Pengikisan daratan di pesisir tenggara Bali tampak semakin parah. Di Pantai Monggalan, Desa Kusamba, bangunan yang sebelumnya berdiri di pesisir telah tergerus oleh ombak. Bukan hanya bangunan, pohon-pohon yang sebelumnya berdiri tegak juga dilahap habis.
Bukti parahnya abrasi di Pantai Monggalan tampak dari puing-puing bangunan yang tersisa di pesisir. Lantai keramik dan seng bekas atap terlilit di akar pohon yang masih kuat berdiri. Di sisi kanan dan kiri Pantai Monggalan masih berdiri rumah-rumah milik warga. Rumahnya kini menghadap langsung ke pantai, tanpa ada tembok pembatas. Sia-sia membangun tembok pembatas karena gelombang pantai bisa dengan mudah menghantamnya.

Garis pantai yang terus mundur memunculkan beragam spekulasi, termasuk usulan penanganan cepat seperti reklamasi atau pembangunan pemecah gelombang. Bangunan pemecah gelombang atau revetment telah dibangun di sisi kanan Pantai Monggalan, lokasi sebagian pertanian garam Kusamba.
Namun, sejumlah temuan ilmiah menunjukkan bahwa pengikisan pantai yang terjadi di Pantai Monggalan tidak bisa dilepaskan dari karakter dasar pesisir timur dan tenggara Bali yang sejak awal memang rentan.
Penelitian yang dilakukan oleh Putra et al., (2015) dengan judul Kerentanan Pesisir Terhadap Perubahan Iklim di Timur Latut Provinsi Bali mengungkap, wilayah timur hingga tenggara pulau Bali meliputi Karangasem, Klungkung, hingga sebagian Buleleng didominasi oleh pantai berpasir vulkanik. Terbentuk dari aktivitas gunung api, terutama Gunung Agung. Material letusan yang terbawa aliran sungai seperti Tukad Unda membentuk endapan sedimen di kawasan pesisir. Proses ini dikenal sebagai akresi, yakni penambahan daratan akibat penumpukan material alami.
Namun, daratan hasil sedimentasi tersebut tidak selalu bersifat permanen. Dalam banyak kasus, garis pantai akan terus berubah mengikuti dinamika gelombang, arus, dan bentuk dasar laut. Studi tentang kerentanan pesisir Bali menunjukkan bahwa lebih dari separuh garis pantai berada dalam kategori rentan hingga sangat rentan. Terutama pada wilayah berpasir dengan elevasi rendah. Di kawasan seperti Klungkung, perubahan garis pantai bahkan tercatat mencapai lebih dari dua meter per tahun ke arah darat.

Menurut keterangan seorang praktisi yang pernah melakukan studi lapangan di kawasan Kusamba pada tahun 2014 abrasi di Pantai Monggalan kemungkinan terjadi pada daratan semu. Daratan ini terbentuk akibat hasil sedimentasi pasca letusan Gunung Agung tahun 1963. “Daratan yang tampak hilang itu sebenarnya tidak ada sebelum letusan. Alam sekarang sedang mengembalikan keseimbangan sesuai bentuk awal dasar laut,” ujarnya.
Secara ilmiah, istilah daratan semu dapat dipahami sebagai bagian dari proses akresi yang bersifat dinamis. Sedimen yang terendapkan di pesisir bisa kembali terseret ke laut akibat gelombang kuat dan arus. Penelitian Putra et al. (2015) mencatat bahwa transport sedimen ke laut dalam, baik melalui arus tegak lurus pantai (cross-shore) maupun sepanjang garis pantai (longshore) menjadi salah satu faktor hilangnya material pantai secara permanen.

Kondisi ini menjelaskan mengapa tidak semua solusi teknis yang dapat diterapkan secara seragam. Pembangunan breakwater tidak selalu efektif di wilayah dengan kedalaman laut yang cepat berubah atau kemiringan dasar laut yang curam. Begitu pula reklamasi, yang dalam beberapa kasus justru berisiko gagal karena material pasir yang ditimbun dapat kembali hanyut ke laut, jika tidak didukung struktur penahan seperti groin atau sistem pengendali sedimen.
Berbeda dengan kawasan seperti Sanur atau Nusa Dua yang memiliki dasar laut relatif landai dan lebih stabil untuk intervensi teknis, pesisir timur dan tenggara Bali menghadapi tantangan geomorfologi yang jauh lebih kompleks. Gelombang dari arah laut terbuka, arus kuat, serta karakter sedimen vulkanik menjadikan wilayah ini lebih sensitif terhadap perubahan alami maupun tekanan aktivitas manusia.
Dalam penelitian Hastuti et al. (2022) menunjukkan bahwa 300 kilometer garis pantai di Bali mengalami erosi dengan berbagai tingkat. Selain faktor alami seperti gelombang tinggi dan badai, tekanan pembangunan pesisir dapat mempercepat perubahan garis pantai. Di wilayah dengan elevasi rendah, kenaikan muka air laut yang mencapai lebih dari rata-rata global semakin memperbesar risiko abrasi dan banjir pesisir.

Abrasi di Pantai Monggalan tidak bisa semata dilihat sebagai kerusakan yang harus diperbaiki, melainkan bagian dari dinamika alam yang lebih besar. Tantangan ke depan bukan hanya menahan laju abrasi, tapi memahami batas intervensi manusia di wilayah yang secara alami terus berubah.
Referensi:
Hastuti, A. W., Nagai, M., & Suniada, K. I. (2022). Coastal Vulnerability Assessment of Bali Province, Indonesia Using Remote Sensing and GIS Approaches. Remote Sensing, 14(17). https://doi.org/10.3390/rs14174409
Putra, A., Husrin, S., Al Tanto, T., & Pratama, R. (2015). KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI TIMUR LAUT PROVINSI BALI (Vol. 16, Number 4). http://earthexplorer.usgs.gov/










