• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Disabilitas di Bali Pilih Kuliah di Malang karena Layanan Inklusifnya

I Wayan Budi Adinanta by I Wayan Budi Adinanta
22 March 2026
in Kabar Baru, Pendidikan
0
0

Penulis: I Wayan Budi Adinanta

Hak pendidikan bagi penyandang disabilitas dijamin dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016. Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mulai mengembangkan sistem pendidikan inklusif untuk memastikan akses yang setara bagi seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas. Salah satu kampus yang mengembangkan sistem tersebut adalah Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Komang Yuni Lestari (21), mahasiswi tunanetra asal Gianyar, Bali, menjadi salah satu mahasiswi yang merasakan langsung sistem pendidikan inklusif. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa semester dua Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.

Ia diterima melalui jalur Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD), jalur khusus yang disediakan UB bagi calon mahasiswa disabilitas.

Menurut Komang, sistem penerimaan mahasiswa disabilitas UB dirancang cukup matang. Proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari seleksi berkas, tes kemampuan akademik, hingga wawancara dengan ketua program studi.

“Seleksinya cukup ketat, tapi menurut saya sistemnya sangat baik karena bisa mengurangi kecemasan penyandang disabilitas saat mendaftar kuliah,” ujar Komang.

Menurutnya, seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pemberkasan, tes kemampuan akademik, hingga wawancara dengan ketua program studi. Tahap wawancara dilakukan untuk memastikan kesiapan program studi menerima mahasiswa disabilitas sekaligus mengidentifikasi kebutuhan akademik selama masa perkuliahan.

Universitas Brawijaya sendiri telah membuka jalur penerimaan bagi mahasiswa disabilitas sejak 2012. Jalur tersebut dibentuk sebagai bagian dari upaya kampus dalam mengembangkan sistem pendidikan yang lebih inklusif bagi semua kalangan.

Pada tahun 2025, jumlah pendaftar jalur SMPD disebut menjadi yang terbanyak sejak program tersebut dibuka. Pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah pendaftar umumnya tidak mencapai 25 orang.

Selain itu, pada tahun tersebut mahasiswa disabilitas juga tidak dibebankan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dan memperoleh informasi mengenai beasiswa afirmasi disabilitas yang dapat diakses setelah proses pendaftaran.

Di lingkungan perkuliahan, Komang mengikuti kelas bersama mahasiswa reguler lainnya. Dalam satu kelas Sosiologi terdapat 49 mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.

Meski demikian, beberapa penyesuaian tetap dilakukan untuk mendukung proses belajar. Menurut Komang, para dosen umumnya memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas dan menyesuaikan metode pengajaran maupun sistem evaluasi.

“Kami tetap diperlakukan seperti mahasiswa lainnya. Tidak ada perlakuan khusus yang berlebihan, tetapi kebutuhan kami tetap diperhatikan,” ujar mahasiswi semester dua itu.

Untuk mendukung proses belajar mahasiswa disabilitas, UB menyediakan berbagai layanan melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD). Salah satu layanan yang tersedia adalah pendamping teman sebaya, yaitu mahasiswa yang membantu dalam kegiatan perkuliahan maupun aktivitas akademik lainnya.

Selain pendampingan, UB juga menyediakan layanan lain seperti tutor penggunaan teknologi, digitalisasi buku, pendamping seminar, hingga tutor skripsi yang dapat diakses hingga mahasiswa menyelesaikan studi.

Meski fasilitas tersebut tersedia, Komang mengaku tidak selalu menggunakan pendamping karena ia merasa cukup terbantu oleh teman-temannya di kelas.

“Teman-teman di kelas cukup terbuka membantu, baik untuk mobilitas di kampus maupun dalam menyelesaikan tugas,” ujarnya.

Keputusan Komang memilih UB berawal dari cerita seorang teman tunanetra yang lebih dahulu berkuliah di kampus tersebut. Dari pengalaman temannya itulah ia mengetahui bahwa UB memiliki sistem pendidikan yang cukup inklusif bagi mahasiswa disabilitas.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sebagian perguruan tinggi di Bali yang masih memiliki keterbatasan dalam menyediakan sistem pendidikan inklusif.

“Saya merasa di Bali sistem inklusifitasnya belum sebaik di sini. Banyak penyandang disabilitas yang masih harus berjuang sendiri,” kata Komang.

Selain layanan akademik, UB juga menyediakan sejumlah fasilitas infrastruktur yang mendukung aksesibilitas, seperti guiding block untuk tunanetra, jalur landai bagi pengguna kursi roda, toilet aksesibel, serta ruang layanan disabilitas di lingkungan kampus.

Namun, Komang menilai masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama terkait pemerataan fasilitas aksesibilitas di seluruh gedung kampus.

Menurutnya, sebagian infrastruktur ramah disabilitas saat ini masih lebih banyak tersedia di area lantai dasar, sementara fasilitas di lantai atas belum sepenuhnya terakomodasi.

“Masih ada beberapa fasilitas yang perlu ditingkatkan, seperti akses lift dengan pemberitahuan suara,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman akademik dan sosial yang ia rasakan selama berkuliah di Universitas Brawijaya dinilai cukup positif. Komang berharap semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia yang mulai mengembangkan sistem pendidikan inklusif agar penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.

Selain Komang, pengalaman serupa juga dirasakan oleh mahasiswa penyandang disabilitas lainnya di Universitas Brawijaya. Rumaisho Azzaro, yang akrab disapa Oza, merupakan mahasiswa tuli yang sebelumnya menempuh studi di UB pada Program Studi Ilmu Perpustakaan. Meski secara administratif masih tercatat sebagai mahasiswa semester sembilan, Oza telah menyelesaikan studinya lebih awal karena sempat mengalami kendala kesehatan.

Oza juga diterima melalui jalur seleksi mandiri di Universitas Brawijaya. Dalam proses penerimaan, ia harus mengikuti tahap wawancara dengan ketua program studi untuk memastikan kesiapan jurusan dalam menerima mahasiswa disabilitas.

Ia juga menilai UB sebagai salah satu kampus yang cukup serius mengembangkan pendidikan inklusif. Selama berkuliah, Oza merasakan berbagai dukungan yang memudahkan mahasiswa disabilitas mengikuti kegiatan akademik maupun kegiatan kampus.

“Saat SMA saya melihat fasilitas di UB cukup lengkap dan menyediakan akses bagi difabel. Itu yang membuat saya tertarik,” ujar Oza.

Kampus menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk acara-acara resmi. Selain itu, terdapat pula relawan yang membantu mahasiswa disabilitas dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus.

“Ada juru bahasa isyarat, volunteer untuk kegiatan sehari-hari, dan juga pendampingan,” katanya.

Dalam kegiatan perkuliahan, Oza menilai akses pembelajaran di UB sudah cukup baik. Namun, ia mengakui masih terdapat beberapa tantangan, terutama pada mata kuliah yang berbasis audio seperti listening.

Karena tidak dapat mendengar percakapan dalam materi audio, dosen biasanya memberikan penyesuaian dengan menyediakan naskah atau script dari materi yang akan dipelajari.

“Biasanya dosen memberikan script dari audio yang akan dipraktikkan di kelas, jadi saya tetap bisa mengikuti materi,” ujarnya.

Untuk ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS), Oza juga mendapat penyesuaian dalam pelaksanaan ujian. Ia biasanya mengikuti ujian di ruang dosen agar dapat memperoleh penjelasan soal secara berulang jika diperlukan.

Cerita Komang dan Oza menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya soal membuka akses bagi mahasiswa disabilitas untuk masuk ke perguruan tinggi, tetapi memastikan mereka dapat mengikuti seluruh proses pendidikan secara setara. Sistem penerimaan yang ramah disabilitas, dukungan akademik dari dosen, keberadaan pendamping, hingga fasilitas fisik yang aksesibel menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Di sisi lain, pengalaman keduanya menunjukkan bahwa pendidikan inklusif masih memerlukan pengembangan berkelanjutan. Infrastruktur yang merata, metode pembelajaran yang adaptif, serta kesadaran civitas akademika terhadap kebutuhan mahasiswa disabilitas menjadi faktor penting agar kampus benar-benar dapat menjadi ruang belajar yang terbuka bagi semua.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: Aksesibilitasdisabilitas balikuliah inklusifPendidikan inklusif
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Wayan Budi Adinanta

I Wayan Budi Adinanta

Related Posts

No Content Available
Next Post
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Sampah tak Terpilah, Subsidi Pupuk Organik bikin Jengah

Cara Leluhur Bali Memilah Sampah

21 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia