
Belakangan ini, istilah perang gender atau gender war semakin sering dipakai dan dijumpai di berbagai platform media sosial. Setiap kali seorang perempuan membahas ketimpangan berbasis gender, diskriminasi terhadap perempuan, beban kerja domestik yang timpang, kekerasan seksual, hingga bias-bias kebijakan publik, selalu ada respon “jangan bikin gender war” atau “mulai lagi, ambil kesempatan untuk viral dengan gender war.”
Sebagai pembelajar Gender dan Pembangunan, saya tidak pernah benar-benar melihat adanya gender war. Yang menjadi pembacaan saya justru upaya sebagian orang untuk mendelegitimasi analisis gender dengan membingkainya seolah-olah sebagai serangan terhadap laki-laki. Padahal, membicarakan ketidakadilan struktural bukan berarti membenci satu gender tertentu.
Gender war adalah terminologi yang terasa dibuat-buat karena ia mengaburkan persoalan utama yang mana ketimpangan begitu nyata dan masih hidup di banyak ruang sosial, ekonomi, politik, hukum, bahkan budaya populer. Ketika seseorang mengangkat data tentang kesenjangan upah, kekerasan berbasis gender, representasi politik yang timpang, akses difabel perempuan terhadap layanan publik, beban pengasuhan yang tidak setara, atau merespon kecelakaan KRL sebagai transportasi publik yang menghantam gerbong khusus perempuan, tanggapan yang muncul seharusnya adalah diskusi substantif dan esensial, bukan tuduhan bahwa ada pihak-pihak yang sedang “memulai perang.”
Saya mengalami sendiri bagaimana narasi ini bekerja. Di akun Threads saya, ketika saya membawa analisis gender terhadap persoalan sosial yang jelas-jelas struktural, respons yang datang seringkali bukan dialog, melainkan keroyokan digital dari orang-orang yang gagal memahami konteks. Alih-alih mendiskusikan substansi, mereka memilih menyederhanakan semuanya menjadi seolah-olah perempuan sedang menyerang laki-laki.
Pengalaman itu justru memperlihatkan bahwa perjalanan menuju literasi gender yang sehat masih sangat panjang. Banyak orang masih kesulitan membedakan antara kritik terhadap sistem patriarki dengan sekadar budaya hingga kebencian terhadap individu laki-laki. Bahkan, tidak sedikit yang merasa setiap pembicaraan tentang privilese, relasi kuasa, atau ketidaksetaraan otomatis merupakan ancaman personal bagi mereka.
Di tengah derasnya arus matinya kepakaran dan berganti dengan influencer, fenomena ini bukan hanya terjadi pada saya yang mendedikasikan waktu untuk belajar dan mendampingi korban kekerasan berbasis gender. Di media sosial Indonesia, tanggapan netizen yang budiman terhadap isu gender sering kali memperlihatkan kecenderungan defensif dan anti-analisis. Banyak diskusi struktural akhirnya direduksi menjadi sekadar “drama cewek vs cowok” atau rage bait internet. Padahal, justru reduksi seperti itulah yang membuat percakapan publik gagal berkembang.
Narasi “gender war” sering dipakai sebagai mekanisme defensif untuk menghindari percakapan yang tidak nyaman. Analisis gender dipersempit menjadi sekadar sentimen personal antara perempuan dan laki-laki, padahal isu gender sejak awal berbicara mengenai struktur, tentang bagaimana norma sosial, kebijakan, budaya, dan relasi kuasa membentuk pengalaman hidup seseorang secara berbeda. Pada pengalaman saya yang terakhir, saya dituding tidak memiliki empati pada para korban yang seluruhnya merupakan perempuan.
Ketika seorang perempuan mengatakan bahwa ia merasa tidak aman di ruang publik, itu bukan serangan terhadap seluruh laki-laki. Kemudian, ketika aktivis keadilan gender menyoroti minimnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan, itu bukan ajakan untuk membenci laki-laki. Ketika seorang perempuan Bali mengkritik budaya patriarki Bali, yang dikritik adalah sistem sosial, bukan identitas biologis laki-laki Bali.
Ironisnya, orang-orang yang paling sering meneriakkan gender war justru kerap memperlihatkan ketidakmampuan membedakan kritik terhadap sistem dengan kebencian terhadap individu. Ketidakmampuan ini juga berujung menjadi emosional.
Akibatnya, diskusi mengenai ketidakadilan struktural menjadi dangkal dan defensif. Influencer mengambil alih diskursus dengan melabeli, gender war adalah permainan orang dengan kecerdasan emosional yang rendah, padahal yang ada gender war adalah halusinasi ketika konfigurasi sistem sosial masyarakat masih menjadikan perempuan sebagai masyarakat kelas dua.
Lebih jauh lagi, saya juga mempertanyakan, mengapa istilah war atau perang justru dilekatkan ketika perempuan berbicara? Bagi kami yang belajar gender, bukan hanya sekedar membicarakan pengalaman diri sebagai perempuan yang menapaki tangga karir, kami belajar bahwa secara historis dan sosial, perempuan selama ini justru menjadi garda terdepan dalam menjaga perdamaian, keamanan komunitas, dan keberlangsungan hidup sosial. Dari aktivisme akar rumput, kerja-kerja kemanusiaan, pendidikan, pengasuhan, hingga gerakan perdamaian global, perempuan terus berada di garis depan untuk merawat kehidupan, bukan menciptakan perang. Di sini pula lah awal dari hadirnya intervensi women, peace and security atau perempuan, perdamaian dan keamanan dalam upaya antar negara dalam membangun perdamaian dan mencegah konflik.
Sebaliknya, jika kita berbicara tentang perang secara nyata dalam sejarah manusia, kita tidak bisa melepaskannya dari konstruksi maskulinitas yang tidak sehat dan budaya patriarki itu sendiri. Obsesi terhadap dominasi, superioritas, kontrol, kekuasaan, dan glorifikasi kekerasan adalah nilai-nilai yang selama ini diproduksi oleh sistem patriarkal. Banyak konflik bersenjata, kekerasan politik, hingga budaya militeristik lahir dari cara pandang maskulin yang menempatkan agresi sebagai simbol kekuatan.
Maka menjadi ironis ketika perempuan yang sedang membicarakan keadilan justru dituduh menciptakan “perang.” Bagaimana mungkin analisis tentang ketimpangan sosial dianggap perang, sementara akar dari banyak perang nyata justru berasal dari relasi kuasa patriarkal yang jelas tidak sehat?
Sekali lagi, analisis gender adalah alat baca sosial yang sangat penting. Ia membantu kita memahami kenapa angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi, kenapa pekerjaan perawatan tidak dianggap kerja produktif, kenapa laki-laki juga dibebani standar maskulinitas yang toksik, dan kenapa kelompok rentan mengalami dampak berlapis. Kenapa ada gerbong khusus perempuan di transportasi publik dan mengapa perempuan merasa tidak aman dalam bergerak atau bermobilitas. Analisis gender tidak hanya membela perempuan; ia juga membantu membongkar ekspektasi sosial yang merugikan semua orang.
Saya menantang kita untuk berhenti “membeli” istilah gender war sebagai senjata retoris untuk membungkam kritik. Tidak semua ketidaknyamanan adalah serangan, dan kritik bukan berarti kebencian. Kritik bisa jadi adalah bentuk cinta yang mengajak kita sebagai masyarakat untuk bertumbuh. Kadang, itu semua hanya kenyataan yang terlalu lama diabaikan lalu akhirnya dibicarakan dengan jujur.
Selama keadilan serta kesetaraan gender masih harus diperjuangkan, selama itu pula analisis gender akan tetap relevan, bukan sebagai alat perang, tetapi sebagai cara memeriksa kembali dan memahami dunia dengan lebih baik dan lebih adil. Membicarakan gender bukan menciptakan konflik, diam terhadap ketidakadilan yang memperpanjang lini masa kita dalam mewujudkan kesetaraan gender itu sendiri.



