Liputan Mendalam

Menjaga Asa Sehat Jiwa Raga Saat Pagebluk

Oleh Fenty Lilian, Ketut Angga Wijaya, dan Hadhi Kusuma

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Menghadapi Pandemi dan Halusinasi

Kisah Fenty Lilian

Bertemu dengan hal yang tiba-tiba dan tidak kita inginkan adalah hal luar biasa. Pandemi Covid19 datang untuk bertemu tanpa permisi sampai setahun dan belum mengucapkan kata perpisahan. Sama halnya seperti gangguan mental yang aku dapatkan, datang tanpa permisi sampai sekarang aku hidup berdampingan dengannya.

Perkenalkan aku Fenty, seorang perempuan kecil berkulit sawo matang memiliki tahi lalat di atas bibir, berambut lurus dan memiliki tinggi 153 cm. Jelang pandemi aku didiagnosis memiliki gangguan mental dengan diagnosa awal F20 (skizofrenia paranoid) dan sekarang masih melakukan rawat jalan dengan kode F31 (bipolar affective disorder).

Tahun ini aku berumur 25 tahun, aku berasal dari kota kecil Solo. Tujuanku datang ke Bali untuk mencari pekerjaan. Sebelum pandemi, aku seorang karyawan salah satu media di Bali sebagai account executive.

Pekerjaanku sangat menyenangkan karena dapat bertemu banyak orang baru dengan akses mudah seperti bertemu manager marketing hotel, pegawai pemerintahan, atau manager di suatu perusahaan besar. Namun pandemi tiba dan April 2020 aku dirumahkan dari pekerjaan yang sudah 3 bulan dijalani dengan senang hati.

Pandemi ini menjadi ledakan sangat menyakitkan untuk diriku dan orang-orang sekitarku. Ini menadai sudah setahun lebih hidup dengan perasaan takut berlebihan dari sebelumnya. Setiap hari perasaanku naik turun seperti sedang menaiki roller coaster, apalagi pandemi terus menghantui sampai sekarang.

Masalah ekonomi adalah hal utama yang aku pikirkan. Bagaimana bisa terus menghidupi diriku setiap harinya untuk makan sehari-hari, membayar paketan internet, pulsa listrik, bensin motorku, belum lagi hal-hal yang tidak terduga.

Pada Agustus 2020 aku mendaftar sebagai mahasiswa alih jenjang di Universitas Warmadewa, Bali, aku diterima menjadi mahasiswa lanjutan di sana. Aku masih menempuh kuliah sampai sekarang, menjalani kuliah online Senin sampai Jumat.

Fenty dan Karya Kolase

Setiap hari aku hampir merasakan hal-hal yang berbeda. Mulai dari gemetar badan, sesak, paranoid yang cukup parah ketika aku berada di tempat yang ramai maupun sepi. Ada suara anak kecil menangis, meminta tolong, teriak, kaki berjalan, suara tembakan yang membuatku terkadang merinding.

Tak sampai di situ saja, bunyi-bunyian juga aku alami hampir setiap malam. “Tok..tok..tok..” pintuku berbunyi seperti ada orang ingin masuk, setelah aku cek dari jendela tidak ada siapapun. Aku pun merasa orang-orang sekitar aneh, seperti akan melakukan kejahatan terhadapku.

Tidur membuat perasaanku makin memburuk. Ketakutan sampai sesak, perasaan akan mati besok. Jantungku berdebar kencang seperti sedang dipukul memakai palu, sakit sekali.

Tak hanya sampai di situ saja, bahkan aku merasa diriku seperti sudah melakukan aktivitas tetapi ternyata masih tidur terlelap, ini sering terjadi. Gempa dan bergoyang juga aku rasakan setiap kali aku duduk sendiri di tempat ramai, mual, dan pusing sampai mutah.

Sakit yang aku rasakan bukan hanya menyerang pikiran, fisikku juga. Punggungku terasa seperti terbakar setiap perasaan ketakutan itu muncul, sakit dan panas sekali.

Makin hari visualku diserang, aku melihat visual warna warni dengan bermacam-macam bentuk, terkadang sebelum tidur aku bisa melihat burung di langit-langit kamarku. Bahkan sampai bisa melihat orang-orang terdekatku yang sudah tiada, atau teman waktu kecil yang ternyata itu halusinasiku saja. Terasa dekat bila aku melihat mereka, seperti nyata.

Belum lagi mood-ku yang naik turun, aku senang aku bisa menangis apalagi sedih semakin ruwet dan bingung. Perasaan tiba-tiba ingin menangis sering aku rasakan, padahal aku tidak sedang mengalami apapun.

Percobaan bunuh diri cukup sering terlintas di kepalaku, yang paling parah mungkin sudah menusuk dan melukai tanganku dengan pisau. Pernah juga tidak fokus naik motor lalu ingin menabrakkan diri di jalan. Setiap hari seperti boomerang, selangkah lagi aku akan jatuh ke jurang. Jadi untuk apa aku di sini, aku ingin hilang dari semuanya. Perasaan yang kurasakan itu cukup mengganggu aktivitas setiap hari, sampai apa yang aku rencanakan terasa sangat sulit jika seperti ini.

Fenty & Dara Memasak

Memulihkan diri

Aku senang sekali memasak, ini termasuk menjadi healing-ku setiap hari karena ingin coba resep makanan baru dan aneh. Memasak makanan khas dari kota asalku menjadi favorit, seperti sup manten, kare solo, soto ayam, tahu kupat masih banyak lagi yang sudah aku masak.

Sejujurnya, bertemu teman-teman juga bagian dari pemulihan untuk sharing tentang apa saja yang aku rasakan tetapi kita dipaksa tidak keluar rumah dan berjarak dengan semuanya. Berat sekali memang, tetapi aku menyadari bahwa bukan hanya masalah ekonomi. Masalah psikisku yang makin memburuk juga selalu aku pikirkan.

Bulan pertama sampai ketiga Covid19,  aku sama sekali tidak keluar dari rumah. Banyak  ketakutan yang aku rasakan, sampai di titik merasakan mual saat mencoba keluar dari rumah. Pikiran dan hatiku tidak tenang sama sekali, bisa dibilang stres. Perasaan khawatir dengan keluarga di rumah juga membuatku stres, tetapi aku terus membangun komunikasi untuk sekadar mengingatkan mereka.

Bulan selanjutnya aku lewati dengan berkebun di rumah dengan teman-teman. Menanam sawi, bayam, kangkung, cabai, serai. Hasilnya kita bagi dengan teman-teman yang lain.

Covid19 pun membuatku jauh lebih mengenal diriku sendiri, apalagi mulai banyak memiliki waktu untuk sekadar “me time”. Awalnya cukup berat menyesuaikan, tidak melihat ekspresi orang-orang karena kita harus memakai masker, berjarak terhadap sekeliling kita, dan membiasakan diri untuk mencuci tangan atau memakai hand sanitizer.

Hal-hal itu sudah mulai terbiasa di hidupku sekarang, apalagi media banyak sekali memberi informasi berita tentang Covid. Jujur saja, Covid19 ini teror sekali bagi diriku apalagi aku memiliki permasalahan mental.

Awalnya aku bercerita dengan pasanganku tentang apa yang aku rasakan pasca dirumahkan dari pekerjaan, tetapi waktu itu dia mengabaikan keluh kesahku. Malam itu aku sampaikan perasaan-perasaan aneh ini, karena selama ini aku hanya menyimpannya dalam hati.

Respon dia awalnya menganggapku “ah.. kamu kecapekan saja. Tidur yang cukup nanti hilang.” Kami berdebat karena aku merasa perasaan ini beda sampai tidak bisa menggerakkan kaki hanya untuk ke kamar mandi.  Dia hanya diam dan menganggap “remeh” tapi aku terus mencari cara untuk mengetahui diriku kenapa.

Kolaborasi penggalangan bantuan

Siang itu matahari cukup terik, handphoneku berdering, aku mendapat telepon dari kawan seorang dokter bernama Dokter Rini. Ia mengajakku bergabung dalam kegiatan penggalangan dana untuk pengumpulan Alat Pelindung Diri (APD) bersama kawan-kawan musisi dan dokter lainnya.

Percakapan demi percakapan kami di grup Whatsapp membuatku berkenalan dengan seorang dokter lain bernama Dokter Desy. Di sinilah awal memulai percakapan tentangku lebih dalam. Percakapan kami terus berlanjut hingga dokter Desy menyarankanku menghubungi temannya seorang psikiater di klinik daerah Sanur.

Sore hari aku menghubungi dokter tersebut dan kami banyak bercerita tentang diriku sehari-hari. Akhirnya kami bertemu langsung, Hadhi, pasanganku juga ikut masuk ke ruangan ketika konsultasi. Di sanalah kami menyadari bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Dokter menyarankan rutin minum obat karena kondisiku yang terus down dan mengganggu aktivitas setiap hari.

Seminggu sekali aku datang ke klinik di Sanur itu. Aku hanya bisa membeli obat setengah dari resep yang dianjurkan dokter karena tidak memiliki uang cukup. Satu kali aku bolos konsul sampai kehabisan obat, kesulitan ini membuatku makin sakit dan takut. Biaya konsul dan obat sangat menguras kantongku yang seorang pengangguran.

Biaya pengobatan sangat tinggi. Aku pernah konsultasi dengan seorang dokter yang cukup ternama di Bali sampai menghabiskan biaya yang fantastis, sebesar satu juta rupiah untuk biaya satu kali konsultasi dan obat. Setelah 2 kali berkonsultasi, dokter tersebut mendiagnosisku sebagai pengidap skizofrenia.

Perasaanku seketika hancur, dunia serasa runtuh. Apa yang aku sudah rencanakan selama ini akan hilang begitu saja bahkan teman-teman mungkin akan menjauhiku sebagai orang sakit tidak berguna. Perasaan itu terus berputar di kepala sampai tidak ingin keluar rumah, juga berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Segala informasi aku cari untuk meminta bantuan.

Beruntung sekali ada seorang teman memberiku informasi tentang pengobatan di psikiater memakai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau yang leih dikenal BPJS Kesehatan. Aku langsung mencari tahu di faskes terdekat.

Syukurlah semua benar, aku bisa memakai BPJSku untuk berobat ke psikiater tanpa harus mengeluarkan uang tambahan. Aku rutin konsul ke dokter spesialis kejiwaan (psikiater) seminggu sekali, untung saja jaminan kesehatan BPJS sangat membantuku dalam proses perawatan ini. Karena sebelumnya aku memakai biaya sendiri yang cukup menguras kantongku. Aku mendapat obat dan konsultasi gratis memakai BPJS, sangat bersyukur sekali.

Pertama kali konsultasi dengan dokter perasaanku takut, karena ini akan membantu atau aku akan memburuk. Aku beranikan diri, pertama konsul, aku diminta bercerita apa yang aku rasakan setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Aku juga mengajak pasangan agar dia ikut memahaminya. Hampir dua jam aku bercerita, mulai dari keluarga, lingkungan pertemananku, dan diriku sendiri. Dokter menyarankan untuk meminum obat, karena dengan minum obat bisa membantu mengurangi perasaanku yang kurang baik ini. Awalnya dokter memberiku obat 2 macam dengan dosis berbeda yaitu 50 mg dan 10 mg, aku minum 2 kali sehari.

Sampai sekarang aku masih minum obat ini tapi dengan dosis berkurang yaitu 25mg, 10mg, dan 5mg, ada 3 macam obat aku tenggak setiap hari. Satu hari tanpa obat badanku meriang dan perasaan aneh kembali muncul. Sedangkan setelah minum obat aku dibuat tidur dan istirahat, ya setidaknya aku bisa rehatkan pikiranku.

Hari demi hari aku jalani dengan rutin membaca banyak buku, di antaranya buku tentang kesehatan mental. Aku ingin memiliki banyak gambaran informasi bagaimana kesehatan mental di tempat lain. Aku sering berbagi buku bacaan ke teman-teman yang lain, bertukar buku bacaan untuk menambah informasi baru.

Aku belajar terbuka dengan teman-temanku. Mencoba sharing apa yang aku rasakan dan mungkin orang lain juga mengalaminya. Menurutku ini sehat, saling berbagi, mengerti, menerima, dan membangun kepercayaan. Banyak orang mulai suka bercerita di akun sosial medianya, menurutku ini sangat tidak sehat karena banyak orang belum bisa dan mengerti kondisi seperti ini.

Aku juga melewatinya dengan cara menulis apa yang aku rasakan setiap hari seperti “diary” ku. Menggambar apa yang aku rasakan dan lihat setiap hari, seperti burung, bulatan warna warni, kotak warna warni, garis warna warni, mata, dan masih banyak lagi. Menyenangkan bisa berekspresi tanpa batasan. Pergi hanya sekedar ke pantai bersama anjingku, atau berkekeliling kota Denpasar menjadi hal yang spesial sekarang.

Sebisa mungkin, aku harus mau bergerak supaya tidak sendirian di rumah karena perasaan itu akan lebih sering muncul ketika aku sendirian. Kita harus mulai semuanya dari diri sendiri juga. Melakukan yoga  seminggu sekali, bagian dari aktivitasku untuk membangun kepercayaan diri, mengatur nafas, dan ketenangan diri.

Sebenarnya dari yang aku alami, aku belajar banyak hal yang sangat unik. Berdamai tanpa melawan. Ketika kamu berusaha melawan semuanya, tidak akan pernah ada pemenangnya. Ketika kamu berdamai kamu akan belajar iklas dan sabar bahwa ini adalah bagian dari dirimu yang spesial.

Baik dan buruk yang kamu terima hari ini adalah yang terbaik Tuhan kasih, semesta kasih kepadaku. Aku belum bisa menceritakan banyak karena menulis ini saja aku sudah takut sekali dan berpikir sangat keras.

Menghilangkan rasa kecemasan dari Covid tidak mudah. Step by step, mencoba berdamai, dan beraktivitas lagi seperti biasanya. Bersyukur dan terus bersyukur, tidak lupa membangun hal-hal positif pada diriku sendiri. Untuk selalu berterima kasih telah melewati hari demi hari dengan sangat luar biasa. Aku hebat ya, kalian juga hebat.

Memiliki lingkungan dan orang-orang sekitar yang menerima kondisiku adalah hal yang sangat langka, aku bersyukur sekali. Terkadang aku membayangkan, jika lingkungan dan orang terdekatku tidak menerimaku, mungkin saja aku tidak akan berjuang sehat sampai sekarang.

Sulit sekali untuk menyesuaikan dan mengerti kondisi ini. Menurutku lingkungan terdekat sangat penting untuk membantu proses pemulihan diri. Lingkungan seharunya menjadi bagian dari support system kita juga. Kedekatan membuat kita mudah untuk mengerti satu sama lain, terbuka apa yang kita rasakan dan lakukan, dengan saling mengerti kita juga mudah berkomunikasi untuk saling menjaga satu sama lain untuk hal-hal baik di luar sana.

Dara dan karya kolasenya.

Mendengar kisah Dara

Perkenalkan teman seperjuanganku namanya Dara. Dia perempuan dengan tinggi sekitar 170cm, bertindik di hidung dan memiliki rambut pendek. Dara jago sekali make-up, itu sudah menjadi hobinya setiap hari ditambah dia bekerja sesuai dengan hobinya. Dara bekerja di perusahaan make-up ternama di salah satu mall terbesar di Kuta.

Jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya di Denpasar. Dia menempuh jarak jauh itu setiap hari. Ya dia hebat, sangat hebat dengan caranya sampai sekarang.

Aku bertemu Dara di sebuah acara musik di Denpasar. Waktu itu rambutnya masih panjang dan rambutku pendek. Kami berkenalan, basa basi, minum bersama, dan akhirnya kita saling follow di Instagram. Pertemuan demi pertemuan kami lakukan, sampai akhirnya kami cukup dekat karena lingkungan pertemanan yang sama. Kami berkomunitas, kami menonton musik, bertukar buku bacaan, masak bersama, dan masih banyak lagi.

Bulan September adalah awal bencana bagi Dara. Dia memberanikan untuk berkonsultasi dengan psikiater karena merasa sudah tidak sanggup mengatasi permasalahan dirinya. Permasalahan yang Ia alami mulai dari cemas, tidak bisa mengendalikan pikiran, mudah sensitif, kurang lebihnya seperti itu.

Bukan hanya pikirannya yang diserang, fisik Dara pun, mulai dari pusing seperti dunia ini berputar-putar, sesak di dada seperti orang tenggelam, dan dada terasa berat penuh air, dan badan tidak bisa merasakan sesuatu.

Pandemi membuat hidup Dara terbalik. Awalnya harus fokus kerja, tapi semua hilang dan hancur mendadak. Dara harus memutar balik apa yang dia rencanakan untuk menyusunnya kembali. Penghasilan dan jam kerja dari pekerjaannya dipotong cukup banyak dari biasanya.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman di rumah, tetapi malah sebaliknya. Ibu Dara adalah seorang single parent, beliau harus menjadi dua peran di rumah, sangat sulit pastinya. Apalagi Dara memiliki 4 saudara yang sudah mulai beranjak dewasa.

Sebelum pandemi dara aktif berkomunitas dan belajar tentang feminist. Awal pandemi membuat semua orang di rumah saja, mau tidak mau Dara harus bersama keluarganya. Dara mendapat tuntutan untuk menjadi perempuan “taat” oleh ibunya.

Perasaan buruk itu akan mudah muncul ketika dia bersama keluarganya, hal ini menjadi bom besar yang akan meledak setiap hari. Salah satu pemulihannya adalah bertemu teman-teman sepemikirannya, ia jadi lebih tenang.

Dara berinisiatif mencari informasi di website Alodokter untuk berkonsultasi dengan psikiater secara virtual tentang kendala yang dia alami. Psikiater tersebut memberi saran untuk rutin melakukan journaling, meditasi, dan afirmasi positif. Dara juga melakukan kegiatan atas inisiatifnya sendiri untuk mengalihkan seperti menggambar dan menulis.

Suatu malam, sepulang kerja di Kuta, dia merasa ingin berkonsultasi langsung dengan psikiaternya. Dara datang bersama pasangannya ke sebuah klinik di Kota Denpasar. Dara bertemu dengan psikiaternya bernama Dokter Rai. Pertama kali Dokter Rai menanyakan apa yang dirasakan Dara belakangan ini, masalah apa yang sedang kamu alami, bagaimana cara Dara mengatasi. Dara menjawab dengan meluap-luap sampai dia menangis sesak karena merasa berat. Dara mengaku “plong” setelah berkonsultasi dengan psikiater tersebut.

Dokter rai menyarankan Dara rutin minum obat dan rutin berkonsultasi. Dara mengikuti saran tersebut, dia minum 2 macam obat dengan diagnosis ganggungan bipolar. Kebingungan akan dirinya “gila” dan segala pertanyaan rumit di pikirannya terjawab sudah. Ia sedang tidak baik-baik saja.

Sama dengan yang aku alami, Dara juga kesulitan biaya konsul dan harga obat yang menguras kantong. Apalagi gajinya dipotong di saat pandemi. Kedekatan membuat kami sering bertukar cerita.

Ponselku berdering mendapatkan pesan dari Dara malam hari, dia berkeluh kesah kesulitan biaya untuk terus menebus obat dan berkonsultasi ke dokter. Aku membagikan pengalamanku tentang pengobatan di psikiater memakai BPJS Kesehatan.

Kini, Dara lebih bisa mengendalikan dirinya usai berkonsultasi dan mengkonsumsi obat dari dokter. Harinya jadi lebih cerah bahkan mungkin dia merasa sedikit bahagia. Perasaan aneh tidak hilang begitu saja, terkadang fase itu muncul kembali. Biasanya Ia menghubungi orang terdekatnya, ini tips mengalihkan perasaan aneh yang muncul kembali. Mengatur playlist music juga menjadi favoritnya, mendengarkan lagu dengan genre jazz.

Seperti menemukan jarum dalam jerami, Dara bersyukur bertemu lingkungan terdekat yang mendukung dirinya dari segi apapun sampai sekarang. Lingkungan terdekatnya mampu membuat dara beradaptasi saat pandemi ini. Membantu dara bangkit lagi, meyakinkan dara tidak sendiri lagi, dan masalah apapun bisa dihadapi. Dara memberanikan diri lebih terbuka dengan lingkungan terdekatnya, dengan begitu dia merasa memiliki kepercayaan lebih.

Cerita tentang dokterku

Seorang dokter perempuan berkacamata bernama Anak Agung Dwiratih Arningsih Sp.KJ ini panggilannya Dokter Ratih. Aku tidak tahu pasti bagaimana wajahnya karena selama pandemi, tenaga kesehatan harus memakai APD. Dokter ratih sudah bekerja sebagai psikiater selama 5 tahun.

Pandemi mengubah segalanya, pasien yang datang ke psikiater meningkat. Dokter Ratih menyampaikan keluhan awal pasien skizofrenia yaitu kesulitan tidur, gelisah, biasanya keluhan ini berasal dari keluarga. Beberapa pasien selain skizofrenia memiliki keluhan yang sama mulai dari sulit tidur, mulai mudah gelisah, mudah marah atau emosional. Penyebab paling banyak berasal dari keluarga.

Masalah yang sering dikeluhkan pasien mulai dari kesulitan akses obat. Pandemi mengubah hal yang mudah menjadi sulit dan rumit sehingga keluarga pasien atau bahkan pasien sendiri banyak yang mengeluhkan hal ini.

Sistem berobat di rumah sakit saat pandemi yang berubah, keluhan ini banyak disampaikan oleh keluarga dan pasien sendiri. Keluarga takut datang langsung ke rumah sakit. Berita pun berubah-berubah sehingga membuat masyarakat memiliki kekhawatiran berlebih.

Dokter ratih juga bertekad sebisa mungkin memberikan pelayanan yang memudahkan keluarga yang memiliki Orang Dalam Ganggungan Jiwa (ODGJ) di rumah. Konsultasi secara online ke pihak keluarga supaya dapat mengatasi hal-hal kecil di rumah.

Koordinasi dari berbagai pihak sangat penting untuk mewujudkan hal-hal ini. Pelayanan cukup memudahkan pasien, untuk obat sudah bisa dipesan secara online. Namun, pasien harus berkonsultasi terlebih dahulu ke psikiater. Cara ini sudah banyak di lakukan dokter spesialis untuk memudahkan pasien di era pandemic ini.

Pandemic membuat banyak tanda tanya besar,  ketidaktahuan dan ketidakjelasan. Keluarga yang memiliki ODGJ di rumah, sebaiknya lebih banyak melakukan kegiatan Bersama-sama. Keluarga juga harus melibatkan mereka, sehingga mereka lebih nyaman berkumpul dengan keluarga di rumah. Dokter ratih menyampaikan bahwa peran keluarga sangat pembantu penyembuhan, dengan tidak melihat sebelah mata dan melihat mereka dari sudut pandang yang berbeda.

“ODGJ sebenarnya hanya ingin merasa dihargai, dilihat dalam keluarganya. Menghindari berita-berita yang kurang dipahami, supaya tidak memunculkan kecemasan,” ingat Dokter Ratih. Banyak melakukan kegiatan di rumah dan melibatkan ODGJ langsung adalah sebuah penyembuhan dan terapi yang baik. Kegiatan kecil yang bisa dilakukan bersama seperti mencuci bajunya, mendekor, dan menghias kamarnya, memasak, membuat taman atau memelihara sesuatu yang baru. Setidaknya ODGJ dapat menghabiskan banyak waktu dengan berkegiatan di rumah.

Dokter Ratih menambahkan bahwa pandemi menjadi sebuah momen untuk keluarga lebih bisa memahami. Sebelum pandemi, banyak keluarga yang sibuk bekerja, kini sibuk di rumah. Keluarga juga bisa lebih banyak bisa komunikasi dengan keluarga yang sedang pengobatan untuk mencari tahu bagaimana meredakan dan mengatasi kecemasannya mereka.

Bergerak untuk Cegah
Putus Obat dan Bunuh Diri

Kisah Ketut Angga Wijaya

Pria yang suka menulis novel itu tampak berbaring santai. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok yang sedang menyala. Itu adalah rokok kesekian kalinya sore itu.

Ia menghadiri acara diskusi tentang puisi dan terapi, dihubungkan dengan skizofrenia, penyakit mental yang belakangan banyak menghinggapi anak muda. Diskusi berlangsung di Denpasar, Bali, pertengahan Mei 2021.

Namanya Saka, ia tak mau dipanggil dengan nama lengkap. Saka sebenarnya keturunan Brahmana, pembagian sosial berdasarkankan profesi, memiliki tugas memberi pencerahan pada masyarakat. Saya menyapanya, dan ia menjawab dengan suara pelan. Seminggu sebelum kami bertemu, ia berobat di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas pemberdayaan ODGJ, tempat kami bertemu kali pertama.

Waktu itu, ia datang dengan tampilan wah, berkaca mata hitam, mengendari sepeda motor sport namun dengan pakaian tak lazim bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Saya menyangka ia seniman. Gaya bicaranya lugas, seperti ciri khas masyarakat pesisir di utara Bali. Benar saja, saat mengobrol, ia mengaku berasal dari Buleleng, kabupaten yang pada masa penjajahan Belanda merupakan ibu kota Sunda Kecil yang mewilayahi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Saka banyak menyebut soal telepati, ia mengaku memilki kekuatan supranatural tersebut. Ia bicara tentang hal tersebut dengan sangat percaya diri. Bagi saya yang memang sejak dulu menyukai spiritualitas dan meditasi, apa yang ia bicarakan bukan merupakan hal asing. Terlebih, di masa lalu saya pernah tertarik mempelajari bidang itu.

Melihat dan mengenal Saka, saya seperti berhadapan dengan cermin. Dulu, saya pernah kuliah, banyak membaca buku, dan suka berdiskusi. Debat menjadi sesuatu yang tak terhindarkan saat saya bertemu dengan narasumber sebuah diskusi, dalam seminar atau di luar ruang kuliah saat kawan-kawan sejalan, anak-anak muda yang gelisah, belum merasa puas atas pelajaran atau ilmu yang didapat dari kampus.

Saka adalah anggota Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali, yang sejak 2015 aktif mengedukasi warga Kota Denpasar dan Bali pada umumnya tentang kesehatan mental, terlebih bagi mereka yang diagnosis mengidap penyakit mental, utamanya skizofrenia, yang menurut riset resmi banyak menghinggapi anak remaja dan dewasa, dari usia 15 hingga 25 tahun.

 

Komunitas inilah yang banyak membantu Saka, terutama soal obat medis. Bagi ODS dan ODGJ yang secara ekonomi belum mandiri, layanan kesehatan yang diberikan KPSI simpul Bali tentu sangat berarti. Terlebih, pada masa itu, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum mapan seperti saat sekarang, masih ada kekurangan di sana-sini.

Atas inisiatif dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater asal Kuta Utara, Badung, dari informasi yang didapat olehnya di media sosial, hatinya tergerak untuk membuat komunitas kesehatan mental di Bali. Di bawah naungan KPSI Pusat Jakarta yang diketuai oleh Bagus Utomo, alumnus perguruan negeri terkenal di Jakarta yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun jejaring kesehatan mental di Indonesia.

Ketertarikan Bagus Utomo berawal dari kisah pribadi di mana ia memiliki seorang kakak laki-laki yang mengidap skizofrenia. Dengan segala suka-duka yang dialami, pada masa pengetahuan dan isu kesehatan mental belum banyak diketahui seperti pada masa sekarang. Gayung pun bersambut, keinginan untuk membentuk KPSI simpul Bali mendapat restu dan izin dari KPSI Pusat.

Pada waktu itu, saya secara tak sengaja mengetahui tentang adanya “kopi darat” atau pertemuan perdana KPSI simpul Bali dari media sosial. Kala itu saya bekerja sebagai resepsionis sebuah penginapan di Tanjung Benoa, wilayah turisme yang terketak di Kelurahan Benoa. Kuta Selatan.

Dari sebuah laptop keluaran lama yang terkoneksi dengan internet, saya membaca kabar itu dengan hati yang senang sekali. Memang, pada waktu itu saya telah mengetahui tentang skizofrenia dari dokter jiwa yang merawat saya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli, nama lama yang kini diganti dengan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, hanya saja masih samar-samar dan tidak terlalu terang.

Kabar akan dibentuknya KPSI simpul Bali mengandung banyak harapan pada diri saya, tentang diri yang tak sendiri mengalami penyakit mental berat ini. Ada secercah cahaya dan masa depan yang tidak lagi suram, dan banyak lagi impian dan imajinasi yang menyertai saya.

Saat itu, setiap dua minggu sekali saya berangkat dengan sepeda motor melewati jalan tol Bali Mandara ke Kota Denpasar. Bertemu tujuh hingga delapan kawan-kawan senasib dan sepenanggungan, “saudara” yang kebetulan dalam nasib dan kondisi dalam hidup yang kurang beruntung dan sedang sakit dalam jaringan KPSI Bali.

Diary Dara

Seiring berjalannya waktu, keberadaan KPSI simpul Bali makin terdengar luas di masyarakat, hingga ke telinga Wali Kota Denpasar. Pada masa itu diemban oleh IB Rai Dharmawijaya Mantra lebih dikenal dengan nama Rai Mantra.

Melalui audiensi, kami menyampaikan apa yang menjadi hambatan kami kala itu yakni sekretariat, kantor, sekaligus tempat untuk berkumpul dan berkegiatan. Oleh Bapak Rai Mantra, melalui tahapan proses, akhirnya kami diberikan gedung pemerintahan yang tak terpakai waktu itu, di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Kami sangat gembira menyambutnya. KPSI simpul Bali kemudian menjadi induk organisasi dari Rumah Berdaya Denpasar, organisasi yang kini dinaungi Pemerintah Kota Denpasar, didukung oleh dua dinas pemerintah yakni, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Denpasar. Kegiatan kami bertambah banyak, seiring makin bertambahnya anggota, kami menyebutnya “warga”, yang membuat suasana sekretariat setiap hari semarak, penuh canda tawa, keriangan, dan kebahagiaan.

Tak hanya berkegiatan harian seperti berkebun, membuat dupa/hio, kami juga dilatih untuk berkegiatan dalam bidang seni. Diberikan oleh Ketemu Project, sebuah lembaga seni pimpinan Budi Agung Kuswara, seniman Bali mulitalenta yang juga merupakan salah satu pendiri awal Rumah Berdaya Denpasar. Dialah yang menyemangati kami untuk berkarya; menggambar, melukis, dan membuat kerajinan tangan. Sebagian kerajinan menjadi barang dagangan yang dijual kepada para pengunjung atau saat kami diundang mengikuti berbagai pameran dan eksibisi seni di Denpasar.

Di sanalah saya bertemu dengan Saka, seperti yang saya ceritakan pada awal cerita ini. Bagi KPSI simpul Bali dan Rumah Berdaya Denpasar, kawan-kawan ODS dan ODGJ adalah warga komunitas, tak ada diskriminasi, atau bahkan stigma, sesuatu yang sejak dulu kami lawan.

Para pengurus komunitas, psikiater, psikolog, perawat bahkan hewan peliharaan kami di tempat itu sangat menyatu. Seperti sebuah keajaiban, ada perekat di antara kami semua, perasaan satu saudara, persatuan yang bertahan hingga kini. Saat Rumah Berdaya Denpasar tidak lagi berlokasi di Jalan Hayam Wuruk, dan bergeser ke tempat baru di Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan, Bali.

Putus obat di tengah pandemi

Bagi ODS, putus obat adalah sesuatu yang menakutkan, karena dapat menimbulkan relapse atau kekambuhan. Itu juga yang dialami oleh Saka beberapa waktu lalu. Ia yang biasanya sebulan sekali mendapat suntikan obat anti-psikotik di Rumah Berdaya Denpasar tiba-tiba tak mau berobat.

Alhasil, hal tersebut berdampak pada kesehatan mentalnya. Ia mulai mengalami delusi pendengaran dan pengelihatan. Merasa diawasi oleh NASA, Badan Antariksa Amerika Serikat, serta menghubungkan apa yang ia baca dan lihat di media sosial dengan apa yang ia alami. Syukurlah, atas kemauan sendiri dan karena desakan istri dan keluarganya ia mau kembali berobat dan keadaannya kini makin membaik.

Saya pun demikian. Pada 2011 saya mengalami putus obat dan dirawat kembali di RSJ Bangli selama dua minggu, sama seperti saat skizofrenia menyerang pertama kali pada 2009. Setelah itu saya tak berani lagi untuk absen meminum obat, karena akan menyusahkan tak hanya diri sendiri tapi juga keluarga, pasangan, dan lingkungan sekitar.

Dulu, sebelum mengenal KPSI saya berobat di layanan kesehatan yang disediakan oleh RSJ Provinsi Bali (dulu bernama RSJ Bangli) di mana sebulan sekali petugas kesehatan datang ke seluruh kecamatan se-Bali setiap sebulan sekali dengan sistem ‘jemput bola’ mendata ODGJ dan memastikan ketersediaan obat untuk mereka. Program tersebut kini tidak ada lagi, padahal hal itu bagus sekali. Dibandingkan jika ODGJ berobat langsung ke RSJ yang kadang terkendala jarak, waktu dan keadaan ekonomi yang tak sama bagi tiap ODGJ dan keluarga atau caregiver mereka.

Pada masa Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh bagian wilayah di dunia, kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar masih berjalan, hanya saja memakai sistem buka-tutup. Para pegawai berasal dari Dinas Sosial Kota Denpasar dan lima pegawai dari ODS yang oleh pemerintah kota diangkat dan diperbantukan di Rumah Berdaya Denpasar.

Pekerjaan mereka sedikit terhalang karena kondisi dan keadaan. Beberapa kali kota di-lockdown yang berakibat antar jemput bagi warga Rumah Berdaya tidak lagi bisa dilakukan rutin, seperti masa di awal sebelum Pandemi.

Hal ini berimbas pada layanan pemberian obat bagi ODS dan ODGJ. Menurut I Nyoman Sudiasa, Koodinator Rumah Berdaya Denpasar, kondisi tersebut memang menjadi dilema.

“Supaya kawan-kawan tidak mengalami putus obat, kami mengintensifkan komunikasi dengan para keluarga yang menjadi pengampu. Mereka rutin mengambil obat bagi anggota keluarganya ke sini (Rumah Berdaya Denpasar),” ujar Sudiasa.

Pandemi, tak hanya membuat layanan kesehatan terhadap ODGJ dan ODS terhambat. Lebih luas dari itu, banyak warga kota yang ditengarai mengidap gangguan mental, baik dalam skala kecil maupun besar. Kecemasan, ketidakpastian akan masa depan dalam kaitannya kapan pandemi berakhir, adalah beberapa hal yang menganggu pikiran banyak orang. Tak hanya di Bali dan Indonesia tapi juga banyak negara lain di Asia dan di benua-benua lain di dunia.

Pendapat ini diperkuat oleh dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ. Saat diwawancara dua pekan lalu, ia mengatakan, pandemi Covid-19 tak hanya memporak-padakan segi ekonomi keluaga tapi juga kesehatan mental.

“Hal ini dialami hampir segala segmen atau usia, mulai dari anak-anak hingga manusia lanjut usia atau lansia. Anak yang sebelumnya bersekolah, bergaul, sejak pandemi berdiam di rumah dan belajar secara daring, diajar oleh orang tua yang bukan guru. Ini yang membuat mereka stres,” kata Dokter Rai.

Lain halnya dengan kaum lansia, lanjut Rai, mereka kesulitan juga di masa pandemi. Perhatian anggota keluarga terhadap mereka menjadi berkurang, karena anak dan cucu serta kerabat lain berfokus pada pengajaran dan bagaimana mempertahankan hidup dalam hal ini ekonomi keluarga.

“Para ibu dan perempuan bisa dibilang mengalami dampak terbesar, karena mereka mesti bersiasat, membantu kepala keluarga mencari tambahan penghasilan. Belum lagi jika ayah atau suami mereka mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Makin besar beban mereka,” jelas pskiater utama Sudirman Medical Centre (SMC), sebuah klinik swasta di Denpasar ini.

Pasien WNA

Menurut Rai, hal ini bertambah parah saat kebutuhan kesehatan mental di masa pandemi meningkat. Ironisnya, layanan kesehatan mental baik di rumah sakit maupun di Puskesmas banyak yang tutup akibat kebijakan antisipasi penularan wabah yang dibuat oleh pemerintah.

“Para ODS dan ODGJ yang selama ini menjalani terapi menjadi putus pengobatan, sehingga banyak dari mereka yang mengalami relapse atau kekambuhan,” kata Rai.

Data di kota Denpasar perihal jumlah ODGJ yang relapse, bisa dilihat pada tim Kesehatan Jiwa (Keswa) yang bertugas mengevakuasi kawan-kawan ODGJ dan ODS yang mengalami relapse atau kambuh berat. Keswan membawa pasien rawat inap ke RSJ pada tahun 2020 berjumlah 54 orang.

Menurut Rai, pada 2021, hingga Mei, KPSI Simpul Bali mengadakan survei yang dibantu oleh para mahasiswa keperawatan dari STIKES Bina Usada yang sedang KKN di Rumah Berdaya Denpasar. Ada sejumlah ODGJ yang didalamnya termasuk ODS, sejak pandemi berlangsung mengalami putus obat. “Relapse ringan namun tetap bisa mencari pertolongan medis dan melanjutkan pengobatan,” ungkap Rai.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Denpasar, ada sekitar 540 ODS di Kota Denpasar dan yang relapse berat saat pandemi berlangsung 54 orang berarti 10% angka ODS yang mengalami re-hospitalisasi, dirawat kembali di RSJ Provinsi Bali.

“Itu data yang kita ketahui, dari keluarga yang kesulitan membawa anggota keluarganya yang mengalami gangguan mental ke RSJ. Belum termasuk angka yang tak terihat atau terdata,” kata Rai.

Ia minta mengkonfirmasi ke RSJ Bali, karena ada informasi angka kunjungan pasien ke RSJ menurun karena cukup banyak pasien gangguan mental telah ditangani oleh rumah sakit pemerintah dan swasta di kabupaten/kota di Bali. Saat pandemi, jumlah pasien RSJ Provinsi Bali meningkat, bisa jadi karena jumlah ODGJ dan ODS yang mengalami relapse meningkat.

Di sisi lain, layanan rumah sakit umum selama pandemi menurun, misalnya rumah sakit pemerintah seperti RSUP Sanglah selama pandemi tidak melayani rawat inap karena dipergunakan sebagai rumah sakit perawatan pasien Covid-19. Maka itu, menurut Rai, WHO mengatakan 93% layanan kesehatan jiwa di seluruh dunia selama pandemi menurun ada benarnya.

Karena rumah sakit umum dan pemerintah banyak yang tutup, jadi pilihan bagi masyarakat yang mempunyai anggota yang mengalami gangguan mental untuk berobat dan rawat inap adalah RSJ. Itu pun nantinya akan menjalani proses screening dan lainnya sesuai aturan terkait pandemi Covid-19

“Kita bicara yang sakit sebelum pandemi, belum pasien baru selama pandemi terjadi, sangat ruwet tentunya, dalam hal pengobatan, mencari ruang rawat inap di masa Covid-19 menghantui,” pungkasnya.

Jika sebelum pandemi bisa dirawat di rumah selain pengobatan di tingkat paling bawah yakni Puskesmas, kini saat pandemi sangat sulit. Karena mesti mengingatkan ODGJ dan ODS wajib memakai masker, menjaga jarak bahkan membatasi bepergian ke luar rumah, dan lain-lain. 

Jangankan warga lokal, kata Rai, di Bali, selama pandemi berlangsung, warga ekspatriat atau wisatawan yang menetap di Bali juga banyak yang mengalami gangguan mental, dari gangguan cemas hingga depresi.

“Saya secara pribadi bersama Yayasan Bali Bersama Bisa, melalui L.I.S.A Help Line, dalam dua bulan terakhir merawat 4 warga asing mengalami percobaan bunuh diri. Rata-rata setelah dua minggu menjalani pemulihan kondisi mereka kini lebih baik,” jelasnya.

Dikatakan Rai, pada masa pandemi yang hampir 1,5 tahun berlangsung, banyak warga ekspatriat kesulitan untuk kembali ke negara asalnya, Sementara, jika ingin tetap tinggal di Bali mesti bekerja untuk bertahan hidup. Bahkan, di media massa dan media osial ramai dibicarakan tentang turis yang mengemis atau mencari makan di tempat sampah.

“Hal itu membuat kita semua prihatin, karena bisa menimbulkan keinginan untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri yang memang sejak dulu di Bali menjadi masalah laten yang jarang dibicarakan secara terbuka,” sebut Rai.

Solusi lahir di tengah pandemi

Untuk itu, ia bersama para pegiat kesehatan mental di Bali menggagas dan membuat Love Inside Suicide Awareness (LISA) Help Line, sebuah layanan 24 jam berbasis komunikasi daring dan luring yang bisa diakses sejak 6 April 2021 oleh semua kalangan. Tanpa memandang jenis kelamin, agama, kewarganegaraan, orientasi seksual, maupun pandangan politik, secara gotong royong, menyeluruh dan bersifat insklusif.

Lucky Marmer pegiat Yayasan Bali Bersama Bisa menyampaikan, sejak dibukanya layanan darurat dan konseling L.I.S.A Helpline pada 6 April 2021 hingga 16 Juni 2021, terdapat 100 service users atau pengguna yang telah menghubungi layanan kesehatan mental ini, baik melalui WhatsApp (WA) Chat, WA Call, maupun telepon biasa. Terhitung 15 orang yang melakukan konseling dengan profesional maupun support buddy L.I.S.A, baik secara tatap muka mau pun secara online.

“Domisili mereka 33% dari Bali, sisanya dari luar Bali seperti DKI Jakarta, Manado, Yogyakarta, dan wilayah Jawa Tengah lainnya, Aceh, Surabaya dan daerah Jawa Timur lainnya serta Bandung. Dilihat dari segi usia, rata-rata 14 hingga 47 tahun, dominan usia 20-an,” ujar psikolog klinik swasta terkenal di Denpasar ini.

Ia menambahkan, warga masyarakat yang menghubungi L.I.S.A sebagaian besar memiliki pemikiran bunuh diri atau mengakhiri hidup, sebanyak 47 % dari total keseluruhan service users.

“Kasus umum yang mereka hadapi misalnya masalah dengan pasangan atau putus pacar, kesulitan finansial seperti memiliki utang, bullying atau perundunganm dan riwayat gangguan mental seperti depresi, bipolar disorder, gangguan kecemasan. Termasuk masalah KDRT dalam keluarga,” katanya.

Lucky menncontohkan satu kasus yang dialami Tia, bukan nama sebenarnya, seorang ibu berusia 30-an menghubungi L.I.S.A pada pukul 01.00 dini hari. Selama 10 menit ibu tersebut menangis dan mengatakan “Saya capek, saya capek” beberapa kali kepada support buddy yang bertugas.

Dalam kondisi demikian support buddy menuntun Tia untuk lebih rileks dan meneruskan jika ingin menangis, serta memberitahu bahwa support buddy bersedia mendengarkan jika ia sudah siap untuk bercerita.

Berselang beberapa menit, Tia terdengar lebih tenang dan dapat bercerita. Rasa lelah yang dimilikinya timbul karena adanya konflik dengan suami dan sikap suami yang overprotektif terhadap dirinya. Beberapa tahun yang lalu, Tia pernah melakukan upaya bunuh diri karena merasa sudah tidak mampu menahan beban emosionalnya, tetapi suaminya melihat dan memintanya untuk tidak melakukannya.

Pada saat menelepon ke layanan L.I.S.A, ia mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan selendang untuk mengakhiri hidup. Tetapi, pikiran tersebut terhenti ketika ia selalu mengingat anaknya.

Akhirnya ibu tersebut memilih untuk menelepon ke layanan L.I.SA. Setelah satu jam Tia bercerita kepada support buddy tentang apa yang ia rasakan dan alami, ia mengaku merasa lebih tenang karena ada yang mendengarkannya.

Tia menyampaikan, dia akan berusaha melakukan komunikasi kepada suaminya, juga membuat daftar hal-hal yang coba akan ia lakukan agar rumah tangganya bisa lebih baik lagi. Support buddy juga memintanya untuk menyimpan nomor L.I.S.A Helpline untuk dapat kapan pun menghubungi kembali.

Apa yang dikerjakan oleh Tia, Dokter Rai, dkk merupakan daya lenting. Bagaimana komunitas mampu membantu pemerintah, bergerak secara mandiri mengatasi persoalan. Tak hanya dialami oleh diri sendiri sebagai pegiat kesehatan mental yang notabene terdampak pandemi, namun juga berusaha membantu anggota keluarga bahkan warga lain yang juga memiliki beban yang sama.

Program ini kolaborasi dari 11 LSM dan komunitas yakni Rumah BISAbilitas (beragam jenis disabilitas), Komunitas Seni Tuna Netra Teratai (Kostra), Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia simpul Bali, Komunitas Bipolar Bali, Movement of Recovery (yayasan gerakan pemulihan korban narkoba di Bali), yayasan Paramacitha (penanggulanan HIV/AIDS), Yayasan GAYa Dewata (LGBT), Love and Strong Women (komunitas wanita penyintas kanker), Gender, Sexuality and Human Right (GSHR) Udayana, Youthable (komunitas remaja), dan Komunitas Teman Baik (kesehatan jiwa).

Secara teknis, warga yang mengalami masalah dapat menelepon atau mengirim pesan ke nomor 08113855472 (Bahasa Indonesia) dan 08113815472 (English).

“Dilayani oleh pekerja sosial yang telah memperoleh pelatihan baik dalam bidang kesehatan mental atau ilmu yang lain. Jika dirasa perlu mendapat pertolongan dari professional kesehatan jiwa seperti psikolog atau psikiater,” pungkas Rai.

“Dilayani oleh pekerja sosial yang telah memperoleh pelatihan baik dalam bidang kesehatan mental atau ilmu yang lain. Jika dirasa perlu mendapat pertolongan dari professional kesehatan jiwa seperti psikolog atau psikiater,” pungkas Rai.

Ada hasil penelitian I Wayan Darsana dan Ni Luh Putu Suariyani berjudul Trend Karakteristik Demografi Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali (2013-2018) yang dimuat pada Archive Community Health Juni 2020, yang diterbitkan oleh Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang mencakup topik yang luas terkait isu kesehatan masyarakat.

Data Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007, 2013, dan 2018 menunjukan gangguan jiwa dengan diagnosa skizofrenia di Indonesia memiliki prevalensi fluktuatif. Misalnya 2007 prevalensinya sebesar 4.1 per mil, pada 2013 turun menjadi 1.7 per mil, dan 2018 berlipat menjadi 7 per mil.

Provinsi Bali salah satu wilayah dengan prevalensi ganguan jiwa tinggi menunjukan pada 2018 menunjukkan 11 per mil, lebih tinggi dari prevalensi nasional sebesar 4 per mil.
Data RS Jiwa di Bangli pada 2013-2018, menunjukkan total kasus yang dilayani sebesar 4737, rinciannya skizofrenia 3032, dan lainnya 1705 kasus.

Isu kesehatan mental yang mulai ramai dibicarakan di Indonesia dan negara lain di masa pandemi mengisyaratkan bahwa perlunya layanan kesehatan mental yang lebih terintegrasi. Tak hanya oleh komunitas tapi juga negara, dalam hal ini pemerintah sebagai para pemangku kebijakan, baik di pusat maupun daerah. Agar akses makin mudah, dan penanganan lebih cepat.

Laporan mendalam ini merupakan karya penerima beasiswa
Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) BaleBengong 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *