Liputan Mendalam

Energi Konservasi Penyu Derawan di Masa Karantina

Oleh: Novi Abdi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

“Untuk tahun ini yang pertama, kak,” jawab saya. Siapa yang bisa jalan-jalan dengan lapang sebab COVID-19 ini?

Pulau Derawan sekitar 30 menit dari Tanjung Batu di daratan utama Kabupaten Berau. Waktu tempuh itu didapat dengan naik speed boat kapasitas 6 orang dewasa yang ditempeli mesin 2 langkah berkekuatan 40 Paardenkracht (alias mesin 40 PK), dan pada cuaca cerah pukul satu siang dan angin sepoi-sepoi. Berapa pun jumlah penumpang speedboatnya. 

Saya kira dulu berjam-jam. Satu jamlah setidaknya. Dalam perjalanan saya yang dulu setidaknya. Barangkali sebab angin kencang dan gelombang agak besar. 

“Baru pertama ke Derawan?” tanya emaknya si Amar. Dia menyebutkan namanya, tapi raung mesin speedboat membuat saya tak jelas mendengar kecuali nama anak lelaki 2 tahun yang digendongnya. 

“Untuk tahun ini yang pertama, kak,” jawab saya. Siapa yang bisa jalan-jalan dengan lapang sebab COVID-19 ini?

“Oh, iya. Tapi ini memang sudah mulai ramai lagi orang ke Derawan. Hanya bule yang belum datang lagi.” 

Indra Mahardika Kaur Perencanaan Kampung Pulau Derawan

“Tiga bulan pertama sejak COVID-19 masuk Indonesia, kami lockdown sendiri,” kata Kepala Urusan Perencanaan Kampung Pulau Derawan Indra Mahardika. Masyarakat bersama pemerintah kampung memutuskan tidak menerima kunjungan wisatawan untuk sementara. Keselamatan dan kesehatan penduduk menjadi hal utama.COVID-19 mulai terdeteksi di Indonesia Januari 2020. Pasien pertama di Kaltim muncul di minggu ketiga bulan Februari.

“Sejak Maret kami sudah tidak terima tamu lagi,” lanjut Indra. Indra anak muda, baru di pertengahan usia 20an. Lahir dan besar di Pulau Derawan. Baru untuk kuliah ia keluar kampung dan mukim di Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Indra jadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mulawarman. Setelah lulus tahun 2017, ia sempat bekerja untuk beberapa perusahaan tambang batubara dan kebun kelapa sawit, sampai akhirnya memutuskan balik pulang untuk membangun kampung. 

“Kebetulan ada seleksi untuk menjadi perangkat kampung. Saya ikut mendaftar, dan jadi lulusan terbaik,” ceritanya. Jadilah Indra Kepala Urusan Perencanaan Kampung Pulau Derawan.  

Cottages di Pantai Selatan Pulau Derawan

Menurut pemilik-pengelola Miranda Cottage, Mahyudin, pariwisata menjadi tumpuan utama hidup orang di Derawan sejak 2008. Event besar Pekan Olahraga Nasional (PON) di mana Berau-Derawan menjadi tuan rumah bagi cabang olahraga selam dan layar mengubah pekerjaan penduduk itu dari nelayan menjadi berbagai pilihan dalam bisnis wisata.

“Ada yang buka penginapan seperti saya,” kata Mahyudin. Ada yang buka rumah atau warung makan karena dirinya atau istrinya jago masak, ada yang bikin persewaan alat selam, persewaan sepeda buat jalan-jalan keliling pulau, pengaturan transportasi dari Tanjung Batu ke Derawan atau keliling ke pulau-pulau Maratua-Kakaban-Sangalaki, motoris speedboat, hingga guide atau pemandu wisata, termasuk pemandu penyelaman yang memerlukan pelatihan dan izin khusus. 

“Sejak 2008 itu kita yakin bisa hidup dari pariwisata,” kata Mahyudin lagi. Ratusan atlet dan ofisial dari kedua cabang yang bertanding dan tinggal berminggu-minggu di Derawan atau pun di Tanjung Batu, lalu atlet dan ofisial cabang lain yang menyempatkan ke Derawan untuk berlibur, benar-benar memberi pemasukan lebih daripada menantang angin laut menangkap ikan. 

“Sebelum itu hanya 30 persen penduduk yang bekerja di sektor pariwisata, 70 persen nelayan. Sekarang terbalik, 70 persen lebih bekerja di pariwisata, dan 30 persen yang masih jadi nelayan pun turut bergantung pada pariwisata sebab hasil tangkapannya lebih banyak dijual ke rumah-rumah makan di sini juga,” papar Indra.

Pulau Derawan

Sebelum 2008, tentu saja, sudah ramai orang berkunjung ke Derawan. Keindahan taman bawah lautnya sudah memesona khalayak pencinta wisata bahari. 

Nama Derawan sudah populer di telinga dan lidah para penyelam dari seluruh dunia. Bahkan juga tidak hanya Pulau Derawan, tapi Kepulauan Derawan, di mana ada Pulau Maratua, Kakaban, Sangalaki, Semama. 

Semuanya menampilkan keindahan alam bawah laut karang dan ikan-ikannya. Juga penampakan satwa eksotis seperti pari manta (Manta birostris), ikan barakuda (Sphyraena), dan dua spesies penyu (penyu hijau Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). 

“Dan di masa itu, orang berkunjung ke Derawan bukan untuk melihat matahari terbit atau tenggelam, atau menikmati jalan-jalan di pasir putih, tapi untuk melihat penyu bertelur, untuk snorkling atau pun menyelam melihat keindahan karang di bawah laut,” kata Ading Kurnadi, warga yang lahir tahun 1956 di Pulau Derawan. 

Melihat penyu dan menyelam bisa dimasukkan ke dalam wisata dengan minat khusus. Untuk menyelam diperlukan keterampilan teknis, untuk bisa memahami dan menikmati peristiwa alam melihat penyu bertelur dan membawa tubuh bongsornya merayap di pasir kembali ke laut memerlukan pemahaman tersendiri akan peran penyu di alam. 

Wisatawan jenis seperti umumnya tidak menuntut akomodasi yang mewah atau dalam ukuran hotel berbintang. Bahkan turis asing, apalagi yang berpergian dengan gaya backpacker, sangat menikmati tinggal di homestay bersama keluarga lokalnya. 

Menurut Mahyudin, sebelum 2008, bahkan penginapan yang ada sebagian besarnya adalah homestay alias penduduk yang menyewakan kamar di rumahnya bagi pelancong untuk menginap, sementara ia juga tinggal di rumah yang sama. Cottage atau penginapan dengan kamar-kamar terpisah baru ada sejumlah hitungan jari di tangan. 

Transportasi, yaitu speedboat dari Tanjung Batu ke pulau-pulau, atau terutama ke Pulau Derawan dan Maratua, belum ada yang reguler. Begitu pula transportasi darat berupa mobil dari Tanjung Redeb di mana bandara berada ke Tanjung Batu tempat pelabuhan, harus disewa. 

“Dulu itu ya yang benar-benar niat yang mau datang,” kata Daud, 60 tahun, pemilik homestay dan warung es campur di persimpangan Jalan Sitaba dengan jalan menuju Masjid Jami. Apalagi sinyal komunikasi telepon seluler masih hilang timbul. 

Menjelang tahun 2008, untuk persiapan PON, seperti mendadak semua dikebut untuk berubah. Berbagai fasilitas bermunculan atau ditingkatkan kualitasnya. 

Pasca PON, Derawan semakin populer sebagai tempat tujuan wisata bahari kelas dunia. 

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, sepuluh tahun kemudian di tahun 2017 ada 172 homestay, 107 hotel dan penginapan, serta 10 unit resort atau cottage.

Di tahun 2017 itu juga terjadi peningkatan jumlah wisatawan hingga 166 persen dari tahun 2016. Seluruhnya ada 207.780 orang yang terdiri dari 4.376 orang wisatawan mancanegara dan 203.404 orang tamu wisatawan nusantara. 

Tahun 2019, sektor pariwisata menyumbang Rp39 miliar dari Rp3,4 triliun APBD Berau, nomor tiga terbesar setelah perkebunan dan pertambangan batubara. 

“Selama 13 tahun terakhir itu, ekonomi sangat baik bagi warga Pulau Derawan. Orangtua sanggup menyekolahkan kami tinggi-tinggi,” kata Indra. Ia pun menunjuk dirinya sebagai satu dari yang menikmati kemajuan itu. Generasi seangkatannya ada yang kuliah di kampus-kampus ternama di Jawa, di kampus yang dibiayai negara atau pun kampus swasta. 

Jalan Sitaba, jalan Utama Pualau Derawan

“Jadi dari Maret hingga Mei 2020 Pulau Derawan tidak menerima kunjungan satu pun wisatawan dari mana pun,” cerita Indra. Pun juga sebaliknya. Banyak yang sudah merencanakan untuk berkunjung membatalkan keberangkatannya. 

 

“Bagaimana orang mau ke sini, di kotanya sendiri pun lockdown. Tidak ada penerbangan, tidak ada transportasi, semua ditutup, atau setidaknya dibatasi. Semua orang mau selamat dulu, bukan jalan-jalan jauh sampai sini,” kata Indra lagi. 

 

Maka tak ada yang bisa dilakukan hal pariwisata selain tetap memelihara komunikasi dengan semua kontak dan berharap wabah cepat berlalu. “Sampai kapan? Saat itu, bahkan juga sampai sekarang, belum ada seorang pun yang tahu pasti,” Indra menghela napas. 

Jalan Sitaba, jalan utama Pulau Derawan di sisi selatan pulau, pun menjadi lengang. Pintu-pintu kamar cottage tertutup rapat. Tidak ada dengung mesin penyejuk udara. Sepeda-sepeda yang biasa disewakan untuk turis jalan-jalan keliling pulau berjejer-jejer penuh di halaman persewaannya. Pelampung, fin, dan snorkle tergantung kering.

Maret pun berlalu, April lewat.

Ading Kurnadi - Penyelamat Penyu

Lelaki berkulit legam biasa terbakar matahari itu dikenal anak-anak kecil sebagai Kai Ading Penyu (Kakek Ading Penyelamat Penyu) karena komitmennya menyelamatkan telur-telur penyu dari predator, termasuk dari manusia—yang di Pulau Derawan berarti tetangga-tetangganya sendiri. 

Ading Kurnadi menuturkan, mencintai penyu, alam, dan lingkungan adalah warisan orangtuanya. Ayahnya seorang nelayan yang bernama Gebong, mengajarkan, bila kita baik pada alam, maka alam juga akan memberikan yang terbaik pada kita. 

Ajaran itu yang dipegangnya teguh, dan terutama diterapkannya pada penyu yang karena nalurinya, menjadikan Pulau Derawan sebagai tempat bertelur untuk menciptakan generasi baru. Padahal pula, telur penyu dipandang sebagai komoditas untuk mendapatkan keuntungan, termasuk di Pulau Derawan. 

Telur penyu diburu untuk dijual. Dibandingkan telur ayam, telur penyu berkali lipat lebih mahal, antara lain karena khasiatnya. Di Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur, 600 km lebih dari Kepulauan Derawan, harga telur penyu pernah mencapai Rp100 ribu per bungkus isi 4 butir. 

Karena itu, di Berau, telur penyu pernah jadi komoditi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). Untuk memastikan besaran PAD itu, panen telur penyu bahkan dilelang. Siapa yang bisa memberikan PAD paling besar, maka berhak atas konsesi panen telur penyu di Pulau Derawan, Sangalaki, Mataha, Bilang-bilangan, dan Blambangan. 

“Pernah ada yang bayar Rp1 miliar untuk bisa memanen telur penyu setahun penuh,” kata Prawira Harja, Kepala Resort Taman Wisata Alam Pulau Sangalaki dan Suaka Margasatwa Pulau Semama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Berau. Hal tersebut berlaku sampai akhirnya pemerintah memberlakukan konservasi sepenuhnya atas penyu dan berbagai satwa dan tumbuhan lainnya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999. 

“Setelah itu ada program dari Dinas Perikanan Berau untuk memberikan insentif bagi nelayan yang mau memelihara tukik selama 3 bulan untuk dilepasliarkan,” cerita Ading. Jumlah tukiknya sekali pelihara dijatah 300 ekor. Besaran insentifnya Rp15.000 per ekor.

Seiring waktu, berbagai macam program penyelamatan penyu oleh berbagai lembaga, terutama oleh lembaga non pemerintah. Ading selalu terlibat setiap upaya itu, apakah dengan Yayasan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, dengan The Nature Conservancy (TNC), hingga yang terakhir BKSDA berencana membuat hatchery (tempat penetasan) di Pulau Derawan. 

Menurut Ading, dengan siapa pun lembaga atau apa pun programnya, yang dikerjakannya pada dasarnya sama, yaitu memastikan penyu tidak diganggu saat naik ke darat untuk bertelur, menggali lubang dan bertelur dengan aman, dan kembali ke laut dengan selamat. Kemudian, bila posisi sarang tidak aman, maka juga menjadi tugasnya untuk memindahkan telur-telur itu ke tempat yang aman.  

“Kan tetap saja ada perdagangan gelap telur penyu, walaupun penangkapan penyu untuk dimakan dagingnya, atau diambil karapasnya untuk jadi perhiasan, sudah jauh berkurang,” jelas Ading. Untunglah, ujarnya, pariwisata kemudian berjalan seiring dengan konservasi. Selain datang sebagai wisatawan, juga melihat penyu bertelur dan menyaksikan keindahan terumbu karang. Lambat laun, tumbuh kesadaran untuk terlibat dalam konservasi. 

Selain program penyelamatan penyu yang silih berganti dari berbagai lembaga, baik dari pemerintah mau pun non pemerintah, pengunjung perorangan juga dengan senang hati menyumbang uang.  Ading bisa menghemat tenaga, dengan tidak seharian menjadi motoris speedboat atau memancing di laut.

Ketika pariwisata tengah ramai-ramainya, Ading bisa fokus begadang tiap malam menunggui penyu yang akan naik ke pantai untuk bertelur. Ia bahkan bisa mengajak beberapa tetangga yang peduli dan anak-anak muda yang langsung dididiknya sendiri untuk bersama-sama menjaga penyu.

“Meskipun saya tidak cari untung dengan menyelamatkan telur penyu dan menetaskan tukik (anak penyu), tapi program dan kepedulian pengunjung itu membantu kami menjaga penyu, telurnya, dan tukiknya, dengan lebih baik lagi,” kata Ading di rumahnya di RT 3 Jalan Sitaba.

Lalu COVID-19 datang, Pulau Derawan lockdown. Tidak ada pengunjung. Maka seperti lelaki Derawan lainnya, Ading pun kembali ke laut untuk memancing. Bersama beberapa teman ia pergi ke Pulau Panjang tak jauh di utara Pulau Derawan, juga ke gusung-gusung di sekitaran. 

Mereka memancing ikan dapa, ikan ketambak, atau memukat ikan putih. Bila lagi beruntung, bisa dapat banyak ikan ketambak yang harga jualnya Rp15 ribu per kg, atau ikan dapa yang Rp20 ribu per kg. 

Ia juga menyelam untuk mengambil teripang susu yang harganya lumayan, antara Rp80-200 ribu per ekor tergantung ukurannya. Harga ikan kerapu merah juga masih bisa tahan di Rp150.000 per kg, atau kerapu macan yang Rp135.000 per kg, sementara seekor kerapu macan bisa berbobot 7-8 kg. 

“Tapi namanya mancing, tidak selalu dapat. Bisa saja sekali mancing dapat ikan dapa 5-7 kg, atau beberapa kg ikan ketambak, atau satu saja kerapu macan,” cerita Ading. Ikan dijual kepada pengepul di kampung, dan cukuplah uang belanja hari itu hingga esok lusa. 

“Tapi tidak ada lebih untuk menjaga penyu,” lanjutnya. Untuk patroli menjaga pantai agar penyu hijau mau naik dan bertelur, dan agar telur tak diambil atau disikat predator, Ading dan teman-temannya yang peduli perlu baterai untuk senter, sekadar air minum dalam botol, kopi, dan rokok. 

Saat sedang tidak ada program apa pun dengan lembaga pemerintah maupun non pemerintah seperti saat ini, namun pariwisata masih berjalan normal, biaya operasional itu bisa ditanggulangi dari sumbangan pengunjung. Nah, bagaimana ketika sedang tidak ada pariwisata seperti sekarang? Ading mengambil jalan pintas. Ia menjual speedboat yang sehari-hari digunakannya mencari nafkah dengan mengangkut penumpang Derawan-Tanjung Batu.

“Laku Rp25 juta. Lumayan untuk bertahan lebih baik lagi, dan ada lebih untuk menjaga penyu,” kata Ading tersenyum. Speedboat itu hadiah dari anak-anaknya. Mereka, tiga anak perempuan yang sudah mandiri dan mengabdi menjadi aparatur sipil negara di kecamatan lain di Kabupaten Berau, ingin orangtuanya tetap aktif di masa tua agar tetap sehat. 

Anak sulung seorang bidan, jadi sangat paham akan kesehatan fisik, sementara yang bungsu seorang guru taman kanak-kanak yang mengerti psikologi perkembangan.

“Usia saya 66 tahun, alhamdulillah, tidak ada keluhan apa-apa kecuali darah tinggi. Barangkali sebab begadang dan merokok. Tapi kemarin sudah diobati, sebab mau vaksin lansia,” ujar Ading tersenyum. Tekanan darahnya saat itu tidak memenuhi syarat untuk divaksin COVID-19.

Setiap malam di Pulau Derawan, di sisi utara, di bagian pantai yang sengaja tidak dihuni hingga ke ujung timur ke cottage yang dikelola PT Kiani, masih ada penyu hijau naik untuk bertelur. Menurut Ading, jumlahnya 1-2 ekor di luar musim bertelur, dan 4-5 ekor diantara bulan Juni hingga September. 

Jumlah ini sudah sangat sedikit dibandingkan masa lalu. Di Pulau Sangalaki misalnya, yang bagian dari Kepulauan Derawan, rata-rata 150 ekor setiap malam di dekade 1970an. Sekarang di tahun 2020, rata-rata 25 penyu setiap malam naik untuk bertelur. “Lebih langka lagi penyu sisik. Dalam 7 tahun ini, hanya  sekali penyu sisik naik bertelur di Derawan. Saat itu, telurnya mencapai 120 butir,” ingat Ading. 

Sekali bertelur, penyu hijau menghabiskan 3-4 jam di darat. Begitu sampai di bagian pantai yang menurutnya cocok, induk penyu mulai menggali lubang menggunakan dua sirip depannya. Pertama ia membuat lubang untuk dirinya (body pit), dan kemudian dengan dua sirip belakang menggali lubang antara 30-50 cm untuk telur-telurnya.

Induk penyu bisa mengeluarkan 80-120 telur ke dalam lubang itu selama lebih kurang satu jam. Begitu selesai, induk penyu menutup lubang itu dengan kedua sirip depannya, dan segera kembali ke laut. 

“Begitu penyu kembali ke laut, bila perlu, kami gali kembali sarang itu untuk mengambil telurnya, untuk dipindahkan ke tempat yang aman. Aman dari pemangsa seperti biawak, burung, dan manusia,” terang Ading. Satu tempat aman itu adalah satu lahan di belakang rumah Ading yang dikelilingi pagar kayu rapat setinggi 2 meter. 

Lahan kira-kira seluas 12 meter persegi itu sudah pula dikelilingi rumah-rumah tetangga. Di balik pagar kayu itu ada hatchery, tempat dikuburnya telur-telur penyu yang baru dipindahkan dari sarang. Ading dan anak-anaknya selalu mencatat hari dan tanggal mereka memindahkan sarang tersebut, untuk memperhitungkan kapan telur-telur yang dierami panas pasir itu menetas. 

“Rata-rata 58 hari atau 2 bulan. Wah, kalau sudah banyak menetas, ramai sekali,” cerita Ading semringah. Apalagi, saking banyaknya telur yang harus dijaga, Ading dan para pemuda yang disebutnya anak-anaknya itu, serta tetangga yang peduli, juga menanam telur penyu di halaman depan rumah Ading karena hatchery di halaman belakang sudah penuh. 

“Kebahagiaan saya itu melihat penyu-penyu ini menetas dan kemudian bisa berenang bebas ke laut lepas. Apakah nanti mereka bisa mencapai usia dewasa dan kembali bertelur ke Derawan ini, saya hanya bisa berdoa,” kata Ading lagi. Ia sekali lagi mengingatkan bahwa pertama kali turis datang ke Kepulauan Derawan sebagai wisatawan adalah untuk melihat penyu bertelur dan menyaksikan keindahan terumbu karang.

Penetasan Tukik

Selama 3 bulan menutup diri, warga Pulau Derawan tetap mengikuti perkembangan penanganan COVID-19 oleh pemerintah. Ketika di bulan Juli 2020 ada berbagai kelonggaran untuk mengembalikan perekonomian, Derawan langsung kembali membuka pintu. “Saat itu untuk wisatawan dari Berau sendiri, sebagai ujicoba dan latihan menerapkan protokol kesehatan,” tutur Indra. 

Masuk ke Derawan, ke penginapan, ke cottage, wajib mengenakan masker, harus disiplin untuk mencuci tangan, dan selalu ingat untuk menjaga jarak dengan orang lain. Semua tempat umum pun menyediakan tempat cuci tangan. “Bahkan juga tamu wajib pegang surat rapid test dengan hasil negatif,” tambah Indra.

Bagi sebagian warga Derawan, mengenakan masker adalah hal yang alamiah. Merekalah para motoris speedboat yang setiap hari menghadapi angin haluan dan berhadapan langsung pertama kali dengan para pendatang. 

“Sedari dulu kami pakai masker. Tutup mulut, hidung, pakai kacamata hitam, pakai topi. Dulu bukan karena COVID, tapi karena melawan angin saat bawa speedboat dan menghadap matahari,” jelas Syamsudin, motoris tetangga Mahyudin.  

Memasuki Agustus 2020, Derawan membuka pintu lebih luas. Wisatawan dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dipersilakan berkunjung. Syaratnya sama. September, sudah dibuka untuk turis dari seluruh Indonesia. Menurut Indra, warga tidak khawatir sebab umumnya yang ke Derawan sudah melalui berbagai saringan. Saat mau beli tiket atau naik pesawat sudah harus melampirkan hasil rapid test negatif.

“Sambil kami jaga di sini dengan penerapan protokol kesehatan. Sisanya kita tawakkal, serahkan pada Tuhan,” kata Indra. 


Kunjungan ke pulau pun perlahan-lahan kembali meningkat. Tingkat keterisian penginapan bertambah, warung makan, restoran buka kembali.  lampu-lampu Jalan Sitaba kembali terang benderang dan turis berlalu lalang baik berjalan kaki maupun naik sepeda sewaaan.

“Puncaknya malam pergantian tahun 2020-2021, rasanya seperti sudah normal kembali walau tanpa turis asing,” sebut Indra. Namun kemudian, setelah itu kasus COVID-19 kembali naik dan banyak pemerintah kota atau kabupaten melarang warganya berpergian. Jumlah wisatawan ke Derawan kembali turun drastis. Apalagi juga ada pelaku perjalanan warga Pulau Derawan yang positif COVID.“Untunglah tidak ada transmisi lokal,” kata Indra. Yang positif menjalani isolasi mandiri sampai dinyatakan negatif dan sembuh. 

Penanganan COVID-19 kemudian memasuki babak vaksinasi. Bergiliran warga disuntik vaksin dari Puskesmas. Beberapa warga seperti Ading Kurnadi harus bersabar tidak bisa langsung divaksin karena harus menurunkan tekanan darahnya dulu.“Kalau sudah divaksin semua nanti, insya Allah keadaan akan lebih baik,” harap Mahyudin. Barangkali turis asing pun bisa diharapkan datang kembali. 

Dalam keadaan yang sekarang, yaitu boleh beraktivitas asal dengan protokol kesehatan yang ketat, cukup membuat Mahyudin bersyukur. Miranda Cottage yang dikelolanya mulai kembali punya tamu. Warung-warung makan bisa buka kembali. Ekonomi berjalan. 

Menurut Mahyudin, untuk sementara tampaknya akan tarik ulur begini. Kalau kasus COVID menurun, pembatasan bisa dikurangi, dan orang boleh jalan-jalan. Derawan mungkin akan ramai dan keadaan ekonomi warga jadi lebih baik. Kadang protokol kesehatan longgar atau dilanggar, lalu kasus COVID naik lagi, pembatasan diterapkan lagi, dan jumlah tamu berkurang atau tidak ada. 

“Begitulah kenyataannya selama wabah ini. Kita akan tetap sabar. Saya kira kita sudah terbiasa,” kata Mahyudin. 

Di sisi lain, Ading Kurnadi berharap BKSDA bisa segera mewujudkan program mereka membuat hatchery di ujung timur Pulau Derawan. “Melibatkan saya atau tidak, tidak masalah. Yang penting penyu kita lestari,” kata Ading yang berharap suatu saat nanti ia bisa membeli speedboat baru lagi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *