Liputan Mendalam

(Petani) Muda, Beda, & Berdaya

Oleh: Anton Muhajir & Luh De Suriyani

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Sejak akhir Januari 2020, Bali mulai mengalami dampak pandemi COVID-19. Jumlah turis terus menurun bahkan kemudian nyaris tidak ada sama sekali setelah adanya penutupan penerbangan komersial maupun perhubungan darat dan laut, untuk mencegah meluasnya penularan virus corona baru penyebab COVID-19 di kiblat pariwisata Indonesia ini.

Ketika pandemi menghantam Bali dan pariwisata terpuruk, wacana lama pun kembali muncul, Bali sebaiknya kembali ke pertanian sebagai penopang utama pembangunan ekonominya. Selama ini, Bali dianggap terlalu menomorsatukan pariwisata dan, sebaliknya, melupakan pertanian, sebagai akarnya.

Namun, bagi sebagian anak muda, kembali pertanian itu tak lagi sekadar wacana. Mereka kembali ke pertanian setelah sebelumnya menggantungkan hidup dari pariwisata. Sebagian lain telah lebih dulu terjun ke sawah, kebun, dan kandang lalu menggunakan teknologi informasi untuk menaikkan pendapatan petani sekaligus harapan bahwa pertanian bisa menjadi masa depan Bali.

***

Bagi I Kadek Didi Suprapta, 39 tahun, bekerja di pariwisata layaknya main ayunan tembak (sling shot) yang sedang marak di Bali. Sangat menyenangkan, tetapi juga rentan. Posisinya sangat berubah cepat naik turun. Setelah sempat merasakan kejayaan bekerja di sektor ini, sekarang Dek Didi, panggilan akrabnya, sedang menghadapi situasi sulit akibat pandemi COVID-19.

Sebagai anak muda yang tumbuh di tengah masifnya teknologi informasi, Dek Didi memulai bisnis di bidang pariwisata dengan memanfaatkan teknologi tersebut. Alumni Fakultas Hukum Universitas Udayana itu semula membuat blog jalan-jalan. Makin hari, makin banyak turis memintanya untuk menjadi pemandu perjalanan di Bali setelah membaca ulasan Dek Didi di blog.

Sejak 2007, Dek Didi membuka layanan itu melalui media daring. Menjadi pemandu perjalanan bagi turis-turis yang ingin menikmati Bali, terutama di pelosok Bali. Usahanya terus berkembang. Dari semula sendiri, dia bahkan memiliki 20 staf. Uang yang berputar di tempat usaha perjalanan miliknya berkisar Rp 100 juta hingga Rp 500 juta.

Kemudian, badai pandemi COVID-19 pun sampai di Bali. Merontokkan usaha-usaha pariwisata di pulau yang amat menggantungkan ekonominya dari bisnis pelesiran itu, termasuk Dek Didi. Usaha perjalanan yang dia rintis berhenti total sekarang. Awalnya hanya sebagian tamunya membatalkan pemesanan. Lalu, sejak awal Maret sudah tidak ada tamu sama sekali. Dia harus merumahkan semua staf karena tidak ada pendapatan sama sekali.

“Kerja di pariwisata memang rentan sekali, terutama kalau ada kejadian-kejadian seperti saat ini,” katanya.

Begitu pariwisata Bali menunjukkan gejala akan mati suri sejak awal Maret, Dek Didi mengingat kembali akarnya, pertanian. Dia memang lahir dan besar di salah satu pusat produksi sayur mayur Bali, Kintamani. Rumahnya di Desa Songan A, Kecamatan Kintamani, Bangli dikelilingi areal kebun-kebun sayur.

Pada pertengahan April lalu, musim panen untuk tomat dan terong telah tiba. Keluarganya di desa di kaki Gunung Batur itu sudah panen. Dek Didi pun cekatan menghubungkan petani di desanya dengan pembeli di kota melalui teknologi yang dulu juga membesarkannya di bisnis pelesiran, Internet.

Dek Didi antusias memerlihatkan aplikasi yang sudah dia buat, Lapak Sayur Online, di ponselnya. Menurut Dek Didi, ide pembuatan aplikasi pasar daring (online market) Lapak Sayur itu dia buat setelah melihat beberapa aplikasi serupa di luar Bali. “Akhirnya terpikir untuk membuat aplikasi serupa. Apalagi saya memang berasal dari kampung yang menghasilkan sayur-sayuran,” katanya pertengahan April lalu.

Menurut Dek Didi, selama ini hasil pertanian tersebut dijual kepada tengkulak. Akibatnya, petani hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Dia pun berusaha mempertemukan langsung petani di tingkat produksi dengan konsumen di tingkat konsumsi melalui aplikasi yang masih dalam tahap pengembangan tersebut.

“Selain lewat aplikasi, konsumen juga bisa berbelanja lewat, Facebook, Instagram, Whatsapp atau Messenger,” lanjutnya berpromosi.

Panen tomat di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli.
Foto Anton Muhajir.

Tetap Bertani

Pandemi COVID-19, yang mulai dari Wuhan, China sejak akhir Desember 2019, memang amat terasa dampaknya di Bali. Sebagai provinsi yang menggantungkan pendapatan utama dari pariwisata, Bali terasa mati suri. Suasana ini terlihat terutama di daerah-daerah pariwata. Turis asing dan domestik, yang pada tahun lalu mencapai lebih dari 12 juta di Bali, hampir tak terlihat sama sekali.

Tempat-tempat wisata di Bali pun ditutup semua untuk menghindari penularan virus corona baru, penyebab COVID-19. Pantai Kuta, Pura Tanah Lot, Kebun Raya Bedugul Bali, Taman Wisata Alam Gunung Batur, dan seterusnya yang biasanya dibanjiri turis kini terlihat lengang. Sepi.

Padahal, selama sepuluh tahun terakhir, jumlah turis asing ke Bali terus menanjak.

Pandemi COVID-19 menghentikan laju turis ke Pulau Dewata.

Namun, di pusat-pusat pertanian, suasana terlihat tak berbeda dibandingkan biasanya. Begitu pula di desa-desa yang mengitari Danau Batur, danau terbesar di Bali sekaligus salah satu pusat produksi sayur di pulau ini. Ketika Dek Didi baru memulai aplikasinya untuk berjualan sayur, petani muda lain sedang sibuk mengolah lahannya di kawasan yang sama.

Pasangan suami istri Ni Ketut Sita, 30 tahun, dan Jro Artawan, 40 tahun, termasuk di antaranya. Artawan berasal dari Banjar Alengkong yang berada di atas bukit mengelilingi Danau Batur. Untuk bertani, dia harus pindah ke Desa Batur. Bersama saudaranya, mereka membuka lahan di lereng gunung berbatu sisa-sisa letusan purba yang masuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur.

“Menurut petugas boleh pakai lahannya asal tidak menebang pohon,” kata Artawan.

Bersama istri dan saudaranya, Artawan mengerjakan tiga lahan terpisah. Masing-masing kira 15 are. Pagi pada pertengahan April 2020 lalu, pasangan dengan empat anak ini sibuk bertani. Mereka menyiram tanaman daun bawang dan sayur kubisnya. Keduanya merupakan komoditas andalan dari Batur, selain juga tanaman bawang.

“Sekarang panen sedang bagus. Harganya juga begitu,” lanjutnya.

Artawan menambahkan dua bulan terakhir, harga daun bawang sedang bagus. Sampai Rp 40.000 per kg. Padahal, biasanya hanya setengah. “Tidak tahu apakah karena (virus) corona atau gimana,” ujarnya.

Panen bawang di Kintamani. Foto Anton Muhajir.

Lebih Bergairah

Secara umum, Artawan merasa saat ini pertanian terasa lebih bergairah setelah adanya pandemi COVID-19. Anak-anak muda yang dulu hanya mengandalkan tamu, misalnya sebagai pemandu lokal ataupun sopir agen perjalanan, kini lebih banyak berkebun. Mereka kini membantu orangtuanya di kebun atau bahkan membuka kebun sendiri di lahan yang semula menganggur.

Meski dia sendiri mengaku takut terhadap pandemi, Artawan yakin bahwa hal ini justru bagus pada pengembangan pertanian di Bali. “Biar anak-anak muda Bali mau kembali bertani,” katanya.

Hal serupa dikatakan Puniadi Makmurtama, anak muda lain di Desa Songan yang kini juga bertani. Menurut Puni, panggilan akrabnya, pandemi COVID-19 membuat anak-anak muda di desanya sadar kembali bahwa pertanian tetap lebih memiliki daya tahan dibandingkan pariwsata.

Puni sendiri kini ikut menikmati hasil berkebun di 40 are lahan yang mengelilingi rumahnya. Pada pertengahan April lalu mereka selesai panen terong. “Karena pasokan dari luar Bali tidak ada, jadi harganya sekarang naik,” lanjutnya.

Saat itu, menurut Puni, harga terong juga sedang bagus. Dari biasanya Rp 3.000 saat ini harganya Rp 7.000 per kg. Bahkan harganya pernah sampai Rp 500 per kg atau malah dibuang-buang karena tak ada permintaan. Beda dengan sekarang. Permintaan juga makin banyak. “Tidak ada yang tersisa di rumah karena semua dibeli,” lanjutnya.

Luh Sugiari, petani muda lainnya, mengatakan hal serupa. Harga tomat yang biasanya Rp 30.000 per kg, saat ini justru sampai Rp 30.000. Senada dengan Puni, dia menduga kenaikan harga itu karena pasokan sayur dari Jawa memang berkurang.

“Petaninya senang kalau harganya bagus begini. Bekerja jadi lebih semangat,” kata Sugiari sambil sibuk memangkas cabang-cabang pohon tomat di kebunnya.

Di tengah pandemi COVID-19 yang mengakibatkan pariwisata Bali mati suri, petani-petani muda seperti Artawan dan Sugiari justru mendapatkan harga yang lebih baik. Hal itu menumbuhkan asa bagi mereka bahwa bagaimana pun juga, bertani tetap memiliki daya tahan dibandingkan hidup hanya bergantung dari pariwisata.

“Dari sisi pendapatan memang tidak sebesar pariwisata, tetapi bertani lebih kuat pondasinya,” ujar Dek Didi.

Pondasi yang kuat itu telah dibangun sebelumnya oleh petani muda lain yang mau berlumpur di kebun-kebun, seperti Desa Pelaga.

Memotong sayur asparagus. Foto Anton Muhajir.​

Tetap Memasok

Suasana terasa lebih lengang ketika memasuki Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali pertengahan April 2020 lalu. Desa di ketinggian 700 hingga 1.100 mdpl ini merupakan pusat produksi pertanian di Kabupaten Badung. Namun, dampak pandemi COVID-19 yang memukul Bali secara ekonomi, juga terasa di sini.

Begitu pula di rumah Made Mahardika, 42 tahun, petani dan pengepul sayur asparagus. Pagi itu, hanya ada satu pegawai di rumah yang berada di tepi jalan raya menuju Kintamani, Bangli dan Tejakula, Buleleng tersebut. Made Suiti, satu-satunya yang tersisa dari empat pegawai sebelumnya, sibuk memilih dan memotong asparagus untuk dikirim ke tempat-tempat pembeli.

“Sekarang lebih sedikit yang disortir,” kata Suiti. Sambil duduk lesehan di lantai, dia memilih sayur berbentuk tunas muda seperti rebung itu berdasarkan ukuran, merapikan, lalu mengelompokkannya.

Sejak 2010, setelah sebuah lembaga swadaya masyarakat dari Taiwan mengenalkan, petani di Desa Pelaga dan sekitarnya banyak yang beralih ke asparagus, termasuk Mahardika. Sebelumnya, mereka lebih banyak menanam tanaman keras berumur panjang, seperti kopi dan jeruk. Hal tersebut karena asparagus dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Jika jeruk dan kopi hanya bisa dipanen setahun sekali, maka asparagus bisa tiap hari.

Dalam sekali panen di lahan 5 are miliknya, Mahardika bisa mendapatkan 2,5 kg – 3 kg. Harganya tergantung tingkat kualitas (grade). Dia membaginya jadi empat tingkat, yaitu kualitas C seharga Rp 10.000 – Rp 20.000 per kg hingga kualitas super seharga Rp 35.000 – Rp 50.000 per kg.

Tak hanya sebagai petani, Mahardika juga membeli asparagus dari empat petani lain. Saat situasi normal, dia bisa menjual sekitar 1,2 ton tiap minggu ke pasar lokal, Jakarta, dan Surabaya. Namun, setelah pandemi COVID-19 menyerang, penjualannya jauh berkurang. “Sekarang berkurang sampai 50 persen,” ujarnya.

Berkurangnya penjualan tersebut, menurut Mahardika, karena restoran-restoran dan hotel-hotel pelanggannya, baik di Jakarta maupun Bali, tutup. “Yang penting sekarang masih bisa bertahan,” katanya.

Petani sayur asparagus Pelaga.
Foto Anton Muhajir.

Konsumen Bertambah

Jika Mahardika hanya menjual di pasar domestik, maka berbeda lagi dengan AA Gede Agung Wedhatama, 35 tahun. Direktur Bali Organik Subak (BOS) ini memilih bermain di pasar lebih besar dengan mengekspor buah-buahan, terutama manggis dan mangga, ke luar negeri selain juga ke pasar domestik. Di pasar domestik, BOS menjual berbagai buah-buahan, seperti mangga, alpukat, durian, sawo, dan lain-lain.

Di antara sekian komoditas itu, manggis merupakan komoditas utamanya untuk ekspor. Negara tujuan utamanya adalah China. Sebelum terjadi pandemi, sehari mereka bisa ekspor 5-10 ton per hari. Tahun lalu mereka bahkan menjadi eksportir buah manggis terbesar di Bali dengan 850 ton.

Namun, begitu China menjadi episentrum penyebaran SARS-Cov-2 penyebab COVID-19 sejak akhir Desember 2019, guncangan pun terasa di BOS. Jumlah ekspor berkurang drastis setelah tidak ada lagi penerbangan ke China.

Setelah Nyepi pada 25 Maret 2020, BOS sempat ekspor lagi dua kali, tetapi kemudian bandara tutup sampai sekarang. Mereka pun tidak bisa ekspor lagi. “Secara realistis kita memang dibuat syok. Jujur saja saya sampai tiga hari tidak tidur,” kata Wedha.

Namun, ketika ekspor manggis total berhenti, permintaan produk dari BOS Fresh, layanan jual beli produk pangan mereka di aplikasi, justru meningkat. Hal ini terutama setelah munculnya isu Bali akan melaksanakan karantina total (lockdown) untuk pada akhir Maret 2020. Dari semula hanya 100 pembeli, mereka bisa sampai 200 pembeli.

Wedha menambahkan, pembelian dari pelanggan hotel dan restoran memang tutup, tetapi dari rumah tangga dan individu makin meningkat. Mereka sampai menambah sembilan staf baru di bagian admin. Begitu pula di bagian kurir yang bertambah lima staf. “Awalnya pakai pihak ketiga, sekarang dengan kurir sendiri,” ujarnya.

Para kurir itu yang kemudian mengirimkan berbagai produk pertanian dari kantor BOS Fresh di kawasan Kapal, Kabupaten Badung ke berbagai pembelinya terutama di Denpasar, Ubud, dan sekitarnya. Dari tangan petani-petani di pedesaan Bali, para kurir itu membawa berbagai produk pangan ke konsumen untuk menjamin ketercukupan pangan warga di tengah cekaman pandemi.

Petani Pingsan

Kendala pemasaran produk pertanian yang dihadapi petani muda seperti Mahardika dan Wedhatama menunjukkan tingginya ketergantungan sektor pertanian terhadap pariwisata. Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Bali Made Antara, sokoguru perekonomian Bali memang ada tiga yaitu pariwisata, pertanian dalam arti luas, dan industri kecil-menengah.

“Ketiganya memiliki keterkaitan, langsung maupun tidak langsung, dan saling membutuhkan,” katanya.

Antara menjelaskan pertanian Bali memiliki keterkaitan langsung dengan pariwisata berupa pasokan produk-produk pertanian untuk hotel dan restoran di destinasi wisata. Jika pariwisata berkembang dan maju, maka peluang pasar produk-produk pertanian semakin besar. Akibatnya, pertanian juga semakin berkembang.

Namun, ketika pandemi COVID-19 merebak dan diikuti matinya pariwisata, maka permintaan produk-produk pertanian pun menurun. Akibatnya di tingkat produksi (on farm) juga lesu atau mati suri. “Pertanian Bali pun pingsan,” katanya.

Meskipun demikian, Antara melanjutkan, situasi ini hanya bersifat sementara, tergantung cepat atau lambatnya pemulihan pariwisata dari kolaps.

Masih Aman

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan secara umum petani di Bali memang agak terkendala dalam pemasaran selama pandemi COVID-19. “Karena sebagian hasil produksi kan terserap di hotel dan restoran, sementara mereka sekarang tidak buka lagi. Jadi, agak susah pemasarannya,” kata Wisnuardhana.

Menurut Wisnuardhana, produk pertanian yang tidak terserap tersebut terutama sayur dan buah-buahan. Jumlahnya sekitar 30 persen dari total produksi saat ini. “Saya tidak punya datanya, tetapi kita lihat di lapangan begitu. Dulu petani lancar menjual sekarang tidak,” lanjutnya.

Meskipun demikian, menurut Wisnuardhana, permintaan dari rumah tangga memang meningkat. “Hotel dan restoran memang berhenti, tetapi kan rumah tangga masih terus berjalan,” tambahnya.

Adapun dari sisi produksi, menurutnya, sejauh ini masih aman sehingga secara umum ketahanan pangan di Bali juga masih terjamin, terutama pada sepuluh komoditas utama, seperti beras, cabai merah, jagung dan gula. Hanya bawang merah dan bawang putih yang harus mendatangkan dari luar Bali. “Proyeksi kami, persediaan pangan masih aman sampai Desember 2020,” katanya.

Wisnuardhana menambahkan, Pemprov Bali sedang menyiapkan skema untuk menyerap produk-produk petani Bali melalui penyediaan paket sembako bantuan kepada warga selama pandemi COVID-19. “Desa Dinas, Desa Adat dan atau pihak lain diharapkan dapat dibeli langsung dari kelompok-kelompok binaan seperti kelompok tani, kelompok ternak, koperasi-koperasi tani dan atau UMKM setempat sehingga sekaligus dapat membantu pemasaran produk lokal,” tambahnya.

Ketika Dinas Pertanian Bali baru sebatas berancang-ancang, petani-petani muda justru sudah lebih dulu membanting tulang untuk mewujudkan mimpinya.

Nengah bertani di Karangasem.

Melawan Ketergantungan

I Nengah Sumerta, 38 tahun, punya mimpi besar. Kurang dari sepuluh tahun nanti, penduduk Bali tidak akan lagi bergantung kepada pasokan buah dan sayur dari luar Bali. Apalagi impor. Tidak hanya nantinya mampu mencukupi kebutuhannya, dia bermimpi petani Bali bahkan bisa menjual buah dan sayur itu pulau atau bahkan negara lain.

Impian itu berangkat dari fakta dan data betapa Bali sangat tergantung pada pasokan pangan dari luar Bali, terutama sayur dan buah-buahan. Bersama teman-temannya sesama petani muda, mereka menelusuri fakta itu pasar-pasar. “Padahal dari sisi sumber daya alam dan manusia, Bali ini sangat bisa mencukup kebutuhannya sendiri jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

Saat ini, alumni Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali itu sedang berjuang mewujudkannya. Kebun di Banjar Pempatan, Desa Pemuteran, Kecamatan Rendang, Karangasem menjadi salah satu lahan untuk mewujudkan mimpi itu. Di desa sejuk berjarak sekitar 60 km dari Denpasar itu Nengah bekerja sama dengan pasangan petani lokal, I Komang Badung dan Ni Wayan Mertana.

Mereka mengerjakan 2 hektare kebun milik Badung dan Mertana dengan sistem bagi hasil. Nengah menyediakan modal sarana produksi, sedangkan pasangan petani itu yang mengerjakan budi daya. Selain itu dia juga memberikan modal Rp 15 juta kepada Badung dan istrinya pada tahun pertama, di luar gaji kepada mereka sebagai pekerja di kebun.

Bagi Hasil

Komoditas yang mereka tanam ada tiga dengan sitem tumpang sari: sayur kol untuk jangka pandek, pisang cavendish untuk jangka menengah, dan alpukat untuk jangka panjang. Menurut Nengah, tiga komoditas itu menjadi pilihan karena kebutuhannya besar di Bali, tetapi belum bisa dipenuhi petani lokal. “Misalnya, pisang. Orang Bali itu hampir semua pengguna pisang karena dipakai keperluan yadnya (upacara). Itu baru untuk sembahyang, belum untuk konsumsi,” katanya.

Dalam perhitungan Nengah, Bali memerlukan sekitar 32 ton pisang per hari. Kebutuhan itu dipasok dari luar Bali, seperti Bima (Nusa Tenggara Barat), Flores (Nusa Tenggara Timur), dan Lumajang (Jawa Timur). “Pasokan dari petani lokal masih di bawah 25 persen,” lanjutnya. Maka, dia pun menanam pisang selain sayur kol dan alpukat.

Dia mengatakan model penggunaan lahannya bukan, mengontrak, tetapi bagi hasil. “Kalau kontrak itu tidak fair. Kapitalis sekali. Aku tidak mau begitu,” ujarnya.

Menurut Nengah, uang sewa untuk petani pemilik lahan itu dia masukkan sebagai saham. Nantinya, pemilik lahan juga tetap bisa menjual sayur kepadanya. Uang hasil penjualan sayur tetap masuk ke petani pemilik lahan sedangkan dia sendiri mendapat keuntungan dari selisih penjualan sayur itu ke pihak lain.

“Makanya, ini bukan bisnis. I want to make them happy. Kalau kita hanya fokus pada keuntungan, apa bedanya dengan Belanda,” lanjutnya.

Meski mengaku bukan bisnis, Nengah mengeluarkan modal cukup besar, Rp 1,7 miliar untuk modal usaha taninya. Uang itu dia gunakan antara lain untuk pembelian bibit, pembuatan irigasi tetes, dan gaji pegawai. Dia yakin ketika panen alpukat 7 tahun lagi hasilnya akan habis di pasar lokal karena disukai konsumen. “Mimpiku yang tidak lucu adalah bagaiamana menghentikan impor (alpkuat) itu,” ujarnya.

Pasangan petani Badung dan Mertana mengaku, sistem kerja sama yang ditawarkan Nengah sangat membantu mereka. Berkebun di daerah ketinggian, di atas 1.000 mdpl, dan jauh dari sumber air menjadi tantangan tersendiri bagi petani di daerah ini. Sebelumnya, mereka pun sangat tergantung air hujan atau membeli pada musim kemarau. Mereka pun terpaksa membeli airnya. Bisa sampai Rp  2 jutaan hanya untuk air. Belum termasuk bibit, pupuk, dan pestisida.

“Jadi petani di sini lebih banyak utang daripada untungnya,” kata Badung.

Mereka kini tak perlu pusing memikirkan biaya produksi karena ditanggung sepenuhnya oleh Nengah. Malahan, mereka juga mendapatkan Rp 15 juta untuk tunjangan hidup selama setahun pertama pengerjaan kebun.

Perantara dan Pengelola

Model pertanian yang dipakai Nengah merupakan salah satu cara baru yang digunakan petani muda di Bali saat ini. Meski tidak memiliki lahan sendiri, petani-petani muda Bali ini bertani di atas lahan orang lain dengan sistem sewa atau bagi hasil. Selain Nengah, petani lain yang melakukan hal sama adalah Dwitra J Ariana, akrab dipanggil Dadap.

Seperti halnya Nengah, Dadapjuga mengelola beberapa kebun cukup luas, antara 20 are sampai 2 hektare. Tak hanya di desanya sendiri di Desa Jeruk Mancingan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Dadap juga mengelola lahan-lahan di tempat lain. Dadap bekerja sama dengan pihak lain sebagai penyewa, tetapi dia yang mengolah lahan tersebut dengan modal dari penyewa.

“Idenya adalah menghubungkan petani pemilik lahan menganggur dengan teman-teman yang ingin punya usaha bertani,” katanya. Daripada lahan menganggur, menurut Dadap, lebih baik dikelola orang lain tanpa harus menjual. Dadap pun menjadi semacam perantara sekaligus pengelola.

Komoditas yang dia pilih umumya yang berumur panjang dan bernilai jual tinggi, misalnya vanili. Kini, bersama salah seorang ekspatriat di Bali, Dadap bahkan bersiap-siap untuk membuka usaha kebun di pulau lain untuk komoditas lada.

Dadap, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutrada film-film dokumenter, menggunakan media sosial untuk mengenalkan lahan-lahan tak terpakai kepada teman-temannya. Lalu, si teman itu akan memberikan modal kepada Dadap untuk mengerjakan lahan tersebut.

Hingga April lalu, ada sekitar delapan temannya yang mempercayai Dadap untuk bekerja sama. Mereka menyewa lahan tak terpakai kepada petani lokal dengan masa cukup panjang, 10-25 tahun, lalu memberikan modal kepada Dadap untuk mengerjakan lahannya.

Salah satu teman Dadap yang kemudian tertarik dengan sistem tersebut adalah Made Tom Kris, 32 tahun. Pegawai negeri dari Penebel, Tabanan ini mengaku tertarik dengan model yang ditawarkan Dadap. Sejak 2016 lalu, dia pun menyewa lahan seluas 20 are di Jeruk Mancingan selama 25 tahun lewat Dadap. Lahan itu mereka tanami vanili.

Tom membayar Rp 50 juta untuk sewa selama itu sekaligus biaya produksi awal. Menurut Tom, sistem kerja sama mereka amat tradisional. Dia memberikan modal di awal untuk membeli bibit dan keperluan awal. Nanti ketika panen nanti mereka akan berbagi hasil, Tom dapat 40 persen, Dadap 60 persen. “Selama sebelum panen, saya tidak ada keluar dana lagi,” katanya.

Tom mengaku tertarik dengan sistem tersebut karena dia yakin komoditas yang ditanam prospektif.  Apalagi dia sendiri juga memang memiliki kebun di kampungnya dengan sistem kerja sama kurang lebih serupa: bagi hasil dengan petani yang mengelola. “Sejauh ini kerja samanya berjalan dengan baik meski belum panen tetap,” lanjutnya.

Bagi para petani muda seperti Nengah dan Dadap, bertani di Bali saat ini tak lagi sekadar menanam komoditas, tetapi menjaga identitas kultural tanah kelahiran mereka, Bali. Dadap, misalnya, pada awalnya lebih banyak dikenal sebagai sutradara film dokumenter sebelum kemudian total kembali bertani di tanah kelahirannya. Begitu pula dengan Nengah yang sebelumnya bekerja di lembaga milik pemerintah Bali.

Menurut Nengah, pertanian di Bali terkait erat dengan tradisi di Bali. Ritual-ritual di Bali tak bisa dilepaskan dari tradisi agraris. Pada saat Galungan dan Kuningan, misalnya, umat Hindu Bali akan mempersembahkan hasil-hasil pertanian kepada Sang Hyang Widhi. Wujudnya bisa berupa penjor (batang bambu berisi aneka persembahan) dan gebogan (sesaji) berisi hasil-hasil pertanian, seperti padi dan buah-buahan.

“Kalau segehan (persembahan) berisi buah impor, itu bukan segehan lagi. Karena tujuan orang bikin segehan yang mempersembahkan apa yang ada di tanahnya sendiri,” ujar Nengah. Kondisi Bali yang sedang linglung karena dihantam pandemi, lanjutnya, bisa menjadi pengingat bahwa Bali seharusnya kembali ke pertanian sebagai akarnya.

Petani-petani muda ini tak sekadar berwacana. Mereka memilih kembali ke kebun-kebun di pelosok Bali meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dianggap lebih bergengsi. Namun, agak berbeda dengan pendahulunya yang bertani secara tradisional, Nengah, Dadap, dan petani-petani muda di Bali saat ini kini menggunakan metode lebih modern. Tak hanya dari sisi budi daya yang lebih mekanis, seperti irigasi tetes, tetapi juga sistem keuangan dan aplikasi untuk memasarkan ke konsumen.

Petani pemilik lahan di Karangasem.

Siaga 24 Jam

Pandemi COVID-19 justru menambah kesibukan di kantor BOS Fresh di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Pada pertengahan April 2020 lalu, belasan staf mereka sibuk memilih, mengemas, dan mengirimkan sayur maupun buah pesanan konsumen. Di meja terlihat selembar daftar pesanan yang siap diantar. Konsumennya salah satu aktris ternama Indonesia.

Dari ruang persiapan di lantai dua, barang yang sudah dikemas rapi dalam kardus lalu diantarkan oleh para kurirnya ke tempat konsumen di Denpasar, Ubud, Canggu, dan sekitarnya. “Kami siaga 24 jam selama pandemi ini,” kata AA Gede Agung Wedhatama, 35 tahun, Direktur PT Bali Organik Subak (BOS), perusahaan pemilik BOS Fresh.

BOS Fresh adalah perusahaan rintisan (startup) di bidang jual beli produk pangan di Bali yang baru berdiri sejak tahun lalu. Secara resmi dia berada di bawah perusahaan PT BOS. Aplikasi BOS Fresh tersedia di Google Playstore. Konsumen yang mau membeli produk harus memasang (install) dulu di ponsel pintarnya.

Di aplikasi BOS Fresh, konsumen bisa membeli produk yang terbagi dalam delapan kategori yaitu sayur, buah, telur dan daging, paket, kebutuhan harian, bumbu/rempah, dan Koperasi PMK. Sekadar contoh ada sayur brokoli, buah naga, tempe, daging ayam, bahkan pupuk organik. Semua produk itu berasal dari anggota Petani Muda Keren (PMK).

PMK sendiri merupakan komunitas petani muda di Bali yang secara resmi baru berdiri sejak tahun lalu. Saat ini anggotanya sekitar 200 orang yang tersebar di seluruh Bali. PMK memiliki gugus-gugus (klaster) berdasarkan produknya, seperti kluster hortikultura, klaster cengkeh, dan lain-lain. Mereka bekerja dari hulu yaitu petani hingga ke hilir alias pembeli terakhir, konsumen. Teknologi informasi menjadi alat mereka.

Jika BOS Fresh ditujukan untuk konsumen di tingkat akhir, maka berbeda lagi dengan BOS Farmer. Aplikasi BOS Farmer menyasar para petani anggota PMK, bagian hulu dalam rantai nilai pertanian. Aplikasi yang terakhir diperbarui pada Oktober 2019, diakses pada April 2020, itu menyatakan sebagai aplikasi untuk memudahkan petani dalam mengembangkan kebunnya dari hulu dan hilir.

Dalam aplikasi itu, petani bisa mengisi keterangan tentang komoditas yang ditanam, jadwal tanam, umur tanaman, luas lahan, dan jumlah tanaman. Dengan algoritma yang dikembangkan sendiri oleh Wedha dan timnya, petani keudian mendapatkan informasi kapan panen, perkiraan jumlah panen, waktu pemupukan, dan lain-lain.

Menurut Wedha, penggunaan aplikasi bagi petani anggota PMK menjadi keharusan. “Petani kita paksa untuk menggunakan teknologi dan mekanisasi, misalnya traktor, irigasi tetes, dan aplikasi,” katanya.

Hasil aplikasi BOS Farmer itu, Wedha melanjutkan, adalah mahadata (big data). “Jadi kita tahu, kapan punya (komoditas) apa, berapa, dan di mana,” ujarnya. Dengan perkiraan data panen itu, PMK pun bisa mengatur anggotanya agar bergantian dalam menanam komoditas tertentu. Dalam bahasa sederhana, pertaniannya berdasarkan proyek, bukan hanya produk.

“Kita cari pasar dulu baru kita tanam. Bukan sebaliknya, tanam dulu baru cari pasar,” lanjutnya.

Saling Terhubung

Petani anggota PMK yang menggunakan aplikasi BOS Farmer itu misalnya Edi Juliana, 21 tahun, petani muda di Desa Tamblingan, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Dia juga menjual wortel melalui aplikasi BOS Fresh. Nama dan foto Edi terpampang bersama petani lain di bagian produsen wortel organik.

Edi bergabung dengan PMK sejak tahun lalu setelah mengikuti Farmer Camp di Bedugul, Tabanan. Sebelumnya, Edi juga mendirikan Kelompok Pemuda Tani Ternak Remaja Mandiri Bali. “Saya ikut PMK setelah diajak Pak Ngah (Nengah Sumerta),” akunya.

Sebelum fokus menjadi petani, Edi sempat kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Udayana Bali. Namun, dia kemudian berhenti karena mengaku kasihan dengan orang tuanya yang gagal panen. Kebiasaannya berbagi informasi tentang pertanian melalui Facebook membuat Edi lalu terhubung dengan Nengah Sumerta, salah satu anggota PMK.

“Aku bilang ke Edi, ngapain menyia-nyiakan waktu dengan kuliah yang tidak ada gunanya. Lebih baik langsung fokus menjadi petani saja,” kata Nengah.

Begitulah kemudian PMK menjadi penghubung bagi para petani muda di Bali, seperti Nengah, Edi, dan Wedha. Hal ini pula yang menurut Wedha menjadi tujuan dia membuat aplikasi BOS Fresh dan BOS Farmer.

Melalui aplikasi BOS Fresh, kata Wedha, petani bisa langsung terhubung dengan konsumen. “Ada penjualan langsung ke konsumen dan fair trade. “Petani tahu berapa harga produknya dijual karena mereka bisa cek langsung,” katanya.

Edi membenarkan itu. Sebelum bergabung dengan PMK dan menjual produknya lewat aplikasi BOS Fresh, Edi menjual produknya ke pasar tradisional dan tengkulak. Dia mengaku tidak tahu berapa harga produknya kemudian dijual oleh pedagang dan tengkulak. Berbeda dengan ketika dia menjual lewat aplikasi.

“Lebih baik dengan aplikasi karena mata rantai penjualan diperpendek sehingga kami mendapatkan keadilan keuntungan. Memang lebih fair trade,” katanya.

Pendanaan Publik

Setelah berhasil dengan BOS Fresh dan BOS Farmer, kini PMK juga sedang menyiapkan proyek lain, pendanaan dari publik (crowd fund) untuk berinvestasi di bidang pertanian. Namanya Nabung Tani.

Weda menjelaskan, Nabung Tani diharapkan akan menjadi lembaga keuangan bagi pihak lain yang ingin berinvestasi di pertanian. Sebab, menurut Weda, salah satu tantangan petani di Bali saat ini adalah kurangnya modal produksi. Di sisi lain, seperti yang dilakukan Dwitra J Ariana, banyak anak muda perkotaan yang ingin berinvestasi di pertanian secara lebih adil.

Karena itu, Nabung Tani nantinya menghubungkan warga yang ingin berinvestasi dengan petani yang membutuhkan modal produksi. Nabung Tani akan melengkapi BOS Farmer di tingkat petani dan BOS Fresh di tingkat konsumen.

Dalam jangka panjang, ketiga usaha berbeda itu nantinya akan di bawah manajemen Koperasi PMK sebagai badan usaha PMK. Namun, payung hukumnya berbeda. Sebagai usaha jasa di bidang keuangan, Nabung Tani akan di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sementara BOS Fresh di bawah payung perusahaan PT BOS.

Menggunakan aplikasi dan pendanaan publik semacam itu, PMK pun berhasil menarik minat anak muda di Bali untuk bertani dengan gaya baru. Edi, misalnya, mengaku senang karena bisa belajar banyak dari sesama petani muda maupun pelaku bisnis pertanian. “Saya semakin semangat dalam bertani sebagai petani muda,” katanya.

Menurut Nengah Sumerta, selama setahun sejak berdiri tahun lalu PMK sudah berhasil membuat benchmark di kalangan anak muda Bali bahwa bertani memang keren. Mereka juga meyakinkan petani bahwa bertani sehat itu tidak harus mahal. Selama ini, kata Nengah, ada anggapan bahwa produk organik harus mahal. “Ternyata setelah dijual dengan harga terjangkau pun, petani tetap bisa mendapatkan untung,” katanya.

Wedha menambahkan, mereka memang menerapkan kendali mutu (quality control) ketat terhadap produk-produk yang dijual melalui BOS Fresh. Contoh salah satu syarat wajibnya, produk itu harus dibudidayakan secara alami (nature farming), seperti menggunakan pupuk dan pestisida alami. Sebagai pengusaha yang terbiasa mengimpor, Wedha juga memberlakukan standar baku mutu ketat pada produk-produk BOS Fresh.

“Dengan begitu, produk petani Bali akan berkualitas dan sehat. Jangan hanya terlihat bagus, tetapi beracun karena pakai kimia. Itu kan ngeri sekali,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan senang karena makin banyak anak muda kembali ke pertanian. “Saya kira bagus karena banyak anak muda bertani, terutama di hortikultura. Yang menggembirakan, mereka juga membuat start up untuk memasarkan produk pertanian. Kami hanya memfasilitasi,” ujarnya.

Produk pertanian yang
dijual BOS Fresh.
Foto Anton Muhajir.

Susah Memasarkan

Dampak pandemi COVID-19 di Bali terus berjatuhan. Secara angka, jumlah pasien positif COVID-19 di Bali terus menanjak sejak resmi ditemukan pertama kali pada 10 Maret 2020 lalu. Hingga 11 Agustus 2020 kasus positif COVID-19 di Bali sebanyak 3.862 orang dengan 3.357 pasien sembuh, 457 orang dalam perawatan, dan 49 pasien meninggal.

 

Secara nasional, Bali selalu masuk dalam sepuluh provinsi dengan jumlah kasus terbanyak.

Meski secara angka, kematiannya termasuk kecil, tetapi Bali mengalami dampak ekonomi parah. Hingga 17 April lalu, terdapat 52.387 karyawan dirumahkan dan 1.204 diputus hubungan kerja (PHK). Nyaris semua hotel dan restoran menghentikan operasinya di Bali. Adapun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak sebanyak 18.583.

“Jumlah ini akan terus bertambah mengikuti perkembangan di kabupaten/kota masing-masing,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali I Wayan Mardiana sebagaimana ditulis Bisnis Indonesia.

Laporan Bank Indonesia Perwakilan Bali juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2020 ini melambat menjadi kisaran 3,7 persen hingga 4,1 persen. Kebijakan menutup penerbangan internasional dan penghentian visa bagi warga asing menpenyebabnya.

“Pandemi COVID-19 mengingatkan kita, Bali ini rapuh sekali. Kayak istana kardus. Begitu terjadi goncangan, pariwisatanya hancur. Semua orang kena PHK. Karena mereka melupakan pertanian,” kata Agung Wedhatama, pendiri PMK Bali.

Wedha ada benarnya. Ketika pariwisata Bali kian terpuruk, menariknya, nilai ekspor barang dari Bali justru naik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor barang dari Bali melalui berbagai pelabuhan pada Februari 2020 lalu mencapai 50.764.165 dolar Amerika. Nilai itu naik 8,95 persen dibanding bulan sebelumnya atau 4,37 persen dibanding Februari tahun lalu.

Produk pertanian termasuk barang yang tetap diekspor tersebut. Pada Minggu, 26 April 2020 lalu, Bali tetap mengekspor 1 ton buah manggis dan 504 kontainer kerajinan ke Uni Emirat Arab lewat Pelabuhan Benoa, Bali. Secara rutin, ekspor buah manggis dari Bali rata-rata 17 ton yang dikirim 2 kali seminggu ke China. Totalnya, hingga minggu ketiga April lalu, total ekspor manggis dari Bali mencapai 799.000 ton atau senilai Rp 86 miliar.

Saat melepas ekspor secara virual, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, ekspor ini merupakan langkah penting, terlebih di tengah pandemi COVID-19. “Artinya, ekonomi kita tetap menggeliat di tengah situasi seperti ini. Pertanian kita, kerajinan kita di Bali masih tetap berdenyut dan berjalan dengan normal. Bahkan mampu menembus pasar luar negeri,” kata Koster.

Fakta bahwa pertanian justru tetap berdenyut di saat pariwisata Bali itulah yang membuat wacana agar Bali kembali ke pertanian sebagai akarnya pun muncul lagi. Sebab, selama ini Bali dianggap telah melupakan pertanian.

 

Perubahan Peran

Semakin hilangnya peran pertanian dalam ekonomi Bali tersebut semakin terasa setelah Bali kian fokus pada pariwisata. Menurut Made Antara, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, perekonomian Bali telah mengalami tranformasi dari perekonomian agraris ke perekonomian pariwisata. Antara menganalisis, dalam kurun waktu waktu 2010-2017, terjadi pergeseran struktur perekonomian dari sektor primer, yaitu pertanian dalam arti luas, ke sektor tersier yaitu jasa terkait pariwisata.

“Hal ini karena sektor tersier mampu memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) Provinsi Bali dibandingkan sektor primer dan sekunder. Penyerapan tenaga kerja di Bali didominasi sektor tersier, kemudian diikuti sektor sekunder dan sektor primer atau pertanian,” katanya.

Perubahan struktur perekonomian Bali itu sejalan dengan hasil sensus pertanian pada 2003 dan 2013 oleh BPS Provinsi Bali. Selama sepuluh tahun (2003-2013) jumlah rumah tangga usaha pertanian menurun sebesar 17,09 persen. Dari 492.394 RT pada tahun 2003 menjadi 408.233 rumah tangga pada 2013.

Dalam kurun waktu sama, jumlah rumah tangga pengusaha lahan juga menurun sebesar 16,69 persen. Dari 485.531 menjadi 404.507. Begitu pula dengan rumah tangga usaha pertanian gurem, menurun 17,86 persen dari 313.111 menjadi 257.181. Fakta ini mengindikasikan bahwa pertanian di Bali semakin tidak menarik dan banyak ditinggalkan generasi muda. Mereka lebih tertarik bekerja di bidang pariwisata.

“Akibatnya pertanian di Bali semakin melemah,” ujar Antara.

Menurunnya jumlah petani kemudian diikuti dengan melemahnya peran pertanian terhadap PDRB Bali. Menurut BPS Bali terbaru, kontribusi pertanian terus menurun selama sepuluh tahun terakhir, 2010 hingga 2019. Dari 17 persen menjadi 13 persen. Sebaliknya, peran pariwisata justru terus naik dari 45 persen pada 2010 menjadi 47 persen. Perbandingan itu makin besar ketika melihat data pada 2008, di mana pertanian hanya menyumbang 24 persen pada PDRB Bali, sementara pertanian 32 persen.

“Akibatnya, ketika pariwisata kolaps terkena dampak COVID-19, maka perekonomian Bali juga kolaps,” ujarnya.

Harus Seimbang

Menurut Guru Besar Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Bali Made Kembar Sri Budhi, struktur ekonomi Bali saat ini memang sangat tergantung pariwisata. Akibatnya, ketika pariwisata terpuruk, dampaknya sanga terasa pula pada ekonomi makro Bali. Misalnya daya beli masyarakat dan kemampuan untuk membayar kredit juga terus menurun.

“Akhirnya semua sektor akan terkena. Kalau terjadi dalam jangka panjang, maka akan terjadi resesi ekonomi,” katanya.

Meskipun demikian, Kembar melanjutkan, pertanian Bali justru menunjukkan daya tahan. Sektor ini memang mengalami dampak akibat mandeknya pemasaran produk pertanian ke hotel dan restoran yang tutup, tetapi di sisi lain juga kebutuhannya tetap tinggi terutama di kalangan rumah tangga. Selain itu, produk pertanian juga terhenti karena tidak bisa impor sehingga produk lokal bisa mengambil peran itu.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana membuka jalur distribusi yang ditutup selama pandemi. Saat ini, desa-desa di Bali memang melakukan penutupan wilayah (karantina) untuk mencegah penularan COVID-19. Hal ini terutama terlihat di pusat produksi pertanian, seperti Plaga, Kintamani, dan sekitarnya. Akibatnya, produk pertanian mereka tak bisa keluar dan sarana produksi juga tak bisa masuk.

“Bagaimana bisa berproduksi kalau mereka tidak dikasih keluar. Rantai nilainya bisa terhambat juga,” kata Kembar.

Untuk dalam jangka pendek, menurut Kembar, jalur-jalur distribusi produk pertanian di Bali harus tetap dibuka dan dijamin oleh pemerintah. Dengan demikian produk pertanian masih bisa terserap oleh pasar.

Dalam jangka panjang, Kembar menambahkan, pemerintah Bali perlu lebih serius mengembangkan sektor pertanian. Misalnya dengan investasi di tingkat hulu dan perlindungan harga di tingkat hilir. Saat ini pemerintah lebih fokus pada investasi di bidang pariwisata, tetapi cenderung melupakan sektor pertanian. Padahal, jika ada investasi di bidang pertanian, Bali juga potensial menghasilkan produk-produk pertanian berkualitas yang bisa bersaing dengan negara tetangga, seperti Thailand dan Australia.

“Boleh saja investasi pada pariwisata, tetapi harus seimbang dengan investasi bidang pertanian,” tegasnya.

Setelah dukungan investasi di hulu, perlu juga adanya jaminan pemasaran dan harga. Selama ini perlindungan terhadap pertanian di Bali lebih kecil dibandingkan sektor lain. Kalau musim panen, harganya pasti jatuh. Padahal harga sarana produksi relatif stabil. Petani pun tak bisa mendapatkan keuntungan dan bahkan sering rugi.

Pemerintah Bali perlu membuat semaam buffer stock semacam Bulog untuk memasarkan produk-produk petani, terutama hortikultura. Dengan begitu petani bisa fokus pada produksi sedangkan yang menjual lembaga lain. “Kalau diserahkan pada mekanisme pasar, ya, harganya labil. Harga bisa jatuh. Petani pun jadi bangkrut,” lanjutnya.

Komang Sri Mahayuni, aktivis Yayasan IDEP yang selama ini mendampingi petani di desa-desa Bali, juga mengatakan hal senada. Krisis akibat pandemi COVID-19 di Bali seharusnya bisa menjadi pengingat bahwa Bali harus kembali melihat pertanian. Menurut Sayu, mau tidak mau, suka tidak suka, pertanian terbukti lebih memiliki daya tahan bagi Bali dan secara ekonomi juga berkelanjutan.

“Sekaranglah pembuktian bahwa Bali harus kembali ke pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan maupun ekonomi warganya,” tegas Sayu. [b]

Keterangan:
Tulisan mendalam ini pertama kali terbit di Mongabay Indonesia dan diterbitkan ulang di sini dalam format utuh dengan pembaruan data-data.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com