• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, October 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Angga Wijaya by Angga Wijaya
22 October 2026
in Kabar Baru, Kesehatan, Opini
0
0

Oleh Angga Wijaya

Saya menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai persoalan kehidupan. Tulisan itu menarik perhatian saya karena mengajukan pertanyaan sederhana yang tidak mudah dijawab. Will schizophrenia ever be explained? Akankah skizofrenia suatu hari nanti benar-benar dapat dijelaskan?

Penulisnya, Amber Landrum, memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang hidup dengan skizofrenia. Dalam tulisan tersebut, ia menceritakan pengalamannya memahami kondisi skizoafektif yang dialaminya selama sepuluh tahun. Ia menghubungkan sejumlah pengalaman batinnya dengan pencarian spiritual, termasuk pengalaman yang disebutnya sebagai kebangkitan kundalini, suara-suara yang didengarnya, dan penglihatan yang dialaminya.

Saya membaca tulisan itu bukan untuk mencari jawaban tunggal tentang skizofrenia. Ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya, yakni bagaimana seseorang berusaha memahami pengalaman yang sulit dijelaskan melalui bahasa sehari-hari. Apa yang terjadi ketika pengalaman batin seseorang berbeda dari pengalaman kebanyakan orang? Bagaimana ia mencari penjelasan atas apa yang dialaminya? Dan bagaimana masyarakat seharusnya mendengarkan cerita tersebut?

Sebagai seseorang yang memiliki pengalaman hidup dengan skizofrenia, saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu layak direnungkan. Skizofrenia bukan sekadar istilah medis yang tercantum dalam rekam kesehatan. Ada kehidupan yang berlangsung di balik diagnosis, termasuk pergulatan memahami diri sendiri, menghadapi stigma, menjalani pengobatan, dan menemukan kembali tempat di tengah masyarakat.

Tulisan Amber tidak harus menjadi jawaban bagi pengalaman semua penyintas. Bahkan, beberapa penjelasannya perlu dibaca secara kritis. Namun, kisahnya membuka kesempatan untuk membicarakan sesuatu yang lebih luas, yaitu hak seseorang untuk menceritakan pengalaman hidupnya tanpa kehilangan kesempatan untuk didengarkan secara manusiawi.

Diagnosis tidak Menceritakan Seluruh Kehidupan

Diagnosis membantu tenaga kesehatan memahami kondisi seseorang dan menentukan perawatan yang sesuai. Namun, diagnosis tidak pernah cukup untuk menjelaskan keseluruhan kehidupan manusia.

Seseorang yang hidup dengan skizofrenia tetap memiliki sejarah keluarga, pengalaman pendidikan, pekerjaan, pertemanan, kegemaran, dan cita-cita. Ia bisa menyukai puisi, menulis berita, membaca buku, merawat orang yang dicintai, atau memikirkan persoalan sosial di sekitarnya. Semua itu tetap menjadi bagian dari dirinya.

Sayangnya, masyarakat terkadang melihat seseorang melalui diagnosis yang dimilikinya. Ketika mengetahui seseorang mengalami skizofrenia, sebagian orang langsung menghubungkannya dengan ketidakmampuan berpikir, perilaku yang tidak terkendali, atau anggapan bahwa orang tersebut tidak mungkin menjalani kehidupan secara mandiri.

Pandangan seperti itu mengabaikan kenyataan bahwa skizofrenia memiliki perjalanan yang berbeda pada setiap orang. Gejala, kebutuhan perawatan, kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, dan respons terhadap pengobatan tidak selalu sama. Ada orang yang membutuhkan pendampingan intensif, sementara orang lain dapat menjalankan berbagai kegiatan dengan dukungan yang sesuai.

Dalam kehidupan sehari-hari, stigma semacam ini bisa hadir melalui ucapan yang terdengar sederhana. Seseorang dianggap tidak mampu hanya karena memiliki riwayat gangguan mental. Pendapatnya kurang dipercaya. Kemampuannya diragukan. Bahkan, kesempatan bekerja atau terlibat dalam kegiatan sosial bisa tertutup sebelum ia memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Saya memandang keadaan ini sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian. Diagnosis seharusnya membantu seseorang memperoleh pertolongan, bukan menjadi alasan untuk membatasi kehidupannya.

Pengalaman hidup dengan skizofrenia juga mengajarkan bahwa memahami diri sendiri merupakan proses yang tidak selalu selesai dalam waktu singkat. Ada hal-hal yang baru dapat dipahami setelah melewati pengalaman tertentu. Ada pula pengalaman yang membutuhkan bantuan orang lain agar bisa ditempatkan secara lebih tepat.

Dalam proses itu, seseorang membutuhkan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Ia tidak semestinya terus-menerus dituntut menjelaskan penyakitnya atau membuktikan bahwa dirinya sudah pulih kepada orang lain.

Kita mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang dialami seseorang. Namun, keterbatasan pemahaman itu tidak seharusnya membuat kita mengabaikan martabatnya.

Mencari Makna di tengah Pengalaman Batin

Dalam tulisannya di Quora, Amber menceritakan pencarian spiritual yang kemudian membawanya pada pengalaman batin yang intens. Ia merasa mengalami kebangkitan kundalini dan mulai mendengarkan apa yang disebutnya sebagai pemandu roh. Pengalaman tersebut disertai suara dan penglihatan yang ia maknai melalui spiritualitas.

Amber kemudian berusaha memahami pengalamannya sebagai sesuatu yang menurutnya lebih kompleks daripada sekadar gangguan fungsi otak. Ia juga menghubungkan pengalaman tersebut dengan proses yang dalam sejumlah lingkungan spiritual disebut sebagai krisis spiritual.

Cerita itu memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha menemukan penjelasan atas pengalaman yang dirasakannya. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang membingungkan, manusia dapat mencari pemahaman melalui agama, kebudayaan, filsafat, atau spiritualitas. Pencarian tersebut bisa menjadi bagian dari usaha menyusun kembali pemahaman tentang diri sendiri dan kehidupan.

Namun, ada perbedaan antara menghargai pengalaman seseorang dan menganggap penafsirannya sebagai kebenaran yang berlaku umum.

Pengalaman Amber merupakan kesaksian mengenai cara ia memahami kehidupannya sendiri. Pengalaman itu tidak membuktikan bahwa skizofrenia disebabkan oleh kebangkitan kundalini, energi spiritual, atau fenomena metafisik. Demikian pula, pengalaman mendengar suara atau melihat sesuatu yang tidak dialami orang lain tidak dengan sendirinya membuktikan adanya komunikasi dengan dunia lain.

Pembedaan ini penting karena cerita mengenai kesehatan mental dapat memengaruhi cara pembaca memahami kondisi dirinya sendiri. Seseorang yang sedang mengalami kesulitan mungkin menemukan kesamaan dengan kisah Amber, kemudian menganggap bahwa pengalaman mereka pasti memiliki penyebab yang sama.

Padahal, pengalaman manusia tidak sesederhana itu. Dua orang dapat mengalami gejala yang tampak serupa, tetapi memiliki latar belakang, kondisi, dan kebutuhan perawatan yang berbeda.

Kita bisa mendengarkan cerita seseorang tanpa harus menyetujui seluruh kesimpulannya. Kita juga bisa menghormati keyakinan pribadi tanpa mengabaikan pengetahuan medis.

Bagi saya, sikap tersebut bukan bentuk penolakan terhadap spiritualitas. Ini merupakan usaha menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap pengalaman manusia dan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan.

Spiritualitas dapat menjadi sumber makna, ketenangan, dan dukungan bagi sebagian orang. Akan tetapi, ketika seseorang mengalami gangguan persepsi, tekanan batin yang berat, atau kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, ia tetap perlu memperoleh pertolongan profesional. Pemaknaan spiritual tidak seharusnya menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan yang dibutuhkan.

Pengalaman pribadi layak didengarkan. Namun, penjelasan mengenai penyebab suatu gangguan mental membutuhkan dasar yang dapat diperiksa dan diuji.

Mendengarkan tanpa Kehilangan Sikap Kritis

Amber mempertanyakan penjelasan medis mengenai skizofrenia yang menurutnya terlalu menekankan gangguan fungsi otak atau ketidakseimbangan kimiawi. Kritik tersebut mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia terus berkembang. Meski demikian, kita juga perlu memahami bagaimana ilmu kedokteran memandang skizofrenia saat ini.

Skizofrenia merupakan gangguan mental kompleks yang berkaitan dengan berbagai faktor biologis, genetik, perkembangan, dan lingkungan. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kasus. Penelitian terus dilakukan untuk memahami bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi, mengapa gejala berbeda pada setiap orang, dan mengapa respons terhadap pengobatan juga tidak selalu sama.

Karena itu, menjelaskan skizofrenia hanya sebagai ketidakseimbangan zat kimia di otak memang terlalu menyederhanakan persoalan. Namun, menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah energi spiritual juga tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.

Kita perlu membedakan antara sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui dan sesuatu yang telah terbukti benar. Keterbatasan pengetahuan medis bukanlah bukti bahwa penjelasan alternatif tertentu otomatis menjadi benar.

Ilmu pengetahuan bekerja melalui penelitian, pengujian, pengamatan, dan perbaikan pemahaman. Penjelasan yang berlaku hari ini dapat berkembang ketika ditemukan bukti baru. Proses tersebut mungkin terasa lambat bagi seseorang yang sedang berusaha memahami pengalaman batinnya. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena informasi yang keliru dapat memengaruhi keputusan seseorang mengenai pengobatan dan perawatan.

Di sisi lain, pendekatan medis juga tidak boleh membuat pengalaman subjektif penyintas dianggap tidak penting. Tenaga kesehatan perlu mendengarkan bagaimana seseorang merasakan gejalanya, apa yang membuatnya tertekan, dan dukungan seperti apa yang dibutuhkannya.

Masyarakat pun perlu belajar mendengarkan tanpa menghakimi.

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia mendengar suara yang tidak didengar orang lain, misalnya, kita tidak perlu langsung berdebat mengenai asal suara tersebut. Kita dapat mengakui bahwa pengalaman itu terasa nyata dan mungkin menakutkan baginya. Jika pengalaman tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari atau menimbulkan penderitaan, kita bisa mendorongnya mencari pertolongan profesional.

Mengakui perasaan seseorang tidak berarti harus membenarkan seluruh penafsirannya. Sebaliknya, bersikap kritis tidak berarti kita berhak merendahkan pengalamannya.

Keseimbangan inilah yang perlu dibangun dalam percakapan tentang kesehatan mental. Kita membutuhkan pengetahuan medis untuk memahami kondisi dan menentukan perawatan, sekaligus empati untuk melihat manusia yang sedang mengalaminya.

Saya kira masyarakat tidak harus menjadi ahli kesehatan mental untuk mulai melakukan hal tersebut. Kita bisa belajar mendengarkan, menghindari ucapan yang merendahkan, dan tidak menyebarkan informasi kesehatan yang belum jelas kebenarannya.

Hal-hal sederhana itu dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi penyintas untuk berbicara dan mencari pertolongan.

Pemulihan dan Hak untuk Menjalani Kehidupan

Pada bagian akhir tulisannya, Amber menekankan kekuatan dari dalam diri dan keyakinan terhadap diri sendiri. Ia memandang kedua hal tersebut sebagai bekal untuk menghadapi pengalaman yang disebutnya sebagai kegelapan akibat skizofrenia.

Saya bisa memahami mengapa gagasan tentang harapan dan kekuatan diri terasa penting. Ketika seseorang menghadapi kondisi yang tidak mudah, memiliki tujuan dapat membantunya bertahan. Merasa diterima, memperoleh dukungan, dan menemukan kegiatan yang bermakna juga dapat menjadi bagian dari kehidupan yang lebih baik.

Namun, pemulihan tidak semata-mata bergantung pada kekuatan pikiran atau keyakinan pribadi. Seseorang mungkin membutuhkan pengobatan, psikoterapi, dukungan keluarga, pendampingan sosial, serta lingkungan yang memberinya kesempatan untuk berkembang.

Kebutuhan tersebut berbeda-beda. Ada orang yang dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan relatif mandiri, sementara orang lain memerlukan bantuan lebih intensif. Ada pula yang membutuhkan penyesuaian perawatan dari waktu ke waktu.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang kekuatan diri. Jangan sampai gagasan tersebut berubah menjadi tuntutan bahwa orang yang belum pulih berarti kurang berusaha, kurang beriman, atau tidak cukup kuat menghadapi kehidupan.

Tidak semua kesulitan bisa diselesaikan melalui kemauan pribadi. Seseorang mungkin membutuhkan waktu lebih panjang, penyesuaian pengobatan, atau dukungan yang lebih besar. Ia tidak pantas dianggap gagal hanya karena perjalanan pemulihannya berbeda dari orang lain.

Bagi saya, pemulihan juga perlu dilihat melalui hal-hal yang tampak sederhana. Seseorang dapat kembali menjalani rutinitas, merawat dirinya, membangun hubungan yang sehat, bekerja sesuai kemampuannya, atau menemukan kegembiraan dalam kegiatan yang disukai.

Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat luar biasa bagi orang lain. Namun, semuanya dapat memiliki arti besar bagi seseorang yang sedang berusaha membangun kehidupan setelah melewati masa sulit.

Kita tidak perlu membandingkan perjalanan itu dengan kehidupan orang lain. Penyintas tidak berkewajiban membuktikan bahwa dirinya sudah sepenuhnya pulih dengan memenuhi ukuran keberhasilan yang ditentukan masyarakat.

Yang lebih penting adalah tersedianya kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan dukungan yang memadai dan penghormatan terhadap pilihan pribadi.

Sebagai penulis, saya melihat pentingnya ruang bagi penyintas untuk menyampaikan pengalaman melalui tulisan. Pengalaman tersebut dapat membantu masyarakat memahami persoalan yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui istilah medis atau pemberitaan.

Namun, penyintas juga tidak harus menceritakan seluruh pengalaman pribadinya untuk membuktikan bahwa ia layak didengarkan. Setiap orang berhak menentukan bagian mana dari kehidupannya yang ingin dibagikan kepada publik.

Tulisan Amber di Quora mengingatkan saya bahwa percakapan mengenai skizofrenia tidak harus berakhir pada perdebatan tentang benar atau salahnya setiap pengalaman batin. Kita juga perlu membicarakan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, dukungan yang dibutuhkan, dan kesempatan yang tersedia baginya untuk berkembang.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti seluruh pertanyaan mengenai skizofrenia akan menemukan jawabannya. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang, sementara setiap penyintas memiliki perjalanan yang tidak selalu sama.

Namun, kita tidak perlu menunggu semua jawaban itu tersedia untuk mulai memahami mereka. Kita bisa memulainya dengan mendengarkan, menghormati pengalaman mereka, dan memberi ruang bagi mereka untuk menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya.

Sebab, di balik diagnosis skizofrenia, ada seseorang yang tetap ingin didengar, diterima, dan diberi kesempatan untuk hidup dengan bermakna. ***

Sumber bacaan

Amber Landrum, “Will schizophrenia ever be explained?”, Quora. Tulisan ini menjadi titik berangkat refleksi, sedangkan pandangan spiritual yang disampaikan penulis merupakan pengalaman dan pemaknaan pribadinya.

Tentang Penulis

I Ketut Angga Wijaya berasal dari Jembrana, Bali, dan menetap di Denpasar. Ia merupakan jurnalis, penulis esai, dan penyair yang mulai menekuni dunia jurnalistik pada 2008 dan kembali aktif sejak 2015. Ia telah menerbitkan 21 buku yang terdiri atas kumpulan puisi, esai, dan memoar. Tulisannya terbit di berbagai media, antara lain Tatkala.co, KanalBali.id, dan BaleBengong.id. Ia mendirikan dan mengelola Bicarabali.com, media independen yang mengangkat kebudayaan, kehidupan sosial, dan berbagai persoalan masyarakat Bali. Ia juga terlibat dalam kegiatan komunitas dan edukasi kesehatan mental melalui Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali.

Tags: pengobatan skizofrenia di baliskizofrenia
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Angga Wijaya

Angga Wijaya

Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Menyukai dunia literasi sejak SMA. Pernah kuliah Prodi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

Related Posts

Membebaskan Perasaan Melalui Pameran Bersama

Membuang Sampah Pikiran dan Perasaan pada Tempatnya

20 January 2022
Ibu dan Gung Mas, Bersama Saling Mendukung

Ibu dan Gung Mas, Bersama Saling Mendukung

5 June 2020
Kami Bersuara Kami Mendengar dari Perempuan Terdampak Skizofrenia

Ingin Kuliah dan Kerja Lagi

28 May 2020
Kami Bersuara Kami Mendengar dari Perempuan Terdampak Skizofrenia

Made Tidak Mau Halusinasi Lagi

19 May 2020
Next Post
Sanur Intaran Menata Kawasan ke Zona Biru, Hijau, dan Kuning untuk Mengurangi Emisi

Sanur Intaran Menata Kawasan ke Zona Biru, Hijau, dan Kuning untuk Mengurangi Emisi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sanur Intaran Menata Kawasan ke Zona Biru, Hijau, dan Kuning untuk Mengurangi Emisi

Sanur Intaran Menata Kawasan ke Zona Biru, Hijau, dan Kuning untuk Mengurangi Emisi

22 October 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

22 October 2026
Menteri Luar Negeri India buka Pameran Lontar dari Bali

Menteri Luar Negeri India buka Pameran Lontar dari Bali

22 October 2026
Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali

Mediasi Deadlock, Gugatan Warga Negara Pulihkan Bali Lanjut ke Sidang Perkara

21 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia