Menghidupi Pandemi, Menyiasati Adaptasi

Oleh: Oktaria Asmarani, Juni Antari, & Agus Dwi Adnyana

Pagi cukup tenang di sebuah perumahan di daerah Panjer, Denpasar selatan pada akhir Agustus 2020 lalu. Rumah-rumah terlihat berpenghuni walaupun saat itu hari kerja. Bagi sebagian warga perkotaan, pandemi COVID-19 membuat hari kerja tiada terasa beda dengan akhir pekan. Pekerja yang biasa berjibaku di kantor kini menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Begitu pula anak-anak sekolah, seperti Keenan. Bersama ayahnya, murid berusia tujuh tahun itu duduk bersebelahan di bale bengong, menyaksikan layar ponsel dengan saksama. Mereka menyimak sebuah video di YouTube menampilkan gerakan lincah seorang pemuda berbaju hijau neon.

Keenan kemudian berjalan ke depan rumah bersama kakeknya. Dia memungut beberapa butir batu dan mengumpulkannya dalam genggaman. Perlahan ia meletakkan batu-batu tersebut di satu titik di terasnya. Dengan lincah ia lalu berlari memindahkan batu tersebut satu per satu. Dari sisi satu ke yang lain, persis apa yang ditampilkan dalam video yang ia saksikan. Sang ayah pun membantu mengarahkannya sambil merekam gerakan tersebut menggunakan ponsel.

Pagi itu, siswa kelas 2 di sekolah dasar swasta di kawasan Denpasar Selatan tersebut sedang mengerjakan tugas mata pelajaran olahraga. Dengan wajah semringah, ia melihat sang ayah membantu mengirimkan video tersebut ke gurunya melalui surat elektronik. Satu tugas rampung sudah, tetapi dua tugas lain masih menunggu untuk dikerjakan. Keenan, dengan tetap didampingi oleh sang ayah, berusaha mengerjakan tugas selanjutnya.

Ayah Keenan, Indra (35), adalah seorang karyawan bagian penjualan dan pemasaran (sales and marketing) sebuah hotel di area Nusa Dua. Sebagai pekerja pariwisata, dia turut terkena dampak pandemi COVID-19 sejak Januari 2020. “Okupansi kami sudah benar-benar drop di Maret sehingga kami saat itu diminta mengambil cuti, karena pengeluaran terbesar di hotel adalah gaji karyawan,” ujar Indra. Ia dan karyawan lain pun dipaksa mengambil cuti hingga melebihi 12 hari. Jumlah maksimum hari cuti yang bisa diambil dalam satu tahun.

Kebijakan perusahaan mengharuskannya merelakan sebagian gaji untuk dipotong sesuai hari kerja. “Gaji pokok Mei itu sudah dipotong 25 persen, lalu Juni dan seterusnya sudah dipotong 50 persen,” lanjutnya. Pemasukan untuk gaji para karyawan di hotel memang mengandalkan biaya layanan (service charge) dari tamu. Sejak April, hotel tempatnya bekerja tidak lagi menerima biaya tersebut karena ketiadaan tamu.

Kini, Indra hanya bekerja sebelas hari dalam satu bulan. Setiap pekan, ia hanya bekerja dua-tiga hari. Padahal, biasanya ia bekerja Senin hingga Jumat.

Hal serupa juga dialami sang istri, Shanti (31), pegawai tetap di sebuah diler mobil di Denpasar. Ia juga terpaksa menaati kebijakan perusahaan yang mengharuskannya bekerja tidak sebanyak biasanya. Sebelum pandemi, Shanti bekerja Senin hingga Sabtu, termasuk tanggal-tanggal merah. Akan tetapi, kini ia hanya bekerja selama tiga hari dalam seminggu.

Pengurangan hari kerja memaksa Indra dan Shanti untuk berada di rumah lebih sering dari biasanya. Mereka kemudian bisa menemani Keenan belajar dari rumah dan mengamati tumbuh kembang Percy (2), anak bungsu mereka, dengan lebih cermat. Sebelum pandemi, sekolah dan pekerjaan sama-sama membatasi ruang dan waktu pertemuan mereka. Kini mereka bisa berbagi ruang dan waktu tersebut lebih banyak, bersama-sama.

Indra merekam video untuk pelajaran olahraga anaknya. Foto Agus Dwi Adnyana.

Bukan Guru

“Halo, nama saya Keenan, kelas 2B, nomor absen 17. Saya hari ini akan membuat perkalian 3×3..”

Keenan menatap kamera ponsel yang dipegang ayahnya untuk merekam. Setelah merampungkan tugas olahraga, Keenan lalu mengerjakan tugas matematika. Ia berhitung sembari meletakkan gelas-gelas plastik putih dengan corak polkadot merah satu per satu di hadapannya, berbaris sebanyak tiga buah ke samping dan ke belakang.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Eh! Hahahaha…” ia lalu tergelak sendiri. Ayahnya pun tertawa heran sebab tiga dikali tiga seharusnya sembilan, sama dengan jumlah gelas yang dijejer Keenan. “Lho padahal tadi sudah bagus awalnya, gimana sih!” seru Indra pada anaknya, sambil menepuk betis kanan Keenan dengan pelan.

Begitulah suasana sesi sekolah dari rumah di kediaman keluarga Indra. Jika sedang tidak bekerja di kantor, ia akan menemani Keenan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang diberikan guru melalui Google Classroom. Keenan masih harus selalu didampingi orang tuanya dalam pengerjaan dan pengunggahan tugasnya. Setiap pukul sembilan pagi, dua hingga tiga tugas dari mata pelajaran berbeda akan diunggah oleh guru Keenan di Google Classroom. Semua tugas tersebut harus sudah diunggah maksimal pukul tujuh malam. Di sisi lain, sesi pertemuan Zoom dilakukan dua hingga tiga kali dalam satu pekan. Pekan yang padat untuk seorang anak tujuh tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah.

Padatnya jadwal sekolah itu untungnya dapat dilalui dengan adanya ponsel khusus untuk Keenan. Segala urusan sekolah berkumpul di dalam ponsel tersebut, mulai dari Google Classroom, Zoom, WhatsApp, panggilan telepon, dan lain-lain. “Untungnya saya sempat kebagian doorprize handphone di kantor waktu itu. Akhirnya terpakai banget buat Keenan,” kata Indra sambil tertawa. Sejauh ini, urusan sekolah Keenan dilakukan dengan menggunakan koneksi internet dari paket data. Setiap bulan, Keenan bisa menggunakan 20-30 gigabyte kuota internet.

Walaupun begitu, bukan berarti sekolah dari rumah berjalan tanpa hambatan. Selayaknya anak seusianya, Keenan lebih senang menunda mengerjakan tugasnya dengan alasan makan, buang air kecil, mengantuk, dan lain sebagainya. Shanti menduga karena pola belajar ini berbeda dengan di sekolah di mana guru menjelaskan terlebih dulu, kemudian memberikan tugas. Sekolah lebih mampu untuk mendisiplinkan pola belajar anak. Sedangkan kini pola belajar yang harus ditaati Keenan adalah mengerjakan tugas dalam jumlah cukup banyak setiap hari.

“Kan kami juga bukan guru ya, kadang agak kewalahan juga,” aku Shanti.

Untuk urusan sekolah, Indra dan Shanti mengaku sempat kerap meluapkan emosi kepada Keenan. Indra yang biasanya pulang kerja di malam hari, kini harus menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah bersama anak. “Saya sempat temperamen, bisa mudah marah-marah ke Keenan. Apalagi di pikirannya masih suka main terus, padahal tugasnya harus segera dikumpul,” ujarnya. Shanti bahkan terkadang merasa lebih stres ketika berada di rumah, sebab di waktu-waktu tertentu ia masih mengerjakan pekerjaan dari rumah, tetapi juga harus menemani Keenan belajar.

“Saya sebenarnya ingin Keenan lekas kembali belajar di sekolah lagi, sih. Biar saya enggak stres,” tutur Shanti sambil tertawa kecil.

Keenan tampak mengafirmasi pernyataan orang tuanya. Ia mengaku bahwa kadang orang tuanya memarahinya. Ia pun sering merasa bosan ketika berada di rumah. “Soalnya disuruh belajar terus,” gumamnya. Untuk mengatasi kebosanan, Keenan mengaku sering bermain dengan Percy, walaupun Shanti mengatakan bahwa Keenan kerap mengganggu adiknya. “Sepertinya itu pelariannya sih, karena bosan di rumah. Jadinya sedikit-sedikit rewel lalu ganggu adiknya. Percy akhirnya juga tambah manja. Harus sama mamanya terus,” ucap Shanti.

Kebosanan membuat Keenan menikmati kegiatan yang sebelum pandemi terkesan biasa saja. Contohnya, membeli es krim dengan sepedanya. Keenan juga mengaku kangen teman-temannya dan melakukan panggilan video bersama mereka di waktu-waktu tertentu. Biasanya, Keenan masih berkegiatan di akhir pekan, entah taekwondo atau kegiatan sekolah yang membuatnya berkesempatan bertemu teman-teman. Namun, kini ia harus turut beradaptasi di tengah kondisi pandemi.

Akibat pandemi banyak orang mengalami penurunan pendapatan karena kurangnya orang belanja. Foto Anggara Mahendra

Pendapatan Berkurang

Selain perubahan dalam urusan sekolah anak, Indra dan Shanti tentu juga merasakan dampak besar dari segi pemasukan. Pengurangan hari kerja berdampak pada pengurangan gaji mereka. Padahal, mereka harus menghadapi pengeluaran yang tidak banyak berubah. Indra mengaku cukup terkejut dengan perubahan dari segi finansial ini.

Kebutuhan rumah tangga, misalnya listrik dan kuota internet, terus menerus ada terlepas dari ada tidaknya uang. Keluarga Indra yang biasanya mempekerjakan pekerja rumah tangga dibayar per bulan, kini hanya memanggilnya sesuai kebutuhan. “Oh ya, apalagi soal cicilan, saya waktu itu sempat benar-benar stres mengurus permohonan penundaan cicilan ke bank karena pemasukan berkurang cukup drastis,” ungkap Indra.

SPP sekolah Keenan memang berkurang sebanyak 20 persen, tetapi itu masih terasa berat. “Justru ada kenaikan uang tahunan yang biasanya harus dibayar ketika siswa naik kelas,” ujar Shanti.

Segala tantangan yang dihadapi Indra dan Shanti, terkait urusan sekolah Keenan maupun keuangan rumah tangga inilah yang membuat mereka merasa cukup stres, terutama di awal masa pandemi. Rutinitas jalan-jalan sekeluarga di akhir pekan kini tak lagi bisa dilakukan sebab kondisi kantong tidak memungkinkan. Selain itu, mereka juga mengaku masih takut pada virus corona dan pandemi COVID-19.

“Saya percaya COVID-19 itu ada. Bukan konspirasi,” ujar Indra.

Ia yakin karena telah mendengar sendiri kabar di lingkungan klien kantor dan sekitar mertuanya bahwa sudah ada beberapa pasien terjangkit virus corona. Ketakutan itu terutama di awal munculnya pandemi sebab angka kasus selalu bertambah dan banyak kematian. “Sebenarnya yang paling saya takuti itu saya menjadi pembawa (carrier) virus tersebut, soalnya di rumah saya ada anak-anak kecil dan terutama ada orang tua,” ujarnya.

Selain dengan keluarga intinya, Indra memang masih tinggal bersama kedua orang tuanya Putra (70) dan Ketut (64). Keduanya mengaku percaya terhadap COVID-19, tetapi tidak seketat Indra dan Shanti dalam bepergian keluar rumah. “Ya, namanya saja hidup di Bali ada yang namanya menyama braya. Susah kalau kayak begini. Kalau ada upacara di kampung, ya, tetap harus datang,” ujar Putra dan Ketut saling sahut menyahut. Kebetulan keduanya baru saja tiba dari daerah asal mereka, Karangasem.

Shanti mengaku berhati-hati dalam urusan ini dengan kedua mertuanya. Terkadang sulit memberitahu keduanya untuk mengurangi intensitas pulang kampung dan bertemu banyak orang, tetapi mereka tetap saja rajin pulang kampung. “Orang tua kayaknya lebih enggak enakan dengan sesama ya. Tidak seperti anak muda yang kalau mau datang, ya, silakan, kalau tidak juga tidak apa-apa,” ungkapnya. Indra dan Shanti akhirnya hanya mengingatkan agar kedua orang tuanya memakai masker, rajin cuci tangan, dan langsung membersihkan badan ketika tiba  di rumah.

“Ini Percy kalau kami datang sudah bisa ngajak ke dapur, disuruh cuci tangan,” ujar Ketut, bangga terhadap cucunya.

Terlepas dari itu, Indra dan Shanti masih sebisa mungkin menghindari keramaian walaupun seiring berjalannya waktu mereka melihat banyak orang makin mengabaikan protokol kesehatan. Menurutnya, banyak ruang publik di Denpasar masih kurang dalam pencegahan COVID-19. Walaupun sudah mengatur jarak antarmeja, hal itu tidak menghentikan para pengunjung untuk berkumpul baik dalam antrian maupun ketika duduk. Seringkali yang terlihat adalah tidak adanya penjarakan fisik dan tidak digunakannya masker.

Indra dan Shanti juga kini memilih untuk tidak lagi mengikuti secara cermat pemberitaan tentang COVID-19 di media. Angka-angka terus menerus naik. Tak tahu kapan mencapai puncak. Kenaikan itu hanya membuat mereka semakin takut dan stres. Walaupun begitu, mereka tetap berharap bahwa kondisi ini akan segera membaik. Sesekali, mereka berjalan-jalan dengan mobil, membeli es krim secara drive-through di restoran cepat saji, dan bahkan sempat mengunjungi pantai yang sepi pengunjung. Semuanya dilakukan agar mereka tetap waras.

Murid harus mengerjakan tugas pelajaran Bahasa Bali. Foto Agus Dwi Adnyana.

Tidak Terbiasa

Adaptasi terhadap situasi pandemi COVID-19 tak hanya dilakukan murid dan orang tuanya, tetapi juga sekolah dan para guru. Ketua Yayasan Kalyanamitta Bali, Evi Wirayanti, S.Psi., C.Ht., menyatakan bahwa ia beserta jajaran Sekolah Vidya Karuna harus mengubah banyak strategi dalam kegiatan belajar-mengajar. Seperti sekolah Keenan dan sekolah pada umumnya, Sekolah Vidya Karuna kini harus memboyong proses belajar mengajarnya secara daring.

Wira mengakui adaptasi belajar daring sulit dilakukan, terutama di awal pandemi. Pasalnya, semua tenaga pengajar tidak familiar dengan pembelajaran jarak jauh. Sekolah yang terdiri dari PAUD dan SD ini berpatokan pada pertemuan tatap muka dalam setiap kegiatannya. “Baru berjalan satu minggu, sistem belajar online ini mendapat keberatan dari orang tua siswa,” ujarnya.

Para guru pun merasakan beban kerja yang bertambah. Guru harus belajar ulang dan menyiapkan segala bahan ajar yang didominasi animasi. Belum lagi waktu mengajar yang fleksibel menyebabkan jam belajar tidak teratur. “Karena selain ada yang kerja di rumah, ada orang tua siswa yang masih bekerja normal sekaligus mendampingi anaknya. Jadi enggak bisa setiap hari dan di jam yang sama,” kata Wira.

Perbedaan waktu belajar akibat bervariasinya jam pengawasan orang tua ini menjadi perubahan yang sangat dirasakan tenaga pengajar. Waktu kerja para guru biasanya mulai dari pukul 8 pagi hingga 4 sore. Namun, kelas daring menuntut guru memiliki jam kerja  lebih panjang. Selain itu, dalam pembelajaran di ruang kelas, ketika para siswa tidak fokus, guru bisa menarik perhatian dengan sentuhan, dan sebagainya. Akan tetapi, jika melalui Zoom, guru tidak bisa melakukan hal tersebut. Ini alasan mengapa sistem pembelajaran daring ini sangat mengandalkan partisipasi orangtua.

“Salah satu kesulitannya misalnya kalau siswa melakukan Zoom-nya sendiri dan orang tua tidak ikut terlibat karena sibuk bekerja. Jadi, ketika anak sudah mulai tidak fokus, kami jadi susah. Kami harus berbuat ekstra agar dia memperhatikan kami dan itu sebenarnya lebih melelahkan daripada kegiatan belajar mengajar di kelas,” keluhnya.

Tak jarang, di tengah proses belajar, anak mogok belajar, tidak mau mengerjakan apapun. Di sinilah peran kerja sama para tenaga pengajar dan orang tua untuk menarik fokus anak dengan hal-hal baru di luar pembelajaran. “Biasanya kami siasati dengan ajakan, ‘Yuk, kita senam’ atau ‘Yuk kita tos.’ Bisa juga dengan main tebak-tebakan.”

Beda lagi kondisi ketika pandemi berpapasan dengan penerimaan peserta didik baru. Ini mengharuskan para guru datang ke rumah masing-masing siswa baru, tentu dengan seizin orang tua dan protokol kesehatan. “Kami mencoba melakukan bonding di rumah, tetapi yang kami lihat hasilnya tidak seefektif kami melakukannya di sekolah,” ujar Wira.

Indra memeriksa akun Instagram yang dikelolanya untuk berjualan ikan sebagai pemasukan dan pelepasan stres. Foto Agus Dwi Adnyana.

Keluhan

Terkadang, masih ada orang tua siswa yang mengeluhkan cara adaptasi untuk belajar di tengah pandemi ini. Sama seperti Indra dan Shanti, mereka banyak mengaku stres dengan keadaan ini. Wira mengaku kerap menanggapinya dengan mengingatkan para orang tua bahwa bukan hanya mereka yang mengalami kesulitan, para guru pun juga merasakannya. Pihak sekolah selalu mengusahakan yang terbaik untuk siswa.

“Pilihannya antara mau mengeluh terus, atau mau memakluminya, kemudian bekerja sama dengan kami dan dengan anak,” tegas Wira.

Terlepas dari itu, Wira mengingatkan bahwa sesungguhnya sang anak atau siswalah yang memiliki tingkat stres paling tinggi. Hal ini karena kebutuhan gerak yang biasanya mereka dapatkan di sekolah, kini tidak terpenuhi selama pandemi. Apalagi tidak semua keluarga memiliki rumah dan halaman luas, yang bisa membuat anak nyaman bergerak. “Ada anak yang tinggal di kos bersama orang tuanya yang pemabuk. Bisa dibayangkan betapa sulitnya sang anak dalam kondisi seperti itu,” lanjut Wira.

Maka dari itu, sebagai pihak yang lebih dewasa dan sudah seharusnya bertanggung jawab, orang tua harus mampu mengatasi stresnya sendiri untuk mampu mengatasi stres yang dialami anak.

Berangkat dari keluhan kesulitan para orang tua murid dan jam kerja yang juga memberatkan untuk tenaga pengajar, akhirnya Yayasan Kalyanamitta Bali menyusun strategi baru untuk kelas daring dengan menyesuaikan waktu kegiatan belajar mengajar. Yayasan ini memutuskan untuk membuat tiga kali kelas daring via Zoom dalam satu minggu. Jam mengajar untuk para guru berada di rentang pukul 9 pagi hingga 8 malam. Istirahat para guru dilakukan pada jam makan siang.

Keputusan jam kelas daring juga disesuaikan dengan kondisi orang tua murid. Kunci utama yang terus ditekankan pihak yayasan adalah komunikasi secara intens dengan para orang tua murid. Setiap anak PAUD dan kelas 1 & 2 SD harus didampingi selama kegiatan belajar daring. Wira juga menyatakan bahwa pihak sekolah terus berkomunikasi dengan para orang tua murid. Jika mengalami kesulitan, mereka dapat mengirim pesan pribadi ke guru. Pun jika orang tua ingin pindah jadwal belajar, hal itu dapat dilakukan dengan cara menginfokan kepada guru.

Kelas ini kemudian diselingi dengan pembuatan kegiatan (project) yang harus melibatkan partisipasi orang tua. Project ini merangkum kegiatan apa yang harus dilakukan anak dan orang tua selama satu bulan. Untuk pelaksanaan project pertama, para siswa diberikan project untuk melakukan gerakan mencuci tangan bersama orangtuanya. Ini kemudian dicontohkan oleh para guru melalui aplikasi TikTok. Contoh lainnya, siswa mesti menyanyikan lagu tertentu bersama orang tua di dalam project. Hal ini membuat urusan sekolah tidak hanya semata-mata menjadi tanggung jawab anak, tetapi juga orang tua, bahkan secara langsung.

Dari sisi penyampaian materi, para guru pun kini harus berusaha untuk menjadi lebih kreatif. Situasi belajar daring membutuhkan materi menarik agar para siswa tetap fokus mengikuti proses. Mereka pun belajar bagaimana merancang materi ajar melalui presentasi Power Point yang menarik, dengan emoticon bergerak-gerak dan warna serta gambar menarik mata.

Strategi paling ampuh untuk kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi ini diakui Wira adalah bekerja sama dengan para orang tua siswa. Pihak sekolah pun menyelenggarakan kelas sebulan sekali dengan orang tua. Selain itu, ada pula pertemuan khusus jika ada “kasus” tertentu yang harus didiskusikan bersama orang tua. “Jadi keuntungan pandemi ini adalah guru dan orang tua lebih intensif dalam berkomunikasi, entah via WhatsApp, telepon, atau video call,” ujar Wira.

Namun, bagi sebagian orangtua perempuan, masalah selama pandemi COVID-19 tak hanya tentang mendampingi anak belajar di rumah. Mereka menghadapi masalah lebih besar, kekerasan seksual.

Salah satu kesulitannya adalah kalau siswa melalukan Zoom sendiri dan orang tua tidak terlibat karena sibuk bekerja.
Evi Wirayanti
Ketua Yayasan Kalyanamitta Bali

Kekerasan Seksual

“Bu, saya mengalami kekerasan seksual, saya terus menerus dipaksa berhubungan intim di pagi hari,” adu seorang klien kepada Ni Luh Putu Nilawati, S.H., M.H., Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Bali. Pandemi COVID-19 juga berdampak ke kekerasan terhadap perempuan di Bali.

Klien lain LBH APIK Bali sehari-hari berjualan katering. Awal pandemi COVID-19, ia sakit tifus dan melalui opname. Ia sudah menikah, tetapi suaminya berselingkuh berulang-ulang. Pulang dari opname, tiba-tiba gugatan perceraian datang kepadanya. Ia tidak diizinkan pulang ke rumah dan dilarang bertemu anak-anaknya.

“Kamu sudah saya gugat. Kamu tidak boleh ketemu anak kalau tidak membawa hasil rapid test dan swab,” ucap suami klien tegas kepada perempuan itu. Bak sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Jangankan untuk melakukan tes rapid dan swab, uang si klien sudah habis untuk berobat dan rawat inap.

Akhirnya, Nilawati membantu klien ini mencari surat keterangan miskin ke Kantor Kepala Desa Lodtunduh, Gianyar. Dengan mengundang amarah dari keluarga sang suami, kini kliennya itu sudah sampai pada putusan sidang.

Salah satu kasus perceraian ini adalah salah satu yang ditangani LBH APIK Bali di tengah pandemi COVID-19. Selain kasus itu, banyak lagi kasus lain yang berkembang sejak awal pandemi. Dari satu kliennya ini saja, Nila menemukan sekurang-kurangnya empat kasus yakni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, hak asuh, dan perceraian.

Kasus kekerasan seksual banyak ditemukan karena alasan pandemi. Di Gianyar dan Tabanan sudah banyak, Denpasar apalagi. Pelaku biasanya orang-orang terdekat korban. Salah satu kasus di Tabanan, pelaku kekerasan seksual adalah ayah korban. Sementara itu, ada pula kakek dan paman dari korban yang menjadi pelaku di Gianyar. Para pelaku rata-rata mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempat kerjanya, atau sedang dirumahkan. “Banyak lagi kejadian di kos-kosan, antartetangga kos, lho,” ungkap Nila.

Dari aduan-aduan kasus yang ditemukan, Nilawati menegaskan kekerasan yang dominan terjadi adalah kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan HIV AIDS. Kasus HIV sendiri sekitar 172 kasus dari sekitar 120 orang. Kekerasan seksual dan KDRT benar meningkat di tengah pandemi ini. Hal ini sebagian besar dipicu karena keadaan ekonomi yang memburuk, terutama tumbuhnya rasa keberatan dari sang suami yang mengalami PHK. “Seolah-olah sang suami mengatakan bahwa, ‘Aku sekarang udah di-PHK kenapa kamu enggak meuleh-ulehan? Jual canang-lah, atau apalah,’ begitu,” kata Nila.

Kondisi ini menekan perempuan ketika suaminya di rumah saja, belum lagi anak-anak mereka yang harus belajar daring. Kebutuhan kuota internet yang harus tersedia untuk belajar daring dan tiadanya keringanan biaya SPP sekolah anak, juga menjadi pemicu. “Rumah tangga kalau tidak ditopang dengan orang tua, itu benar-benar hancur. Makanya kekerasan dalam rumah tangga meningkat,” Nila menuturkan.

Banyak perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga maupun tuntutan pekerjaan lebih berat selama pandemi COVID-19. Foto Anggara Mahendra.

Mahalnya Penanganan

Ketika kasus kekerasan terhadap perempuan makin meningkat di tengah pandemi, maka dana untuk menangani kasus pun melonjak pula. Dalam satu tahun ini, LBH APIK Bali telah menangani 23 kasus perceraian. Menurut Nilawati, menangani kasus perceraian itu tidak murah. Satu kasus biasanya mengeluarkan modal Rp 2,5 juta agar bisa sampai ke pengadilan. Dana ini harus dibayarkan di muka atau yang biasanya disebut sebagai panjar biaya perkara. Meski demikian, klien yang tidak mampu menyediakan dana tersebut dapat melampirkan surat tidak mampu dari kepala desa.

Dalam mendampingi kasus, LBH APIK Bali biasanya bekerja sama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Setiap pendamping yang mendampingi kasus akan mendapat dana pendampingan, berkisar Rp 100.000 – Rp 150.000 per kasus. Untuk satu kali pendampingan, pendamping harus mendampingi dari pengadilan, kepolisian dan terakhir ke kejaksaan. Pendampingan ke pengadilan maksimum sebanyak sepuluh kali, di kepolisian empat kali, dan di kejaksaan maksimum empat kali. Sejak pandemi ini sudah ada 9 kasus perceraian dengan nominal Rp 45 juta yang tidak dibayar.

“Sekarang kita sudah berhenti menangani kasus perceraian yang gratis. Lumayan menghabiskan modal kami, selama pandemi ini. Itu istilahnya sudah terutang pemerintah, kementerian, kepada LBH APIK,” lanjutnya. Untuk keberlangsungan selama ini, LBH APIK mengandalkan dukungan dari lembaga donor atau pendukung lainnya. “Kalau enggak ada itu, enggak bisa jalan,” aku Nilawati.

LBH APIK Bali menyiasati tambahan pengeluaran itu dengan mengumpulkan beberapa kasus kemudian menanganinya sekaligus. Dengan demikian, pengeluaran-pengeluaran seperti biaya transportasi bisa dihemat. “Misalnya, untuk kasus di Singaraja, jika sudah ada tiga atau empat sidang, baru kita jalan, agar kami menyewa mobil satu kali saja. Kami ngomong ke pengadilan agar mengusahakan jadwal persidangannya didekatkan,” ujar Nilawati.

Di samping biayanya yang mahal, pandemi membuat penanganan kasus menjadi terbatas karena layanan pengaduan bersistem buka-tutup. Hal ini sama dengan LBH APIK Bali yang menerapkan sistem piket untuk pelayanannya. Jika tidak dalam keadaan darurat seperti klien tidak terluka, tidak harus visum dan tidak harus ke kepolisian saat ini juga, LBH APIK Bali memberikan pelayanan pengaduan melalui telepon (hotline).

Begitu pula halnya di kepolisian, ruang unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) itu kecil sehingga sering kali pengaduan dari LBH APIK akan diterima dengan menunggu jadwal. Padahal menangani sebuah kasus sesungguhnya tidak bisa menunggu. Misalnya, ketika korban mendapat kekerasan seperti dipukul-pukul ringan, visum yang ditunda akan menjadikan barang bukti seperti bekas pukulan itu akan hilang.

Menyiasati kondisi yang semakin sempit ini, Nilawati menyarankan agar korban terlebih dulu memeriksakan dirinya sendiri ke rumah sakit dan menanggung biaya pemeriksaan sendiri dulu. Setelahnya ia bisa datang ke kepolisian dan keterangan pemeriksaan itu dapat dianggap sebagai visum. “Laporan sekarang, periksa sekarang. Kalau lambat kan bisa hilang buktinya,” saran Nilawati.

Tutupnya tempat-tempat pariwisata berdampak terhadap bertambahnya warga yang mengalami stres. Foto Anggara Mahendra.

Kesehatan Mental

Peliknya urusan belajar dari rumah dan maraknya kekerasan terhadap perempuan hanya dua contoh bagaimana pandemi COVID-19 berdampak terhadap wilayah paling privat bagi tiap orang, keluarga. Di luar itu, tiap orang pun mengalami dampak psikologis dan emosi. Orang tua, siswa, guru, dan perempuan, semuanya terdampak secara psikologis.

Emosi itu muncul dalam beragam respon, salah satunya dalam bentuk cemas. Rasa cemas itu wajar ketika seseorang beradaptasi di situasi baru, yang tidak terencana dan mendadak. Namun, menjadi tidak wajar apabila sudah berlebihan.

Dalam prediksi dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ., psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, situasi emosional seseorang dalam menghadapi pandemi COVID-19 berada dalam beberapa fase. Ketika awal pandemi, sekitar Maret-April, seseorang menghadapi cemas pre-crastination. Pada tahap ini, orang-orang bertindak antisipatif. Tipe orang-orang yang punya kecenderungan perfeksionis, detail, dan terencana, mulai terganggu. Hal ini menyebabkan orang-orang mulai mencari informasi dan mereka mendapatkan informasi yang tidak mengenakkan dari beragam media.

Adanya konsumsi media ini menyebabkan antisipasi masyarakat menjadi berlebihan. Kehidupan yang terus berjalan memaksa masyarakat tetap beradaptasi. “Apalagi profesi masyarakat urban ini kebanyakan bergerak di pariwisata atau sebagai penghibur (entertainer), seperti musisi. Semua profesi itu kehilangan ruangnya,” papar pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali ini. Bahkan ketika awal pandemi, mereka (para entertainer) diajak melakukan konser amal, misalnya untuk para sopir ojek online. Mereka yang tadinya masih dalam tahap antisipasi, wait and see, mengalihkannya ke masa fight atau berjuang.

Di masa adaptasi dua sampai tiga bulan, terdengar sayup-sayup informasi bahwa sektor pariwisata akan dibuka. Begitu juga desas desus bahwa pandemi akan berakhir. Kemudian muncul orang-orang yang mempunyai pandangan bahwa kita tidak bisa terus terjebak dalam situasi pandemi. dr. Rai sesungguhnya sepakat dengan semangat tersebut, “Namun, yang menambah ruwet kemudian adalah pikiran-pikiran bahwa virus dan pandemi ini tidak nyata,” ujarnya.

Pascaadaptasi ini menjadi masa yang menakutkan. Masa di mana tabungan tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan dasar dan kasus demi kasus semakin nyata. Mereka yang positif COVID-19 adalah keluarga, orang-orang terdekat, dan orang-orang yang dikenal. Pada masa inilah, orang-orang banyak datang untuk berkonsultasi kepada dr. Rai membawa kecemasannya. Bukan lagi terjadi untuk antisipasi, tetapi karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Inilah yang disebut sebagai masa pro-crastination. Respon ini terjadi karena merasa bahwa ancaman ini sudah lewat. Faktor pendukungnya karena minimnya siaran atau informasi dari pemerintah. Bahkan ada respons yang menyalahkan diri sendiri.

“Dulu kita hafal angka-angka, berapa meninggal, berapa positif, berapa penambahan setiap hari. Sekarang?” tanyanya.

Di tengah krisisnya situasi psikologis seseorang, ada hal yang diam-diam berkembang dalam persepsi masyarakat. Banyak orang lebih mendengar dan percaya terhadap rumor. Artinya, yang membuat kecemasan berlebih ini adalah adanya ketidakpastian. Namun, kalau sekarang kita membicarakan itu, seakan-akan kita membunuh imunitas orang. Kok beritanya jelek? Kurang optimis? Begitu pertanyaannya. “Padahal, demi kesehatan jiwa kita, berita yang baik adalah berita yang realistis. Kita tidak ngomong baik buruk, tapi apa yang terjadi itu yang harus diinformasikan,” tegas dr. Rai.

Banyak orang lupa, cemas itu baik. Reaksi cemas yang wajar, stres yang normal, semuanya baik agar seseorang menjadi waspada dan antisipatif. Justru cemas yang wajar itu meningkatkan imun karena seseorang bersiap-siap, berjaga-jaga. Akan tetapi, yang terjadi saat ini antisipasinya terlalu tinggi sehingga terjadi gangguan cemas yang berlebihan dan membutuhkan penanganan.

“Harapan saya sebenarnya kepastian. Seharusnya negara yang lebih berperan. Negara yang menentukan aturan, membantu menyaring rumor dan memberikan penjelasan,” harapnya.


Rumor Menyesatkan

“Sekarang kita sedang berekspektasi, bahwa kondisi akan menjadi lebih baik. Optimis boleh, tapi ketika ada hal yang buruk terjadi dan tidak sesuai kenyataan apa kita siap dengan kenyataan itu?”

Optimis memang diperlukan tapi tetap menjaga kewaspadaan. Akan tetapi, yang terjadi saat ini, orang yang menyuruh waspada akan disebut menurunkan imun karena mengajak berpikir pesimis. Padahal kewaspadaan justru membuat kita tetap optimis.

“Misal saja, saya masih optimis bekerja setiap hari, tetapi kalau saya disuruh lepas masker, saya enggak mau. Hal yang bisa kita jalani itu di tengah-tengah. Makanya kalau ada ungkapan, ‘enggak mau new normal, maunya true normal’, saya juga mau. Namun, kalau true normal itu membuat kita bertahan lebih lama dengan pandemi ini, ya saya mending enggak memilih true normal,” ujar dr. Rai.

Menurut dr Rai, banyaknya rumor liar yang beredar telah memecah kewarasan masyarakat. Misalnya yang mengatakan agar COVID-19 enggak usah diomongin karena malah bikin cemas. “Memangnya dengan tidak membicarakannya, cemasnya bakal hilang? Kan enggak juga,” cerita dr. Rai.

dr Rai melanjutkan COVID-19 ini tidak bisa berlalu hanya dengan membicarakannya atau tidak. Ketidakpastian soal berapa lama pandemi ini berlangsung memang tidak ada yang bisa menjawab. “Namun, kita tetap bisa berusaha yang terus menerus untuk beradaptasi, bukan berpura-pura,” tegasnya.

Sayangnya, sampai saat ini ada banyak godaan turut menyumbang kekacauan kesehatan mental masyarakat. Misalnya, terdapat rumor bahwa jika tiga bulan tidak pakai masker, seseorang akan kebal dari virus. dr. Rai menegaskan, rumor yang menjadi pemahaman seperti itu perlu diperiksa kembali dengan logika. Orang yang kontak erat tanpa menggunakan APD lengkap, ada peluang 80 persen positif dan masih ada 20 persen kemungkinan negatif. Orang sudah menggunakan APD pun masih punya peluang untuk positif meski kemungkinannya lebih kecil. Logika-logika itu sebenarnya diperlukan untuk menangkal rumor-rumor menyesatkan.

“Cuma, siapa yang harus memberikan rilis-rilis ini setiap hari? Saya pikir itu masih perlu dari satu corong. Kalau dulu cuma ngomong soal data, saat ini meredakan rumor menjadi sangat perlu. Justru rumor seperti itu yang bisa menurunkan imun, menurut saya,” kata dr. Rai.

Situasi seperti ini penting ada peran negara untuk mengayomi. Termasuk membuka kepastian. Langkah paling baik menurut bagi dr. Rai adalah sedini mungkin pemerintah memberikan informasi tepat. Kalau memang kenyataannya kita kebobolan menghadapi pandemi ini, tindakan apa yang kemudian perlu diambil. Dengan begitu, di tengah kenyataan yang tidak sesuai harapan ini, ada pilihan sebagai penyeimbang.

Pemeriksaan suhu tubuh kepada pengendara motor saat PKM di Denpasar. Foto Zul Eduardo.

Menghadapi Stres

Menurut dr. Rai, tingkat stres akan berbeda pada lingkup keluarga dengan lingkup individu. Jika masih lajang, stres terjadi karena kesepian. Sedangkan tingkat stres di taraf keluarga akan lebih besar, misalnya karena beban pengeluaran yang tetap ketika pemasukan menurun, bekerja sambil membimbing anak belajar daring, dan sebagainya.

Ada kebiasaan-kebiasaan baru dalam keluarga yang berbeda dengan situasi sebelumnya, bagaimana sebuah keluarga benar-benar berkumpul di rumah, berinteraksi. Bagi keluarga yang jarang berkumpul, situasi ini bisa jadi pemicu emosi. Ada keluarga yang memiliki cara menghadapi masalah sendiri-sendiri. Namun, ada juga yang menghadapi masalah itu bersama, dengan komunikasi dan berekspresi. Menurut dr. Rai, dalam menghadapi pandemi ini, kita justru harus sering saling berekspresi. Berekspresi akan membuat psikologis kita lebih lega sehingga akan lebih terang dalam menemukan solusi apa yang bisa dilakukan.

Kini, para psikolog mengkampanyekan “I-Message”. Pola komunikasi dalam I-Message ini menjadi salah satu metode yang bisa dilakukan secara terbiasa ketika berkomunikasi. Dengan menyampaikan apa yang dirasakan dari sudut pandang “saya”. Memulai komunikasi dengan kata “saya”. “Saya merasa begini,” “Saya harap bisa begitu,” “Saya ingin begini,” dan seterusnya.

Pola komunikasi ini, menurut dr. Rai, cocok untuk meminimalisir komunikasi yang membingungkan dan praduga. Pola ini memperjelas gambaran perasaan seseorang sehingga kerabat yang diajak berbagi bisa tahu apa yang diinginkan, tidak lagi mengira-ngira. Komunikasi yang mengira-ngira itu akan lebih buruk.

Di sisi lain, meluangkan waktu bersama menjadi salah satu solusi yang direkomendasikan dr. Rai di tengah pandemi ini. Menurutnya, apapun yang terjadi di masa depan, kalau kita bisa menikmati masa kini, maka itu adalah solusi yang terbaik. Soal nanti takut kehilangan pekerjaan, takut bagaimana masa depan anak-anak, itu adalah persoalan masa depan.

“Sekarang kita masih makan, sekarang kita masih bekerja, sebaiknya kita menikmati itu dengan anak, dengan keluarga. Kalau sampai di rumah, bertemu anak, ya kita nikmati, entah itu dengan mendongengi mereka, memberikan waktu lebih banyak. Jangan sampai karena masa depan, kita tidak menikmati masa kini,” ujar dr. Rai.

dr. Rai mengingatkan bahwa terlepas dari adanya krisis atau tidak, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisinya nanti. Pola pikir seperti itu yang diperlukan. Terpakunya pikiran orang tentang bagaimana agar kita bisa hidup seperti sebelum pandemi, itu yang buruk. “Padahal, adanya krisis atau tidak, kita pasti akan berubah,” katanya.

Pemeriksaan terhadap pedagang di Pasar Badung, Denpasar, Bali. Foto Zul Eduardo.

Memulai Usaha

Indra dan Shanti merasakan perubahan di tengah krisis pandemi, sebab kini mereka justru mampu menjalankan sebuah bisnis bersama. Indra ingat betul saat pertama kali memutuskan mulai berbisnis ikan segar pada awal Mei lalu, hal yang tak pernah ia pertimbangkan sebelumnya. Ia sempat mengaku bahwa berbisnis sama sekali bukanlah jiwanya. Ia kerap kali menolak ditawarkan bisnis multi level marketing oleh teman-temannya. Kendati bekerja di bidang sales dan marketing, ia berpendapat bahwa berjualan produk itu berbeda jauh dengan berjualan kamar hotel.

Berawal dari pertanyaan yang diam-diam menantang dari kakak iparnya, “Kalian bergerak juga, dong. Kok diam saja?” Indra dan Shanti memang ingin memulai bisnis, tapi bingung karena sudah banyak orang berjualan makanan di tengah pandemi, dan mereka juga tak pandai memasak. Lalu terlintas di pikiran sang ipar, ia teringat orang-orang berjualan ikan di pinggir jalan saat pulang ke kampung halamannya. Terceletuklah saran agar mereka berjualan ikan segar saja.

Indra menerima saran itu. Ia memulainya dengan membeli ikan kembung di kampungnya, Karangasem. Ia juga memulai sebuah akun Instagram untuknya berjualan dengan nama @numbasbe. Indra dan Shanti kemudian belajar tentang strategi penjualan, strategi pemasaran melalui media sosial, apapun yang dapat membuat mereka sukses dalam menjalankan bisnis baru mereka ini.

Jika terus menerus mengambil ikan di Karangasem ketika beroperasi di Denpasar dan sekitarnya, Indra dan Shanti akan merugi. Mereka kemudian memutuskan untuk membeli suplai ikan di Pasar Kedonganan, Jimbaran. Mereka menemui salah satu penjual di sana dan berlangganan untuk mengambil ikan dari satu penjual tersebut di setiap akhir pekan. Tak disangka, mereka justru sukses menjual ikan-ikan segar tersebut tak hanya ke teman-teman terdekat.

“Ada orang asing yang tiba-tiba mengirim pesan ke kotak masuk kami, menanyakan harga. Itu kebanggaan saya sama istri karena kini tidak hanya teman kami saja yang menjadi pelanggan,” tutur Indra.

Sang penjual ikan langganan mereka di Pasar Kedonganan pun turut senang dan tidak menyangka bahwa Indra yang masih pemula mampu membeli ikan senilai lebih dari Rp 1  juta. Mereka pun mendapatkan bonus dari penjual, ikan untuk digoreng di rumah. Di titik itulah Indra menyadari keinginannya untuk menekuni pekerjaan sampingan ini bersama istrinya.

Kini bisnis ikan segar Indra dan Shanti sudah memiliki pelanggan tetap yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Dalam seminggu setidaknya pasti ada yang memesan. Bahkan setiap dua minggu sekali ada langganan dari Ubud juga. Kendati demikian, dalam berbisnis pasti terjadi pasang surut. “Misalnya dalam seminggu ini kita bisa jualan sampai 32 kg, minggu depannya bisa jadi sepi,” kata Indra.

Indra yang mulanya tidak punya kemampuan menjual produk, kini telah belajar dari nol serta terus mencoba strategi baru dalam menjual ikannya. Kegiatan ini diakuinya juga sebagai bentuk pelepasan stres sembari menutup pemasukan keluarga yang tersendat selama pandemi. Ia dan Shanti tak menyangka pekerjaan yang awalnya dilakukan dengan iseng ini akhirnya mampu berjalan dan menghasilkan.

Stres memang wajar dialami seseorang dalam pandemi. Namun, Indra dan Shanti memilih untuk tidak berkubang terlalu lama di dalamnya. Ternyata ada hikmah yang bisa mereka temukan. “Gaji kami memang dipotong, tapi kami jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak, dan sekarang bisa buat usaha kecil-kecilan,” tutup Indra dengan senyum.

Jika Indra dan Shanti memilih melepaskan stres dengan berjualan, sekaligus sebagai cara untuk beradaptasi dengan pandemi COVID-19, maka ada pula yang melakukan hal serupa dengan metode berbeda, berkebun.

Potret Dewa Komang Yudi Astara, Perbekel Desa Tembok, Buleleng yang membuat program kerja dan ketahanan pangan untuk warganya yang terdampak pandemi Covid-19. Ia membuat puluhan lapangan pekerjaan di desa dan menginisiasi warga untuk kembali bercocok tanam. Selama pandemi, masalah ekonomi membuat sekitar 500 warganya kembali ke desa karena kehilangan pekerjaan. Foto: Anggara Mahendra.

Menyiapkan Pangan

Salah satunya kebun komunitas Denpasar Utara, tepatnya di Banjar Tegeh Sari, Kelurahan Tonja. Kebun ini berawal dari inisiatif kelompok Satuan Gugus Tugas (Satgas) Banjar Tegeh Sari untuk penanggulangan virus corona. Sedari awal mereka menamai diri mereka sebagai Satgas Banjar Berdaya dengan harapan mampu memberikan daya atau kemampuan, termasuk juga inovasi untuk membuat kebun.

“Dengan begitu, kita dapat melewati situasi pandemi ini bersama-sama,” ungkap Putu Gede Himawan Saputra, Kelian Adat Tegeh Sari.

Himawan sadar, saat krisis seperti ini, soal pangan menjadi hal krusial. Maka melalui inisiatif warga dan dorongan selaku Prajuru Banjar terbentuklah kebun komunitas bernama Kebun Berdaya. Menurutnya, pandemi merupakan momentum untuk menunjukkan pentingnya ketahanan pangan. Selain itu, berkebun juga bisa menghasilkan pangan bergizi dan berfungsi sebagai ajang refreshing.

Warga yang tahu adanya inisiasi kebun ini perlahan jadi antusias. “Bahkan ada masyarakat yang menyumbangkan bibit dan pupuk. Kalau tidak, mereka akan menyumbangkan tenaganya,” ungkap Himawan.

Banyaknya lahan kosong di wilayah Banjar Tegeh Sari yang terbengkalai dan berakhir menjadi tempat sampah menjadikan warga bahu membahu mengolahnya. Penentuan lahan yang akan digunakan sebagai kebun pun sudah berdasarkan perarem (keputusan adat) banjar, yakni lahan kosong yang tidak digunakan, tidak dipagari, dan tidak dibersihkan oleh pemiliknya.

Himawan menyadari bahwa bansos dari pemerintah merupakan bantuan instan dan tidak berkelanjutan. Pun bantuan pangan dari pemerintah kebanyakan berupa makanan instan yang kurang sehat. Hal itu menunjukkan kontradiksi karena untuk menangkal virus korona, kita harus menjaga imunitas tubuh.

Kelian Banjar Tegeh Sari, Gede Himawan (kanan) dan Ketua Satgas Banjar Berdaya COVID-19, Gede Mantra Yasa (kiri), berpose disamping monumen virus korona di Kebun Krama. Foto oleh Agus Dwi Adnyana.

Media Pembelajaran

Mengenai imunitas tubuh dan berkebun, tampaknya Gede Mantra Yasa selaku Ketua Satgas Banjar Berdaya COVID-19 melihat keterkaitannya. Menurutnya, “Berkebun dapat menyentuh berbagai aspek seperti ekologi, edukasi, ekonomi dan kesehatan,” ujarnya.

Mantra optimis Satgas Banjar Berdaya akan membuat beberapa program ke depan, seperti pasar sayur organik yang sekaligus menyediakan halaman parkir kebun untuk senam lansia tiap minggu pagi. Lalu, pelatihan berkebun organik dengan menggandeng beberapa teman dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ia juga berharap untuk mengadakan edukasi kepada para siswa TK Banjar Tegeh Sari, mengenalkan tumbuhan dan binatang di areal kebun dengan harapan tumbuhnya rasa cinta lingkungan sejak dini.

Selain itu, berkebun juga dapat merekatkan hubungan antarwarga Banjar Tegeh Sari yang notabene merupakan warga pendatang. Ada kemungkinan warganya bersifat cenderung individualistik. Di sinilah berkebun dapat menjadi media untuk belajar bersosialisasi atau membuat guyub antarwarga dari berbagai usia.

Walaupun begitu, inisiasi Kebun Berdaya bukannya tanpa tantangan. Satgas Banjar Berdaya awalnya sempat kesulitan membebaskan lahan dari timbunan sampah. Mereka pun sesungguhnya awam akan ilmu mengolah tanah, tumbuhan, dan hama. Tantangan lainnya adalah mengajak warga supaya tertarik ikut berkebun. Semuanya harus dilakukan perlahan-lahan.

Untuk meminimalisir hal tersebut, prajuru banjar dan tim satgas akhirnya menggandeng berbagai komunitas dan LSM. Misalnya Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) di bidang ketahanan pangan, Alam Santi yang bergerak di bidang permakultur, dan Lele Biomaksi Bali untuk mendampingi pembudidayaan ikan lele.

Salah satu orang yang terlibat secara sukarela ialah I.B. Putu Wahyu P. Sarjana Pertanian ini bekerja di sebuah LSM yang bergerak di bidang pertanian organik. Pemuda asal Singaraja ini tertarik terlibat dalam inisiasi Kebun Berdaya. Ia terlihat antusias saat meladeni orang-orang yang bertanya perihal berkebun.

Secara pribadi, Wahyu memiliki kesadaran dan berakhir pada gelisah mengenai makanan yang dikonsumsinya setiap hari, berapa racun yang ikut kita makan bersamanya. “Tubuh kita, kalau bisa teriak, dia kayaknya sudah berteriak,” celetuknya. Berangkat dari kegelisahan dan bekal pengetahuan itulah, ia bersedia memberi penyuluhan pada warga yang berkunjung di areal kebun mengenai tanaman organik.
 
Hampir satu tahun berada dalam kondisi yang begitu membatasi ruang gerak satu sama lain membuat urusan perut sama pentingnya dengan menjaga kestabilan emosi dan psikis. “Dibentuknya kebun berdaya ini tidak ingin berfokus pada hasil, tetapi mengajak masyarakat untuk melihat proses,” tegas Mantra yang juga merupakan anggota KAGAMA.

Melalui berkebun, seseorang dapat belajar sabar, tenang, hidup di saat ini, bahkan menjadi manusia yang reflektif. Pandemi yang telah memperlambat kecepatan rutinitas manusia menjadi waktu yang tepat untuk memulai berkebun. Berkebun mungkin tak melulu menghasilkan nilai ekonomis, tetapi ada kepuasan lain yang didapatkan seseorang ketika berhasil merawat kebun dan elemen di dalamnya menjadi  subur.

Itu pula yang dirasakan salah seorang ibu yang merupakan anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banjar Tegeh Sari. Baginya, jika diukur dengan nominal uang, kita akan mendapatkan sayuran dengan harga yang lebih murah di pasar dibanding yang ditanam sendiri. “Tapi ketika kita merawat tanaman, kemudian memanen sendiri, rasanya beda. Seperti ada kepuasan batin di sana,”  tutupnya dengan tawa lepas.

Anak muda Banjar Tegeh Sari di Kebun Berdaya Pemuda. Foto Agus Dwi Adnyana.

Memetik Hikmah

Hingga 11 November 2020, kasus korona sudah menembus angka 52.364.465 di seluruh dunia dengan angka kematian sebanyak 1.288.067. Sementara itu, terdapat 12.430 kasus positif di Bali, dengan 11.433 di antaranya dinyatakan sembuh. Angka-angka ini akan terus meningkat dan tiada yang tahu kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir. Ketidakpastian soal berapa lama pandemi ini berlangsung memang tidak ada yang bisa menjawab. “Namun, kita tetap bisa berusaha yang terus menerus untuk beradaptasi, bukan berpura-pura,” ujar dr. Rai.

Adaptasi inilah yang sudah dilakukan oleh keluarga Indra dan Shanti, Yayasan Kalyanamitta, LBH Apik Bali, dan warga Banjar Tegeh Sari. Mereka mencoba untuk tetap bergerak dan melanjutkan hidup di tengah pandemi, meski harus memodifikasi rutinitas yang biasanya dilakukan.

dr. Rai pun menambahkan catatan, bahwa keadaan yang diterima dan dihidupi dengan kompak serta dihadapi risikonya dengan cepat tepat, maka keadaan tersebut tentu akan dapat dilalui. Hal yang sama juga berlaku dari sisi kesehatan mental yang harus betul-betul dijaga selama pandemi. Inisiasi bisnis kecil-kecilan Indra dan Shanti ataupun yang berskala komunitas seperti Kebun Berdaya, menunjukkan bahwa kekompakan dapat membuat seseorang memetik hikmah dalam pandemi ini.

“Dalam menghadapi wabah, masyarakat harus kompak. Kalau tidak kompak ya pecah. Begitu saja,” tegasnya. [b]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com