Lebaran identik dengan tradisi silaturahmi dan kebersamaan bersama keluarga. Namun di Banyuwangi, Idul Fitri tidak hanya identik dengan suasana tersebut, tetapi juga dengan tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Suku Osing, Lebaran menjadi momen penting untuk menjaga hubungan dengan leluhur melalui ritual adat.
Tradisi itu terlihat dalam pelaksanaan Seblang Olehsari dan Barong Ider Bumi. Kedua ritual ini digelar setiap bulan Syawal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Osing di Banyuwangi. Tak sekadar pertunjukan budaya, keduanya sarat makna spiritual yang dipercaya mampu menjaga keselamatan desa.
Seblang Olehsari dan Barong Ider Bumi memiliki latar belakang yang serupa, yakni berawal dari peristiwa pageblug atau wabah yang pernah melanda desa. Dari peristiwa tersebut, masyarakat memperoleh petunjuk untuk melakukan ritual sebagai bentuk tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dilestarikan di tengah perayaan Lebaran.
Seblang Olehsari, Ritual Tari Sakral Warisan Leluhur
Tradisi Seblang Olehsari telah ada sejak sekitar tahun 1930-an. Ritual ini bermula dari peristiwa pageblug atau wabah penyakit yang sempat melanda Desa Olehsari dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Dalam kondisi tersebut, para sesepuh desa dipercaya memperoleh petunjuk dari roh leluhur untuk menggelar ritual bersih desa melalui pertunjukan tari Seblang sebagai upaya tolak bala sekaligus memohon keselamatan.

Ritual Penari Seblang Menari dalam Kondisi Trance. Foto oleh @hitsbanyuwangi
Pelaksanaan tradisi ini berlangsung di Desa Olehsari selama tujuh hari berturut-turut pada bulan Syawal. Sebelum memasuki puncak ritual, masyarakat terlebih dahulu menggelar bersih desa dan selamatan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Penentuan penari dilakukan melalui proses spiritual yang disebut kajiman, yakni kondisi ketika seseorang dipercaya mendapat petunjuk atau mengalami kerasukan roh leluhur untuk menjadi penari Seblang.
Pada puncak prosesi, penari berjalan menuju arena ritual dengan diiringi pawang dan para pengiring. Tarian dilakukan dalam kondisi trance dengan mata tertutup, mengikuti alunan gamelan dan gendhing yang dilantunkan oleh sinden. Salah satu bagian yang paling menarik adalah interaksi antara penari dan penonton melalui prosesi jual beli bunga yang dipercaya memiliki nilai magis, seperti membawa berkah, kesehatan, hingga kelancaran rezeki.
Keunikan lain dari tradisi ini terletak pada kondisi penari yang diyakini mengalami kerasukan roh leluhur selama menari. Gerakan yang ditampilkan tidak dirancang sebelumnya, melainkan mengikuti irama gendhing dengan makna simbolik tertentu, seperti tolak bala, perlindungan, dan kekuatan. Tak hanya itu, Seblang Olehsari juga dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya Tari Gandrung yang kini menjadi ikon budaya Banyuwangi.
Barong Ider Bumi dalam Tradisi Lebaran Masyarakat Osing
Tradisi Barong Ider Bumi merupakan salah satu ritual adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi. Tradisi ini berawal dari peristiwa pageblug yang terjadi sekitar tahun 1800-an, ketika desa dilanda wabah, gagal panen, dan berbagai musibah. Dalam situasi tersebut, para sesepuh desa melakukan ziarah ke makam Buyut Cili dan dipercaya memperoleh wangsit untuk menggelar upacara selamatan serta arak-arakan barong sebagai upaya menolak bala.
Ritual Barong Ider Bumi dilaksanakan setiap tanggal 2 Syawal, bertepatan dengan momen Idul Fitri. Prosesi dimulai dari rumah barong, yang menjadi tempat penyimpanan perlengkapan barong, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan mengelilingi desa. Arak-arakan ini bergerak dari arah timur menuju barat, mengikuti keyakinan masyarakat setempat yang juga berkaitan dengan arah kiblat dalam ajaran Islam.

Arak-arakan Barong Ider Bumi. Foto oleh @desa_kemiren
Sepanjang perjalanan, arak-arakan diikuti oleh berbagai kelompok, mulai dari pembawa umbul-umbul, penari macan-macanan, barong, hingga kelompok musik dan masyarakat desa. Suasana menjadi meriah sekaligus sakral karena seluruh warga terlibat dalam prosesi tersebut. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga ruang kebersamaan bagi masyarakat.
Prosesi Barong Ider Bumi kemudian ditutup dengan slametan dan makan bersama di sepanjang jalan desa. Hidangan khas seperti pecel pitik yang disajikan sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Melalui tradisi ini, masyarakat Osing tidak hanya memohon keselamatan, tetapi juga mempererat hubungan sosial di tengah perayaan Lebaran.
Hidangan Khas Suku Osing, Pecel Pitik. Foto oleh @tourbanyuwangi
Makna Tradisi dan Upaya Pelestarian Budaya
Tradisi Seblang Olehsari dan Barong Ider Bumi tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan Lebaran, tetapi juga mengandung nilai budaya dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Osing. Kedua ritual ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus upaya memohon keselamatan dan perlindungan desa dari berbagai marabahaya. Di dalamnya juga tercermin hubungan yang erat antara manusia dengan leluhur yang hingga kini masih diyakini sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi identitas budaya yang membedakan masyarakat Osing dengan daerah lainnya. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga terus dijaga melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap pelaksanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Keberadaan Seblang Olehsari dan Barong Ider Bumi menjadi bukti bahwa masyarakat Osing tetap menjaga warisan leluhur mereka di tengah arus modernisasi. Ritual ini tidak hanya memperkaya perayaan Lebaran, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya di Banyuwangi. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini menjadi penting agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Referensi:
Ferwirani, A. P. dan Noordiana. (2023). Kajian Nilai Budaya dalam Ritual Adat Seblang Olehsari di Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Jurnal UNESA: Universitas Negeri Surabaya. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/52915/42594
Ibaindah, T. L. dan Setyawan, B. W. (2022). Analisis Makna Tradisi Barong Ider Bumi di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi. JBSB: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 12(3). https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JBSP/article/view/15111
Rosa, A. A. dkk. (2020). Tari Seblang; Sebuah Kajian Simbolik Tradisi Ritual Desa Olehsari sebagai Kearifan Lokal Suku Osing Banyuwangi. Jurnal Sandhyakala, 1(2). https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/sandhyakala/article/view/336
Yashi, A. P. (2018). Ritual Seblang Masyarakat Using di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Jurnal Haluan Sastra Budaya, 2(1). https://jurnal.uns.ac.id/hsb/article/download/11790/16642
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet




