end]

Tags: EkonomiNusa PenidaPertanianRumput LautSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Refleksi Kebun Kolektif bagi Gerakan Petani

Refleksi Kebun Kolektif bagi Gerakan Petani

12 August 2025
Next Post
Menjelajah Taman Wisata Alam Bangko Bangko

Menjelajah Taman Wisata Alam Bangko Bangko

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia