Adaptasi dan Mitigasi ala Petani

Ratusan Capung kembara (Pantala flavescens) terbang seperti mengantarkan kami.

Pertengahan September 2015 lalu, kami hendak meninggalkan areal persawahan Desa Catur, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Di tengah perjalanan, kami melihat capung-capung berwarna kuning keemasan tersebut terbang ke sana ke kemari di satu area.

Capung kembara memang suka terbang bergerombol. Mereka sangat aktif pada pagi dan sore hari. Begitu pula sore itu. Mereka terbang berputar-putar di atas padi yang baru berumur sebulan.

Dibandingkan jenis lain, misalnya Capungbatu merahjambu (Rhinocypha fenestrata), Capung kembara memang lebih mampu beradaptasi terhadap lingkungan. Karena itu, meskipun pada musim kemarau di Boyolali, capung jenis ini tetap banyak.

Namun, masih banyaknya capung di Desa Catur, terjadi juga karena petani setempat memang melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Salah satunya dengan cara menerapkan pertanian organik.

“Kalau pertanian organik tidak akan membunuh capung. Tapi sebaliknya, kalau pakai bahan kimia (untuk pertanian), mereka musnah,” kata Trubus, petani di Desa Catur.

Sebelumnya, petani anggota Kelompok Tani Budi Rahayu ini menunjukkan lokasi pertanian organik di desanya. Lahan persawahan seluas 20 hektar tersebut berisi papan nama sebagai daerah pertanian organik. Mereka tidak menggunakan asupan kimia baik pupuk maupun pestisida. Karena itu, menurutnya, capung di desa mereka masih terjaga.

“Capung berguna bagi pertanian organik. Mereka itu makan wereng. Serangga kecil-kecil yang terbang itu akan dimakan capung,” Trubus menambahkan.

Penerapan pertanian organik menjadi salah satu cara bagi petani untuk menjaga agar capung masih bertahan. Namun, praktik pertanian ini juga menjadi bagian dari mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik pertanian kimia turut berdampak terhadap perubahan iklim.

Cara lain untuk beradaptasi dengan perubahan iklim adalah dengan menerapkan pengetahuan dan pengalaman tradisional. Minarso, termasuk salah satu petani yang memiliki cara tersebut. Petani padi di lereng Gunung Merbabu ini melakukan adaptasi perubahan iklim dengan mengubah waktu tanam.

Seperti petani di Jawa, pada umumnya, Minarso menggunakan perhitungan waktu dengan sistem penanggalan Jawa. Jika kalender Masehi mengacu pada perputaran matahari (solar), maka kalender Jawa berpatokan pada rotasi bulan (lunar). Kalender Jawa menjadi acuan dalam sistem lokal yang disebut Pranatamangsa.

Dalam praktiknya, kalender Pranatamangsa cukup rumit. Petani tidak hanya mempergunakan panduan benda langit, seperti bintang dan bulan, tapi juga fenomena alam lain, seperti meteorologi dan ekologi. Hal-hal sederhana seperti arah angin, arah matahari terbit, atau munculnya binatang tertentu bisa menjadi acuan terkait kegiatan dalam pertanian.

Secara sederhana, dalam satu tahun terdapat 12 mangsa atau musim. Tiap mangsa, punya lama hari antara 23-43 hari dengan indikasi berbeda-beda. Dua belas mangsa dalam satu tahun dibagi dalam empat nama mangsa yaitu ketiga, labuh, rendheng, dan mareng.

Mangsa labuh, misalnya, adalah musim di mana hujan mulai turun. Karena itu, petani mulai menanam padi. Rendheng, misalnya, adalah musim hujan di mana petani harus bersiap-siap mengantisipasi banyaknya curah hujan yang kadang mengakibatkan banjir.

Namun, petani tak semata mempertimbangkan kondisi cuaca atau iklim. Minarso misalnya memberikan contoh munculnya tunas pada umbi-umbian tertentu menandakan petani sudah bisa mengawali musim tanam. Di waktu lain, terdengarnya suara burung hantu dari hutan desa juga bisa jadi penanda bahwa musim hujan akan segera tiba.

“Berdasarkan apa yang kami percaya selama ini, tanda-tanda alam selalu benar,” kata Minarso.

Minarso, seperti juga Trubus, adalah anggota Asosiasi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI). Selain mereka berdua, anggota lain pun menerapkan metode pemantauan terhadap perubahan pola tanam dengan cara serupa.

Susatyo, Ketua APPOLI, mengatakan Pranatamangsa merupakan salah satu cara petani beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan membaca tanda-tanda alam baik dari binatang maupun tumbuhan. Meskipun demikian, menurut Susatyo, petani tak semata mempertimbangkan fenomena alam tersebut. Untuk menghadapi perubahan iklim, mereka juga melakukan adaptasi lain, seperti manajemen air, diversifikasi tanaman non-padi, mengubah tanggal budi daya, pembibitan, dan metode penanaman.

Salah satu cara adaptasi tersebut adalah sistem intensifikasi padi atau system of rice intensification (SRI). Dalam sistem SRI, petani menggunakan air lebih sedikit dari sistem konvensional. Karena itu, mereka masih bisa menanam pada saat lahan tidak punya air berlimpah.

VECO Indonesia, lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendukung petani kecil yang berkantor pusat di Belgia, termasuk lembaga yang aktif mengampanyekan perlunya adaptasi perubahan iklim oleh petani kecil tersebut. Upaya itu dilakukan bersama jaringan di Asia Tenggara, seperti Yayasan FIELD dan Green Net dari Thailand.

Bersama jaringan yang didukung Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO), VECO Indonesia mendokumentasikan praktik-praktik petani kecil yang melakukan adaptasi perubahan iklim, termasuk yang dilakukan anggota APPOLI.

“Agar bisa berdaptasi terhadap perubahan iklim, petani perlu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas di bidang perubahan iklim,” kata Nana Suhartana, Koordinator Area VECO Indonesia di Jawa Tengah yang turut dalam jaringan regional terkait perubahan iklim tersebut.

Menurut Nana perubahan iklim sangat dinamis, begitu pula dengan kondisi sosial ekonomi petani di masa mendatang. Karena itu, adaptasi pun harus dilakukan secara dinamis.

“Untuk mengurangi kerentanan petani terhadap perubahan iklim, maka perlu ada peningkatan kapasitas mereka dalam memahami isu ini. Selain melalui peningkatan pengetahuan juga kemampuan mereka untuk mengadopsi dan menghadapi perubahan iklim,” katanya.

Selain APPOLI, petani lain yang juga aktif menerapkan mitigasi dan adaptasi adalah petani di Indramayu, Jawa Barat. Kelompok tani ini didukung oleh Yayasan FIELD yang memang fokus pada penanganan hama penyakit tanaman.

Engkus Kuswara, Spesialis Pertanian Ekologis dan Berkelanjutan Yayasan FIELD, mengatakan petani melakukan lima kegiatan utama sebagai bagian dari adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Kegiatan-kegiatan tersebut yaitu pembibitan secara partisipatif, pengamatan cuaca, perubahan sistem dan pola tanam, penguatan ekonomi keluarga petani, serta advokasi. Semuanya dilakukan langsung bersama para petani.

Metode yang akrab digunakan adalah sekolah lapang perubahan iklim (climate change famers field school). Selama sekolah lapang, petani belajar antara lain tentang perubahan iklim hingga benih-benih tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Berbekal pengetahuan baru, petani juga melakukan uji coba untuk menemukan bibit-bibit padi maupun jagung, dua komoditas utama petani setempat, yang lebih tahan terhadap kekeringan, tahan terhadap hama, dan adaptif terhadap salinitas air.

Dampak perubahan iklim tidak hanya terjadi secara luas tapi kadang-kadang juga sangat lokal. Karena itu sangat perlu adanya pemantauan iklim secara lokal juga. Untuk itulah maka petani dampingan Yayasan FIELD melakukan pemantauan secara lokal pula.

Untuk mendapatkan informasi terkait perubahan iklim, petani bahkan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Mereka mengembangkan ombrometer, alat untuk memantau perubahan iklim, seperti curah hujan, penguapan, kelembapan. Mereka memantau faktor-faktor tersebut tiap hari pada pukul 7 pagi.

“Data-data tersebut nantinya berhubungan dengan hama penyakit, pemuliaan dan lingkungan,” kata Warsiyah, petani sekaligus kader utama sekolah lapang perubahan iklim.

Hasil pengamatan selama lima tahun (2010-2014), menunjukkan bahwa curah hujan makin tinggi dengan jumlah hari hujan lebih beragam. Pada 2010, curah hujan mencapai 1.500 mm dengan jumlah hari hujan 80 kali. Pada 2011, curah hujan 1.184 mm dengan jumlah hari hujan 77 kali. Pada 2012, curah hujan 1.471 mm dengan jumlah hari hujan 87 kali. Pada 2013, curah hujan 1.902 mm dengan jumlah hari hujan 96 kali. Pada 2014, curah hujan sampai 2.092 mm dengan hari hujan lebih pendek, 86 kali.

“Secara umum, telah terjadi kemunduran musim tanam dua bulan dalam lima tahun terakhir,” Warsiyah menambahkan. Misalnya, pada 2010 silam, musim penghujan mulai datang pada Oktober, maka pada 2014 mulai pada Desember 2015.

Berbekal pengetahuan lama, semacam Pranatamangsa ataupun ilmu-ilmu baru seperti pemantauan curah hujan dan penguapan, maka petani di Boyolali dan Indramayu pun lebih bisa beradaptasi terhadap perubahan iklim. [b]

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com