Liputan Mendalam

Capung yang Tersisa di Belantara Jakarta

Teks dan foto Fadlik Al-Iman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Sore hari di kawasan padat huni Petamburan Jakarta Pusat.

Fatir mengajak beberapa kawannya bermain di area lebih luas. Di dekat rumahnya terdapat area pemakaman seluas lebih dari 9 Ha. Mereka memang sudah jarang bermain di area terbuka.

Di Jakarta, area terbuka itu makin hilang seiring kian derasnya pembangunan dan alih fungsi lahan. Karena itu, pemakaman bisa jadi salah satu tempat pelarian, termasuk bagi Fatir dan teman-temannya.

Tidak cuma Fatir yang kehilangan tempat bermain luas. Endin yang berprofesi sebagai guru pun mengalaminya. Dahulu Endin bermain sepak bola, mencari belalang, tapak gunung, petasan, mencari capung dan banyak lagi di dekat rumahnya. Namun, kini lapangan tempat bermainnya sudah tidak ada lagi.

Begitu pula dengan capung, sesuatu yang akrab dengannnya ketika dia masih kecil. Ia mengingat ketika kecilnya, mereka biasa main menangkap capung. Bisa dengan tangan kosong, namun harus lebih sabar.

Capung yang paling mudah didapatkannya adalah capung hijau yang biasa sering disebut sebagai capung loreng. Endin memutar jari telunjuknya, alasannya agar capung fokus melihat jarinya yang memutar, karena capung memiliki mata majemuk.

Ketut bercerita bersama tiga nelayan lain anggota Kelompok Nelayan (KN) Segara Madu. Di Teluk Labuan Amuk terdapat dua kelompok nelayan. Selain Segara Madu, terdapat juga KN Tanjung Jepun. Anggota kedua kelompok nelayan itu juga bergabung dalam kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) Tirta Segara dengan 50-an anggota.

Seperti nelayan lain di teluk ini, Mangku Arta lebih banyak mengandalkan pendapatan harian dari turis, daripada dari menangkap ikan. Sehari-hari, mereka mengantarkan tamu memancing, diving, ataupun snorkeling. Made Sudiarta, nelayan lain, mengatakan, biaya mengantarkan pemancing atau turis itu berkisar Rp 600.000 sampai Rp 1 juta, tergantung jauh dekat rutenya. Lama mereka mengantar tamu juga beragam, tetapi rata-rata 6 jam per hari.

Jikalau langkahnya gagal maka ada cara lain yang dilakukan kawan-kawannya. Biasanya dengan mencari cabang kayu panjang. Pada ujungnya diberikan plastik untuk menangkap capung.

Cara lainnya adalah dengan mencari getah nangka yang ditempelkan ke ujung lidi. Jilakau capung hinggap maka kaki-kakinya akan menempel di getah nangka.

Namun demikian Endin merasakan perbedaannya sekarang. Pemakaman tidak banyak dihuni capung, meskipun ketika musim hujan biasanya banyak.

Ade yang sering menjaga pemakaman pun berkomentar. Kini di pemakaman jarang sekali terlihat capung. Hal ini dikarenakan di hulu got kini airnya sudah tercemar.

Ada hubungan antara tercemarnya air dan makin berkurangnya lahan terbuka dengan hilangnya capung.

Ade melanjutkan cerita bahwa daerah resapan air makin berkurang, padahal orang orang mengambil air tanah untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) serta memasak.

Di Jakarta Pusat tidak terdapat lahan pertanian, berbeda dengan di Jakarta Utara yang lahan pertaniannya makin menyusut. Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Utara mencatat, lahan pertanian semakin sempit. Saat ini, luas lahan hanya seluas 528 hektare atau turun 72 hektare dibanding tahun sebelumnya.

Saat ini di Jakarta terhadap jalur hijau jalan sebanyak 1.170 titik dengan luas 186,95 hektar dan tepian air sebanyak 144 titik seluas 50,83 hektar. Ruang terbuka hijau (RTH) hutan kota di DKI Jakarta di 59 lokasi dengan luas 644,38 hektar, serta sawah seluas 1.107,5 hektar yang terdiri dari sawah irigasi dan sawah tadah hujan.

Seiring kian hilangnya lahan terbuka, capung pun hilang. Lahan terbuka biasanya dihuni capung karena terdapat sistim perairan yang masih relatif baik.

Selain hilangnya ruang terbuka, penyebab makin hilangnya capung adalah pencemaran air. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, air sungai Ciliwung di wilayah Jakarta sudah “no class.” Beban pencemaran ideal menurut KLH berkisar 7.019 kilogram per hari. Sedangkan saat ini beban pencemaran Ciliwung berada pada kisaran 29.231 kg per hari. Artinya, perlu penurunan beban pencemaran sekitar 76 persen agar kembali normal.

Sumber pencemaran air di sungai-sungai di Jakarta adalah limbah domestik. Bahkan menurut media massa sekitar sepertiga dari 6.000 ton per hari sampah di DKI Jakarta masuk (dibuang) ke dalam sungai dan badan-badan air lainnya (situ, selokan, dan sebagainya). Lazimnya mengalami peningkatan sekitar 15 persen pada momentum tertentu seperti lebaran, natal dan tahun baru.

Matahari hampir terbenam di Pemakaman Petamburan, Ade membawa saya ke hulu air, Ade mengatakan air di sini telah tercemar. Mengenai pencemaran air, Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta (2011) menyebutkan bahwa 90 persen air tanah di Jakarta sudah tercemar oleh logam, nitrat dan e-coli.

Penyebab ketiga kian berkurangnya capung di Jakarta adalah polusi udara. Endin sekarang tidak lagi tinggal di Petamburan namun ke pinggiran kota Jakarta, tepatnya di Ciledug. Ia menggunakan motor sebagai alat transportasinya. “Helm yang digunakan mungkin terinspirasi dari kepala capung,” ungkapnya.

Ia mengeluhkan kendaraan yang semakin banyak, polusi udara ini jugalah yang menyebabkan capung semakin sedikit. Karena partikel timah dan tembaga yang terkandung dalam asap kendaraan jatuh ke perairan yang dihuni capung.

Menurut BPLhD DKI Jakarta, kandungan PM-10 (Partikel Debu) yang pernah mengalami penurunan justru kembali meningkat pada 2011 dan 2012 cenderung mengalami peningkatan. Hal ini diduga akibat penurunan aktivitas uji emisi kendaraan bermotor.Sekitar 80 persen polusi udara di DKI Jakarta merupakan sumbangan dari hasil gas buang kendaraan bermotor.

Berikut adalah rinciannya: Karbondioksida 70 persen, Nitrogen 9 persen, Hidrokarbon 20 persen, Sulfur dioksida 1 persen Zat-zat diatas sangat berbahaya bagi tubuh kita, terutama pada pernapasan.

Mengembalikan Capung

Menurut Ahmad Baihaqi salah satu mahasiswa yang sekarang konsen di biodiversity taman kota kota harus diisi dengan kegiatan positif, dieksplorasi manfaat dan kegunaannya, didata kembali, mengingat lahan hijau peruntukannya mungkin sudah berbeda.

Pada kesempatan sebelumnya di kampus Universitas Indonesia Wahyu Sigit dari Indonesian Dragonfly Society (IDS) bicara soal polusi dan hubungannya dengan capung. Menurut Wahyu, ada tiga polusi yang mempengaruhi tersingkirnya capung, yaitu ada polusi suara, udara serta pencemaran air.

Karena rentannya terhadap perubahan itu, menurut Wahyu, capung bisa menjadi indikator perubahan iklim. Karena itu, adaptasi atau mitigasi terhadap perubahan iklim seperti memperbanyak RTH juga bisa mengembalikan populasi capung.

Ahmad Baihaqi mengatakan bahwa sekarang capung-capung hanya menyebar di taman kota dan pemakaman. Hal ini mungkin daerahnya belum terpolusi.

Untuk itulah Baihaqi dan teman-temannya berusaha membangun kembali tempat-termpat terbuka hijau, terutama taman kota.

Tatang Mitra Setia salah satu Dosen Biologi Universitas Nasional berkomentar, kita bisa menanam pohon, buah, bunga agar memancing hewan-hewan datang. Saat ini bersama beberapa temannya dibantu Wahyu, mreka sedang membuat Taman Soe Hok Gie yang diprakarsai Mapala Universitas Indonesia (UI) agar memiliki taman air yang di sana terdapat capung capung.

Pembangunan taman kota ini diharapkan bisa mengembalikan habitat dan ekosistem, termasuk capung.

Menurut data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta jumlah RTH berdasarkan kategori taman, jalur hijau, hutan kota, dan sawah. Rinciannya taman kota sebanyak delapan bidang dengan total luas 83,27 hektar dan taman lingkungan seluas 1.170 hektar.

Jika ruang terbuka hijau makin banyak di Jakarta, maka semoga dia bisa menjadi bagian dari upaya mencegah perubahan iklim sekaligus mengembalikan capung yang telah hilang. [b]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com