Sebagai warga kota Denpasar yang kerap lalu-lalang melewati Jalan Diponegoro, saya baru saja mengetahui bahwa dahulunya terdapat sebuah penjara di kawasan pertokoan depan Ramayana Diponegoro. Melalui kegiatan Ngiter Tipis-Tipis bertajuk Di Balik Surga di Bali: Luka, Lupa, dan Laba di Balik Surga Bali yang saya ikuti (24/05), saya diajak membuka mata akan tempat-tempat yang diubah dan memori yang terkubur di dalamnya. Saya diajak melihat betapa kejadian kelam pembantaian tahun 1965 merupakan bahan bakar pariwisata Bali yang eksis hingga sekarang.
Kami—rombongan berjumlah sekitar 23 orang—mengawali perjalanan dari Monumen Bajra Sandhi di Lapangan Renon. Kami berkenalan satu sama lain. Tour guide kami, Carlos dan Amirah, menjelaskan tentang monumen ini. Sayangnya, sependek yang tertinggal di ingatan saya hanyalah tentang kawasan Lapangan Renon ini pada tahun 1965 merupakan hamparan sawah yang luas.
Penjara Pekambingan yang tak Tersisa
Perjalanan berlanjut menggunakan Trans Metro Dewata menuju Jalan Diponegoro, tepatnya di dekat sisa reruntuhan bangunan Tragia. Bangunan Tragia yang telah runtuh ternyata menyimpan memori kelam tentang pembantaian tahun 1965. Dari penjelasan Carlos dan Amirah, dahulunya tempat ini merupakan penjara Pekambingan yang telah direlokasi ke Kerobokan saat ini. Pada tahun 1965, penjara ini menjadi ruang aman bagi orang-orang yang tergabung atau dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasalnya, di penjara, walaupun orang-orang akan mengalami penyiksaan tetapi hal ini dianggap lebih baik agar tidak dijagal di luar sana.

Foto Perempuan Gerwani di Penjara Pekambingan
Sumber:Dokumentasi dari Arsip Pribadi Amirah
Kami diperlihatkan foto perempuan-perempuan Gerwani di dalam penjara Pekambingan. Salah satu perempuan di foto itu adalah Ni Ketut Kariasih, ketua 2 Gerwani Bali. Di penjara itulah terjadi pemerkosaan massal perempuan-perempuan yang dituduh bagian dari Gerwani. Setiap tengah malam, mereka ditelanjangi hanya untuk mencari sebuah gambar palu arit di pahanya. Rambut mereka sengaja ditambatkan pada sandaran kursi untuk memaksa mereka mengaku telah terlibat dalam peristiwa 30 September 1965.

Penjelasan Tour Guide di Area Bekas Penjara Pekambingan
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Ruang dipindah, kemudian memori terkubur. Suatu kalimat yang terbesit di kepala saya selama mendengar penjelasan tentang situasi kala itu. Mungkin sebagian besar dari kami juga masih awam terkait keberadaan penjara Pekambingan. Memori penyiksaan yang brutal dan pemerkosaan massal dipaksa pergi bersama bangunan yang berganti. Kita dituntut untuk lupa. Bangunan berubah menjadi pusat ekonomi, aktivitas terjadi tanpa henti, tetapi Orde Baru ingin kita lupa akan mereka yang mati dan tak kembali pasca 1965.
Obat Penenang Untuk Semakin Lupa: Pariwisata
Pasca Tragedi 1965, kisah-kisah mengenai pembantaian massal dihapus dari “ruang obrolan formal” untuk membangun citra bahwa Bali adalah tempat yang aman untuk menjadi pelayan pariwisata. Namun, pariwisata memiliki syarat yaitu Sapta Pesona. Pariwisata Bali yang dipromosikan stabil dan eksotis menutup bekas luka mendalam yang tidak mampu disuarakan.
Para penyitas Tragedi 1965 hanya mewarisi trauma. Sebagian besar dari mereka tidak lagi memiliki tanah karena telah dirampas oleh aparatus negara. Sehingga, pariwisata hadir sebagai obat penenang yang membisukan. Mereka dipaksa menyembah pariwisata karena tidak ada lagi tempat untuk menghasilkan laba, pasalnya tanah mereka telah hilang. Sayangnya, sekali lagi, pariwisata memaksa mereka melupakan tanpa pernah menyuarakan trauma atas Tragedi 1965.
Pariwisata membungkam peristiwa saling bunuh yang sadis di Bali. Moral kritis tertutup oleh pembangunan label pariwisata yang tenang dan stabil untuk melayani wisatawan asing. Sehingga, kondisi tertawan pariwisata ini menyebabkan yang disebut oleh Freire sebagai tertindas tetapi tidak merasa tertindas. Akibat tidak memiliki sumber laba lain, masyarakat melelang tanahnya untuk lahan pariwisata.
Pasar Badung, Sentral Pengorganisiran Perempuan
Beranjak dari Penerbit Partikular, kami berjalan menuju Pasar Badung dan Pasar Burung. Pasar Badung pada periode tahun 1964 hingga 1965 tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi. Namun, lebih jauh lagi bertransformasi sebagai tempat sentral pengorganisiran dan pendidikan politik perempuan oleh Gerwani. Melalui program Daycare yang dimiliki oleh Gerwani, gerakan tumbuh di tengah pedagang perempuan Pasar Badung.

Penjelasan Tour Guide di Area Pasar Badung
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Daycare ini akan memberikan layanan penitipan anak bagi ibu-ibu pedagang di Pasar Badung yang ingin tetap dekat dengan anak-anaknya. Kesempatan inilah yang menjadi momentum pengorganisiran Gerwani. Setelah selesai sesi penitipan anak, para pedagang perempuan ini akan diberikan pendidikan politik. Tempat ini juga menjadi saksi ketika para pedagang melakukan protes atas kenaikan harga beras dan membangun diskusi kritis di sela aktivitas perbelanjaan.
Saya tidak mampu membayangkan bahwa tempat transaksi yang ramai ini menjadi saksi bisu pembantaian perempuan-perempuan progresif di masanya. Otak saya tidak mampu mengimajinasikan saat tour guide menjelaskan pembantaian yang terjadi di Pasar Badung. Dagangan yang menjadi sumber penghidupan mereka dijarah, perempuan-perempuan diperkosa dan dibantai. Bersamaan dengan itu, memori tumbuhnya gerakan terhapus, ruang dialektika berubah menjadi ajang berdarah.
Pasar Burung dan Memori Pergerakan PKI
Kali ini, kami berjalan cukup jauh, dari Pasar Badung menuju Pasar Burung. Selama perjalanan, kami melewati titik awal tumbuhnya pariwisata Bali, Catur Muka dan sekitarnya. Berjalan ke utara, kami diajak melihat Pasar Burung yang di seberangnya terdapat dealer Suzuki, tempat yang dahulunya merupakan kantor Comite Daerah Besar (CDB) Partai Komunis Indonesia (PKI). CDB merupakan kantor tingkat provinsi milik PKI.
Tempat ini setelah Tragedi 1965—tepatnya pada tahun 1966—dibakar dan diubah menjadi Kantor Polisi Militer. Pembakaran dilakukan untuk memperlancar proses demonisasi komunis oleh Orde Baru. Entah pada tahun berapa tepatnya, tempat ini kemudian berubah menjadi dealer Suzuki.

Demonstrasi oleh Pemuda Rakjat
Sumber: Dokumentasi Arsip Pribadi Amirah
Di tempat ini dahulunya telah terjadi berbagai aksi demonstrasi. Salah satunya adalah demonstrasi yang dilakukan oleh Pemuda Rakjat—organisasi sayap pemuda PKI—untuk menolak masuknya imperialisme di Bali. Demonstrasi ini bertajuk “Sita Modal Imperialis” di mana pemuda-pemuda yang terhimpun menolak pengalihfungsan lahan di Bali untuk pariwisata yang masif.
Selama sesi ini, kami juga diajak melihat surat kabar Balipost yang membahas sidang PKI lanjutan. Dalam surat kabar ini menggambarkan desakan agar Presiden Soekarno besikap untuk membebaskan tahanan politik yang dipenjara karena tuduhan melakukan kup tahun 1965.
Menurut penjelasan tour guide, setelah penculikan dan kejatuhan Sutedja—Gubernur Bali pertama yang dituduh terafiliasi dengan PKI—karena menjalankan program Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunis), terjadi demonstrasi untuk memulihkan kekuasaan Sutedja kembali.
Kami juga diajak untuk menengok kembali pembantaian 1965 yang terjadi di lingkup kampus di Bali. Menurut penjabaran tour guide, pendataan dosen dan mahasiswa yang terafiliasi dengan PKI dilakukan oleh dosen-dosen yang tergabung dalam Partai Nasional Indonesia (PNI). Pertarungan politik yang sengit antara PKI dan PNI mendapatkan momentum pada pembantaian yang dimulai pada Desember 1965. Keterlibatan PNI melakukan pembantaian massa dilatarbelakangi oleh isu reforma agraria yang ditentang oleh elit politik Bali sebagai tuan tanah.
Taman 65: Forgive but Never Forget

Foto Bersama Peserta Ngiter Tipis-Tipis di Taman 65
Sumber: Dokumentasi Kegiatan
Kami mendapatkan penjelasan lanjutan setelah menapaki Taman 65. Pada masa itu, dijelaskan bahwa kaum intelektual Bali terbagi menjadi dua kubu—simpatisan PNI dan PKI. Pasca kedatangan pasukan RPKAD (sekarang Kopassus), pembantaian terjadi sangat masif akibat pelatihan dan dukungan logistik kepada kelompok anti-komunis, termasuk PNI. Gung Alit dari Taman 65 menjelaskan bahwa para jagal dipersenjatai dan diberikan seragam oleh militer untuk melakukan pembantaian.
Saya mengingat betul cerita keharmonisan palsu dan stigma yang masih melekat pasca Tragedi 1965. Pada tahun pembantaian terjadi, kekerasan terjadi hingga ranah terkecil, keluarga. Pasalnya, ketika Tragedi 1965 terjadi, hanya ada dua pilihan; menjadi korban atau menjadi tameng (penjagal). Hal ini yang kemudian menjadikan pertikaian merambah ke sektor terkecil, terutama ketika dalam suatu keluarga terdapat simpatisan atau anggota PKI.
Trauma terawat melalui stigma yang masih terus bergulir. Generasi berkembang bersama dengan stigma komunis. Stigma ini membentuk batasan-batasan seperti pelarangan untuk berteman dengan penyitas maupun keluarga penyitas. Hal ini menyebabkan trauma yang mendalam bagi penyitas sehingga tidak mampu bersuara atas masa lalu yang terjadi karena akan mengganggu proses integrasi sosial seseorang. Ruang tidak pernah berdiri netral, ia sarat akan kontrol.
Pelajaran Baru, Perspektif Baru
Saya terdiam melamuni cerita-cerita yang didapatkan selama acara ini. Terputar bayangan bengis dan sadisnya kejadian Tragedi 1965. Saya menyadari satu hal, politik demonisasi komunis oleh Orde Baru terbilang berhasil. Kebijakan yang bertumpu pada Trilogi Pembangunan (pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional) dapat dibaca sebagai cara menghapus ingatan akan pembantaian lebih dari 80.000 orang di Bali. Ruang yang membawa ingatan pada gerakan komunisme dihancurkan, direlokasikan, dan kemudian dilupakan. Tempat yang menyimpan memori kelam dihancurkan atas dasar pembangunan ekonomi. Pembantaian dinomalisasi demi stabilitas nasional.
Trauma tidak pernah diselesaikan, ia disembunyikan. Memori kekejaman ditutup, manusia dibungkam. Namun, kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk terungkap. Ngiter Tipis-Tipis sembari mengingat luka merupakan metode melawan paling radikal karena kita diajak menolak lupa atas ketidakadilan.



