
Indonesia merupakan salah satu negara pengguna minyak goreng terbesar di dunia. Konsumsi minyak goreng nasional diperkirakan mencapai 16,2 juta kiloliter per tahun, yang mana bisa menghasilkan sekitar 3 juta kiloliter minyak jelantah yang dapat dipakai sebagai bahan bakar biodiesel. Di saat limbah minyak goreng terus bertambah dan wacana energi bersih makin sering digaungkan, justru upaya mengolahnya menjadi bahan bakar alternatif masih berjalan tertatih.
Siang itu (16/12) saya menyambangi sebuah pabrik pengolahan minyak jelantah di Jalan Cargo Sari, Ubung Kaja, Denpasar. Mesin-mesin besar di sana terdiam membisu, berhenti sejenak sebelum kembali mengolah minyak-minyak jelantah untuk dijadikan biodiesel.
Sebelum berbicara jauh, minyak jelantah merupakan bekas minyak goreng yang telah dipakai berulang kali sehingga mutunya menurun, warnanya menggelap, dan berbau tidak sedap. Minyak ini berbahaya jika dikonsumsi kembali serta mencemari lingkungan bila dibuang sembarangan.
Kenapa bisa berbahaya bila dikonsumsi berulang? Sejumlah riset menunjukkan bahwa minyak goreng yang dipanaskan berulang kali mengalami degradasi kimia. Proses ini memicu terbentuknya asam lemak trans, radikal bebas, serta senyawa karsinogenik yang berisiko bagi kesehatan. Konsumsi jangka panjang minyak jelantah dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, gangguan metabolisme, hingga kanker.
“Ya, kardiovaskular,” imbuh Tri, pengelola pabrik yang saya jumpai di sana. Penyakit kardiovaskular adalah penyakit pada jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, stroke, dan gagal jantung.
Menurut Tri, idealnya jumlah pekerja di pabrik adalah 12 orang, namun yang ada saat ini hanya 5 orang termasuk dirinya. Kenyataan di lapangan memaksanya memangkas rencana ideal tersebut. Biaya operasional yang terlalu besar membuat skema ideal itu sulit diwujudkan. “Karena kalau ngikuti itu enggak jalan. Cost-nya terlalu besar daripada hasilnya,” tutur Tri.
Tiga pekerja lainnya ternyata sedang pergi ke luar untuk mengambil minyak ke restoran. Minyak-minyak jelantah yang mereka olah sebagian besar diambil dari hotel dan restoran. Sayangnya, jika dulu mereka bisa mengolah dari 100-an hotel di Bali, kini yang masih memberikan minyaknya hanya sekitar 60-an. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa hotel yang tutup dan munculnya banyak kompetitor. “Kalau sekarang sih sudah menurun ya. Sekarang yang aktif ini mungkin sekitar 60-an,” ungkap Tri.
Ia mengaku tidak dapat memprediksi rata-rata minyak yang didapat per harinya. Frekuensi penjemputan bervariasi, ada yang seminggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Beberapa hotel juga meminta penampungan menggunakan drum dan penjemputan dilakukan setelah drum penuh.
Proyek pengolahan minyak jelantah ini awalnya diinisiasi oleh Caritas Switzerland, sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) asal Swiss. Karena beroperasi di Indonesia, NGO tersebut tidak bisa berjalan sendiri dan harus menggandeng pemerintah daerah serta pasar. Peresmian proyek ini pun dilakukan oleh Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Walikota Denpasar saat itu.
Seiring berjalannya waktu, keterlibatan NGO asing memiliki keterbatasan. Untuk memastikan operasional tetap berjalan setelah Caritas menyelesaikan masa proyeknya dan kembali ke negara asal, dibentuklah Yayasan Lengis Hijau pada 2013 sebagai pengelola lokal. Selain itu mesin-mesin yang dipakai di pabrik merupakan sumbangan dari British Embassy atau pemerintah Inggris.

Bagaimana Minyak Bekas Diolah?
Prosesnya dimulai dari penyaringan untuk memisahkan kotoran dan sisa partikel makanan. Minyak yang telah disaring kemudian dimasukkan ke dalam reaktor, dipanaskan, dan dicampur dengan katalis. Tahap selanjutnya adalah proses esterifikasi, yakni penambahan metanol dan katalis untuk memicu reaksi kimia. Dari proses ini menghasilkan biodiesel sedangkan limbahnya disebut gliserin.
Biodiesel adalah bahan bakar pengganti solar yang dibuat dari bahan alami, seperti minyak jelantah, minyak sawit, atau minyak nabati lainnya.
Sementara, gliserin yang merupakan limbah dari proses tersebut dimanfaatkan oleh Tri sebagai pakan maggot sehingga tidak mencemari lingkungan.

Selain Yayasan Lengis Hijau, perusahaan lain yang juga turut mengolah minyak jelantah di Bali adalah Noovoleum. Perusahaan ini berbasis di Singapura, dengan operasi di Indonesia melalui PT Noovoleum Indonesia Investama. Dalam operasionalnya Noovoleum menerapkan pendekatan berbasis teknologi.
Sebagai contoh, mereka memiliki 3 program unggulan yaitu UCollect Apps, UCollect Box, dan Community Enggagement. “Di sini kita hadir Noovoleum di tahun 2023 membawa sebuah program yang bernama UCOllect,” tutur Aliyya Haqxila.
UCollect App merupakan aplikasi yang mengubah minyak jelantah menjadi aset bernilai ekonomi. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat mendaftar sebagai penyetor, mencatat jumlah minyak yang mereka serahkan, memantau riwayat penyerahan, hingga memperoleh insentif berupa poin atau kredit yang dapat ditukar dengan berbagai manfaat. “Ketika sudah mengumpulkan gelanggang ini dan bawa ke box UCOllect itu, dalam 1 liternya bisa langsung dapat uang,” jelas Alliya.
Menurut Alliya, harga minyak jelantah yang diterima berada di kisaran Rp5.500 per liter. Namun nilainya tidak bersifat tetap, karena harga mengikuti kondisi pasar minyak jelantah (UCO) yang fluktuatif. Ketika permintaan pasar sedang tinggi, harga setoran bisa naik hingga Rp8.000 per liter.
UCOllect Box, sendiri merupakan kotak penampungan khusus yang ditempatkan oleh Noovoleum di berbagai lokasi bagi masyarakat yang ingin menukarkan minyaknya. Lokasi spesifiknya bisa ditemukan lewat fitur peta di aplikasi UCOllect atau aplikasi MyPertamina.
Program berikutnya adalah community engagement, yangmana Noovoleum tidak hanya berfokus untuk memberikan solusi tapi juga memberikan edukasi. Seperti contoh sosialisasi PKK (Organisasi perempuan untuk Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di Banjar, ke sekolah-sekolah, dengan harapan masyarakat akan lebih sadar bahwa limbah mereka bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada dibuang begitu saja dan membahayakan lingkungan.
Biodiesel vs Solar: Mana Lebih Unggul?
Untuk dampak lingkungan biodiesel lebih baik. Riset menunjukkan bahwa sepanjang siklus hidupnya (dari bahan baku sampai pembakaran), biodiesel secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca dibanding solar fosil. Misalnya, analisis Departemen Energi Amerika Serikat, menemukan bahwa penggunaan biodiesel 100% (B100) dapat mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) hingga sekitar 74% dibandingkan dengan diesel fosil.
Namun untuk saat ini solar memiliki energi per volume yang lebih tinggi daripada biodiesel, sehingga kendaraan dapat menempuh jarak lebih jauh dengan jumlah bahan bakar yang sama.

Tantangan Industri Bioenergi
Tri membeli minyak jelantah dari hotel sebesar Rp5.000 per liter dan harga jual biodiesel sekitar Rp14.000 per liter, yang mana konsumennya lebih banyak kembali ke hotel lagi dan jarang diminati masyarakat.
Harga tersebut sebetulnya bersaing langsung dengan solar non-subsidi yang juga berada di kisaran Rp14.000–Rp15.000 per liter. Namun di sisi lain, biodiesel jelantah tidak pernah benar-benar kompetitif jika dibandingkan dengan solar subsidi yang dijual jauh lebih murah, sekitar Rp6.800 per liter. Selisih harga ini membuat biodiesel jelantah sulit menembus pasar luas, terutama bagi konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.
Awalnya, ada minyak jelantah yang didapatkan dari masyarakat, tetapi sekarang masyarakat didorong untuk menyalurkan minyak jelantah ke bank sampah atau TPS3R, karena di Bali sudah banyak bank sampah dan TPS3R. Hal ini juga karena masyarakat kadang merasa malas jika harus mengantar minyak jelantah yang jumlahnya sedikit. Bank sampah yang bekerja sama dengan Yayasan Lengis Hijau juga berkurang karena adanya kompetitor yang menawarkan harga lebih tinggi.
“Yang penting asal enggak dibuang ke lingkungan dan enggak mencemari. Saya pikirnya sih gitu aja. Dulu Bank Sampah yang kerjasama dengan kita banyak, sekarang sudah habis tinggal dua lagi,” tutur Tri.
Dampaknya terasa langsung pada keberlanjutan industri. Produsen biodiesel jelantah harus menanggung biaya pengumpulan bahan baku, produksi, hingga distribusi, tanpa dukungan subsidi seperti yang dinikmati solar. Akibatnya, meski biodiesel lebih ramah lingkungan dan membantu mengurangi limbah, ia kalah secara ekonomi di pasar energi yang masih berat sebelah.
sangkarbet




