Memberi Suara pada Kartini di Balik Jeruji

Pertiwi menyuarakan Kartini di balik jeruji Lapas Perempuan Denpasar.

Foto Arsip Pertiwi

Lima ibu menggendong bayinya dengan erat di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Denpasar, Kerobokan, Kuta, Badung, Bali, Senin (22/4). Mereka menyampaikan semangatnya menjadi ibu di dalam penjara, merawat bayi-bayi berusia di bawah satu tahun bersama teman-temannya.

“Walau kami single parent di sini, tapi kami akan terus semangat merawat bayi ini,” seru salah seorang ibu yang berusia paling muda, kurang dari 20 tahun ini. Warga binaan perempuan diijinkan membawa bayi mereka sampai di bawah 2 tahun.

“Saya ingin menangis melihat mereka, walau tiap hari bersama. Kasihan, makanya saya selalu siap bantu mengasuh,” ujar Yani, sebut saja demikian, salah satu rekan mereka.

Menyemangati para perempuan-perempuan yang dipenjara sambil menyusui bayi mereka adalah misi Pertiwi, akronim dari Perempuan Tangguh Inspirasi Wahana Imbas Napza (Pertiwi). Sebuah perkumpulan di Bali yang dirintis 20 orang perempuan, mereka yang terdampak narkoba dan HIV/AIDS seperti pernah menjadi narapidana, pecandu, atau bersuamikan mantan pecandu. Kini sebagian bekerja sebagai konselor atau di lembaga rehabilitasi kecanduan narkotika.

Pertiwi melihat mereka adalah para Kartini di balik jeruji yang suara dan semangatnya perlu disebarluaskan. Kelima ibu mendapat sumbangan paket besar berisi sanitasi dan nutrisi tambahan seperti popok dan susu. Sisanya, 15 warga binaan perempuan mendapat sebuah tas berisi paket lebih kecil juga berisi sarana sanitasi seperti sabun dan pembalut.

“Saya mengajak bayi di penjara karena masih menyusui. Biar tidak memberatkan keluarga juga,” seorang ibu tersenyum. Ia ditangkap karena mengonsumsi sabu-sabu. Bayi laki-lakinya berusia 2 bulan, lahir di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Sang ibu sudah tak sabar menunggu usainya masa pidana sekitar 3 bulan lagi.

Ada sejumlah ibu warga binaan Lapas lain yang memilih menitipkan anaknya di luar penjara. Misalnya Ratna, sebut saja demikian. Ibu muda ini akan keluar jelang akhir tahun ini. Ia mengandung dalam penjara dan bayi laki-lakinya lahir prematur sekitar 8 bulan. “Anak saya kecil sekali 2,1 kg. Harus diinkubator sebulan di rumah sakit,” kisahnya.

Setelah itu, Ia sempat mengajak bayi yang dinamainya Miracle di penjara sekitar 3 hari. Namun kondisi kesehatannya memburuk dan kembali dirawat di RS. “Saya melihat keajaiban sang bayi bisa sehat dan kini sehat montok diasuh di yayasan,” ia berbinar. Sang ibu ini berterima kasih ada yayasan yang mau mengasuh Miracle menunggu kepulangannya nanti.

Foto Luh De Suriyani

Dalam pertemuan dengan 20 warga binaan ini, relawan Pertiwi juga membagi pengalamannya tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Istina Dewi, pendidik sebaya dari Pertiwi mengajak mengidentifikasi mana organ reproduksi dan seksual serta cara merawat.

Tawa menggema tiap kali diskusi mengarah pada persoalan intim seperti rambut kelamin, klitoris, dan rangsangan seksual. Seorang warga binaan mengisahkan pengalamannya disunat saat masih anak-anak. “Katanya untuk mengurangi nafsu seks, tapi malah menggila,” sebutnya disambut gelak tawa temannya.

Istina Dewi menyebut sunat perempuan sebagai bentuk kekerasan pada perempuan, alih-alih mengendalikan nafsu seksual. Diskusi juga berlanjut ke penyakit-penyakit yang menyertai organ reproduksi dan seksual. “Leher rahim adalah bagian yang rentan, banyak yang terkena kanker serviks,” ingat Istina Dewi.

Koordinator Pertiwi, Yayuk Fatmawati mengatakan kesehatan dan kebersihan menjadi salah satu tantangan dari situasi over kapasitas di dalam lapas. Di Lapas Perempuan ini, satu kamar dihuni sekitar 20 orang warga binaan. Per 22 April ini jumlah penghuni LPP sebanyak 236 warga binaan, dan 85% merupakan kasus narkoba dengan 15 di antaranya warga asing.

Kegiatan yang dirancang menyambut Kartini awalnya swadaya, sampai akhirnya mendapat donasi untuk pembelian paket sumbangan dari sejumlah pihak seperti Bali International Women’s Association (BIWA), Yayasan Bali Mercusuar, Pertiwi Bali, dan donatur individual serta dukungan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali dalam bentuk brosur informasi HIV.

Pertiwi didirikan karena menurutnya perempuan yang menghadapi adiksi lebih percaya teman sebaya dengan latar belakang sama daripada konselor.

Yayuk mengapresiasi Lilly, kepala LPP Kelas II A Denpasar karena memberi ruang pada kegiatan dukungan sebaya ini. Dalam pertemuan ini, Sukiati, Kasi Pembinaan LPP terlibat dengan ikut membantu menggendong sejumlah bayi yang menangis agar ibunya bisa mengikuti diskusi. “Minggu ini kelima bayi akan kami bawa ke Puskesmas terdekat untuk mendapat imunisasi,” urai perempuan tengah baya petugas LPP ini. Belum ada dokter khusus di dalam LPP, hanya kunjungan tiap pekan dari tim medis Dinas Kesehatan atau Puskesmas.

Sebelumnya Pertiwi mengampanyekan Indonesia Tanpa Stigma idengan menari bersama warga dalam Bali Zumba. Mereka berkolaborasi dengan sejumlah LSM penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba di Bali, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Bangli, dan sejumlah lembaga sosial lainnya mengampanyekan akses rehabilitasi untuk perempuan.

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali, total pengakses fasilitas rehabilitasi pada 2017 sebanyak 796, di antaranya 115 orang perempuan. Sementara pada 2018 sebanyak 316 orang, termasuk perempuan hanya 45 orang. Namun masih banyak yang belum terakses karena sejumlah hambatan.