Oleh Pandu Nujaya

Nyaris tiap tahun, di puncak musim hujan, sejumlah ruas tukad (sungai) yang berhulu di kaki Gunung Agung membawa air bah bercampur lumpur, batu, dan pasir.

Alirannya tak bisa dibendung, kerap memutus jalur jalan raya Kubu-Tulamben, jalur provinsi di bagian timur yang menghubungkan Amlapura dan Singaraja. Peristiwa terakhir pada Februari 2018 lalu. Jalur sejumlah tukad yang pada musim kemarau kering kerontang tanpa air berubah jadi bah, menuju pantai Tulamben dan pesisir Kubu yang terkenal dengan panorama bawah lautnya.

Bahkan pada tahun 2015 air bah memakan korban jiwa. Salah satu pendududuk di Kecamatan Kubu yang tinggal di dekat jalur Tukad Maong, terbawa aliran bah. Korban sedang berada dalam rumah saat hujan deras. Tanpa peringatan air bah menghantam rumahnya dan menghanyutkan seorang perempuan tua yang sedang sakit.

I Nyoman Swasmistra, warga Dusun Tulamben, mengingat peristiwa ini, korban terseret sampai melewati jalan raya Tulamben-Kubu. Hujan turun sangat deras dan tidak berhenti selama berhari-hari. Debit air bah sangat besar. Kecepatan airnya sangat keras dan mampu membawa beban-beban sangat besar pula seperti batang kayu-kayu besar dan pepohonan besar yang tumbuh di pinggir tukad.

Seperti tak ada yang mampu mengerem alirannya.

Air bah menghentikan lalu lintas kendaraan. Sebelum bermuara di pantai, air bah mengalir di atas permukaan jalan raya bukan di bawahnya. Kendaraan yang akan melewati titik potong air bah dengan jalan raya harus menunggu hingga air bah berkurang dan aman dilalui.

Selain sebagai jalur air bah pada musim hujan, tukad-tukad ini jalur magma atau aliran lahar dingin Gunung Agung saat meletus dahsyat terakhir pada 1963 lalu. Endapannya adalah pasir dan bebatuan, tak heran sungai-sungai jalur lahar di Kecamatan Kubu ini jadi tambang pasir oleh penduduk dan pengusaha material bangunan.

Ada tiga sungai utama di Kecamatan Kubu yang mengalir dari lereng Gunung Agung hingga ke pantai. Salah satunya Tukad Maong. Panjang sungai ini sekitar 6 km. Pengerukan pasir di sungai mengakibatkan sempadan lebih rentan terhadap longsor ketika musim hujan dan dapat merusak vegetasi yang telah tumbuh di pinggirnya.

Bagaimana jadinya jika air bah ini tiap tahun tak bisa dikendalikan? Apa yang terjadi jika jalur lahar terus ditambang, makin dalam, dan hujan lebat tiap hari? Sungai dan lautan di Kecamatan Kubu bisa jadi berkah dan musibah jika tak segera dikelola.

 

Menanam Gebang

Berangkat dari bencana yang pernah terjadi pada 2015 dan terakhir pada Februari 2018 itu, beberapa kelompok warga kini berinisiatif untuk membendung air bah di kawasan hulu, di kaki Gunung Agung.

Kelompok Tani Ternak Darma Kerti mengawali kegiatan penanaman gebang di Dusun Bahel, Desa Dukuh, Kubu. Kelompok ini didirikan pada tahun 2000 dan beranggotakan 18 orang. Kelompok yang diketuai oleh I Nyoman Darma ini kini membudidayakan gebang. Jenis gebang (agave sisalia) belum diketahui karena perlu dilakukan penelitian pada bunganya.

Nama Gebang mungkin tak bisa ditemukan di internet karena ini nama lokal setempat. Nama ilmiah tumbuhan ini Agave, populer dengan nama sisal.

Di desa kami, gebang itu termasuk tanaman liar. “Karena gebang banyak tumbuh di areal hutan, masyarakat di sini kurang paham mengenai fungsi dan manfaat tanaman gebang,” ingat I Nyoman Darma. Tanaman ini tak terlalu menarik perhatian warga, walau sejumlah keluarga menjadikannya sumber penghasilan. Ia pun mengaku tak terlalu tahu manfaat dan fungsinya.

Gebang hanya dipanen untuk diolah diambil seratnya jadi rambut, dijual ke pengepul. Sisanya entah digunakan sebagai apa oleh pembelinya. Sampai kemudian baru menyadari serat-serat berwarna putih seperti rambut ini dijadikan rambut ogoh-ogoh, barong, dan topeng oleh pengerajin.

Darma mengaku menanam gebang di pekarangan atau tanah milik setiap anggota pada tahun 2015 sebagai percobaan. Lembaga lingkungan Conservation Internasional (CI) Indonesia lalu mengenalkan fungsinya sebagai penahan abrasi selain bisa diolah jadi kerajinan. CI Indonesia juga membantu pendanaan pembibitan dan pelatihan pengolahan gebang. Sebanyak 6.000 bibit gebang akan ditanam. Luas lahan penanaman gebang di Tukad Maong sekitar 5 hektar.

Akar gebang dapat menahan air bahkan lumpur-lumpur atau pasir dari air bah. Kelompok ini menggiatkan menanam gebang di jalur aliran air bah untuk mengurangi terjangan bah. Dari bantuan dana yang diberikan oleh Conservasion Internasional Indonesia, penanaman gebang dilakukan pada 2017. “Dana tersebut kami gunakan pembelian bibit dan lain-lainnya yang mendukung kegiatan penanaman gebang di jalur aliran air bah,” lanjut I Nyoman Darma.

Menanam gebang disebut tak mudah. Pada awalnya sangat sulit menanam gebang di jalur aliran air bah, karena lahan dilapisi dengan pasir bukannya tanah. Walau gebang termasuk tanaman di daerah tropis tetapi sangat perlu air karena selama musim kemarau di Kecamatan Kubu keadaan tanahnya sangat kering dan gersang. Apalagi musim kemaraunya panjang seperti tahun ini. Hal itu membuat gebang pun mati alias gagal tanam.

Tanaman gebang yang ditanam di kebun warga.

Selama ini gebang yang mereka tanam di jalur aliran air bah baru sekali di sirami air hujan. “Gebang yang kami tanam di pinggir tukad juga banyak terbawa aliran air bah karena bengitu besarnya air bah karena gebang masih kecil baru ditanam,” keluhnya. Saat ini keadaanya juga memprihatinkan selain tidak mendapatkan air sebagai nutrisi, tanaman gebang juga diserang hama, yaitu landak.

Landak memakan ubi gebang sehingga mati karena dicabut landak. Darma sempat pula memasang kamera di kebun gebang yang ditanam di jalur aliran air bah, dari sini diketahui landak lah biang keladinya. Karena di tanam di sisi tukad sehingga pengawasan kurang. Beda jika ditanam pada kebun warga dekat rumah. Ia menunggu musim hujan agar gebang yang ditanam di jalur aliran air bah dapat hidup.

Gebang juga bisa diolah menjadi karya seni. Baik karya seni untuk kegiatan keagamaan maupun karya seni yang bisa dijual. Saat ini gebang hanya diolah untuk membuat karya seni yang menunjang upacara-upacara keagamaan seperti rambut tarian rangda dan rambut tarian topeng.

Kemudian CI Indonesia memberikan pelatihan berupa pembuatan karya seni lainnya yaitu taplak meja, alas gelas, berbagai macam tas, mangkok, dan lainnya. Pelatihan itu dilakukan di balai masyarakat. Warga berharap kerajinan ini mulai bantu dipasarkan.

Sebelum menjadi sebuah karya seni, daun gebang harus diolah dengan beberapa proses. Daun gebang dapat dipanen setelah berumur sekitar 3 tahun dari awal menanam atau dilihat dari ukuran daun yang sudah membesar. Besarnya daun gebang tergantung dari perawatannya dan kontur tanahnya. Setelah dipanen, kemudian daun gebang dipisahkan dari daun dengan seratnya, proses ini di sebut dengan pengamudan atau amud.

Pengamudan dilakukan secara manual dengan alat sederhana yang dibuat secara sendiri oleh Darma dan anggota kelompok Tani Ternak Darma Kerti.

Pengamudan dilakukan dengan cara menjepit daun gebang pada alat berupa bilah bambu dan menariknya menggunakan tangan hingga terpisahnya daun gebang dengan seratnya. Setelah proses amud maka serat gebang dijemur seharian. Hasil dari serat kasar tersebut disebut bagu. Nah, bagu inilah yang akan diikat menjadi lebih halus disebut gambrang.

Gambrang ini bahan baku dalam pembutan rambut rangda dan rambut pada tarian topeng salah satunya tarian topeng Sidakarya. Selain itu serat gambrang ini juga dapat diolah menjadi berbagai karya seni lainnya.

Warga memerlihatkan hasil kerajinan dari serat sisal. Foto Anton Muhajir.

Gambrang dijual ke pengerajin topeng ke wilayah Kabupaten Giayar. Gambrang dibedakan menjadi dua yaitu gambrang gede dan gambrang kecil. Gambrang gede ini lebih tebal dibandingkan gambrang kecil. Harga per meter gambrang gede sebesar Rp 10.000 sedangkan harga gambrang kecil Rp 4.000.

Keluarga I Nyoman Darma mampu menghasilkan 10 meter dalam 2 hari. “Satu hari saja bisa tapi harus fokus mengerjakannya, jangan mengambil pekerjaan lainnya seperti memasak, mencari rumput ternak dan masih banyak lagi pekerjaan rumah tangga,” urainya.

Kendala yang dialami pengerajin saat ini di musim kemarau malah sulitnya mencari bahan baku. Gebang yang mereka tanam layu karena kekurangan air sehingga daun tidak bisa dipanen.

 

Melindungi Terumbu Karang

Jika di tingkat hulu, gebang telah menjaga agar tanah tidak mengalami erosi, di tingkat hilir gebang juga bisa melindungi terumbu karang. Di Kecamatan Kubu, gunung dan laut memang seolah menyatu. Menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.

Dari ibu kota kecamatan menuju puncak Gunung Agung jaraknya sekitar 12 Km, dibatasi jalan raya kemudian bertemu pantai. Mata pencaharian warga Kubu beragam misalnya bidang pertanian, perkebunan, tambang pasir, nelayan, dan parawisata. Nyaris semua tergantung pada gunung dan laut.

Daerah pariwisata di Kecamatan Kubu menyebar dari gunung hingga daerah pesisir. Pada daerah gunung misalnya Rumah Pohon Batudawa, Savana Bukit Pengeno, Savana Tianyar, Savana Kayuaya, Bukit Anyar Kayuaya, Bukit Paleg, dan Bukit Mangun (munduk mangun). Sedangkan daerah pariwisata pesisir seperti Pantai Tulamben, di sepanjang Pantai Tukad Abu, Pantai Kubu.

Melestarikan ligkungan gunung dan lautan sangat penting untuk ngajegang wisata Nyegara Gunung di Kecamatan Kubu.

Kecamatan Kubu terkenal akan daerah gersangnya. Tidak ada persawahan hanya kebun tadah hujan. Terdapat banyak sungai namun di saat musim kemarau tukad-tukad tersebut kering tanpa air, sedangkang musim hujan tukad-tukad tersebut dialiri air bah dari daerah gunung dan bermuara di pantai-pantai. Air bah membawa banyak material lumpur, krikil, batang pohon dari hutang dan banyak sampah plastik. Air bah pun berdampak pada kelangsungan hidup terumbu karang di laut.

Air bah bisa mengancam pariwisata di Pantai Tulamben yang terkenal akan indahnya biota laut hingga ke seluruh dunia. Salah satu spot menyelam populer di Indonesia ada di Tulamben yakni Liberty Shipwreck, bangkai kapal logistik di Perang Dunia II yang terdampar kemudian pada 1963 terseret di pinggir pantai pasca Gunung Agung meletus.

Banyak wisatawan asing yang datang ke Desa Tulamben untuk merasakan pesona terumbu karangnya. Hanggar Prasetio dari Conservation Internasional Indonesia mengingatkan terumbu karang adalah hewan bukan tumbuhan yang merupakan rumah ikan. Alam yang meciptakannya menjadi terumbu.

Hewan karang ini bekerja sama dengan alga yang disebut zooxanthellae sehingga tumbuh dengan beragam jenisnya. Kumpulan-kumpulan karang yang banyak ini disebut dengan terumbu karang. Alga mendapatkan cahaya matahari dan memproduksi energi yang diserap oleh karang itu menjadi makanannya. Hewan karang itu menghasilkan CaCo3, nah ini disebut dengan karang yang keras berwarna putih. Biasanya jika berjalan di bibir pantai dan menemukan karang putih itulah CaCo3 itu, karang mati dan alga sudah terlepas dari karang tersebut.

Karena karang itu hewan ada proses kawinnya. Terumbu karang akan mengeluarkan sel sprema dan sel telur kemudian terjadi proses pembuahan seelah itu lahirlah anak karang yang berukuran sangat kecil yang disebut planula. Planula adalah calon dari terumbu karang tersebut. Ketika planula berkumpul membentuk suatu koloni lalu menempel pada substrat yang dia sukai maka berkembang dan menjadi terumbu karang baru.

Selama satu tahun lamanya terumbu karang akan tumbuh hanya sepanjang 1 cm. Betapa konyolnya jika terumbu rusak dengan waktu kurang dari 5 menit saja. Oleh sebab itu bagi kalian yang suka menyelam ataupun snorkeling jangan pernah menginjak terumbu karang.

“Bermuaranya air bah dapat membawa dampak yang buruk terhadap kelestarian terumbu karang. Lumpur yang menutupi terumbu karang membuat tidak bisa memproduksi energi karena sinar matahari terhalangi oleh lumpur,” jelas Hanggar Prasetio, Koordinator Program Nyegara Gunung CI Indonesia. Hal itu dapat menyebabkan alga akan pergi dan karang akan mati. Dengan rusaknya terumbu karang, ikan-ikan hilang, laut tidak indah, dan turunnya kunjungan wisatawan ke Desa Tulamben.

Dari begitu besarnya dampak yang ditimbulkan oleh air bah, maka sudah saatnya masyarakat bergerak untuk menanggulanginya. Saat ini masyarakat sudah melakukan melibatkan kerjasama dua desa, yaitu Desa Dukuh sebagai masyarakat hulu dan Desa Tulamben sebagai masyarakat hilir atau pesisir. Penanaman gebang pada tukad dilakukan oleh masyarakat hulu sedangkan masyarakat hilir melakukan transplatasi terumbu karang. Suatu implementasi harmonis dari filosofi Nyegara Gunung.

Gunung Agung dan sekitarnya saat musim kemarau.

Nyegara Gunung adalah filosofi yang bermakna antara laut (segara) dan gunung adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Oleh karena itu, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut. Kesatuan hulu dan hilir ini sangat mudah dicerna misalnya matahari menyerap air laut, menurunkan menjadi hujan. Diserap lebih awal oleh pepohonan dan tanah di pegunungan yang mengolah jadi air bersih dan dialirkan ke sungai. Tumbuhan berbuah, padi tumbuh di sawah ketika alam bekerja sama.

I Wayan Pasek Natya, pengurus subak Pandan Sari, Dusun Pandan Sari, Desa Dukuh menurutnya hubungan atau koneksi antara gunung dan laut yang mencerminkan keseimbangan. “Kalau dilihat dari keagamaan gunung itu adalah tempat berstananya Pura sedangkan lautan atau air merupakan tempat permbersihan,” tuturnya.

Jadi, ketika ada upacara adat seperti upacara Memukur setelah melasti ke laut dilanjutkan dengan meajar-ajar ke Pura Besakih di Gunung Agung. Bentuk dari hubungan tersebut salah satunya menjaga kelestarian lingkungan hutan agar terjaganya kelestarian mata air di daerah pesisir.

“Keseimbangan hubungan tersebut haru tetap kita jaga agar dapat menanggulangi bencana. Anggap saja Segara dan Gunung itu adalah Ayah dan Ibu kita,” ingat Pasek.

Konsep ini dijadikan program oleh Conservation International Indonesia. CI merupakan yayasan global yang berkantor pusat di Arlington, Virginia, Amerika Serikat. Conservation Internasional tersebar di 30 negara, salah satunya di Indonesia.

Ritual Nyegara Gunung di Karangasem.

I Wayan Adi Mahardika, Koordinator program reforestasi bentang alam Gunung Agung CI Indonesia menjadikan sumber daya manusia sebagai titik fokus. Menurutnya Nyegara Gunung ini terjemahan dari ridge to reef dalam bahasa konservasi.

CI Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Bali dalam membangun jejaring kawasan konservasi di Bali berupa konservasi ekosistem laut. Seperti pemulihan terumbu karang, mendampingi kelompok-kelompok desa atau kelompok nelayan dalam menjaga lautnya, dan mendampingi pemerintah desa menyusun peraturan-peraturan desa untuk perlindungan alam. [b]

 

Menambah Cadangan Terumbu Karang

Nyoman Suastika, pemandu selam lokal dan Kepala Dusun Tulamben.

I Nyoman Suastika adalah salah satu warga penggerak dan pelaksana transplantasi yang dilakukan oleh warga pesisir Pantai Tulamben dalam melestestarikan indahnya bawah laut. Translantasi terumbu karang untuk menanggulangi dampak terjadinya aliran air bah dan membuat makin banyak karang mati. Bagaimana mereka melakukannya? Mari simak wawancara berikut.

Bagaimana transplantasi karang dilakukan?

Transplantasi yaitu penyambungan, bisa juga dikatakan mencangkok atau menyetek terumbu karang kecil ke media transplant atau media yang dipakai untuk mengikatkan terumbu karang sebagai tempat baru hidupnya karang. Karang-karang kecil itu didapat dari patahan terumbu karang yang diakibatkan aliran air bah atau prilaku penyelam yang menginjak terumbu karang. Bisa juga patah karena terkena (sepatu selam) dari penyelam tersebut. Nikmatilah indahnya terumbu karang tanpa menginjaknya.

Mulai kapan dilakukan di Pantai Tulamben?

Transplantasi terumbu karang awalnya dilakukan pada tahun 2016. Sejak dua tahun lalu tranplantasi sudah dlakukan sebanyak dua titik yaitu di Coral Garden dan Liberty. Dalam pelaksaannya kegiatan ini mendapat bantuan dari berbagai donatur yang ikut serta dalam mensyukseskan kegiatan ini.

Bagaimana memulainya?

Sebelum melakukan transplantasi berserta warga melakukan penyelaman untuk pencarian patahan-patahan terumbu karang kecil atau mencari terumbu karang yang besar yang memiliki banyak cabang. Salah satu cabang tersebut dipotong namun hal tesebut sangat jarang dilakakukan karena jika salah dalam pemotonganya atau terlalu banyak memotong cabangnya, maka terumbu karang akan stres dan mati. Patahan terumbu karang kecil dapat ditemukan di sepanjang spot-spot penyelaman di Pantai Tulamben, setelah itu barulah menanamkannya di media baru yang sudah dibuat sebelumnya.

Media baru tersebut merupakan rangka beton yang berbentuk balok, eksadon, kerucut bahkan dapat menyerupai rak almari. Rangka beton tersebut terbuat dari campuran pasir, krikil, semen, air, kapur mil dan tentunya menggunakan tulangan besi di dalamnya. Kemudian campuran dicetak sedemikian rupa hingga berbentuk menyerupai bentuk-bentuk tersebut. Rangka beton media tranplantasi terumbu karang dinamakan substrat dan karang kecil diikat pada substrat mengunakan kabel tis sehingga karang itu dapat tumbuh di tempat yang baru. Substrat dibawa ke dasar luat dan didiamkan selama beberapa hari untuk adaptasi sebelum diikatkan terumbu karang pada kedalaman 5-7 meter dari permukaan air laut.

Proses transplantasi karang di Pantai Tulamben. Foto: Nyoman Suastika

Apakah berhasil jadi terumbu karang baru?

Proses transplantasi terumbu karang belum bisa dikatakan berhasil dan saat ini masih dalam tahan berkembang karena proses bertumbuhnya karang membutuhkan waktu yang cukup lama. Kendala cuaca, jika ombak besar dan gelombang besar karang-karang yang ditransplantasi bisa patah dan kendala lainnya yaitu dari faktor manusianya seperti tingkah lalu penyelam, apakah mereka mau melestarikan alam atau tidak dengan cara tidak menginjak terumbu karang.

Dilakukan monitoring selama 3 bulan sekali. Pengecekan terhadap pertumbuan terumbu karang pada substrat atau jika mereka menemukan patahan terumbu karang mereka menyeteknya lagi pada substrat. Waktu tranplatasi tergantung pada momen-momen tertentu atau jika ada donatur yang mau membantu. Terkhir dilakukan pada 6 Oktober 2018 dari beberapa donatur yang memberikan 7 buah bibit karang. Selain memberikan bibit ada yang memberikan dana dan bahkan ikut serta menyelam melakukan transplantasi terumbu karang.

Apa manfaatnya di masa depan?

Dengan adanya tranplantasi terumbu karang ini, kita bisa memperbanyak lagi termbu karang di Pantai Tulamben. Dengan banyaknya terumbu karang otomatis ikan pun menjadi banyak pula. Suatu saat nanti terumbu karang hasil dari tranplantasi ini dapat menjadi objek penyelaman baru atau alternatif dari objek-objek penyelaman yang sudah ada seperti Ship Wreck. Dengan tranplantasi ini dapat mengganti terumbu karang yang rusak dan mati akibat aliran air bah, sehingga kelestarian terumbu karang tetap terjaga dan pariwisata Pantai Tulamben tidak pernah mati. [b]

Editor: Luh De Suriyani

Artikel adalah karya dari program beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018 yang berkolaborasi dengan Conservation International Indonesia.