• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 25, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Eco Defender, Fashion untuk Membela Lingkungan

Anton Muhajir by Anton Muhajir
4 October 2014
in Gaya Hidup, Kabar Baru, Lingkungan
0
0
rumble
Foto Facebook Rumble

Di antara ramainya Jalan Teuku Umar, tiga tukang sedang menyiapkan toko baru.

Ada yang membersihkan lantai, mengecat dinding, juga menyiapkan meja kasir. Dinding toko tiga lantai tersebut dominan hitam. Mereka bersiap membuka toko baru.

Di lantai satu nanti akan jadi toko. Adapun di lantai dua akan jadi tempat nongkrong. Di lantai dua ini terdapat pula ruang khusus untuk studio.

Pertengahan September lalu, suasana masih berantakan. “Targetnya Oktober nantilah kami buka,” kata manajer toko Ady Hydrant tengah September lalu.

Toko di Jalan Teuku Umar, salah satu jalan tersibuk di Denpasar, merupakan cabang kelima bagi Rumble. Berdiri pertama kali di Kuta sepuluh tahun silam, kini Rumble telah memiliki cabang antara lain di Ubud, Batubulan, dan bahkan Yogyakarta.

RMBL, nama merek Rumble, kini menjadi salah satu produk fashion terkenal di kalangan anak muda Bali. Namun, dari sekadar produsen fashion, kini Rumble juga menyasar lain, kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan. Bersama organisasi advokasi lingkungan terkemuka Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, Rumble menyebar kepedulian tersebut melalui program Eco Defender.

Adi menceritakan ide munculnya Eco Defender berasal dari diskusi antara dia dengan dua musisi lain, Prima Yudhistira vokalis band hip metal Geeksmile dan Ary Astina yang biasa dipanggil Jerinx, drummer band punk Superman is Dead (SID). Mereka ingin terlibat lebih banyak pada isu-isu sosial di Bali melalui musik.

Dari situ muncul nama Eco Defender. “Itu si Prima yang punya ide nama. Menurut kami bagus juga,” tambah Adi.

Jerinx mengatakan lahirnya Eco Defender adalah untuk memadukan antara fashion dengan perlawanan (rebel). “Banyak anak muda yang ingin terlihat rebel melalui pakaiannya. Namun, mereka justru tidak tahu bagaimana menyalurkan perlawanan tersebut di dunia nyata. Kami ingin menjembatani mereka,” kata Jerinx.

Salah satu kampanye aksi sosial saat itu adalah Siu Ajak Liu, urunan Rp 1.000 secara berkala untuk membantu murid-murid kurang mampu. Setiap Rp 1.000 dari uang pembelian pakaian kemudian disumbangkan ke anak-anak tidak mampu tersebut.

Dalam perjalanannya, menurut Jerinx, isu lingkungan di Bali ternyata lebih penting. “Lingkungan Bali mengalami eksploitasi akibat pariwisata berlebihan,” kata Jerinx.

Sejak itulah Rumble kemudian menggandeng mitra tetap, Walhi Bali. Alasannya, Walhi selama berjuang langsung di depan dalam isu advokasi lingkungan di Bali. “Mereka tidak main aman. Mereka melawan langsung di lapangan untuk membela lingkungan,” tambah Jerinx.

Meskipun berganti mitra, pola penggalangan dukungan oleh Eco Defender tetap sama. Mereka menyisihkan pendapatan dari setiap pembelian barang-barang di Rumble.

Donasi Walhi

Produk-produk fashion ini beragam. Ada jeket, celana pendek, baju, kaos kaki, topi, kaca mata, hingga minyak rambut (pomade). Harga produk ini bervariasi. Sepotong baju misalnya sekitar Rp 300.000. Kaca mata Rp 700.000. Pomade Rp 150.000 per kaleng.

Besarnya uang yang disumbangkan tersebut Rp 4.000 untuk tiap pomade yang terjual dan Rp 2.000 untuk baju. Dalam sebulan, menurut Adi, Eco Defender menyumbangkan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta kepada Walhi Bali.

Bentuk penggalangan dana juga dilakukan melalui konser-konser oleh para musisi. Akhir Agustus lalu misalnya ada konser yang diikuti para musisi punk dan indie Bali di mana seluruh hasilnya disumbangkan kepada gerakan advokasi lingkungan.

Bagi Walhi Bali, sumbangan ini sangat berpengaruh terhadap gerakan mereka. “Kami bisa mendapatkan suntikan logistik untuk advokasi-advokasi terhadap lingkungan,” kata Suriadi Darmoko, Direktur Walhi Bali.

Menurut Moko selama ini Walhi Bali bergerak dengan keterbatasan. Sumber dana mereka hanya dari sumbangan individu yang dibatasi maksimal Rp 300.000 per orang serta dari Walhi Nasional. Dengan sumber daya terbatas, mereka harus melakukan kerja-kerja advokasi secara intensif dan berkelanjutan.

“Hal terpenting dari dukungan Eco Defender ini adalah untuk membantah tuduhan bahwa Walhi Bali selama ini ditunggangi pihak tertentu dalam advokasinya,” Moko menambahkan.

Walhi Bali merupakan organisasi advokasi lingkungan terkemuka di Bali. Mereka paling bersuara keras jika ada rencana pembangunan yang dianggap rentan mengeksploitasi Bali. Misalnya privatisasi Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai atau reklamasi Teluk Benoa.

Dalam advokasi tersebut, Walhi Bali kadang dituding telah ditunggangi kepentingan politik atau bisnis kelompok lain. “Eco Defender membuktikan bahwa Walhi Bali bisa didukung oleh pendanaan dari publik secara terbuka,” ujar Moko.

Sumbangan dari Eco Defender, biasanya diserahkan secara rutin oleh pihak Rumble kepada Walhi.

Namun, Eco Defender tak melulu tentang uang dan lingkungan. Menurut Jerinx, penggalangan solidaritas terhadap advokasi lingkungan juga untuk mengarusutamakan isu lingkungan di kalangan anak-anak muda.

“Kita bisa melihat sekarang bagaimana anak-anak muda di Bali merasa bahwa peduli lingkungan itu keren. Lihat saja anak-anak muda yang ikut aksi tolak reklamasi (Teluk Benoa). Mereka itu kan anak-anak muda yang ingin tampil keren dengan pakaian tapi juga ingin melawan,” ujar Jerinx.

Isu Eco Defender pun bisa lebih luas, tentang kemanusiaan. Juli lalu misalnya, Eco Defender membuat konser kemanusiaan bertema Love for Gaza. Pengisinya SID, Bintang, Nymphea, dan band-band lokal lain. Tiap pengunjung konser harus membayar tiket Rp 20.000. Seluruh hasil penjualan tiket kemudian disumbangkan untuk anak-anak Palestina korban serangan Israel.

Melalui musik, Eco Defender telah melintas batas isu dan agama. [b]

Tags: BaliFashionKomunitas
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Next Post
Kurikulum 2013 pun Mengorbankan Anak-anak Kami

Kronologi Kelirumologi ala Kepsek SD 3 Sesetan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

24 May 2026
Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

23 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Refleksi dari Pembunuhan Munir dan Marsinah

Aksi Kamisan Bali ke-66: Refleksi dari Pembunuhan Munir dan Marsinah

22 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia