Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Kaum Muda

Para pemuda menyajikan makanan untuk warga

Desa mawa cara tampaknya sudah kembang kempis napasnya di negeri ini.

Banyak desa yang tak berbau khas pedesaan padahal para pemudanya banyak yang bergelar sarjana. Suasana guyub dengan kekuatan gotong royong dan tepa slira seakan luntur dari kultur desa maupun dusunnya. Terutama ketika maraknya teknologi di berbagai bidang mulai mendominasi.

Dusun Purworejo, Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Jika Anda mencari di aplikasi maps, maka akan tahu bahwa dusun ini tak berjarak begitu jauh dari pusat kota.

Sebuah dusun kecil yang terletak di utara Desa Metatu ini masih menyimpan satu napas panjang keguyuban dan persatuan melalui aktivitas para pemuda. Banyak sekali inovasi kegiatan yang ditelurkan para pemuda setiap tahunnya. Salah satunya yaitu Warung Subuh.

Kegiatan ini dirintis pada tahun 2018, meskipun embrio awalnya sudah sejak lama dilakukan ketika ada even besar. Bermula dengan cita-citanya untuk mengabdi kepada dusun, kepala dusun yang bernama Nanang Qosim mulai mengajak para pemuda untuk sebisa-bisanya berdedikasi di lingkungannya.

Para pemuda tengah begadang menyiapkan masakan

Perlahan mulai banyaklah para pemuda untuk turut serta tanpa imbalan maupun janji apapun. Maka, dirintislah Warung Subuh, sebuah konsep yang menggabungkan berbagai nilai baik dalam kehidupan horisontal (sesama manusia) dan vertikal (kepada Tuhan).

Warung Subuh merupakan sebuah wadah bagi para masyarakat untuk turut serta menyisihkan sebagian apa yang mereka punya setiap minggu. Tepatnya setiap subuh di hari Minggu, berlokasi di halaman masjid Al-Ikhlas Dusun Purworejo. Tidak ada batasan maupun kewajiban di dalam partisipasi warga, murni terbuka bagi siapapun yang menyumbang dengan nominal berapapun.

Bahkan, proses memasak dan menyajikan pun dibuka untuk siapapun yang mau memberikan tenaga dan waktunya. Dan alhasil, para pemuda siap begadang semalam untuk menyajikan hasil sumbangsih warga agar bisa dinikmati ketika subuh datang di hari libur.

Adapun menu yang disajikan, sepenuhnya diserahkan kepada kepala dusun, begitu juga dengan list donatur maupun waktu pengumpulan bahan masakan. Hampir setiap minggu tersaji menu yang berbeda, membuat para warga terasa nyaman dan guyub menyambut hari libur.

Konsep ini pun mulai dikembangkan sayapnya, para pemuda dusun memiliki inisiatif untuk lebih mengabdi. Salah satunya yaitu upaya memberikan jasa memasak gratis bagi warga dusun yang memiliki keinginan membuat hajat tetapi terkendala jasa juru masak maupun biaya.

Keberhasilan Warung Subuh yang mampu merekatkan solidaritas sosial para pemuda melahirkan ide-ide sosial lainnya. Di antaranya yaitu mobil pengantar sakit gratis bagi warga dusun yang tengah sakit, dan pengobatan gratis tiap Jumat.

Khusus di bulan Ramadhan ini, Warung Subuh bertransformasi menjadi Warung Ta’jil yang dibuka di depan jalanan masjid Dusun Purworejo untuk semua warga dan musafir.

Serangkaian ide tersebut membuat dusun ini mandiri dan tidak terlalu menunggu respon dari desa maupun kecamatan ketika terjadi sesuatu. Sehingga dusun ini bisa bernapaskan khas pedusunan di tengah desa-desa yang mulai tergerus individualisme ala kota. [b]