“Si Bayi Laki-laki” pun Mampir di Bali

Sepanjang mata memandang hanya ada tanah kering kecoklatan.

Tanah-tanah sawah retak. Rumput mengering. Tidak ada tanaman apapun. Hanya sisa-sisa padi usai dipanen. Sapi dan kambing mengais di antara akar-akar kering padi yang tersisa.

Selebihnya, udara panas menyengat.

Sehari-hari, Desa Ramang-Ramang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan termasuk daerah basah. Lokasinya dekat dengan pegunungan batu kapur (karst) yang membujur di sisi kanan jalan Trans-Sulawesi, jalan penghubung utama di pulau ini. Beberapa sumber menyebut pegunungan karst di Maros dan Pangkep seluas 45.000 hektar ini sebagai yang terbesar kedua di dunia setelah karst di Yunan, China.

Secara alamiah, pegunungan karst menyembunyikan air-air sepanjang tahun, mengalir ke sungai dan danau di sekitarnya, termasuk beberapa danau kecil di Desa Ramang-Ramang. Karena itu pula, biasanya, desa ini hijau oleh subur tanaman padi.

Namun, pada September 2015 lalu, kondisinya berbalik 180 derajat. Ramang-Ramang terlihat kering. Lahan-lahan persawahan yang biasanya menghijau di dekat jalan raya Trans-Sulawesi, kini mengering kecokelatan.

Beberapa warga mengambil air bersih dari sumur di tengah sawah yang masih ada. Mereka harus antre karena sedikitnya air bersih yang tersedia. Mereka juga harus berjalan kaki hingga berkilo-kilo untuk menemukan sumber air bersih akibat kemarau berkepanjangan di desa mereka.

Maros, salah satu kabupaten di Sulawesi, memang menjadi salah satu daerah korban El Nino di Indonesia pada tahun lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena kenaikan suhu permukaan laut melebihi rata-rata itu mencapai puncaknya pada September dan Oktober 2015.

Sulawesi Selatan salah satu dari provinsi-provinsi lain di lintang selatan Khatulistiwa yang mengalami kekeringan panjang. Daerah lain adalah Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua bagian selatan.

“Apabila perkiraan itu terjadi maka musim kemarau tahun 2015 akan lebih panjang dibandingkan tahun 2014 sebagai dampak El Nino, dan menyebabkan awal musim hujan 2015/2016 akan mengalami kemunduran,” kata Kepala Seksi Informasi BMKG Kupang, Saiful Hadi sebagaimana ditulis Antara.

Selain BMKG, lembaga-lembaga terkait iklim dari negara-negara lain pun memiliki data yang sama, sebagian wilayah Indonesia di lintang selatan akan mengalami El Nino dari moderat hingga kuat. National Oceanic and Atmospheric (NOAA) Amerika Serikat, Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), dan Predictive Ocean Atmosphere Model for Australia (POAMA) pun memperkirakan hal serupa.

El Nino adalah fenomena alam yang sangat terkait dengan perubahan iklim. Supari, analis di Kedeputian Klimatologi BMKG menyatakan bahwa fenomena El Nino berpengaruh kuat terhadap iklim di Indonesia. “Berkurangnya curah hujan dan terjadinya kemarau panjang adalah dampak langsung yang bisa memicu masalah lain pada sektor pertanian seperti gagal panen dan melemahnya ketahanan pangan,” tulis Supari.

Pusat prakiraan iklim Amerika Serikat mencatat bahwa sejak tahun 1950, telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena El Nino. Enam di antaranya berlangsung dengan intensitas kuat pada 1957-1958, 1965-1966, 1972-1973, 1982-1983, 1987-1988 dan 1997-1998. Namun, El Nino di Indonesia pada tahun 2015, menurut BMKG ataupun Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), termasuk yang paling kuat dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya.

Kuatnya pengaruh El Nino juga terasa hingga ke Bali yang memang termasuk salah satu korban si “Bayi Laki-laki”, terjemahan kata El Nino yang berasal dari Bahasa Spanyol. Selama 2015, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali mencatat sekurangnya 856,35 hektare lahan pertanaman padi di Bali mengalami kekeringan dengan intensitas ringan hingga berat dan bahkan gagal panen.

“Hingga akhir Agustus 2015 total lahan sawah yang gagal panen (puso) seluas 140 hektar,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuwardhana.

Kekeringan tersebut terutama di daerah-daerah kering di Bali, seperti Kabupaten Buleleng seluas 112,5 hektar, Jembrana (16,5 hektar), Karangasem (10 hektar), dan sisanya di Kabupaten Badung (1 hektar). Tingkat kekeringan itu antara lain kategori ringan seluas 343,1 hektar, kekeringan sedang 239,75 hektar, dan kekeringan berat 133,5 hektare.

“Kekeringan kami prediksi bisa meluas lagi karena pengaruh El Nino,” kata Wisnuwardhana seperti ditulis Suara Pembaruan. [b]

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com