
Jauh sebelum program konservasi modern dikenal, masyarakat Bajawa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah lama hidup berdampingan dengan pohon aren (arenga pinnata), ada yang menyebut pohon enau tapi masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan sebutan pohon moke. Bukan sekadar tanaman, pohon ini adalah penopang hidup, penjaga lereng, dan penyimpan memori budaya yang tumbuh di setiap sudut kebun warga.
Pohon aren tumbuh subur di kawasan pedesaan Kabupaten Ngada. Hampir tak ada bagian dari pohon ini yang tidak berguna. Beragam olahan berasal dari pohon ini seperti Ijuknya bisa menjadi atap dan sapu. Tulang daunnya bisa diikat menjadi sapu lidi. Batangnya masuk ke ruang tamu dalam wujud furnitur. Sedangkan bagian buahnya dapat diolah menjadi kolang kaling (bahan kolak dan es campur) yang tak lekang oleh musim. Dan yang paling lekat dengan keseharian warga Bajawa ialah bagian air niranya yang dipanen setiap pagi dan sore untuk diolah menjadi “Moke”, minuman tradisional yang mengalir di setiap upacara adat Bajawa.
“Tanaman Enau dipilih sebagai tanaman sela karena kegunaannya yang tinggi dalam menjaga alam, terutama sebagai penahan longsor, tahan bencana, dan menjadi sumber air nira yang diolah menjadi minuman tradisional Moke,” ujar Yoakim Philipus Nanga, Koordinator Kabupaten Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), Senin (06/04).
Nilai ekonominya pun tidak main-main. Hendrikus Wika yang akrab disapa Om Boby menuturkan bahwa permintaan Moke selalu tinggi, terutama saat upacara adat berlangsung, minuman ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritual dan kebersamaan masyarakat.
Ironinya, di balik segudang manfaat itu, pohon Enau selama ini tumbuh liar tanpa pengelolaan yang serius. Potensinya yang besar justru belum digarap secara optimal baik dari sisi ekologis maupun ekonomi.
Melihat celah inilah, YBLL bersama Kelompok Tani Wanita Wogo mengambil langkah konkret. Di Kawasan Mata Air Wae Beli, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, keduanya menginisiasi pembibitan dan penanaman serentak 70 bibit Enau dan 100 bibit Bambu Petung ditanam berdampingan di lahan seluas satu hektar.

Aren dan bambu dipasangkan bukan tanpa alasan. Keduanya adalah tanaman konservasi yang saling melengkapi, akarnya yang kuat mengikat tanah, batangnya menahan laju air saat hujan deras, dan tajuknya menjaga mata air tetap hidup. Di saat yang sama, keduanya menawarkan nilai ekonomi nyata bagi warga yang merawatnya.
Penanaman ini baru permulaan. Yopi, sapaan akrab Yoakim menyuarakan harapan yang lebih jauh dari warga setempat. Ia berharap ke depan masyarakat tidak hanya mengenal pohon Enau sebagai sumber Moke semata, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan pelatihan untuk mengolahnya menjadi gula aren dan kolang kaling. Dua produk bernilai jual tinggi yang selama ini belum banyak disentuh oleh warga.
Bila harapan itu terwujud, pohon yang selama ini tumbuh liar di pinggir kebun itu bisa bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru sekaligus penjaga alam yang sengaja dipelihara, bukan sekadar dibiarkan tumbuh sendiri.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet cerutu4d sangkarbet gimbal4d gimbal4d situs togel situs togel sangkarbet

![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-350x250.jpg)


