
Sebelum perjalanan ini dilakukan, saya sudah bertanya pada beberapa kawan. Bagaimana kondisi di Desa Ban? Apakah jalan menuju desa bisa diakses?
Jawabannya buruk dan tidak. Namun, kondisi itu sudah dua hingga tiga tahun lalu. Saya pikir kondisinya akan membaik. Ternyata tidak.
Desa Ban berlokasi di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Dari Denpasar, kami mengikuti arah ke Pura Besakih. Sepanjang jalan begitu banyak truk pengangkut pasir kami lalui.
Truk-truk itu berjalan pelan, terlalu banyak muatan. Ada juga yang berjalan cepat, tanpa muatan.
Secara administratif, ada 16 dusun atau banjar dinas di Desa Ban. Luas desanya sendiri hampir 71 km2. Hari itu kami berkunjung ke Dusun Asti, Desa Ban.
Lokasi Dusun Asti berada di atas, melintasi beberapa dusun. Sebelum melakukan perjalanan ini, berulang kali saya bertanya kepada warga di sana, apakah akses jalan bisa dilintasi motor matic?
Jawabannya iya. Nengah Subagia, Kepala Dusun Asti mengatakan beberapa ruas jalan di Desa Ban telah diperbaiki. “Aman,” tulisnya ketika ditanya tentang akses jalan.
Dari Dusun Kaliaga ke Dusun Asti, jalan dibeton. Namun, sekitar 1 kilometer menuju Dusun Asti, jalan beton pun tidak ditemukan.

Bulan Agustus, di musim kering, jalan dilapisi tanah kering. Ketika melintas, debu dari tanah menempel ke semua barang yang kami bawa.
Infrastruktur jalan berupa tanah regosol, tanah vulkanik muda, membuat jalan licin. Motor yang kami naiki beberapa kali terpeleset. Mendekati Dusun Asti kami memilih berjalan kaki. Jalan kaki pun terpeleset.
Purna, warga Dusun Asti, berjalan bersama kami. Purna berjalan dengan pincang. “Begini dah saya kepeleset,” kata Purna ketika salah satu dari kami terpeleset.
Dalam liputan BaleBengong tahun 2023 di Desa Ban, ada tiga masalah yang dihadapi warga Desa Ban, akses air, infrastruktur jalan, dan ketiadaan sinyal. Tiga tahun berlalu, masalah itu masih menghantui warga.
Di Dusun Asti terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menerangi rumah warga sejak tahun 2017. Di tahun 2026, kabel listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) akhirnya mengaliri listrik ke rumah-rumah warga.
Satu masalah memang sudah teratasi, tetapi masalah lain masih menghantui. Di musim kemarau, bulan Agustus hingga November, warga Dusun Asti mesti menghemat air. Pasalnya, hujan sama sekali tidak turun di bulan-bulan tersebut.
Bulan Agustus hingga November, warga Dusun Asti menggunakan pasokan air cubang. Air ini dikumpulkan ketika musim hujan.
Dusun Asti memiliki persediaan air hujan yang dikelola bersama. Penampungan air ini biasanya digandrungi warga ketika pasokan air di rumah sudah habis saat musim kemarau.
“Setiap rumah punya cubang (penampungan air). Itu pakai stok biasanya selama sekarang (Agustus) sampai bulan 11. Kalau mau ngambil air (di sumur bersama) harus beli. Per jerikennya Rp1.000 untuk kelompok (warga Dusun Asti),” jelas Subagia.
Nengah Yuni, warga Dusun Asti menghabiskan lima jeriken per hari untuk kesehariannya di rumah. Di rumahnya ada dua orang anak dan suaminya. Lima jeriken itu digunakan untuk masak dan mandi.
“Mangkin kari. Satu bulan niki ampun dah telas (sekarang airnya masih. Satu bulan ini udah habis biasanya,” kata Yuni.

Desa Ban berlokasi di daerah pegunungan dengan curah hujan 2.138 mm dan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Satu-satunya yang bisa diandalkan warga sebagai sumber air adalah sumur air bersama.
Infrastruktur jalan menuju Dusun Asti yang tidak baik membuat perusahaan penjual air enggan menjual airnya ke desa tersebut. Sumber air pun jauh di mata. Ada, tapi debitnya kecil. Di musim kemarau pun sumber air seperti sungai kerap kering.
Bertahun-tahun dalam kegelapan di malam hari, Dusun Asti akhirnya berada dalam terang. Itu pun setelah warga meminta bantuan kepada pemerintah. Namun, bertahun-tahun infrastruktur jalan masih tidak memadai. Bertahun-tahun pula kekeringan melanda Dusun Asti.
Subagia bilang, setiap tahun pemerintah melakukan kunjungan ke desa mereka. Tampaknya kunjungan itu hanya sekadar pameran karena Dusun Asti masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di sela-sela perjalanan itu, Subagia seakan menampar saya pada satu kenyataan, sebuah privilese tinggal di wilayah urban. “Kalau di Denpasar pasti nggak ada desa terbelakang kayak gini,” ucapnya dengan tersenyum, tetapi menunjukkan ketimpangan yang masih tampak di pulau seribu vila ini.









