
Panggillah Made Merta.
Sejak lahir, mata tak pernah mengenal cahaya. Namun lapar tak peduli keterbatasan, dan tangisan anak tak menunggu kesiapan. Hidup terus bergerak, meski arah sering kali tak terlihat.
Langkah ditempuh dengan rabaan. Pengetahuan dibangun lewat sentuhan. Kesabaran menjadi teman sehari-hari.
Sejak remaja, tangan belajar membaca tubuh manusia. Ilmu pijat diperoleh dari bangku sekolah, lalu diperdalam melalui pengalaman, cerita sesama terapis, bantuan teknologi, serta praktik langsung bersama pasien. Dari sana dipahami bahwa tubuh berbicara lewat otot yang menegang, napas yang berat, dan keluhan yang tak selalu terucap.
Kini saya menjalani usaha kecil bernama Panti Pijat Amerta Manik Usada. Tempatnya sederhana, masih menyatu dengan rumah. Kadang ramai, lebih sering sunyi. Dalam satu minggu, tak jarang hanya satu atau dua hari ada pasien. Layanan yang saya berikan meliputi pijat kebugaran, terapi sistem saraf pusat, serta penanganan keseleo, salah urat, leher kaku, dan nyeri menahun. Semua ditangani sendiri, dibantu istri yang menjaga kebersihan ruang praktik.
Pernah hampir dua pekan tanpa pasien. Di saat seperti itu, kebutuhan rumah terasa berat, sementara seorang anak kecil terus tumbuh setiap hari.
Teknologi menjadi pengganti penglihatan: ponsel untuk ojek online, komunikasi pasien, penerjemahan bahasa, membaca pesan, hingga mengenali uang. Sayangnya perangkat yang digunakan sudah menua dan sering macet, membuat pekerjaan kerap tersendat.
Yang dibutuhkan bukan keajaiban. Harapannya sederhana: ruang praktik kecil yang lebih layak, alat kerja yang memadai, serta kesempatan untuk bekerja dengan lebih bermartabat. Karena keterbatasan bukan akhir cerita. Ia hanyalah jalan berbeda untuk bertahan dan tumbuh.
Saat ini saya juga sedang menjalani penggalangan dana sederhana untuk membantu pengembangan usaha pijat yang saya kelola secara mandiri: Kampanye Benih Baik Made Merta
Apabila berkenan, saya sangat bersyukur bila kisah ini dapat dimuat atau dibagikan. Dukungan sekecil apa pun—termasuk membantu menyebarkan cerita dan tautan tersebut—sudah sangat berarti bagi keberlangsungan usaha kecil kami.
Terima kasih atas waktu dan kesempatannya.



