• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, November 30, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

WNA di Bali: Dulu Hanya Berwisata, Kini Menetap

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
9 August 2025
in Berita Utama, Kabar Baru
0 0
0

Sebuah akun Instagram “Human of Sibang” membawa saya ke Sibang, sebuah desa di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Akun itu menunjukkan sejumlah aktivitas warga negara asing (WNA) seperti bertempat tinggal dan pesta.

Dari unggahan akun tersebut tampak lokasi tinggal mereka ada di sekitar Jalan Green School Bali, Sibang Kaja. Google Maps mengarahkan ke Jalan Blumbungan Asri, kemudian mengarah masuk ke sebuah gang kecil. Rasa pesimis itu hilang ketika tiba di Jalan Green School. Sejumlah orang asing tampak berlalu lalang berjalan kaki.

Semakin dekat dengan Green School, semakin banyak pula orang asing. Bahkan, dua restoran di depan sekolah itu penuh dengan orang asing. Ada pula beberapa pria yang tampaknya security Green School. Mereka berjaga di beberapa titik, mengenakan udeng berwarna jingga. 

Motor-motor terparkir di depan pintu masuk Green School. Di halaman parkir tersebut ada tanda bertuliskan “No parking, e-vehicles only”. Selain orang asing, beberapa masyarakat lokal juga berlalu lalang mengendarai motor. Tempat ini mengingatkan saya pada Ubud, bedanya hanya lebih kecil lingkupnya dan lebih rindang pepohonan.

Saya pun memutuskan berkunjung ke salah satu cafe di sana, berbincang dengan salah satu pegawai terkait area Green School. Pegawai tersebut menjelaskan bahwa area ini memang ramai oleh orang asing. “Biasanya parents (orang tua) banyak di sana,” jelasnya ketika ditanya apakah banyak orang asing yang mengunjungi cafe di area tersebut, terutama cafe di depan Green School.

Dari Green School lurus menuju selatan, ada perumahan dan vila. “Bule-bule biasanya tinggal di sana,” imbuhnya. Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa area yang dipagari dan tidak boleh asal masuk. Menurut penuturannya, hari ketika saya berkunjung (24/7) terbilang sepi karena sekolah libur saat itu.

Sekitar pukul 15.00 WITA, cafe yang saya kunjungi tutup lebih awal. Sebelum tutup setidaknya hanya ada dua pengunjung yang datang. Beberapa menit setelah tutup, ramai terdengar bahasa asing di belakang saya. Tampak para orang tua berjalan sembari menggandeng anaknya.

Pukul 15.30 WITA sepertinya jam pulang sekolah karena para orang tua dan anak-anak semakin ramai berjalan kaki dari arah Green School menuju arah utara. Beberapa orang yang wajahnya lebih familiar pun mengendarai motor hendak pulang ke rumah masing-masing. Bersamaan dengan jam pulang Green School, cafe di sana juga ikut tutup. 

Jalanan yang sebelumnya ramai oleh orang asing menjadi sepi. Setelah mengamati area tersebut, tampaknya area Green School ramai oleh asing karena sejumlah orang tua menunggu anak mereka. Hunian mereka tersebar di sekitar area tersebut, terlihat dari mobilitas mereka dengan jalan kaki. Beberapa ada yang mengendarai mobil dan hiace. Setelah ditelusuri, banyak vila yang tersebar di sekitar Green School. Beberapa sudah ada sejak lama dan ada juga yang masih proses pembangunan.

Kini, ada yang berubah dari aktivitas WNA di Bali. Awalnya hanya datang untuk sekadar berlibur, kini datang untuk menetap. Gaji dengan nilai kurs sangat tinggi, biaya hidup rupiah, dan segala kemudahan serta keindahan Bali memang menggiurkan.

Perubahan ini menghidupkan sejumlah wilayah yang hanya diisi orang asing. Apakah kamu masih ingat PARQ Ubud yang disebut-sebut sebagai Kampung Rusia?

PARQ Ubud yang dulu menjadi hunian banyak Warga Negara Rusia kini berubah sepi. Hanya masyarakat lokal yang berlalu lalang serta para pekerja yang bersiap mengganti nama dan wajah tempat tersebut.

Di bagian depan, terdapat bangunan tinggi berbentuk setengah lingkaran. Warnanya coklat, seperti arsitektur di negara Roma. Kaca-kaca tinggi berbentuk melengkung, menambah kesan Eropa.

PARQ Ubud sempat beroperasi beberapa tahun sebelum ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar karena melanggar tata ruang, berdiri di atas sawah yang dilindungi. Kresnanta pernah mengunjungi PARQ pada Januari tahun 2023 silam. Menurut penuturannya, beberapa bangunan saat itu masih dalam proses pembangunan.

Ia dan teman-temannya ke sana karena rekomendasi TikTok. “Waktu awal ke sana agak aneh juga soalnya dari luar kan nggak kelihatan banget ya,” tuturnya. Jalan masuk PARQ melewati gang kecil. Dari jalan utama tidak begitu terlihat karena tertutup rumah warga. Begitu masuk gang tersebut, bangunan PARQ baru terlihat.

Pengalaman baru ia jumpai ketika mengunjungi tempat tersebut. Seperti kompleks hunian, PARQ Ubud berisi gym, restoran, cafe, toko-toko, studio, kolam renang, dan apartemen. Di bagian lobi ada beberapa tulisan yang menggunakan Bahasa Rusia. “Itu pengalaman pertama, di Bali terutama, tumben ngelihat ada tempat yang ada Bahasa Rusianya,” ujarnya.

Selain wilayah Ubud dan Sibang, Kabupaten Tabanan juga semakin ramai dikunjungi wisatawan. Kamu tentu mengenal Nuanu Creative City, berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.

Nuanu berdiri di atas lahan seluas 44 hektar, setara 61 lapangan sepak bola standar FIFA. Cukup mudah menemukannya karena ada sejumlah papan petunjuk yang menunjukkan arah Nuanu. Ketika masuk ke Jalan Pantai Nyanyi, suasana kawasan pariwisata kian terasa.

Menuju Nuanu, berdiri sejumlah vila elit, cafe, dan restoran. Jalan aspal sepanjang kawasan tersebut penuh ukiran, berupa lubang yang siap menjatuhkan siapa saja jika tidak hati-hati. Cuaca yang tidak menentu memperparah perjalanan karena air menggenang di beberapa titik.

Lahan sawah di sepanjang jalan tampaknya baru ditanami padi. Padi yang masih kecil-kecil itu terlihat kalah dengan tingginya bangunan, entah bangunan yang sudah jadi maupun dalam proses pembangunan. Papan ‘land for sale’ dan ‘land for lease’ juga tampak jelas di sepanjang jalan.

Masuk Nuanu seolah masuk ke dunia berbeda. Begitu memarkirkan kendaraan, seorang pegawai menghampiri, mengarahkan pengunjung ke pintu masuk untuk menukarkan tiket. Tiket masuk Nuanu seharga Rp20.000 bisa digunakan untuk masuk ke beberapa destinasi di sana secara terbatas.

Ketika kami mengunjungi Nuanu, sejumlah wisatawan berhenti di Luna Beach Club. Jam menunjukkan pukul 13.00 WITA, tidak terlalu banyak pengunjung, lebih banyak wisatawan asing yang terlihat dibandingkan wisatawan lokal.

Nuanu menyediakan shuttle untuk mengantar pengunjung ke destinasi yang ingin dikunjungi. Dari atas shuttle, kami melihat banyak pembangunan yang sedang dilakukan di kawasan tersebut. Di sebelah instalasi The Earth Sentinels yang terkenal, ada pembangunan hotel besar-besaran. Area depan pembangunan terdapat spanduk berisi tawaran investasi real estate. Return of investment atau laba investasi yang ditawarkan mencapai 13% dari total investasi.

Selain hotel, pembangunan juga dilakukan di belakang Art Village Nuanu. Menurut salah satu pegawai, di sana akan dibangun flying fox dengan kolam buatan di bawahnya. Siang itu, beberapa pekerja proyek dan truk berlalu lalang, mengangkut material proyek ke sejumlah titik. Ketika berkeliling Nuanu, kami juga melihat area tempat tinggal pekerja proyek. Material bangunannya dari triplek, menunjukkan ketimpangan dengan bangunan vila di depannya.

Nuanu adalah kawasan yang cukup lengkap, ada hunian, sekolah, spa, beach club, galeri seni, cafe, dan masih banyak lagi. Berlokasi di Desa Beraban membuat Nuanu membuka lapangan kerja baru untuk masyarakat Desa Beraban.

Wisnu, salah satu anak muda Desa Beraban memperkirakan mungkin hampir 50% masyarakat Desa Beraban bekerja di Nuanu. Pihak Nuanu juga kerap menggandeng dan mengundang masyarakat lokal di beberapa acara.

Sebelum Nuanu dibangun, sebagian lahan merupakan sawah dan sebagian lagi merupakan tanah lapang yang kerap dijadikan tempat menggembala sapi. Rumah Wisnu tidak jauh dari Nuanu, hanya berjarak 3 km. Ketika masih proses pembangunan pada tahun 2020, Wisnu tidak tahu menahu kawasan tersebut akan menjadi apa.

Ketika beroperasi pada tahun 2024, masyarakat lokal sempat terlibat konflik dengan Nuanu. Menurut penuturan Wisnu, perkumpulan taksi lokal yang berkumpul di Tanah Lot sempat dilarang masuk ke Nuanu. Sementara, taksi online bisa dengan bebas keluar masuk. Hal ini sempat menjadi perdebatan karena merugikan masyarakat lokal. 

Dilansir dari Radar Bali, perkumpulan taksi ini bernama Beraban Transport Community (BTC). Mereka sempat melakukan aksi pada bulan Maret lalu. Salah satu tuntutannya adalah memberdayakan anggota BTC untuk mengelola transportasi yang dibutuhkan pelanggan Nuanu.

Pembangunan kawasan ‘elit’ di Tabanan juga berdampak kepada lingkungan sekitar Desa Beraban. “Banyak orang luar yang jadinya lebih tertarik ke sana,” ujar Wisnu mengakui semakin banyak masyarakat pendatang dari luar Bali yang tinggal di Desa Beraban.

Banyak pula lahan yang dikembangkan menjadi akomodasi pariwisata, seperti vila. Bahkan, ketika kami ke sana pun banyak vila yang masih dalam proses pembangunan. Selain dimiliki investor asing atau investor luar Desa Beraban, beberapa vila ternyata dimiliki masyarakat lokal.

Jalan Green School, PARQ, dan Nuanu, hanya tiga dari sekian kawasan pariwisata di Bali yang makin banyak didatangi dan ditinggali orang asing. Kamajaya, akademisi Universitas Udayana menjelaskan bahwa wisatawan asing yang menetap dalam jangka waktu panjang tidak menjadi persoalan. “Sepanjang memenuhi semua ketentuan hukum yang berlaku,” tulisnya dalam pesan singkat.

Dari sudut pandang sosial, masyarakat asing yang tinggal di area tertentu berpotensi menciptakan eksklusivisme. “Kecenderungan mereka akan membawa/mempertahankan struktur kultural, pola relasi sosial seperti di negara asalnya, dan eksklusif akan selalu terjadi jika konsentrasi suatu kelompok berada pada wilayah geografis tertentu,” ujar Kamajaya.

Ini seperti yang terjadi di Jalan Green School, beberapa daerah diawasi dan hanya orang tertentu yang bisa masuk. Lebih lanjut Kamajaya menjelaskan bahwa eksklusivisme, nilai yang dianut, dan superioritas yang mereka anut di tempat asalnya berisiko memicu konflik dengan masyarakat lokal, seperti yang terjadi antara BTC dan Nuanu. “Anonimitas atau tidak ada satu pun orang yang mengenalnya atas kehadiran mereka di suatu wilayah baru, sehingga kecenderungan orang bertindak sesukanya jadi lebih besar,” imbuhnya.

Faktor yang membuat wisatawan tergiur untuk tinggal di Bali adalah pariwisata Bali murah. Kamajaya menyentil bagaimana istilah Bali The Last Paradise memperhalus kata murah, sehingga semakin gurih untuk dijual. 

Hegemoni pariwisata ini pun membawa perubahan sosial, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Bukan hanya wisatawan yang tergiur dengan pariwisatanya, masyarakat lokal pun tergiur mendapatkan pundi-pundi yang lebih cepat dari pariwisata itu sendiri.

kampungbet rtp live palembangpafi sangkarbet sangkarbet
Tags: Green SchoolNuanupariwisata baliPARQwisatawan asing
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Rencana Aksi Ketahanan Pariwisata Bali

Dua Wajah Bali: Pariwisata Berbasis Budaya dan Budaya Berbasis Pariwisata

30 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Mengharapkan Perubahan Ubud dari Warga dan Pemerintah

Mengharapkan Perubahan Ubud dari Warga dan Pemerintah

15 September 2025
UMKM Terseok-Seok Hadapi Penataan di Pantai Sanur

Inilah Proyek Investasi Daerah Bali

23 August 2025
A Day in My Life, 140.000 untuk Segelas Keringat Pekerja Harian

A Day in My Life, 140.000 untuk Segelas Keringat Pekerja Harian

9 June 2025
Mendorong Tata Krama Berwisata di Bali

Mendorong Tata Krama Berwisata di Bali

22 May 2025
Next Post
Upacara Bendera Tak Biasa di Nusa Penida

Benarkah Kita Sudah Merdeka? Indonesia 80 Tahun Ternyata...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Rencana Aksi Ketahanan Pariwisata Bali

Dua Wajah Bali: Pariwisata Berbasis Budaya dan Budaya Berbasis Pariwisata

30 November 2025
Membongkar Narasi Gas Sebagai Energi Bersih

Membongkar Narasi Gas Sebagai Energi Bersih

29 November 2025
Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

28 November 2025
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Blabar Bali dan Ekonomi Politik Keserakahan

27 November 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia