
Ilustrasi Foto
Begadang hingga larut malam demi menyelesaikan revisi skripsi, menunda makan karena dikejar deadline, hingga rasa cemas yang muncul setiap kali membuka pesan dari dosen pembimbing menjadi gambaran yang akrab bagi mahasiswa tingkat akhir.
Padatnya tuntutan akademik sering membuat mahasiswa mengabaikan kebutuhan dasar tubuh, seperti makan teratur dan waktu istirahat yang cukup. Bahkan kekhawatiran tentang kelulusan dan masa depan juga turut menambah tekanan mental yang tidak sedikit. Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan tersebut perlahan membentuk pola hidup yang kurang sehat.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa tingkat akhir lebih rentan mengalami berbagai keluhan kesehatan, baik fisik maupun mental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres pada mahasiswa cenderung meningkat pada fase akhir perkuliahan, terutama saat menyusun tugas akhir atau skripsi.
Pola hidup yang tidak teratur, seperti kurang tidur, pola makan yang buruk, serta tekanan akademik yang tinggi, dapat memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari masalah pencernaan hingga gangguan tidur, berikut beberapa penyakit yang sering mengintai mahasiswa tingkat akhir.
- Maag
Maag menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dialami mahasiswa, terutama saat memasuki masa akhir perkuliahan. Penyakit ini ditandai dengan munculnya nyeri atau rasa perih pada lambung akibat peningkatan produksi asam lambung yang berlebihan. Selain nyeri pada bagian perut atas, gejala maag juga dapat berupa rasa mual, kembung, sering bersendawa, hingga sensasi panas di dada atau ulu hati. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang tidak teratur, kebiasaan mengonsumsi makanan pedas atau asam, stres, serta gaya hidup yang kurang sehat.
Pada mahasiswa tingkat akhir, kebiasaan menunda makan karena fokus mengerjakan skripsi atau revisi sering kali menjadi pemicu utama munculnya keluhan maag. Jadwal yang padat, begadang hingga larut malam, serta konsumsi kopi untuk menjaga konsentrasi juga dapat memperburuk kondisi lambung. Selain itu, kecenderungan memilih makanan cepat saji karena praktis di tengah kesibukan akademik turut meningkatkan risiko produksi asam lambung berlebih. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus, keluhan maag dapat semakin sering kambuh dan mengganggu aktivitas belajar mahasiswa.
- Insomnia
Begadang hingga larut malam sering menjadi kebiasaan yang sulit dihindari oleh mahasiswa tingkat akhir, terutama saat menghadapi revisi skripsi atau deadline yang menumpuk. Kebiasaan ini dapat memicu munculnya insomnia, yaitu gangguan tidur yang membuat seseorang kesulitan untuk mulai tidur atau mempertahankan tidur dengan baik. Penderita insomnia biasanya mengalami tidur yang singkat atau sering terbangun di tengah malam, sehingga tubuh tidak merasa segar saat bangun di pagi hari. Kondisi ini juga sering disertai dengan rasa kantuk di siang hari, mudah lelah, serta kesulitan untuk berkonsentrasi saat menjalani aktivitas.
Tekanan akademik yang tinggi dan rasa cemas terhadap penyusunan tugas akhir menjadi salah satu penyebab utama insomnia pada mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang sengaja mengurangi waktu tidur demi mengejar target pengerjaan skripsi atau revisi dari dosen pembimbing. Selain itu, penggunaan laptop dan ponsel hingga larut malam juga dapat mengganggu ritme tidur alami tubuh. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, insomnia tidak hanya memengaruhi kualitas tidur, tetapi juga dapat menurunkan fokus belajar serta memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.
- Migrain
Kepala terasa berdenyut di satu sisi, mata terasa silau terhadap cahaya, hingga muncul rasa mual menjadi keluhan yang cukup sering dialami sebagian mahasiswa. Kondisi ini dikenal sebagai migrain, yaitu jenis sakit kepala yang bisa muncul berulang dengan rasa nyeri yang cukup mengganggu. Tidak seperti sakit kepala biasa, migrain dapat berlangsung selama beberapa jam bahkan seharian, sehingga membuat penderitanya sulit berkonsentrasi atau melanjutkan aktivitas. Dalam beberapa kasus, migrain juga disertai rasa pusing serta ketidaknyamanan terhadap cahaya atau suara yang terlalu keras.
Berbagai hal dapat memicu munculnya migrain, mulai dari paparan cahaya yang terlalu terang, kebisingan, hingga cuaca panas atau perubahan cuaca yang mendadak. Namun, salah satu pemicu yang paling sering dialami mahasiswa adalah stres. Tekanan akademik, tuntutan menyelesaikan tugas, hingga target kelulusan membuat mahasiswa rentan mengalami tekanan mental. Ketika beban tugas semakin banyak dan waktu istirahat berkurang, keluhan migrain pun lebih mudah muncul.
Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan merespons dengan melepaskan hormon stres yang dapat memengaruhi kerja pembuluh darah di otak. Perubahan inilah yang dapat memicu munculnya nyeri kepala berulang yang dikenal sebagai migrain. Pada mahasiswa tingkat akhir, kondisi ini sering diperparah oleh kebiasaan begadang, kurang tidur, serta penggunaan laptop dalam waktu lama. Jika terjadi terus-menerus, migrain tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi dan memperlambat proses penyelesaian tugas akhir.
- Nyeri Leher dan Punggung
Duduk berjam-jam di depan laptop sering kali menjadi rutinitas mahasiswa tingkat akhir. Tanpa terasa, waktu bisa berlalu begitu saja saat fokus menyelesaikan revisi skripsi atau mencari referensi. Ketika akhirnya berdiri, barulah muncul rasa pegal di leher atau punggung yang terasa kaku dan tidak nyaman. Banyak mahasiswa menganggap keluhan ini sebagai hal biasa akibat lelah, padahal rasa nyeri yang muncul berulang bisa menjadi tanda tubuh mulai kelelahan karena posisi duduk yang tidak tepat.
Keluhan nyeri leher dan punggung umumnya berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti duduk dalam posisi membungkuk, menatap layar laptop atau handphone terlalu lama, serta jarang melakukan peregangan. Selain itu, penggunaan tas punggung yang terlalu berat juga dapat memengaruhi postur tubuh dan memberikan tekanan berlebih pada otot di sekitar bahu dan punggung. Jika aktivitas tersebut dilakukan terus-menerus dalam kondisi tubuh yang lelah, otot akan bekerja lebih keras dan memicu rasa tegang hingga nyeri.
Pada mahasiswa tingkat akhir, kondisi ini sering diperparah oleh kebiasaan duduk dalam waktu lama tanpa jeda demi menyelesaikan tugas akhir. Kurangnya waktu untuk bergerak atau meregangkan tubuh membuat otot leher dan punggung berada dalam posisi yang sama terlalu lama. Jika dibiarkan, keluhan ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi dan membuat proses penyelesaian skripsi terasa semakin berat.
- Kecemasan Berlebih
Rasa khawatir terhadap revisi yang belum selesai, jadwal bimbingan yang tidak menentu, hingga bayangan tentang kelulusan sering kali membuat pikiran terasa penuh. Perasaan cemas sebenarnya merupakan hal yang wajar dan dapat berfungsi sebagai bentuk kewaspadaan terhadap sesuatu yang dianggap penting. Namun, ketika rasa cemas muncul secara berlebihan dan berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, baik secara fisik maupun mental. Gejala yang muncul dapat berupa gelisah, pusing, berkeringat, sulit bernapas, hingga muncul perasaan takut dan tegang yang sulit dikendalikan.
Tekanan untuk memenuhi harapan dari diri sendiri maupun lingkungan, seperti keluarga dan dosen pembimbing, dapat memicu munculnya kecemasan yang berlebihan. Keinginan untuk mencapai hasil yang sempurna terkadang membuat seseorang merasa takut gagal dan tidak pernah puas terhadap hasil yang telah dicapai. Kondisi ini dapat memunculkan kebiasaan overthinking, menunda pekerjaan, hingga munculnya keluhan fisik seperti sakit kepala atau gangguan pencernaan. Jika tidak dikelola dengan baik, kecemasan dapat membuat proses penyelesaian tugas akhir terasa semakin berat dan melelahkan.
Jika berbagai keluhan tersebut mulai dirasakan, penting untuk menyadari bahwa tubuh sebenarnya sedang memberi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Maag, insomnia, migrain, nyeri leher dan punggung, hingga kecemasan berlebih bukanlah hal yang muncul tanpa sebab, melainkan berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Kesibukan menyelesaikan skripsi memang tidak dapat dihindari, tetapi mengabaikan kesehatan justru dapat membuat proses tersebut terasa semakin berat.
Menjalani masa akhir perkuliahan bukan hanya tentang mengejar kelulusan, tetapi juga tentang belajar menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan kesehatan diri. Memberi waktu untuk beristirahat, makan secara teratur, serta mengelola stres dengan baik dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap optimal. Dengan tubuh dan pikiran yang lebih sehat, perjalanan menyelesaikan tugas akhir pun dapat dijalani dengan lebih tenang dan terarah.
Referensi:
Akhnaf, A. F. dkk. (2022). Self Awareness dan Kecemasan Pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 6(1). https://journal.untar.ac.id/index.php/jmishumsen/article/view/13201
Azzahra, S. F. dan Wildayati. (2024). Pengaruh Aktivitas Dewasa Muda Terhadap Potensi Terjadinya Kasus Nyeri Leher. Bagimu Negeri: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 8(1). https://ejournal.umpri.ac.id/index.php/bagimunegeri/article/view/2407
Nurhana, I., Sari, I. P., Sijabat, R. (2025). Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Insomnia Pada Mahasiswa Tingkat Akhir (Studi Kasus pada Mahasiswa Universitas PGRI Semarang). Jurnal Salome, 2(6). https://wikep.net/index.php/SALOME/article/view/565/554
Ramadani, A. dkk. (2025). Edukasi Dampak Penyakit Maag Pada Remaja dan Cara Pengobatannya. Jurnal Pengabdian Masyarakat Yamasi, 4(2). https://jurnal.yamasi.ac.id/index.php/JPMY/article/view/359/374
Rumuat, J. T. dan Rantepadang, A. (2023). Hubungan Stres Akademik dengan Keluhan Migrain Pada Mahasiswa. Jurnal Nutrix, 7(2). https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/943/832
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet




