Wedakarna: Saya Pengennya jadi Raja di Hati Rakyat

wedakarna01

Arya Wedakarna adalah kontroversi di Bali.

Melalui berbagai iklan di media lokal, yang dikemas seolah-olah berita padahal iklan, duda berusia 32 tahun kelahiran Denpasar ini terus mengaku dirinya adalah Raja Majapahit Bali.

Di kartu namanya, Wedakarna menulis gelar panjangnya, Raja Majapahit Bali, Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. Kadang dia juga mengaku bergelar lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. Kadang-kadang dia menggabungkan keduanya menjadi Ratu Ngurah Shri I Gusti Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Kaping III, Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. Perlu satu kali tarikan napas sebagai jeda untuk membaca gelar sepanjang 22 kata itu.

Untuk mendukung klaim sebagai raja itu, dia juga membuat “istana” sendiri di Banjar Mancawarna, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Di depan gedung tersebut tertulis papan nama “Istana Mancawarna”. Gedung ini sekaligus menjadi The Sukarno Center (memang ditulis Sukarno, bukan Soekarno).

Dua pekan lalu, saya bersama fotografer Agung Parameswara dan reporter Eka Juni Artawan mewawancarai Wedakarna untuk keperluan penulisan laporan utama BaliPublika.

Salah satu yang membuat saya geli adalah karena semua staf di sana memakai kartu pengenal dengan tali hitam bertuliskan Istana Kepresidenan Republik Indonesia. “Tidak tahu. Orang kami cuma disuruh pakai ini,” jawab salah satu staf di bawah ketika saya tanya kenapa pakai tanda pengenal dengan tulisan Istana Kepresidenan Republik Indonesia tersebut.

Di meja ovalnya, tempat Wedakarna kami wawancarai juga ada papan nama dengan tulisan sama, Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Setelah sekitar 1,5 jam ngobrol, saya makin yakin dengan pendapat saya selama ini tentang dia. Terlalu banyak membual dan tidak konsisten. Tapi ya tiap orang bebas menilai sendiri setelah baca transkip wawancara lengkap berikut.

Apa kesibukan sehari-hari?
Saya kebetulan memimpin kurang lebih 55 organisasi skala lokal, nasional dan internasional sehingga semuanya terbagi menjadi kegiatan-kegiatan bersifat rutin. Tetapi ada pekerjaan utama saya. Pertama swadarma saya selaku Rektor di Universitas Mahendradatta Bali. Kedua selaku President The Sukarno Center. Ketiga selaku Ketua DPD PNI Marhenisme Bali. Kemudian President The Hindu Center of Indonesia. Kalau kegiatan di keluarga tradisional selaku Sekjen di Pasemetonan Tegeh Kori.

Jadi sebenarnya saya bergerak dalam bidang di hampir semua bidang ya, semua organisasi yang bersifat politik, ada ekonomi, budaya sosial, dan juga dari sisi hubungan internasional juga. Hampir semua bidanglah.

Jadi, pilihan kegiatan utamanya apa?
Kalau yang bener-bener fokus, saya sebenarnya sangat mencintai dunia politik karena saya memang melanjutkan perjuangan ayahanda yang tertunda. Kebetulan saya jadi Ketua PNI Marhenisme. Kebetulan saya memimpin Sukarno Center dan juga sebuah lembaga politik. Selain politik, ada tiga utama yang tidak bisa saya lepas karena berkaitan perjuangan, yaitu politik, pendidikan, dan agama. Tiga pilar inilah yang selalu mengikuti saya.

Dalam keseharian bentuk kegiatannya apa?
Kalau di Hindu Center kita lebih menyiapkan database. Ya lebih menyiapkan strategi-strategi. Kehinduan saya bukan di bidang tatwa atau ajaran agama dan filosofi, tetapi bagaimana memanage Hindu baik dalam kontribusi Hinduisme, politik, pertahanan, ekonomi, sosial, dalam bidang kehidupan plularisme, kehidupan toleransi, hubungan internasional. Seperti itu.

Jadi, saya membawa perspektif Hindu menjadi ke arah yang lebih moderat ya. Pilihan lebih moderat, karena kita berbicara agama tidak bisa tentang upacara saja di pura atau ritual, tetapi bagaimana bisa meningkatkan ekonomi Hindu, bagaimana agar anak-anak muda ini meningkatkan beasiswa Hindu. Bagaimana agar hubungan Hindu internasional seperti perjuangan kami kemarin mendirikan World Hindu Center tercapai.

Kemudian diplomasi-diplomasi Hindu karena Hindu di Indonesia cukup banyak, sepuluh juta orang. Di Bali sendiri hampir empat juta. Di dunia satu miliar. Jadi hubungan antara Bali sama India, internasional, Nepal harus saya jembatani karena selama ini tidak ada yang menjembatani. Untungnya saya punya satu sejarah bahwa orang tua saya adalah pendiri parisada.

Apa legitimasi Anda untuk mewakili Hindu?
Maksudnya jabatan? Kalau jabatan, saya President The Hindu of Indonesia yang memiliki cabang-cabang di seluruh Indonesia. Kita memiliki networking. Saya memang tidak terlibat di PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesi, lembaga resmi yang mewakili Hindu). Saya tidak boleh karena saya ketua partai. Karena ada di AD/ART. Mungkin nanti setelah pensiun dari partai politik, saya bisa di Parisada. Tapi saya justru ingin menjaga agar Parisada itu netral dari politik praktis tapi wawasan politiknya harus ditingkatkan.

Wajah resmi Hindu tidak harus dari PHDI?
Kalau di Bali atau di Indonesia sudah telanjur stigma bahwa Hindu is Parisada. Karena memang ini perjalanan sejarah. Selama 32 tahun sejarah Orde Baru memang ada satu desain untuk menjaga agar kekuatan Hhindu baik secara politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun internasional itu tidak kemana mana selain untuk ritual saja. Makanya, ada istilah Hindu Bali. Itu kan istilah yang diciptakan pemerintahan Orde Baru untuk mengkerdilkan. Padahal ada Hindu Jawa, Kaharingan, Maluku, Tengger, dan lain-lain.

Pasca-Reformasi 1998/1999, barulah sekat-sekat ini terbuka. Misalnya, muncul ashram sebagai wajah baru. Muncul organisasi-organisasi Hindu di luar organisasi-organisasi yang dulu diakui sepihak oleh pemerintah. Munculnya samradaya, munculnya pasemetonan yang memunculkan sulinggih-sulinggih baru. Ini merupakan bagian dari alam dan kebangkitan Hindu identitas dari Jawa, Tengger, Blitar, Batak. Saya rasa itu pergerakan alam. Saya hanya satu bagian dari itu.

wedakarna03Di media massa, Anda sering sebagai Abhiseka Raja Majapahit?
(Terlihat kaget. Lalu jeda untuk minum). Abhiseka Raja? Kalau peran saya sebagai Abhiseka Bali, pertama dari sejarah. Kalau kita berbicara dari sejarah kerajaan, memang used to be leluhur kami adalah bagian dari Majapahit. Trah saya Dinasti Tegeh Kori Kresna Kepakisan. Tegeh Kori dalam sejarah tercatat sebagai Raja Badung pertama dan pendiri Kerajaan Badung. Ida Bhatara Tegeh Kori juga putra mahkota Raja Bali saat itu.

Secara organisasi pasca-1945 sampai pada zaman Orde Baru itu, ayahanda saya almarhum Sri Weda Suyasa, Ketua Umum Pasemetonan Arya Tegeh Kori, kumpulan trah para ksatria Dalem Tegeh Kori. Jadi, kalau ditanya secara garis atau darah, bukan bermaksud feodalisme, tetapi kalau dilihat dari sejarah, leluhur kami adalah raja. Raja Badung, Raja Bali seperti itu.

Nah kemudian dihubungkan dengan Abhiseka saya, abhiseka raja Majapahit Bali itu sejak tahun 2009. Saya dipercaya dan diberikan sebuah mandat oleh masyarakat trah Majapahit dari Jawa, Bali, maupun luar Jawa dan Bali, untuk memegang gelar, melanjutkan kembali trah Mojopahit. Trah Mojopahit kan banyak nih. Ada yang dari satu dinasti, ada dari dinasti Mataram, bahkan Demak pun trah Majapahit. Ada dari dinasti para Arya, seperti Arya Damar dan Arya Kenceng.

Kalau kami dari Brahmana, Sri Aji Kresna Kepakisan. Menurut sebagaian dari mereka, para trah Majapahit, mendapatkan petunjuk begitu. Bahwa ada sesuatu yang harus dibangkitkan yaitu kebangkitan Majapahit. Dan, pilihan itu jatuhnya kepada saya.

Kenapa kepada saya? Setelah saya tanya, karena track record dari keluarga leluhur ya. Karena ayah saya ketua dari Pasemetonan Tegeh Kori. Karena perjuangan dari leluhur-leluhur kami. Sehingga, menurut mereka, saya diminta untuk memangku adat Majapahit. Saya secara tegas mengatakan, kalau mau jadi Raja Majapahit, kalau mau jadi pemangku Raja Majapahit, ya harus orang Hindu.

Jadi itulah kebetulan juga mungkin skenario leluhur. Pada tahun 2009 saya sudah terpilih menjadi Sekjen Pasemetonan Agung Arya Benculuk Tegeh Kori yang sudah bermahasabaha pada tanggal 9-9-99. Jadi, dengan beberapa latar belakang itulah saya menerima amanat ini. Karena yang meminta bukan hanya dari Bali tetapi dari tanah Jawa, dari teman- teman trah majapahit yang mungkin sudah tidak beragama Hindu lagi.

Kalau petunjuknya apa?
Kalau berbicara tentang agama Hindu, kita tidak bisa lepas dari adat yang namanya ritual. Nah menurut mereka, para sesepuh dan penglingsir, petunjuk-petunjuk ini merupakan suatu hal, atau wahyu mungkin ya, yang didapat ketika melakukan banyak hal, misalkan ritual. Sudah ada petunjuk-petunjuk yang menurut mereka mengarah kepada sosok kami, keluarga kami, saya pribadi. Ada petunjuk sangat jelas. Ada pawisik.

Di Bali puri kan banyak nih. Mungkin tidak semua puri bisa memberikan kontribusi kepada pemikiran seperti apa yang kami lakukan. Jadi mereka juga tidak mau gambling, memberikan kepercayaan gelar ini kepada puri yang mungkin tidak pernah berbuat sesuatu. Kebetulan kami darah biru dan kita no problem karena kita punya sejarah. Saya punya orang tua yang hebat. Selain ketua dan juga sahabat Bung Karno juga ketua PNI. Jadi track record itulah yang mereka nilai.

Trah majapahit dalam bentuk apa? Ada forum resmi?
Kalau bicara trah itu tidak harus di organisasi. Walaupun mereka ini macem-macem ya, ada yang paguyuban, ada yang puri, puri Majapahit, ada Sentana Dalem Majapahit, jadi macam-macam. Terus yang itu kan pandito-pandito ya, Pandito Budha, Pandito Siwa. Mereka dari tanah Jawa. Ketika mereka mengumpulkan diri dan mengaku dirinya sebagai trah Majapahit, saya kan juga periksa dong. Ini orang bener apa nggak, ritualnya bagaimana, jalan apa nggak, pakem sesuai Hinduisme atau Siwa Budha atau tidak.

Nah kalau mereka sudah periksa saya. Saya sudah paten. Mereka sudah tahu siapa keluarga saya dan ayah saya siapa.

Saya juga doktor. Doktor itu tidak boleh berpikiran mistik terlalu banyak. Tidak boleh berpikir niskala terlalu banyak. Itu sifat doktor. Ilimiah. Jadi diberikan apapun, apalagi tercatat sebagai doktor termuda Indonesia, saya harus periksa tiga, empat, lima kali. Memeriksa motif, kemudian siapa tokoh-tokoh memberikan gelar, dan ketiga misinya sesuai tidak dengan pakemnya Siwa Budha. Saya selaku doktor ya menelaah, memilah.

Ada arsip sejarah Anda keturunan Raja Majapahit?
Jelas mereka punya prasasti semua. Sama seperti kami di Bali. Kami punya prasasti semua. Dan prasasti menurut saya valid itu ya prasasti yang dimiliki oleh Hindu. Sejarah itu sesuai dengan teori yang membuat sejarah. Sejarah itu kan bisa dibuat oleh orang yang berkuasa. Dalam sejarah Majapahit gerakan penghancuran Majapahit atau penghapusan sejarah memang banyak sekali. Sangat massal. Jadi kalau Anda tanya sejarah, saya punya versi sejarah yang bisa saya percaya.

Ada bukti secara fisik?
Nggak ada. Jadi begini. Ketika saya bersedia menjadi Abhiseka, itu kan dari pihak mereka memberikan saya gelar. Nah gitu, lho. Sama seperti rakyat Dayak memberikan saya gelar. Tokoh apa misalnya dalam bahasa sana Kaharingan. Seperti orang Pajajaran memberikan saya gelar. Seperti teman-teman Nusa Tenggara Timur. Selama itu adalah orang-orang yang kredibel, punya track record, demi etika budaya, saya terima. Asal mereka merasa terwakili keberadaan saya.

Saya tidak perlu periksa siapa mereka. Saya tahu kok siapa mereka. Satu Indonesia saya rasa ngerti kok siapa mereka yang memberikan saya. Justru jika saya periksa-periksa, mereka bisa tersinggung. Seperti orang-orang di Bali memanggil saya dengan Ratu Ngurah, Ratu Biang, Ratu Sulinggih. Itu kan spontanitas orang ya.

Buat saya nggak berhenti apakah raja, apakah penglingsir. Di Puri Jembrana, saya penglingsir kok. Tetapi kalau saya disambut sebagai raja Majapahit dan mereka mengakui ya kenapa tidak.

Bagaimana prosesi abhiseka?
Mulai pada saat dideklarasikannya oleh teman-teman dari tanah Jawa. Mereka bersumpah di depan Dewa dan Tuhan yang mereka percayai bahwa gelar ini sudah turun. Saya dititipkan pusaka waktu itu. Saksinya juga banyak pemedek saat itu. Saya diminta menjaga dan meneruskan, sebagai anak muda dengan sumpah jabatan. Saya harus rawat pusaka yang saya pegang.

Penobatan di Besakih?
Ketika saya dinobatkan secara insidential, saya menolak terus. Saya nggak mau meskipun semenjak 2008 saya didesak untuk mengambil gelar ini. Saya kan nggak suka grasa grusu.

Sejak mahasiswa, saya selalu beracara di Besakih setiap 31 Desember. Selalu itu. Waktu itu saya masih Ketua Umum Forum Intelektual Muda Hindu Dharma Indonesia (FIMHD). Jadi rutin itu. Pada saat itu (2009) secara tidak sengaja, ada tokoh-tokoh dari tanah Jawa turut di sana. Mereka berupacara di Pura Besakih. Pada saat persembahayangan, munculah petunjuk bahwa saya saat itu harus mengambil gelar yang sudah lama tertunda yaitu, Sri Wilaktikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan. Kalau tidak diambil gelarnya, nyawanya akan diambil. Ya saya sebagai sebagai umat diam saja. Saya iyakan saja.

Apa arti nama gelar itu?
Sri Wilaktikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan. Kalau Sri lambang Wisnu, lambang Dewi Sri. Dalam filosofi Hindu, seluruh raja harus beraliran Waisnawa karena sebagai pemelihara dan pemberi kesuburan. Maka ada gelar Sri, Sri Sultan, atau Sri Wilaktikta. Macem-macem.

Kalau Wilaktikta gelar dari Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit. Membentuk sebuah tahta. Protokoler dari pendiri kerajaan Majapahit yang dicikalbakali oleh Airlangga. Wilaktikta juga sebuah maknanya adalah pendiri Majapahit.

Kalau Tegeh Kori leluhur saya, yang merupakan putra mahkota dari Raja Bali Sri Aji Kresna Kepakisan dan juga putra angkat dari Raja Anglurah Arya Kenceng. Kemudian kalau Kresna Kepakisan nama Ayahanda dari Tegeh Kori yaitu yang menegaskan bahwa Kresna Kepakisan kembali artinya Wisnu, Waisnawa, menjelaskan bahwa Sri Aji Kresna Kepakisan ini adalah used to be sebelum menjadi raja itu adalah Bhagawan Tri Bhuana Tungga Dewi. Maknanya seperti itu..

Arti dalam bahasa lebih singkat?
Mungkin leluhur-leluhur mencoba menjelma kembali dengen gelar itu. Itu yang harus saya amankan.

Bisa dijelaskan agar mudah dipahami?
Dari kata Sri Wilaktikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan. Kalau bisa jadi lengkapnya, Abhiseka Raja Majapahit Bali. Jadi abhiseka sudah ngadeg lagi. Raja Majapahit yang muncul kembali dari tanah Bali. Kalau Sri Wilaktikta, menghormati Raden Wijaya Wilaktikta, pendiri Majapahit, menghormati Ida Bhatara Tegeh Kori, menghormati Ida Bhatara Sri Aji Kresna Kepakisan. Sama ketika seorang anak memakai nama ayah dan kakeknya.

Wewenang Raja Majapahit Bali itu apa?
Bekerja sama dan berjuang untuk kebudayaan Majapahit. Kan sebagai simbol ya. Majapahit ini sesuatu yang grand. Dia juga ada filosofi agama, filosofi akademis di dalamnya, filosofi budaya, filosofi kebangsaan. Kalau saya pengennya jadi raja di hati rakyat. Indonesia adalah panggung saya. Saya beruntung mendapat gelar itu dan dipercaya.

Indonesia adalah panggung saya. Kemana pun saya datang, ada simbol-simbol Majapahit, harus saya bela. Peran saya ingin memberikan pemahaman, meluruskan kembali sejarah-sejarah Indonesia. Di Indonesia, sejarah Majapahit kan dikaburkan. Di dunia internasional, saya harus menjembatani lagi. Bali dan Indonesia kan agak kurang gaul sama kerajaan-kerajaan internasional. Makanya saya bagaimana sekarang menjembatani misalkan dari keluarga kami dengan keluarga Kamboja, dengan Kesultanan Malaysaia, kemudian dengan Kerajaan-kerajaan Eropa.

Kalau saya tidak pakai gelar Raja Majapahit, mereka kan tidak percaya. Jadi itu privilege-nya.

Tapi, raja-raja di Bali justru menggugat klaim Anda?
Selama itu belum tertulis saya nggak anggap gugatan. Itu merupakan curhatan kepada raja-raja. Dan yang terjadi beberapa tahun lalu itu kan mereka kurang komunikasi. Jangan salah lho. Di Bali itu cuma ada empat raja, Raja Tabanan, Raja Klungkung, Raja Denpasar, dan Raja Majapahit, saya sendiri, yang sudah diabhesika (diupacarai secara adat sebagai raja).

Ada empat yang besar-besar, Cokorda Tabanan, Cokorda Denpasar, Cokorda Klungkung, dengan saya Raja Majapahit Bali. Kalau seorang tokoh di puri belum mengadakan upacara abhiseka, itu belum bisa dipanggil raja. Namanya penglingsir. Gitu lho.

Jadi gugatan terhadap saya mungkin curhat ya. Mungkin. Secara psikologis, siapa sih orang tua di Indonesia, apalagi di Bali yang mau tersaingi sama anak muda. Gitu, lho. Saya juga memberikan satu teguran, mungkin buat leluhur ya. Kenapa kok pusaka-pusaka Majapahit yang di Jawa, pusaka-pusaka itu orang yang memberikan kepercayaan justru kepada seorang saya I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Kenapa gak ke Cokorda yang lain. Kenapa gak kepada puri yang lain. Mungkin buat saya itu teguran.

Kalau menjadi raja, buat saya yang nasionalis ya gelar gak penting. Karena saya Marhaenis, seorang yang menjunjung demokrasi, itu gak penting lagi. Tetapi kadang peran-peran itu kita butuhkan pada saat Hindu Majapahit Bali terdesak. Misalkan saat kasus Lampung kemarin, kalau saya membawa jabatan sebagai President Sukarno Center ikut tanda tangan maklumat damai, atau dengan jabatan Presiden Hindu Center, mungkin tidak pas.

Yang saya ajak menandatangani, yang saya ajak rembug itu raja-raja. Sultan-sultan Lampung. Tetapi kalau saya menunggu Cokorda-cokorda, Anak Agung di Bali yang lingsir-lingsir, yang pemikirannya mungkin sangat locally, mereka gak jalan-jalan misinya. Makanya saya ini jadi pendobrak. Setelah saya berani menerima jabatan abhiseka tahun 2009, bahkan ada seorang pendeta mengirimkan surat kepada saya. Dia mengatakan bahwa kalau di Bali orang nomor satu secara sekala ya gubernur, Mangku Pastika. Tetapi secara niskala ya kamu (maksudnya Arya Wedakarna). Itu yang membuat saya bangga.

Apa pentingnya membangkitkan puri saat ini?
Kalau Bali ingin otonomi khuusus, Bali harus istimewa. Istimewanya apa? Bali memiliki desa pekraman. Desa pekraman ini itu kan dulu diaturnya oleh raja-raja di kabupaten-kabupaten. Dulu kan ada sistem Astha Negara. Dari dulu desa pekraman, bendesa ini mendapat nasihat, petunjuk, dari rajanya di puri. Sekarang itu kan tidak ada. Kita lihat di beberapa wilayah yang masih sangat dihormati, seperti di Ubud, kan jalan sistemnya. Pendetanya dihargai, purinya dihargai, pasarnya jalan. Tetapi di daerah lain gimana?

Syukurlah Indonesia masih punya Bali yang mempertahankan sistem itu. Seperti kata Bung Karno, Majapahit kecil itu ada di Bali. Itu pengakuan Bung Karno ketika membangun Istana Tampaksiring. Saya tinggal melanjutkan saja. Kenapa saya membangun istana ini di Tampaksiring, karena pada tahun 1927 raja-raja Nusantara itu mengadakan rapat di bumi Tampaksiring. Itu prasastinya ada di Demak. Jadi saya ingin membangkitkan Tampaksiring.

Berarti istana sebagai Raja Majapahita di Mancawarna?
Ya, salah satu simbol yang sedang saya bangun. Karena kan raja itu perlu dengan simbolis. Sama seperti banyak Cokorda, banyak Anak Agung. Tetapi karena tidak maintenance puri mereka dengan baik, tidak berfestival, tidak beracara, kan kredibilitasnya kurang. Sistem kerajaan itu hidup dengan ritual. Ada upacara agama, adat dan istiadat.

Dulu sebelum saya sumbangkan ke Sukarno Center sebagai Museum Bung Karno, ini adalah tempat peristirahatan keluarga puri kami. Di seluruh Bali ada tempat-tempat di mana kami tetirah. Ini punya keluarga cuma kami beli dari orang Tampaksiring beberapa tahun lalu dan kami gunakan sebagai tempat perisitirahatan. Istana Mancawarna itu adalah Sekretariat Raja.

wedakarna02Anda mengaku sebagai raja padahal Anda Ketua PNI Marhaenisme. Itu kan kontradiksi?
Jawabannya mudah. Dalam sistem Majapahit atau Jawa Bali kan ada namanya Manunggaling Kawula Ggusti. Soekarno pun keturunan raja. Ibunya Brahmana, Pasek. Ayahnya keturunan Kediri. Ya jadi tidak ada salahnya. Karena hak-hak warga menjadi ketua partai, seperti Sri Sultan juga sebagai Penasehat Golkar dulunya. Gak ada yang salah selama mampu membagi.

Buat saya itu memang lebih soal disiplin. Ketika saya dipanggil sebagai Ketua DPD PNI Marhenisme, saya memposisikan egaliter, sejajar dengan Marhen-marhaen, sejajar dengan kaum tertindas. Kaum kirilah. Tetapi, di bidang budaya ada protokoler-protokoler yang harus saya jalani. Saya menghargai, bukan menghargai gelar dan nama saya, tapi menghargai yang sudah menitipkan nama baik kepada saya, baik leluhur atau orang. Jadi saya juga behave-nya harus benar. Bagimana kita bertata krama.

Fungsi saya di PNI sejauh ini tak ada masalah. Sehari-hari di PNI yang panggil saya Pak Ketua. Kalau di kampus panggil saya Rektor. Kalau saya kemarin rapat dengan 90 presiden dan perdana menteri di organisasi PBB, saya presiden, Mr Presiden Sukarno Center. Ketika saya datang ke pura-pura dan candi-candi orang memangil saya Ratu Ngurah atau Raja Majapahit. Silakan. Ketika saya ke Pajajaran dibilang Sang Adi Darma, monggo. Silakan gitu, lho.

Buat saya saya tuntas lho urusan begitu. Gak masalah. Yang penting itu adalah, sekarang pembawaan bagaimana sikap kita.

Bagaimana Anda memimpin partai dan programnya?
Yang bisa menilai itu kan publik. Seperti kemarin kita denger PNI Marhenisme, satu-satunya partai yang lolos dari 18 verifikasi faktual di Bali. Orang sudah melihat kualitas saya dong. Saya memimpin partai umur 26 tahun, saya membawa PNI menuju partai lima besar di Bali. Saya punya 14 anggota DPR. Punya dua fraksi di dua kabupaten.

Orang sudah tahu kualitas saya. Saya juga secara pribadi adalah caleg DPR RI. Saya mendapatkan suara 24 ribu lebih. Jadi, saya kalau dalam sistem politik begitu, saya juga sampaikan ke mereka, lho saya ini punya rakyat lho…

Nama saya masuk sepuluh besar caleg DPR RI yang ke DPR. Cuma karena PNI gak lolos di pusat, saya gak dapat kesempatan. Setidaknya saya juga bisa membuktikan. Karena sebenarnya orang agak skeptis karena saya muda. Ketika saya menjadi ketua partai, saya buktikan. Saya masuk sepuluh besar DPR. Saya layak. Lima besar di Bali, verifikasi faktual oke. Lolos satu-satunya, gak kalah. Pilkada-pilkada yang saya arseteki, menang 50 persen lebih.

Kemudian jadi rektor, saya mengambil alih. Memang perguruan tinggi punya saya, keluarga saya yang mendirikan. Tetapi, sekarang menjadi PTS terbaik nomor dua. Dari Kopertis dapat APTISI Award. Saya punya kampus cabang-cabang. Pembangunan di mana-mana. Mahasiswa berlipat-lipat dibanding dulu. Saya dapat penghargaan dari ASEAN University Network. Kan sudah ada yang menilai. Artinya saya sukses jadi rektor. Saya jadi Presiden Sukarno Center gak omong doang. Saya bangun museum walaupun tertatih-tatih. Dan sepeser pun bukan uang orang. Makanya di Bali (saya) nyablak bicara. Saya bicara open karena saya tidak tergantung sama siapa pun.

Berarti Anda banyak uangnya?
Gak sih, uang orang sih yang saya manage. Hehehe… Sebagai Hindu Center saya punya cabang di seluruh Indonesia. Saya punya anak buah kok seluruh Indonesia. Yang mereka percaya itu, orang kan gak sekonyong-konyong percaya omongan saya. Dia melihat track record.

Sekarang seluruh Indonesia minta agar saya meresmikan Hindu Center. Dulu saya yang nawarin, tapi sekarang ditawarin. Saya bangun patung Ganesha di Buleleng, tertinggi di ASEAN. Umur 24 itu saya bangun. Saya bangun candi Siwa Budha di Kubu, Singaraja. Saya bangun Bhagawad Gita terbesar. Semenjak usia remaja di bawah 30 tahun. Itu pembuktian bahwa saya gak bullshit. Jadi orang yang mau menjatuhkan saya, saya ajak argumen dulu.

Memang ada yang mau menjatuhkan Anda?
Secara umum, langsung ke saya gak ada ya. Sejauh ini aman jalan saya. Cuman kalau ada dari lawan politk saya, misalkan, kemarin masalah curhat-curhat penglingsir, saya anggaplah yang ingin menjatuhkan. Ayo buktikan dulu, dong. Anda cari deh anak umur 32 tahun, minimal jangan di Indonesia, di Bali deh. Ada gak yang sekaliber saya?

Berapa besar modal Anda untuk semua kegiatan?
Hehehehehe.. Saya berprinsip, kalau kita melakukan sesuatu, membuat sesuatu, kita harus settle di finansial dulu. Tentu saya punya resources-resource. Sayanya memang tidak layak saya buka karena saya filantropis. Saya gak harus sampaikan kok di mana saya punya perusahaan, saham apa saya punya. Buat saya itu urusan lain.

Saya juga menjaga nama baik karena ketika saya bekerja, perhatian asing, luar negeri, sahabat-sahabat saya dari Indonesia yang membantu saya. Makanya saya bangun Badan Dana Punia Hindu Nasional. Saya bangun ketika umur saya 21 tahun, ketika saya mahasiswa di Universitas Trisakti. Sekarang asetnya sudah Rp 37 milyar. Saya bagun 2002 waktu itu. Jadi, dana punia sudah tersalurkan. Itu kan contoh pencapaian-pencapaian menurut saya.

Saya ingin memberikan sesuatu yang baru. Tentu siapa pun yang mau nanya, dari mana sih? Untuk media center saja mungkin satu tahun minimal Rp 1 milyar. Itu baru kehumasan, baru iklan.

Berapa rata-rata bayar per berita?
Saya kurang paham karena corporate saya mengatur. Setahu saya anggaran tahun ini Rp 1 miliar. Untuk seluruh media, seluruh Indonesia. Saya kan juga ada kerja sama dengan beberapa koran. Itu baru satu bidang lho ya. Namanya pemimpin kan harus eksis. Eksis di kegiatan terutama. Jadi program-program saya ini kan panggung buat saya.

Tapi, untungnya saya kan banyak punya teman-teman organisasi. Ketika saya memimpin 55 organisasi, mereka beracara di seluruh Indonesia. Mereka buatkan panggung buat saya. Kalau mereka percaya saya sebagai ketua, pimpinan, direktur atau apapun, mereka harus ikut omongan saya. Saya rasa tidak perlu jadi sesuatu dulu seperti jadi gubernur, bupati. Aduh saya gak nyambung otak ya. Kalau memang bisa, lebih baik membuat panggung sendiri.

Kalau Mahendradatta Holding apa saja perusahaannya?
Saya punya resources lah pokoknya. Ada orang-orang yang mengatur saya. Orang-orang yang membantu saya. Orang-orang besar. Ada juga dari resources sendiri.

Kalau berani kita membawa nama Bung Karno dan Majapahit, harus kelas A semua. Gak bisa sembarangan. Misalkan ketika membangun Sukarno Center, saya buatkan acara seperti acara PBB di Nusa Dua. Itu kan standarnya internasional.

Anda reaktif terhadap isu tertentu yang Anda anggap melecehkan Hindu?
Itu soal harga diri Hindu ya. Harus ada orang yang berbicara itu agar orang-orang Indonesia sadar Hindu itu ada. Kami ada. Minoritas itu ada. Kami kan pernah besar di bangsa ini. Dan saat ini pun Hindu besar dengan memiliki Bali.

Kalau dikatakan hanya seorang Arya Weda yang reaktif, protes saya terhadap Dewi Lestari, Iwan Fals, Sinta Obong (film Garin Nugroho) adalah land mark yang saya tanamkan. Sekarang orang sudah mulai kan? Ketika saya dengar tahun lalu protes tentang Angling Darma dan sinetron Sembilan Wali oleh PHDI dan Komisi Penyiaran, mereka kan melakukan the same thing dengan saya.

Sekarang saya tinggal ketawa saja. Saya happy… Oh gerakan Wedakarnaisme ini jalan, lho. Ketika muncul ormas-ormas Hindu, organisasi Hindu, jaringan Hindu. Dulu gak ada orang berani itu. Saya percaya Karma Wesana. Ketika kami dari Forum Intelektual Pemuda Hindu Darma melawan Iwan Fals itu dengan 11 anggota lho. Kalau satu bulan muka saya ada di infotaimen, itu bukan salah saya lho. Itu karma wesana dari keberanian kami.

Tapi, sebagian kalangan di Bali tidak sepakat dengan sikap Anda?
Nggak apa-apa. Nabi Muhammad dan Sri Kresna saja musuhnya banyak. Yesus juga dibunuh. Saya masih catat itu tahun-tahun sebelumnya yang protes saya. Sekarang orang Bali reaksi kok melihat apapun. Saya selektif kalau memilih teman.

Saya ingat pesan Bung Karno, jas merah. Kalau Anda mau jadi pemimpin di Bali, Anda gak harus berjabat tangan dengan empat juta orang. Anda harus memilih teman berkualitas.

Mereka yang dulunya kontra, yang dulunya berkhianat, yang dulunya protes, ngapain saya harus berdekatan dengan mereka. Mereka pasti tahu gerakan saya. Tapi saya belum tentu tahu gerakan mereka.

Kita lihat dari tahun 2002, siapa paling konsisten bicara sampai sekarang. Dan saya konsisten bukan hanya karena menjadi Ketua LSM atau NGO. Saya do something. Ketika saya bicara kemiskinan, saya bicara tentang UKM. Saya berikan modal. Ketika saya bicara beasiswa pendidikan anak-anak, saya serahkan ribuan beasiswa.

Anda pernah terlibat kasus perusakan Pura Jagatnatha?
Itu acara Ganehsa Caturthi, peringatan kelahiran Dewa Ganesha. Jadi saya selaku President World Hindu Youth Organitation (WHYO) punya cita-cita untuk memperkenalkan budaya-budaya Hindu internasional di Bali. Makanya, saya buat Ganesha Caturti. Ketika itu saya membela umat Hindu Jawa dan Hindu India yang tidak diizinkan masuk ke Pura Jagatnatha. Mereka nggak boleh masuk Pura Jagatnatha oleh pangempon. Alasannya harus pakai pakaian Bali. Upacaranya pun harus pakai upacara Bali. Kan saya nggak setuju. Hindu kan universal. Kalau ada orang datang ke sana tanpa sarana Bali, kenapa ditolak? Itu kan aneh. Ada orang mau sembahyang, gak boleh masuk. Sedangkan turis-turis yang tadi sorenya cuma pakai celana pendek boleh masuk.

Waktu itu ada rencana sembahyang dengan membawa pretima, dengan ada ritual adat Jawa, Hindu Jawa, Hindu India. Ada agni horta. Alangkah kagetnya ketika teman-teman saya tidak masuk. Pecalang Denpasar yang menutup pintu. Sama kekuatan ini kali. Yang masuk itu ya jebol itu semua. Tertuduhnya saya. Lho orang saya cuma ngawasi kok. Akhirnya ada tertahan juga.

Saya tahu diri. Saya nggak mungkin melakukan pengrusakan. Saya tahu siapa saya. Kalau saya melakukan hal sama, kualitas saya serendah orang-orang itu.

Anda akan maju di Pilgub?
Kewajiban saya sebagai ketua partai harus maju. Tapi kan saya tau diri. Kemarin saya mencalonkan di Cawagub ke PDI Perjuangan. Saya tahu diri karena suara partai saya cuma 2,85 persen. Saya tahu diri bahwa partai saya partai kecil, tapi saya ingin berkontribusi. Menjadi ketua partai tingkat provinsi atau DPD harus memberikan teladan. Berani maju. Urusan terpilih nggak terpilih, menang kalah belakangan. Karena dulu kan saya perintahkan DPC-DPC saya, ayo maju ke bupati, ayo maju ke caleg. Sekarang saya memberikan teladan dong.

Saya sudah nyaman dengan posisi sekarang. Saya masih konsisten pada partai Soekarno. Kalau mereka mau berkoalisi dengan menambah suara dari partai saya dan otak saya, ayo kita maju. Kalau tidak ya sudah. Saya hanya menyokong orang yang bisa saya titipkan idealisme. Pilgub itu mahal. Saya mending buat rumah sakit atau buat museum PNI atau museum apapun, dibanding saya harus keluar uang.

Toh juga, seperti kemarin anak-anak FISIP buat survei. Dari ketua-ketua parpol dan politisi seluruh Bali disurvei tuh. Di mana-mana saya nomor dua terpopuler setelah Cok Rat (Cok Ratmadi, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali). Jadi dari sana saya bisa mengukur, kalau bisa menjadi Gandhi, kenapa harus jadi Nehru.

Justru kalau saya, otak saya bukan buat Bali sebenarnya. Saya justru meyasar, kalau bisa saya ke pusat. Mungkin ke menteri dulu. Saya hanya perlu dekat dengan presiden saja. Saya perlu dekat orang pusat. Karena saya 11 tahun tinggal di Jakarta. Masuk ke Bali otak saya langsung drop. Pemikiran jadi sempit, seperti katak balik lagi kembali ke asal.

Saya nggak kuat terhadap orang-orang yang saya ajak diskusi. Terhadap teman-teman seperjuangan aktivis. Nggak nyambung semua. [b]

Foto-foto Agung Parameswara.