• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Tumpek Kandang untuk Memuliakan Hewan

Anton Muhajir by Anton Muhajir
24 April 2008
in Budaya
0
1

Oleh I Made Sujaya

SABTU (12/4) lalu, bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Uye, masyarakat Bali (Hindu) merayakan hari suci Tumpek Uye atau disebut juga Tumpek Kandang atau Tumpek Andang. Awam kerap memaknai hari ini sebagai hari untuk memuliakan segala jenis hewan sebagai bagian penting ekosistem penopang kehidupan di dunia. Inilah satu dari setumpuk tradisi Bali yang memberikan pesan agar manusia senantiasa bersahabat dengan alam dengan segenap isinya. Apa sebetulnya makna hari Tumpek Kandang? Lalu, apa relevansinya dengan konteks kekinian?

BERBAHAGIALAH masyarakat Bali yang mewarisi beragam tradisi jaga lingkungan yang unik sekaligus otentik. Tradisi-tradisi berkesadaran lingkungan mengajarkan manusia Bali bagaimana semestinya merawat kelestarian alam dengan menjaga keseimbangan ekosistemnya, senantiasa mewujudkan harmoni hubungan manusia dengan alam dengan segenap isinya.

Hari raya tumpek merupakan perwujudan dari tradisi berkesadaran lingkungan itu. Selain Tumpek Pengatag yang dikenal sebagai hari untuk menyucikan tumbuh-tumbuhan, manusia Bali juga mengenal Tumpek Kandang sebagai hari untuk memuliakan hewan.

Sabtu (12/4) lalu, bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Uye, manusia Bali kembali merayakan Tumpek Kandang. Pada hari ini masyarakat Bali bakal menggelar upacara khusus kepada hewan khususnya hewan piaraan. Maka, pemandangan peternak menghaturkan sesajen untuk sapi atau babi piaraannya jamak terlihat di Bali kemarin.

Penekun agama, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA, M.M., dalam buku Ajaran Agama Hindu (Acara Agama) menyatakan Tumpek Uye sejatinya sebagai korban suci untuk semua jenis binatang yang ada di alam semesta ini seperti golongan sato, mina, paksi, manuk, serta gumatap-gumitip. Tujuannya untuk memberikan penyupatan agar kelahiran berikutnya dari roh hewan-hewan tersebut bisa meningkat kualitas tingkat kehidupannya.

Namun, Sudarsana menilai penyupatan itu tidak semata untuk binatang dalam pengertian fisik yang ada di bhuwana agung (alam semesta), tetapi juga nonfisik berupa sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia (bhuwana alit). Makna ini dicermati dari penyebutan Tumpek Uye sebagai Tumpek Kandang. Penyebutan Tumpek Kandang tiada terlepas dari perhitungan dina (hari). Saniscara (Sabtu) dianggap memiliki urip 9, wara kliwon memiliki urip 8 dan wuku uye juga memiliki urip 8. Jika dijumlahkan, Saniscara Kliwon Uye memiliki urip 25. Jika kedua angka itu dijumlahkan, didapat angka 7. Berdasarkan Tattwa Samkhya, hari dengan urip 7 dianggap sebagai hari berwatak rajah yang disejajarkan dengan watak sato (binatang).

Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga kerap mengkonsumsi daging yang bersumber dari hewan. Karenanya, unsur-unsur binatang telah bersemayam juga dalam tubuh manusia. Semua ini sedikit banyak juga membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia. Karena itu, manusia dikonsepsikan dalam Hindu memiliki sifat Tri Guna yakni satwam, rajas dan tamas.

Karenanya, dalam hari suci Tumpek Kandang, manusia seyogyanya menyucikan diri, menetralisir (nyomya) kekuatan-kekuatan binatang dalam diri.

Di luar konsepsi agama seperti itu, perayaan Tumpek Kandang sejatinya dapat dipandang sebagai pernyataan rasa terima kasih dan syukur manusia Bali kepada Sang Pencipta yang telah mengadakan berbagai jenis fauna di jagat semesta ini. Seperti halnya tumbuh-tumbuhan, hewan memiliki andil dan jasa yang tiada terbilang besarnya untuk menopang kehidupan manusia. Kecuali menopang kebutuhan konsumsi manusia, hewan juga membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan nyaman. Manusia kerap meminta pertolongan kepada hewan-hewan tersebut. Lihat saja petani yang memanfaatkan sapi atau kerbau untuk membajak sawah, kusir dokar yang memanfaatkan kuda untuk menarik dokarnya.

Bahkan, jika dicermati lagi, hewan bisa memberikan pesan-pesan penting bagi kehidupan manusia. Hewan kerap lebih awal memberi isyarat akan terjadinya bencana sehingga manusia yang berakrab dengan sasmita alam akan bisa mengetahui bencana segera menerjang. Tengok saja bencana Tsunami yang diawali tanda-tanda hijrahnya burung-burung atau gunugn merapi meletus diawali dengan. Hewan-hewan tiada henti memberi tanda alam bagi keselamatan manusia, memang.

Keseimbangan ekosistem yang bermuara pada ketenangan hidup manusia juga sangat ditopang oleh peran berbagai jenis hewan. Tanpa kehadiran hewan, daur kehidupan tidak akan terjadi. Alam menjadi rusak dan manusia pun akan ikut rusak.

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026

Dua Pantai di Bali Terancam Hilang

8 January 2026

Perjalanan Anti Mainstream di Jembrana

8 January 2026
Next Post

Otonan, Ulang Tahun ala Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia