
Lembaran plastik berwarna hitam menutup sebagian area pesisir Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Nengah Bantat (71) bersama istrinya, Ketut Keprug, menutup lembaran plastik itu secara perlahan.
Meski punggung mereka sudah membungkuk karena usia, tangan Nengah Bantat masih cekatan melipat lembaran geomembran. Geomembran merupakan lembaran pelapis sintetis berbahan polimer, kedap air dan cairan.
Di sisi kanannya berdiri tiga gubuk miliknya. Satu gubuk diisi berkarung-karung garam. Satu gubuk berisi palung yang sudah usang. Gubuk satunya terbuka sebagai tempat istirahat.
Tempat Nengah Bantat berdiri, laut tak lagi terlihat. Tertutup tanggul pantai yang menahan gelombang pasang. Siang itu, Jumat (19/06/26), ombak masih bersahabat. Namun terkadang ombak itu melewati tanggul dan menghantam gubuknya.
Nengah Bantat menjadi salah satu pewaris dan generasi terakhir petani garam. Dia pertama kali mengenal garam pada 1979, saat usianya 24 tahun.
“Sane dumunan waktu tahun 1990-an nike ajak ratusan ngae uyah, uli dini ked Pesinggahan (kalau dulu waktu tahun 1990-an itu ada ratusan orang yang jadi petani garam, dari pesisir Kusamba sampai Pesinggahan),” tutur Nengah Bantat ketika ditemui di lahan penggaraman miliknya.

Dia berasal dari Banjang Tribuana, Desa Kusamba. Dulu, ayahnya seorang petani garam secara otodidak. Lalu menikah pada usia 24 tahun dan belajar membuat garam dari mertuanya.
Sayangnya, kini tak ada yang meneruskan lahan penggaraman miliknya. Anaknya, Nengah Sudarmini, hanya membantu di sela-sela waktunya sebagai ibu rumah tangga.
“Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya tidak tentu),” kata Nengah Bantat.
Sudarmini pun mengakui ketidakinginannya menjadi petani garam. Dia berkaca pada orang tuanya yang selalu mengalami kerugian akibat iklim yang tak menentu.
“Niki ampun men ombak gede ten wenten penghasilan (kalau ombaknya gede nggak ada penghasilan),” kata Sudarmini.
Tak jauh dari lahan penggaraman Nengah Bantat, ada Nengah Diana (50). Sama seperti Nengah Bantat, dia adalah generasi terakhir petani garam di keluarganya.
“Jadi petani garam dari turun temurun, dari kakek nenek, orang tua, saya sekarang. Tapi kemungkinan nggak ada penerusnya,” kata Nengah Diana ketika ditemui pada Senin (29/06).

Produksi garam di Bali terkenal dengan metode tradisional yang diwariskan secara turun temurun. Pembuatannya menggunakan palung, cekungan seperti lesung yang terbuat dari batang pohon. Selain di Kusamba, sentra produksi garam juga ada di Amed (Kabupaten Karangasem) dan Tejakula (Kabupaten Buleleng).
Di Klungkung ada dua desa penghasil garam, Desa Kusamba dan Desa Pesinggahan di Kecamatan Dawan. Pembuatan garam di Klungkung dimulai dari pengambilan air laut. Pengambilannya menggunakan pipa dari laut menuju area penggaraman milik warga. Sebelum ada teknologi pemipaan, petani memikul air dari laut.
Biasanya pukul 08.00, proses penyedotan air laut dimulai. Lalu, disiramkan ke hamparan pasir yang telah diratakan. Setelahnya dibiarkan mengering di bawah terik matahari. Saat cuaca bersahabat, sekitar pukul 13.00, air laut itu akan menjadi kepingan garam.
Kemudian, pasir yang mengandung kepingan garam akan diangkat dan dipindahkan ke rumah produksi, lalu dimasukkan ke dalam tempat penampungan pasir. Pasir tersebut ditambahkan lagi dengan air laut tua, sehingga menghasilkan tetesan air garam konsentrat.
Tetesan air tua hasil penyaringan dijemur kembali menggunakan media pengeringan.
Proses penjemuran air tua dilakukan hingga sore hari, pukul 17.00. Pada waktu itu garam sudah mengkristal dan siap untuk dipanen.

Warisan yang terancam hilang
Penelitian Teknologi Garam Palung sebagai Warisan Sejarah Masyarakat Pesisir Bali mengungkapkan teknologi palung hanya ada di pesisir Amed, Tejakula, dan Kusamba. Tiga wilayah ini menggunakan palung, tetapi metode yang digunakan berbeda.
Proses pembuatan garam di Kusamba berbeda dengan Amed di Kabupaten Karangasem dan Tejakula di Kabupaten Buleleng yang menggunakan tanah gunung (tanah sari) sebagai media penyerap garam.
Perbedaan lainnya ada di bentuk palung. Palung di Amed dan Tejakula dibiarkan terbuka. Sementara, palung di Kusamba diberi penutup agar terhindar dari debu atau kotoran yang terbawa angin.
“Sehingga kristal garamnya terlihat lebih bersih dan cerah,” tulis peneliti.
Di Kusamba, peneliti menulis teknologi palung berkembang karena pesisir Kusamba berbatu dan berpasir. Kondisi itu tidak memungkinkan penggunaan tambak garam konvensional.
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung tak memiliki jumlah pasti penurunan petani garam di Desa Kusamba. Penurunan jumlah petani dilihat dari penelitian Model Simulasi Dinamika Sistem dalam Peningkatan Pendapatan Petani Rantai Pasok Garam oleh Widyani, dkk.
Penelitian itu menulis, pada tahun 1970-an, jumlah petani garam di Kusamba mencapai 180 orang. Pada saat penelitian dilakukan, tahun 2022, jumlah petani garam berkurang menjadi 19 orang.
Sementara, ketika Mongabay menemui Nengah Bantat tahun 2026, petani yang tersisa hanya 14 orang.
Penelitian dari Universitas Udayana (2020) menyebutkan produksi garam 2014-2018 terus mengalami penurunan, terutama di tahun 2015. Sementara itu, DKPP Kabupaten Klungkung yang hanya memiliki data 2019-2024 menunjukkan produksi garam di Kusamba mengalami penurunan hingga tiga kali lipat pada tahun 2020. Sayangnya, DKPP tak memiliki data tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan tahun 2014, terjadi penurunan produksi garam hampir 100% pada tahun 2024, yakni 4.618.000 kilogram menjadi 45.992 kilogram. Meski begitu, keduanya berasal dari dua lembaga yang berbeda.
Padahal, selama tahun 2014-2018, Kabupaten Klungkung menjadi kabupaten penghasil garam tertinggi di Bali.
Penurunan produksi garam di Kusamba membuat petani garam beradaptasi. Seingat Nengah Bantat, pada 2020, petani garam dikenalkan metode geomembran oleh sejumlah peneliti dan pemerintah.
Kata Nengah Bantat, produksi garam jadi lebih mudah dan cepat. “Men nganggen palungan bedik hasilne. Men nganggen niki liunan hasilne (kalau pakai palung lebih dikit hasilnya. Kalau pakai geomembran lebih banyak hasilnya),” kata Nengah Bantat menunjuk lapisan geomembran.
Meski ada metode baru, petani garam di Kusamba masih mempertahankan metode palung. Pasalnya, beberapa konsumen ada yang khusus meminta garam metode palung.
Abrasi dan menyempitnya ruang penggaraman
Kehidupan petani garam sangat bergantung pada cuaca. Saat cuaca tak menentu, abrasi yang terus meningkat membuat kekhawatiran bagi pendapatan mereka sehari-hari.
Meski begitu, Sudarmini bilang permasalahan cuaca hanya sebagian kecil dari masalah yang dihadapi petani garam, tapi tidak untuk abrasi. Mereka masih bisa memperkirakan cuaca dari warna langit. Namun, memperkirakan abrasi sulit dilakukan.
Bertahun-tahun menjadi petani garam, Nengah Bantat belum pernah merasakan abrasi separah tahun 2023 silam.
“Ne plaibanne ken ombak ked drika (ini dibawa sama ombak sampai di sana),” kata Nengah Bantat menunjuk alat produksi garam, kemudian telunjuknya mengarah ke gubuknya.

Gulungan ombak tiba-tiba datang melahap ruang penggaramannya yang tengah dikeringkan. Ombak menggulung tinggi dan melompati tanggul. Akibatnya, air laut bercampur dengan batu-batu besar yang dibawa ombak.
Saat itu, para petani butuh waktu seminggu lebih untuk membersihkan pasir dari batu-batu besar. Lagi-lagi, produksi tak bisa berjalan.
Nengah Diana pun mengatakan hal yang sama. Seingatnya, sejak 15 tahun terakhir abrasi memengaruhi area penggaraman.
“Udah berapa kali kita mundur karena abrasi. Dulunya daratan, sekarang jadi laut,” kata Diana.
Penelitian dalam Journal of Marine and Aquatic Sciences (2023) mengungkapkan ada perubahan garis pantai di sepanjang pesisir Klungkung dari tahun 2015-2020. Laju perubahannya yang bersifat abrasi berkisar 0,058-1,846 meter/tahun.
Penelitian lainnya, Monitoring and Analysis of Coastline Changes in the Coastal Area of Bali Island, Indonesia juga mengungkapkan hal serupa.penelitian ini menggunakan penginderaan jauh dengan citra radar periode 2014-2021 untuk memetakan perubahan garis pantai. Hasilnya, Pantai Karangdadi di Kusamba mengalami laju abrasi sekitar 5-15 meter/tahun. Panjang area terdampak mencapai 3,3 kilometer.

Penelitian ini juga menemukan adanya penumpukan sedimen yang cukup besar di lapangan, sehingga menutupi sebagian bangunan dan pura di sekitar pantai timur Pelabuhan Kusamba. Penelitian itu menduga gelombang laut membawa material pasir ke daratan.
Menyempitnya lahan penggaraman di Kusamba juga diperparah dengan berkembangnya pariwisata di Nusa Penida. Salah satunya, adanya pembangunan Pelabuhan Tribuana yang menjadi tempat penggaraman pada 2020 oleh pemkab untuk penyebrangan menuju Nusa Penida.
Penelitian Coastal Environmental Change and the Salt Farmer Marginalization in Kusamba, Bali juga menyebutkan dampak pembangunan itu menyebabkan adanya penataan wilayah di kawasan pesisir Kusamba yang membuat lahan produksi garam menyempit. Petani masih diperbolehkan berkegiatan, tapi secara perlahan, ruang produksi menyusut, sehingga kemampuan berkembang menjadi terbatas.
Orang tua Nengah Bantat jadi korbannya. Orang tuanya menghentikan produksi garam karena ruang semakin menyempit.
“Kan mangkin ampun dados pelabuhan, ten ngidang (sekarang kan sudah jadi pelabuhan, nggak bisa),” ujarnya.

Upaya pemerintah tak memadai
Ni Made Candrawati, Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung, mengakui ancaman kepunahan garam Kusamba. Salah satu pemicunya adalah abrasi parah dalam tiga tahun terakhir yang mengikis lahan penggaraman.
“Ada dua lahan petani garam yang sudah tidak berfungsi karena abrasi,” kata Candrawati ketika ditemui di kantornya pada Jumat (19/06/26).
Kata Candrawati, luas lahan penggaraman di Desa Kusamba menyusut menjadi sekitar 30-35 are.
Upaya pencegahan abrasi dilakukan dengan membangun tanggul pengaman pantai tahun 2022. Pembangunannya dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida di pesisir Pantai Sidayu hingga Kusamba sepanjang 10,64 km.
Tanggul dibangun setinggi dua meter. Memberikan harapan untuk petani garam. Namun, seperti kata Nengah Bantat, ombak tinggi sewaktu-waktu bisa menghantam tanggul.
Tak jauh dari lahan penggaraman Desa Kusamba, Sudarmini memperlihatkan ujung tanggul yang telah hancur. Sisa-sisa tanggul itu menunjukkan sejauh mana ombak melahap pesisir Desa Kusamba.
Candrawati pun mengatakan, pembangunan tanggul penahan abrasi membuat lahan semakin sempit.
“Selain itu juga menyisakan batu-batu yang berserakan, sehingga pasir tidak rata untuk menjemur air laut,” kata Candrawati.

Saat ini, pihak DKPP Kabupaten Klungkung hanya bisa memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana kepada petani. Berkaitan dengan menahan laju abrasi, katanya, perlu dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak.
Nengah Bantat dan Ketut Keprug kini menimbang garam hasil panen. Setelah angkanya pas, garam di-suun, dijunjung di atas kepala. Butiran garam itu menuju ke kota, meninggalkan pesisir Kusamba.
Entah masyarakat kota tahu cerita di balik butiran garam itu. Namun, bagi Nengah Bantat, situasi saat ini terasa cukup. Setidaknya dia ada kegiatan mengisi hari tua.
“Niki gen kangguang tiang. Yang penting cukup anggen makan,” ujarnya.
*Tulisan ini pertama kali terbit di Mongabay Indonesia



