• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, January 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ekosistem Sekolah Inklusi Menyatukan Beragam Anak dalam Satu Kelas

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
29 January 2026
in Kabar Baru, Pendidikan
0
0
Lorong SD AMI

Suara canda dan tawa anak-anak memenuhi lorong Sekolah Dasar Adhi Mekar Indonesia (AMI) pagi itu. Sejumlah anak yang baru usai olahraga masih berlarian di lorong sekolah. Setidaknya ada enam kelas di lorong gedung pertama. Lima kelas di antaranya penuh siswa-siswi yang tengah menyimak mata pelajaran.

Ada hal yang sama di tiap kelas, beberapa anak tampak ditemani oleh seorang pendamping. Di satu kelas ada dua anak yang ditemani pendamping, di kelas lainnya ada tiga anak yang ditemani pendamping, dan ada juga kelas yang hanya diisi satu pendamping.

Shadow teacher sebagai pendamping

Tuwik Rusmiyati, Kepala SD AMI, menyebut pendamping tersebut sebagai shadow teacher. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, shadow teacher berarti guru bayang. Secara literal, shadow teacher merupakan guru yang membantu Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) agar lebih mudah menjalani kegiatan di sekolah.

Di AMI, shadow teacher merupakan tanggung jawab orang tua. Orang tua dengan PDBK wajib menyediakan satu shadow teacher. “Peran shadow teacher itu untuk menjembatani antara guru dan anak,” jelas Tuwik ketika ditemui di SD AMI pada Senin, 26 Januari 2026. Shadow teacher tak selalu berupa psikolog, bisa juga orang tua, kakak, pengasuh, atau siapa pun yang ditunjuk oleh orang tua.

Papan SD AMI

Hingga saat ini, SD AMI terdiri dari 19 rombongan belajar dengan jumlah siswa-siswi sebanyak 400-an anak. Setiap kelas setidaknya ada 3-5 siswa neurodiversitas. Artinya, setiap kelas memiliki satu shadow teacher yang mengawasi satu anak.

Ada beberapa anak yang menunjukkan perkembangan, misalnya pada kelas 1-3 didampingi shadow teacher, tetapi pada kelas 4 sudah tidak didampingi lagi. Namun, ada juga anak yang dari SD sampai SMP didampingi shadow teacher.

Menumbuhkan ekosistem iklusif dari kebiasaan

Selama bertahun-tahun, AMI menerapkan sistem pembelajaran inklusif. AMI sendiri memiliki tiga jenjang, dari Taman Kanak-kanan (TK), SD, dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). TK AMI paling pertama berdiri, yaitu tahun 1997. Lima tahun setelahnya berdiri SD AMI, yaitu pada tahun 2002. Sementara, SMP AMI baru berdiri pada tahun 2011.

Sejak terbentuk, AMI menanamkan prinsip menerima berbagai jenis anak, termasuk anak dengan keragaman cara kerja otak (selanjutnya akan disebut neurodiversitas). “AMI salah satu pionir dalam pelayanan inklusif di Denpasar, di Bali pada umumnya. Sesuai dengan visi dan misinya, membina talenta sejak dini,” jelas Wijaya Cahya Dharma, Kepala SMP AMI.

Wijaya menjelaskan pada prinsipnya semua anak adalah sama. Maka dari itu, AMI menerima anak-anak dengan neurodiversitas, tanpa menempatkannya pada kelas khusus. Dalam kegiatan pembelajaran, anak neurodiversitas ditempatkan di kelas yang sama dengan anak lainnya.

Karya peserta didik SD AMI

Untuk jalur umum biasanya orang tua mengurus pendaftaran melalui front office atau yayasan. Namun, berbeda dengan anak neurodiversitas, orang tua wajib bertemu dengan kepala sekolah. Melalui pertemuan pada pendaftaran awal, Tuwik maupun Wijaya akan melihat langsung kondisi anak. 

Kondisi yang dilihat berupa perkembangan anak, apakah dapat ditempatkan di SD maupun SMP, atau lebih tepat di TK terlebih dahulu. Penempatan ini ditentukan pada hasil psikotes yang dibawa oleh orang tua. Biasanya, anak seusia SD yang memiliki cara kerja otak lebih terlambat akan disarankan masuk TK lebih dulu. Dari sanalah kepala sekolah akan menilai kebutuhan shadow teacher pada anak.

Kemampuan AMI dalam menyatukan anak neurodiversitas dengan anak lainnya tercipta karena ekosistem yang memiliki kesadaran. “Dari anak-anaknya, guru-guru, dan orang tua itu aware semua. Jadi mereka menerima. Nah, penerimaan itu yang perlu sebenarnya,” jelas Wijaya. Ia menambahkan bahwa sistem ini terbentuk karena kebiasaan. Tuwik menilai adanya kelas khusus malah menghalangi tercapainya tujuan sekolah inklusi.

Secara spesifik, tenaga pengajar di AMI memiliki latar belakang pendidikan secara umum, tidak ada tenaga pengajar yang memiliki latar belakang khusus atau luar biasa. Pada awal penerimaan tenaga pengajar pun AMI menyampaikan pada calon pengajar bahwa di setiap kelas akan ada anak dengan neurodiversitas.

Puluhan tahun mengajar di AMI membuat Wijaya dan Tuwik memaknai sekolah inklusi dengan cara yang sama. Mereka memaknai inklusi sebagai penerimaan dan kesetaraan semua anak. “Kita melihat semua anak sama berhak mengikuti kegiatan belajar mengajar,” kata Wijaya.

Pada dasarnya, AMI lebih menilai dan menawarkan pengembangan karakter pada anak neurodiversitas, bukan menilai secara akademik. Semua anak diberikan kesempatan yang sama untuk berkembang, bersosialisasi, juga saling mengisi satu sama lain.

cerutu4d
Tags: keragaman manusianeurodiversitassekolah inklusisekolah inklusi di Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Merespons Isu Interseksionalitas dan Keragaman Manusia Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

Merespons Isu Interseksionalitas dan Keragaman Manusia Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

19 January 2026
Akses Medis Neurodiversitas: Perjuangan di tengah Minimnya Akses Layanan

Akses Medis Neurodiversitas: Perjuangan di tengah Minimnya Akses Layanan

10 November 2025
Sekolah Inklusi, Bukan Sekadar Menerima, Tapi Siap untuk Semua Anak

Sekolah Inklusi, Bukan Sekadar Menerima, Tapi Siap untuk Semua Anak

31 October 2025
Perjuangan Inklusif melalui Konsep Neurodiversitas

Perjuangan Inklusif melalui Konsep Neurodiversitas

29 October 2025
Next Post
Menelusuri Sejarah Jembatan Tukad Bangkung

Menelusuri Sejarah Jembatan Tukad Bangkung

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Panti Pijat Made Merta

Panti Pijat Made Merta

30 January 2026
Menelusuri Sejarah Jembatan Tukad Bangkung

Menelusuri Sejarah Jembatan Tukad Bangkung

29 January 2026
Ekosistem Sekolah Inklusi Menyatukan Beragam Anak dalam Satu Kelas

Ekosistem Sekolah Inklusi Menyatukan Beragam Anak dalam Satu Kelas

29 January 2026
Koalisi Advokasi Bali untuk Demokrasi: Bebaskan Peserta Aksi dan Hentikan Kekerasan

Aksi Agustus: Nota Pembelaan untuk Terdakwa Minta Pembebasan Peserta Aksi

28 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia