
IDEP bersama dengan berbagai mitra dan kelompok dalam forum diskusi Peta Jalan Air Bali
Krisis iklim, bencana alam, hingga ancaman terhadap sumber daya alam menjadi tantangan yang semakin sering dihadapi masyarakat. Persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memengaruhi ketahanan pangan, mata pencaharian, hingga kehidupan sosial warga.
Ketangguhan masyarakat pun menjadi kunci, bukan hanya untuk menghadapi bencana, tetapi juga agar mampu beradaptasi, mengambil keputusan bersama, dan mengelola sumber daya yang dimiliki secara mandiri. Semangat inilah yang selama lebih dari dua dekade diusung Yayasan IDEP Selaras Alam melalui berbagai program pendampingan di berbagai daerah di Indonesia.
Berdiri sejak 1999 dan berbasis di Bali, Yayasan IDEP Selaras Alam merupakan organisasi nonpemerintah yang berfokus membangun ketangguhan masyarakat (community resilience). Berakar pada filosofi Bali dan pendekatan permakultur, IDEP mendampingi masyarakat agar mampu menghadapi berbagai tantangan melalui solusi yang berangkat dari potensi lokal. Selama lebih dari dua dekade, IDEP telah menjalankan berbagai program di lebih dari 25 provinsi di Indonesia, bahkan menjangkau Pakistan, Filipina, dan Timor-Leste. Seluruh upaya tersebut berlandaskan semangat helping people to help themselves, yakni mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri dengan memanfaatkan sumber daya dan kekuatan yang mereka miliki sendiri.
Alih-alih menawarkan pendekatan yang seragam, IDEP selalu memulai setiap program dengan memahami konteks, kebutuhan, dan potensi masyarakat setempat. Pendekatan tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai program di enam sektor, yakni lingkungan, ekonomi, kebencanaan, kesehatan masyarakat, pendidikan, serta sosial dan budaya.
Menurut Nicolaus Sulistyo, Communication and Media Officer Yayasan IDEP Selaras Alam, visi organisasi tersebut adalah mewujudkan kehidupan yang tangguh dan selaras dengan alam.
“Secara lebih spesifik, IDEP bertujuan mengembangkan dan mengedukasi masyarakat tentang model ketangguhan dari tingkat keluarga hingga komunitas, mendorong terbangunnya ekosistem berkelanjutan, serta mendukung kebijakan pemerintah yang memperkuat ketangguhan masyarakat,” jelas Nicolaus.
Solusi Berawal dari Masyarakat
Berbeda dengan pendekatan yang menawarkan satu solusi untuk semua daerah, IDEP memulai setiap program dengan memahami konteks, kebutuhan, dan potensi masyarakat setempat. Bagi IDEP, setiap desa memiliki tantangan dan kekuatannya masing-masing sehingga proses pendampingan harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Pendekatan tersebut juga menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan sekadar penerima manfaat. Pengetahuan lokal, praktik adat, hingga pengalaman warga menjadi landasan dalam merancang solusi yang relevan dan berkelanjutan. “Kami percaya bahwa solusi yang paling berkelanjutan adalah solusi yang lahir dan dimiliki oleh masyarakat,” ujar Aura Alifa Asmaradana, PR Mobilization Officer Yayasan IDEP Selaras Alam.
IDEP menjalankan berbagai program yang mencakup enam sektor, yakni lingkungan, ekonomi, kebencanaan, kesehatan masyarakat, pendidikan, serta sosial dan budaya untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat. Keenam sektor tersebut saling berkaitan dalam upaya memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu menghadapi berbagai tantangan secara mandiri.
Beragam Program, Satu Tujuan
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap daerah. Di Lembata, Nusa Tenggara Timur, misalnya, IDEP menjalankan Muro Project untuk mendukung masyarakat menghidupkan kembali pengetahuan lokal berupa sistem pengelolaan sumber daya dan ekosistem pesisir berbasis kesepakatan adat. Upaya ini menjadi bagian dari adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berakar pada praktik masyarakat setempat.
Menurut Aura, setiap program dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. “Kami tidak datang dengan satu solusi yang sama untuk semua desa. Kami selalu memulai dengan memahami konteks lokal, kemudian bersama masyarakat mencari potensi yang bisa menjadi solusi,” katanya.
Masih di wilayah yang sama, DREAMS Project difokuskan pada penguatan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan erupsi gunung api. Bersama pemerintah desa dan warga, IDEP mendampingi penyusunan rencana evakuasi melalui mekanisme sister village atau Lewo Kakan Arin, sehingga masyarakat memiliki sistem koordinasi yang lebih siap ketika bencana terjadi.
Sementara itu di Bali, Bali Mandala Project mendampingi empat desa untuk memperkuat kapasitas sebagai desa tangguh bencana yang inklusif. IDEP juga terus mendukung petani benih lokal organik agar tetap memproduksi dan melestarikan benih-benih lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan pangan.
Meski dijalankan dalam konteks yang berbeda, seluruh program tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri, tangguh, dan mampu mengelola masa depannya dengan memanfaatkan potensi serta pengetahuan yang telah mereka miliki.
Ketangguhan tak Dibangun dalam Semalam
Meski sebagian besar program masih berada dalam tahap implementasi, IDEP mulai melihat berbagai perubahan awal di masyarakat. Kesadaran untuk mengelola sumber daya alam secara kolektif kembali tumbuh, sementara komitmen pemerintah desa dan warga dalam membangun desa tangguh bencana juga semakin menguat. Bagi IDEP, perubahan-perubahan tersebut menjadi fondasi penting sebelum dampak jangka panjang dapat benar-benar diukur.
Dalam jangka panjang, IDEP berharap masyarakat mampu mengambil keputusan bersama, menyelesaikan berbagai persoalan dengan sumber daya yang dimiliki, serta lebih siap menghadapi risiko di masa depan. Dari sisi lingkungan, upaya tersebut diharapkan turut menjaga keseimbangan ekosistem, mulai dari kelestarian sumber air, kesehatan tanah, hingga keanekaragaman hayati.
Nicolaus menambahkan bahwa pendampingan IDEP tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi melalui berbagai program.
“Program juga sering kali menyasar peningkatan ekonomi, seperti pendampingan petani benih, peternak sapi, hingga pengolahan pascapanen,” katanya.
Namun, membangun kemandirian masyarakat bukanlah proses yang dapat dicapai dalam waktu singkat. Sebagian besar program IDEP didanai melalui skema hibah dengan durasi terbatas, sementara perubahan perilaku, penguatan kapasitas, dan pembentukan kelembagaan masyarakat membutuhkan waktu yang lebih panjang. Selain itu, setiap desa memiliki kondisi sosial, budaya, dan tantangan yang berbeda sehingga pendekatan yang diterapkan harus bersifat partisipatif dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komunitas.
Bagi IDEP, keberhasilan tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan ketika masyarakat mampu melanjutkan inisiatifnya secara mandiri tanpa bergantung pada kehadiran organisasi.
Menguatkan Suara Warga, Menguatkan Perubahan

Pelatihan pengolahan pascapanen bersama masyarakat di Desa Yehembang, Jembrana
Komitmen tersebut juga menjadi alasan Yayasan IDEP mendukung Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) yang diselenggarakan BaleBengong. Bagi IDEP, berbagai solusi atas persoalan sosial dan lingkungan banyak lahir dari tingkat komunitas. Namun, praktik-praktik baik tersebut perlu didokumentasikan dan disebarluaskan agar dapat menginspirasi masyarakat di daerah lain.
Melalui jurnalisme warga, IDEP berharap semakin banyak cerita tentang pengetahuan lokal, inisiatif masyarakat, dan upaya menjaga lingkungan yang dapat menjangkau khalayak lebih luas. Dengan begitu, pengalaman yang lahir dari satu komunitas tidak berhenti sebagai praktik lokal, tetapi dapat menjadi pembelajaran bersama.
Pada akhirnya, bagi IDEP, keberhasilan bukan diukur dari selesainya sebuah proyek, melainkan ketika masyarakat memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk melanjutkan inisiatifnya secara mandiri. Sebab pada akhirnya, ketangguhan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan dibangun bersama oleh masyarakat itu sendiri.
sangkarbet







