• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Suara Penolakan Hingga Kantor Staf Presiden

Suriadi Darmoko by Suriadi Darmoko
16 February 2016
in Berita Utama, Lingkungan
0
0

Bendesa Adat di Kantor Staf Presiden

Penolakan terhadap reklamasi bergema hingga Kantor Staf Presiden (KSP).

Hari ini, 14 Bendesa Adat mendatangi KSP. Mereka dari Tanjung Benoa, Kedonganan, Kelan, Jimbaran, Bualu, Kuta, Seminyak, Pedungan, Canggu, Kepaon, Serangan, Sanur, dan Sesetan.

Di Kantor KSP, 14 Bendesa Adat ditemani Eksekutif Nasional WALHI, WALHI Bali dan ForBALI. Adapun Bendesa Adat yang tidak dapat hadir di Jakarta antara lain Desa Adat Kerobokan, Legian, Berawa dan Pemogan.

Di KSP, 14 Bendesa Adat ini ditemui Deputi II Yanuar Nugroho dan Staf Khusus Kepala Staf Presiden Noer Fauzi Rachman. Dalam pertemuan di kantor KSP, Bendesa Adat menyampaikan fakta-fakta yang terjadi dan alasan Bendesa Adat menolak reklamasi Teluk Benoa.

I Wayan Swarsa, Bendesa Adat Kuta menyatakan, desa adat menolak reklamasi Teluk Benoa, karena reklamasi akan menghancurkan nilai-nilai adat dan keagamaan masyarakat adat di Bali. Ada sekitar 70 pura di sekitar Teluk Benoa yang akan dikeruk oleh proyek reklamasi Teluk Benoa.

“Di Teluk Benoa, ada vibrasi kehidupan dan energi spiritual yang harus dijaga oleh Bendesa Adat sebagai kewajiban moral dan keyakinan yang menjadi pegangan bagi Bendesa Adat,” ujar Swarsa.

Hingga saat ini, ada 18 desa adat yang telah menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Namun, upaya reklamasi terus dipaksakan oleh PT Tirta Wahana Bali International (TWBI). Dari 18 desa adat tersebut, 15 desa adat merupakan desa adat yang terdampak langsung dengan reklamasi Teluk Benoa. Adapun tiga desa adat lain tidak terdampak langsung.

Salah satu desa yang tidak terkena dampak langsung tersebut adalah Desa Buduk, Mengwi.

Ida Bagus Ketut Purbanegara, Bendesa Adat Buduk mengatakan desanya memang tidak terdampak secara langsung dari reklamasi Teluk Benoa ini. Namun, menurutnya, patut diingat bahwa Bali mengenal ikatan moral dan persaudaraan yang kuat, yakni pesidikaran.

Menurut Purbanegara, pesidikaran tersebut akan muncul jika ada hal substansif yang disentuh menyangkut kehidupan sosial, budaya dan keyakinan. “Kami tidak hanya ikut-ikutan, kami menyatakan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa karena memiliki ikatan pesidikaran yang kuat dengan desa adat lain yang terdampak langsung dari reklamasi ini,” katanya.

Selain dampak lingkungan seperti banjir dan abrasi yang telah dialami Desa Adat Bualu, reklamasi juga memiliki dampak sosial. Investor telah membuat konflik horisontal antara masyarakat.

“Padahal selama ini, sejak awal investor tidak pernah mengajak Bendesa Adat untuk menyampaikan dan mendiskusikan tentang proyek ini. Konflik sosial sangat berisiko sehingga kami memutuskan menolak reklamasi,” ujar Bendesa Adat Sesetan.

Sampai saat ini Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) masih diproses oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pemrakarsa telah diminta untuk merevisi AMDAL.

Menurut Direktur Eksekutif Nasional WALHI Abetnego Tarigan, jika sebagian besar Bendesa Adat dan Masyarakat Adat sudah menyatakan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa ini, maka AMDAL menjadi tidak layak untuk dilanjutkan.

“Proses AMDAL yang masih bergulir, menjadi tidak relevan lagi,” tegasnya.

Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) I Wayan Gendo Suardana menyatakan sikap kritis desa adat terhadap praktik investasi merupakan sejarah dalam proses investasi di Bali. Sikap itu muncul karena ada hal-hal melatarbelakangi. Warga merasa telah diciderai.

Menurut Gendo, ada 70 titik kawasan suci dengan berbagai bentuk, ada muntig, alur teluk dan muara yang akan diurug dengan proyek reklamasi Teluk Benoa.

“Itulah yang mendasari mengapa kini para Bendesa Adat menolak reklamasi Teluk Benoa,” kata Gendo.

Dalam pertemuan ini, Yanuar Nugroho menyatakan tim KSP akan turun ke lapangan untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap. “Kami akan akan berkonsultasi langsung dengan para Bendesa Adat dan masyarakat adat,” kata Yanuar.

Perpres 51/2014 merupakan upaya pemutihan terhadap pelanggaran tata ruang oleh Gubernur. Kini dengan Perpres tersebut, kawasan konservasi beralih menjadi kawasan pemanfaatan.

Karena itu, selain menyatakan sikap penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa, 18 Bendesa Adat juga mendesak Perpres 51/2014 dicabut. Karena Perpres inilah yang dijadikan oleh legitimasi PT TWBI untuk menjalankan proyek reklamasi. [b]

Tags: AdvokasiBali Tolak ReklamasiJakartaLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Suriadi Darmoko

Suriadi Darmoko

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Bali.

Related Posts

Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

27 February 2026
Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

18 February 2026
Next Post
Rollfast Luncurkan Video Musik Electric Illuminators

Rollfast Luncurkan Video Musik Electric Illuminators

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Sampah tak Terpilah, Subsidi Pupuk Organik bikin Jengah

Cara Leluhur Bali Memilah Sampah

21 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia