
Oleh: Bagja Wiranandhika Prawira
Ketulian masih sering dipahami sebagai ketidakmampuan mendengar. Dari cara pandang ini, muncul anggapan bahwa individu Tuli adalah mereka yang “kekurangan” dan perlu diperbaiki agar mendekati standar normal. Cara berpikir seperti ini tidak hanya hidup dalam dunia medis, tetapi juga merembes ke pendidikan, kebijakan publik, hingga percakapan sehari-hari. Istilah seperti “tuna rungu” menjadi contoh bagaimana bahasa ikut membentuk cara kita melihat ketulian sebagai sesuatu yang kurang. Padahal, pengalaman menjadi Tuli jauh lebih luas daripada sekadar persoalan biologis. Ia menyangkut cara hidup, cara berelasi, dan cara memahami dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas Tuli di Indonesia mulai menggunakan istilah “Tuli” dengan huruf “T” kapital sebagai bentuk afirmasi identitas. Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan makna yang lebih dalam. Ia menunjukkan upaya untuk keluar dari definisi yang selama ini dibentuk oleh perspektif medis dan kebijakan formal. Bahasa, dalam hal ini, menjadi ruang penting untuk merebut kembali makna. Ketika istilah berubah, cara pandang pun ikut bergeser. Ketulian tidak lagi dilihat sebagai kekurangan, melainkan mulai dipahami sebagai bagian dari budaya Tuli yang memiliki pengalaman dan nilai tersendiri.
Namun, pembahasan tentang Tuli sering berhenti pada identitas dan bahasa. Padahal, ada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana individu Tuli memahami dunia di sekitarnya. Cara memahami dunia inilah yang membentuk pengetahuan. Dalam Deaf Studies, hal ini dikenal sebagai epistemologi Tuli, yaitu cara mengetahui yang lahir dari pengalaman visual, interaksi sosial, dan kehidupan komunitas (Ladd, 2003; Holcomb, 2013). Pendekatan ini membuka kemungkinan untuk melihat ketulian bukan hanya sebagai kondisi atau label identitas, tetapi sebagai budaya Tuli yang hidup dan berkembang.
Dalam konteks Bali, pertanyaan ini menjadi semakin menarik. Kehidupan masyarakat Bali tidak hanya diatur oleh logika rasional, tetapi juga oleh relasi sosial, nilai budaya, dan kepercayaan spiritual. Di sinilah ketulian tidak berdiri sendiri sebagai kondisi individu, melainkan menjadi bagian dari cara hidup yang lebih luas. Esai ini melihat bahwa Tuli Bali tidak hanya berkaitan dengan identitas, tetapi juga dengan cara mengetahui dunia yang dibentuk oleh pengalaman visual, relasi komunitas, dan nilai-nilai budaya seperti Tri Hita Karana.
Ketulian dalam Bingkai Sosial Bali
Cara memahami ketulian di Bali tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakat memaknai kehidupan secara umum. Selama ini, perspektif medis cenderung mendominasi dengan melihat ketulian sebagai sesuatu yang harus diperbaiki. Namun, dalam praktik sosial, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan kerangka tersebut. Masyarakat Bali memiliki cara sendiri dalam memahami perbedaan, yang tidak selalu bertumpu pada kategori normal dan tidak normal.
Dalam kehidupan sehari-hari, individu Tuli tetap menjadi bagian dari jaringan sosial yang lebih luas. Mereka terlibat dalam aktivitas keluarga, komunitas, dan lingkungan adat. Hal ini menunjukkan bahwa ketulian tidak secara otomatis mengeluarkan seseorang dari kehidupan sosial. Justru, keberadaan relasi yang kuat membuat individu Tuli tetap memiliki ruang untuk berpartisipasi. Dalam konteks ini, ketulian lebih dipahami sebagai bagian dari variasi kehidupan, bukan penyimpangan.
Bahasa memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman tersebut. Komunitas Tuli Bali menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan variasi lokal Bali sebagai medium komunikasi utama. Bahasa ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun identitas dan relasi. Melalui bahasa ini, pengalaman hidup dibagikan, dipahami, dan dimaknai bersama.
Di sisi lain, intervensi dari luar, seperti kebijakan bahasa formal yaitu menerapkan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) di sekolah luar biasa (SLB), sering kali tidak sepenuhnya sejalan dengan pengalaman komunitas. Upaya penyeragaman bahasa menunjukkan bagaimana struktur yang lebih besar mencoba mengatur cara komunikasi. Namun, dalam praktiknya, komunitas Tuli tetap mengembangkan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup sering kali lebih menentukan daripada kebijakan formal (Hauschildt, 2022).
Dalam kerangka ini, ketulian di Bali tidak dapat dipahami hanya sebagai kondisi individu, melainkan sebagai bagian dari budaya Tuli yang tumbuh dalam relasi sosial masyarakat Bali. Ia merupakan hasil dari interaksi antara individu, komunitas, dan struktur sosial yang lebih luas. Dari sini, terlihat bahwa ketulian bukan sekadar kondisi biologis, tetapi juga konstruksi sosial yang terus dibentuk dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Tuli Bali Mengetahui Dunia
Jika ketulian dipahami sebagai pengalaman hidup, maka penting untuk melihat bagaimana pengalaman itu membentuk cara mengetahui dunia. Dalam budaya Tuli Bali, cara mengetahui ini tidak bisa dilepaskan dari pengalaman visual. Penglihatan menjadi pusat dalam berkomunikasi dan memahami lingkungan. Dunia tidak lagi dimaknai melalui suara, tetapi melalui gerak, ekspresi, dan visualitas.
Namun, pengalaman visual ini bukan satu-satunya faktor. Pengetahuan dalam budaya Tuli Bali juga dibangun melalui relasi sosial. Interaksi dengan sesama Tuli maupun dengan masyarakat luas menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman. Dalam proses ini, pengetahuan tidak hanya diterima, tetapi juga dibentuk secara bersama. Hal ini membuat cara mengetahui menjadi kolektif dan kontekstual.
Bahasa isyarat menjadi medium utama dalam proses tersebut. Dalam budaya Tuli Bali, BISINDO versi Bali tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara berpikir. Melalui bahasa ini, pengalaman individu diterjemahkan ke dalam pemahaman bersama. Ia menjadi jembatan antara pengalaman pribadi dan pengetahuan kolektif.
Pengalaman keterbatasan akses juga ikut membentuk cara mengetahui ini. Dalam situasi di mana informasi tidak selalu mudah diakses, individu Tuli mengembangkan strategi sendiri untuk memahami dunia. Pengetahuan yang dihasilkan sering kali lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari, bukan sekadar hasil dari sistem formal. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya diproduksi oleh institusi, tetapi juga oleh pengalaman hidup.
Dalam konteks Bali, cara mengetahui ini semakin diperkaya oleh nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Pengetahuan tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang rasional, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual. Epistemologi Tuli Bali, dalam hal ini, tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan nilai-nilai yang lebih luas dalam masyarakat (Budidharma, 2025).
Tri Hita Karana dan Makna Menjadi Tuli di Bali
Untuk memahami lebih dalam pengalaman Tuli Bali, penting melihat bagaimana nilai budaya membentuk cara hidup dan cara mengetahui. Salah satu konsep kunci dalam masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana, yaitu prinsip yang menekankan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. Konsep ini tidak hanya menjadi nilai abstrak, tetapi hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, pengalaman dalam budaya Tuli Bali dapat dibaca melalui relasi-relasi tersebut. Hubungan dengan sesama manusia terlihat dalam bagaimana individu Tuli membangun komunitas dan berbagi pengalaman. Mereka tidak hidup terpisah, tetapi menjadi bagian dari jaringan sosial yang saling terhubung. Relasi ini memungkinkan terbentuknya ruang bersama yang memperkuat identitas dan solidaritas.
Hubungan dengan lingkungan tercermin dalam bagaimana individu Tuli beradaptasi dengan ruang sosial di sekitarnya. Kehidupan di Bali yang berbasis komunitas membuat interaksi tidak hanya terjadi dalam ruang formal, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari. Dalam ruang ini, individu Tuli menemukan cara untuk berpartisipasi dan berkontribusi, meskipun tidak selalu dalam bentuk yang sama dengan masyarakat dengar.
Sementara itu, hubungan dengan aspek spiritual juga turut memengaruhi cara memahami kehidupan. Dalam masyarakat Bali, pengalaman hidup sering kali dimaknai dalam kaitannya dengan nilai-nilai spiritual. Dalam kerangka ini, menjadi Tuli tidak selalu diposisikan sebagai kekurangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup yang memiliki makna tertentu. Perspektif ini memperlihatkan bahwa cara memahami realitas tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga kultural dan etis.
Budidharma menunjukkan bahwa cara mengetahui dalam komunitas Tuli Bali tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai relasional dan keseimbangan yang hidup dalam masyarakat, termasuk prinsip Tri Hita Karana (Budidharma, 2025). Hal ini menegaskan bahwa epistemologi Tuli Bali bukan hanya soal bagaimana individu memahami dunia, tetapi juga bagaimana mereka hidup di dalamnya.
Pada akhirnya, menjadi Tuli di Bali bukan hanya soal kondisi tubuh. Ia adalah bagian dari budaya Tuli yang dibentuk oleh pengalaman visual, relasi sosial, dan nilai budaya yang menekankan keseimbangan hidup. Dalam kerangka ini, budaya Tuli bukan sesuatu yang harus disesuaikan dengan dunia, melainkan sebuah cara lain untuk memahami dunia itu sendiri.
Referensi
Budidharma, C. S. (2025). “Deaf epistemology: Understanding how deaf people construct knowledge”. Journal of Deaf Studies and Deaf Education. [Online]. Diakses pada 27 Maret 2026 di https://doi.org/10.1093/jdsade/enaf077.
Hauschildt, S. R. (2023). “Deaf culture in Indonesia: Sign language, identity, and community.” Advances in Social Sciences Research Journal, 10(2). [Online]. Diakses pada 27 Maret 2026 di https://journals.scholarpublishing.org/index.php/ASSRJ/article/view/15918.
Holcomb, T. K. (2013). Introduction to American Deaf Culture. New York: Oxford University Press.
Ladd, P. (2003). Understanding Deaf culture: In search of Deafhood. Clevedon: Multilingual Matters.
(Bagja Wiranandhika Prawira adalah penulis dan pegiat isu Tuli yang berfokus pada kritik terhadap audisme, politik bahasa, dan ketidaksetaraan struktural di Indonesia. Tulisannya terbit di berbagai media daring nasional. Baginya, menjadi Tuli bukan sekadar identitas, melainkan sikap terhadap sistem yang hearing-centered. Ia dapat disapa melalui Instagram @bagjapraws atau surel bagjaprawiraaa@gmail.com)
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet






