
Di tengah hiruk pikuk Kota Denpasar yang semakin padat dan bising, di pinggiran kotanya, terdapat sebuah ruang alternatif bagi komunitas pecinta seni untuk berkreativitas. Oase itu bernama Antida Sound Garden yang berlokasi di Jalan Waribang No.32, Desa Adat Kesiman.
Secara fisik, ruang ini berdiri sejak tahun 2004 di Bali sebagai studio rekaman. Mulanya bernama Serambi Art Antida. Namun, kini telah berganti nama menjadi Antida Sound Garden dengan tetap mengusung visi yang sama, yakni untuk mewadahi para seniman, salah satunya, para musisi yang ingin berkarya. Selain itu kini meluaskan ruangnya untuk komunitas menghelat event. “Silakan ke Antida bagi komunitas yang membutuhkan ruang,” kata Tutu saat menyampaikan sambutannya di pembukaan malam Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2026.
Jika ditarik ke belakang, Antida sebenarnya telah tumbuh jauh sejak penggagasnya, Anak Agung Anom Darsana, masih menetap di Swiss. Pria yang berasal dari Kesiman, Denpasar, ini memulai perjalanan profesionalnya di dunia audio sejak menempuh pendidikan sound engineering di Swiss dan di sanalah Antida terbentuk. Nama Antida sendiri merupakan gabungan nama dari Anom Darsana dan istrinya, Tiziana Darsana.
Berawal dari keresahan melihat fenomena banyaknya musisi di Bali yang berbakat, namun hanya membawakan karya milik orang lain, Antida hadir untuk menyediakan ruang dan memfasilitasi musisi agar mencipatakan karyanya sendiri. “Karena saya lihat banyak musisi di Bali ini mereka cenderung untuk bermain musik untuk hidup mereka ya seperti ngamen, tapi musiknya itu adalah musiknya cover version, musik-musik yang musik orang lain. Nah, padahal mereka itu jago-jago sekali, banyak sekali musisi-musisi jago yang bisa bermain (musik),” jelas Anom Darsana.

Terbaru, sejak tahun 2025, Antida menjalankan program yang disebut The Pianist. Program ini digagas bersama Dodot Soemantri Atmodjo, yang merupakan seorang pianis. Program ini kemudian dijalankan untuk mewadahi serta memberikan dorongan bagi para musisi khususnya pianis-pianis yang ingin merintis karyanya.
Program tersebut direncanakan hadir setiap dua bulan sekali, dan nantinya karya-karya yang ditampilkan akan direkam dan didistribusikan secara daring. Anom Darsana menegaskan dengan adanya program ini, para musisi tersebut memiliki kebanggaan atas karyanya sendiri terlebih memang juga dinikmati oleh orang-orang yang juga samanya mencintai dunia musik.
Itu mengapa tepat rasanya menyebut bahwa di Antida Sound Garden, karya musik adalah ruang yang tidak boleh berjarak dari realitas penikmatnya. Di ruang ini juga, musik tidak hanya dilihat sebagai hiburan, melainkan instrumen untuk berekspresi sekaligus menyuarakan kritik dan realitas sosial. Oleh karenanya, Antida sejak awal konsisten memosisikan diri dalam barisan untuk mendukung gerakan yang berkaitan dengan persoalan lingkungan. Komitmen tersebut nampak dari keikutsertaan Antida dalam menggagas Sanga Bhuana Art Event Bali Tolak Reklamasi di tahun 2015, sebuah festival yang bertujuan untuk menyuarakan penyelamatan alam Bali.
“Harus kita melawan hal-hal yang membuat anak muda itu marah dengan situasi kondisi, dan saya adalah orang yang ingin memfasilitasi itu, membantu mensupport mereka. Karena dengan adanya ketidakadilan itulah kita ingin bersama memperjuangkan itu,” tegas Anom Darsana. Spirit gerakan sosial dan ekologis yang yang menjiwai Antida Sound Garden tersebut turut menjadi ruang tumbuh organik bagi grup musik indie di Bali seperti Nosstress, Dialog Dini Hari, dan lainnya.
Keberpihakan Antida terhadap perkembangan musik di Bali juga diterjemahkan lewat berbagai perhelatan yang diselenggarakan baik di internal Antida Sound Garden maupun di luar panggung Antida. Beberapa di antaranya adalah Ubud Village Jazz Festival, Bali Reggae Star Festival, dan Festival Tepi Sawah.

Sebagai ruang untuk komunitas berkreativitas, tantangan terbesar Antida datang dari turunnya minat komunitas muda untuk berkarya. “Sekarang ini gimana caranya menarik anak-anak muda supaya bisa berkarya dan kita mempunyai ruang. Mempunyai ruang belum tentu sekarang ada orang yang berkarya. Kalau dulu mencari ruang susah, yang berkarya banyak sekali,” jelas Anom.
Melalui Antida, Anom Darsana berharap akan lebih banyak anak muda yang ingin berkreativitas dan berkarya melalui seni. “Buat saya sih tetap berkreativitaslah, berkaryalah sebanyak mungkin. Tidak apa itu tidak bagus. Bagus tidak bagus itu relatif sih sebenarnya. Harapan saya seperti itu,” pungkasnya.






